Geopark Kaldera Gunung Batur Bali

Geopark Kaldera Gunung Batur di Bali ditetapkan sebagai Geopark Dunia saat Konferensi Geopark Eropa yang ke-11 di Geopark Auroca, Portugal, pada 20 September 2012, merupakan Geopark pertama di Indonesia.Kawasan Batur Geopark termasuk dalam wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, berada pada ketinggian 1.000 mdpl sampai 2.172 mdpl, serta memiliki udara yang sejuk dengan temperature udara rata-rata antara 15° – 21° C. Secara geografis kawasan Gunung Batur terletak pada posisi 8°11’ – 8°18’ LS dan 115°18’ – 115°27’ BT. Berdasarkan aspek keruangan, Gunung Batur memiliki kaldera berukuran 13,8 x 10 km, dan merupakan salah satu yang terbesar dan terindah di dunia (Van Bemmelen, 1949). Pematang kaldera tingginya berkisar antara 1.267 m – 2.152 m. Di dalam Kaldera I terbentuk Kaldera II yang terbentuk melingkar dengan garis tengah lebih kurang 7 km. Dasar Kaldera II terletak antara 120–300 m, lebih rendah dari Undak Kintamani. Di dalam kaldera terdapat danau berbentuk bulan sabit yang menempati bagian tenggara sepanjang 7,5 km dan lebar maksimum 2,5 km, keliling sekitar 22 km, dan luasnya sekitar 16 km², yang dinamai Danau Batur.

Geopark Kaldera Gunung Batur (https://wikipedia.org)

Kawasan Gunung Batur mempunyai bentang alam atau lanskap yang elok, budaya yang unik, serta jejak peninggalan arkeologi dan geologi yang khas. Denpasar – Kintamani berjarak sekitar 53 km melalui Batubulan – Tegallalang – Tampaksiring – Kintamani yang dapat ditempuh melalui jalan darat sekitar 2 jam. Sepanjang jalan dijumpai banyak pura dan bangunan berarsitektur khas Bali, deretan galeri seni, kios suvenir, dan kerajinan beragam bentuk menjadi suguhan memikat. Ada sentra kerajinan batu alam, kayu, kaca, dan perak di kanan-kiri jalan yang bisa di singgahi di rute tersebut.

Belasan kilometer menjelang Kintamani, suasana pegunungan mendominasi pemandangan,dengan suhu udara yang semakin dingin. Selepas Kecamatan Tampaksiring di Kabupaten Gianyar, terdapat beberapa perkebunan kopi yang ditawarkan sebagai lokasi Agrowisata.

Geopark Kaldera Gunung Batur (https://www.amabeltravel.com)

Di Kintamani terdapat Museum Gunungapi Batur yang diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada tanggal 10 Mei 2007. Berdiri di lahan seluas 1,09 hektar, museum ini menyimpan beragam informasi gunungapi, baik di Indonesia secara umum maupun Gunung Batur secara khusus. Dari museum ini, pengunjung bisa melihat tiga kerucut Gunung Batur yang berderet dari timur laut – barat daya, yakni Batur I (1.717 meter), Batur II (1.589 meter), dan Batur III (1.410 meter). Ketiganya tumbuh di dalam Kaldera Batur yang terbentuk dari dua fase letusan besar (sekitar 29.300 tahun lalu dan 20.150 tahun lalu), yakni Kaldera Luar dan Kaldera Dalam. Kaldera luar berbentuk elips dengan ukuran 13,8 x 10 km membentang ke barat laut – tenggara. Pada bagian tenggara Kaldera Dalam terbentuk danau (Danau Batur) yang berbentuk bulan sabit dengan ukuran panjang 7 kilometer dan lebar 1,5 kilometer yang berada di ketinggian 1.031 meter (di atas permukaan laut). Danau inilah yang memukau geolog Belanda, Van Bemmelen (1949) dan dia menyebut Danau Batur sebagai salah satu kaldera terbesar dan terindah di dunia.

