Masjid Cikoneng Anyer Kabupaten Serang

Masjid Cikoneng (https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Masjid Cikoneng terletak di jalan raya Anyer, Kampung Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Dari Ibu Kota Serang kurang lebih berjarak 35 kilometer. Masjid ini juga bisa ditempuh melalui Kabupaten Pandeglang, berjarak kurang lebih 55 kilometer dari pusat kota Pandeglang ke arah barat melewati Pantai Carita.

Masjid merupakan masjid kuno peninggalan jaman Belanda, didirikan sekitar abad ke-16 akhir atay awal abad ke-17. Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Darul Falah, tetapi masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai Masjid Cikoneng, sesuai dengan nama kampungnya.

Masjid ini dibangun oleh masyarakat Lampung yang ada di Anyer. Masyarakat sekitar masjid meyakini bahwa pendirian masjid berhubungan dengan utusan dari Kerajaan Tulang Bawang, Lampung yang menyebarkan Islam di Banten.

Komunitas mayarakat Lampung sudah berkembang di Cikoneng sejak abad ke-16. Pada masa itu, Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Sultan Maulana Hasanuddin meminta bantuan Kerajaan Tulang Bawang untuk penyebaran Islam di Banten. Utusan dari Lampung ini kemudian menetap di Cikoneng.

Arsitektur

Masjid Cikoneng merupakan bentuk arsitektur perpaduan antara Islam, Eropa dan budaya Lampung. Beberaa di antaranya corak Islam kuat terlihat berupa kaligrafi, Eropa tampak dari bentuk tiang, sedangkan budaya lampung terlihat dari hiasan sleger. Arsitektur Masjid Cikoneng sangat kental dengan budaya Indonesia, termasuk kepercayaan dan agama sebelum Islam.

Bangunan Masjid ditinggikan dari permukaan tanah. Di bagian timur serambi ini terdapat tempat berwudhlu yang terpisah dari bangunan ini masjid.

Masjid Cinoneng berdenah empat persegi panjang tidak sempurna dengan ukuran ± 24 x 8 meter². Bentuk dan ukuran ini terdiri dari tiga bagian bangunan atau ruangan dengan dua atap. Bentuk dan ukuran satu ruangan inti (ruang sholat pria) dengan ukuran 8 x 8 meter². Kemudian denah bangunan masjid ini nerubah bentuk, penambahan bangunan (ruang sholat wanita dan ruang tempat berwudhlu). Terdapat bagian bagian yang menonjol di sebelah barat, yaitu mihrab.

Atap

Bentuk atap Masjid Cikoneng memiliki dua atap, berbentuk atap tumpang bersusun dua dan bersusun empat, makin ke atas makin kecil, dengan hiasan di puncaknya yang disebut “Mamolo” atau “Mustaka”. Bentuk atap tumpang bersusun dua terletak pada  bagian ruang sholat wanita (sisi timur). Bentuk atap tumpang bersusun empat terletak di bagian ruang sholat pria (sisi barat).

Mustaka

Hiasan puncak atap tumpang susun dua dan susun empat pada bagian inti bangunan masjid berbentuk dua pasang naga (satu pasang ada empat naga), searah mata angin di bagian bawah dan bagian tengahnya, sedangkan pada bagian atasnya berbentuk pagoda atau kerucut (limas).

Ruang Utama

Ruang utama terdiri dari ruang sholat pria dan ruang sholat wanita. Berupa bangunan berbentuk persegi dengan pondasi masif dan ditinggikan dari permukaan tanah sekitar satu meter. Kedua ruangan ini dipisahkan oleh dinding permanen dengan atap sendiri-sendiri secara terpisah tapi berdampingan, dihubungkan oleh dua pintu dengan satu jendela ditengah-tengahnya. Bangunan ini diperkirakan dahulunya hanya terdiri dari satu bagian bangunan persegi dan memiliki serambi depan. Serambi depan, sekarang sebatgai ruang sholat wanita. Dimungkinlan juga dahulunya terpisah dari bangunan inti. Bangunan ditinggikan dari permukaan tanah tampak dari perbedaan ketinggian lantai ruang sholat wanita dengan tempat berwudhlu.

Mihrab dan Mimbar

Masjid ini mempunyai dua mihrab di bagian paling barat di ruang sholat pria, benbentuk seperti ceruk, dengan ukuran tinggi masing-masing dua meter dan lebar setengah meter. Pada mihrab terdapat pilaster dengan hiasan dinding berupa pahatan tulisan arab dan tempelan pring keramik atau porselin berhias flora (bunga dan daun). Mihrab di sebelah utara mempunyai undakan yang digunakan untuk khotib berkhotbah, yang satunya lagi digunakan untuk imam memimpin sholat.

Kegiatan

Hingga saat ini, Masjid Cikoneng masih dapat digunakan sebagai untuk aktivitas ibadah masyarakat setempat, juga menjadi destinasi wisata religius masjid tua di Banten. Jika Anda sedang berwista di Pantai Anyer dan sekitarnya, Anda bisa menyempatkan diri untuk mampir ke mesjid yang menjadi bukti penyebaran Islam di wilayah pesisir barat Banten ini.

Sumber: e-book: Mesjid Cikoneng Anyer Banten: Wujud Akulturasi Masyarakat Muslim Cikoneng oleh Lia Nuralia, Balai Arkeologi Bandung, tahun 2012.

One thought on “Masjid Cikoneng Anyer Kabupaten Serang

Leave a Reply