Material vulkanik yang terlontar dari letusan Gunung Batur, tercatat 26 kali letusan selama kurun tahun 1804-2000, menjadi sumber tambang dan pendapatan masyarakat di Kawasan Batur. Pasir dan sebagian besar lain berupa ignimbrit (endapan aliran piroklastika yang berasosiasi dengan pembentukan kaldera) digali dan dimanfaatkan warga untuk membuat patung, pura, dan benda hias. Area yang luas dari Gunungapi Batur terutama di bagian barat dan selatan yang berbatu-batu dan hanya sedikit sekali tanah datar.

Museum Geopark Kaldera Gunung Batur (http://www.travelklik.com)

Semua keragaman gunungapi yang dikembangkan sebagai geosite merupakan warisan geologi. Batuan dan bentang alam yang terekam dalam sejarah panjang pembentukan gunungapi dan evolusi kalderanya selama periode dan ruang geologi. Pengetahuan ini hendaknya dapat ditransfer kepada pengunjung sehingga mereka mengerti dan memberikan apresiasi tentang bumi dan isinya dengan benar. Dimulai dari sini diharapkan menumbuhkan upaya konservasi alam untuk kelestarian sehingga dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Danau Batur memiliki fungsi irigasi. Air dari danau ini mengalir ke sejumlah sungai besar di Bali, seperti Sungai Unda di selatan, Sungai Suni di barat, dan Bayumala di utara. Dari aliran itu, air sungai dibagi untuk mengairi sawah dan menopang sistem subak. Subak juga baru saja ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Komite Warisan Dunia UNESCO.

Geopark Kaldera Gunung Batur (https://www.globalgeopark.org)

Di pinggiran Danau Batur terdapat sejumlah pura yang bisa dikunjungi sebagai desa wisata, sebagian telah ditetapkan sebagai situs arkeologi, antara lain : Pura Ulun Danau Batur, Pura Pancering Jagat Terunyan, dan Pura Bukit Mentik. Di seberang Danau Batur, terdapat Desa Terunyan, yang terpencil di pesisir timur dan biasanya dijangkau dengan perahu. Masyarakat Terunyan disebut Bali Aga (penduduk asli) yang khas. Berbeda dengan masyarakat Bali umumnya yang membakar mayat (kremasi) dalam upacara ngaben, masyarakat Terunyan meletakkan mayat di atas tanah dan dipagari ”ancak saji” dari anyaman bambu.

Kawasan Batur juga memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Salah satunya adalah anjing Kintamani yang memiliki bentuk kepala seperti serigala dan badan mirip anjing cau-cau dari China. Di samping itu, di Kintamani juga tumbuh edelweis, pohon kasian bukit, jeruk, dan tanaman hortikultura khas pegunungan seperti kol, cabai, dan tomat.

Geopark Kaldera Gunung Batur (https://www.globalgeopark.org)

Secara dministratif, Batur Geopark terletak di Kabupaten Bangli yang terbagi atas 4 kecamatan, yakni : Susut, Bangli, Tembuku, and Kintamani, dan 72 desa yang dibagi atas 322 banjar. Penduduk Bangli terdiri atas 213.808 orang berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2008, dengan pertumbuhan penduduk 0.92%, dengan kepadatan penduduk rata-rata 411 orang / km2 dan rasio jenis kelamin 99,50.

Kondisi Umum Geologi Batur

Berdasarkan aspek Geologi, Kabupaten Bangli secara umum termasuk dalam Qhvb di seputaran puncak Gunung Batur; Qvbb di seputaran bagian bawah Gunung Batur; dan Qpbb di sebagian besar wilayah Kabupaten Bangli. Formasi ini pada bagian permukaan didominasi oleh tufa pasiran dan di beberapa tempat dijumpai tufa batu apung dan endapan lahar. Tufa pasiran umumnya melapuk menengah – tinggi berwarna kuning kecoklatan, berukuran pasir halus – kasar. Tufa batu apung berwarna putih kecoklatan, agak rapuh dan mudah lepas. Endapan lahar berwarna abu-abu sampai abu-abu kehitaman terdiri dari batuan beku andesit dan batuapung dengan masa tufa pasiran bersifat agak rapuh. Pada kaldera batur formasi geologi terdiri dari formasi geologi Batuan Gunung api Batur yang mengandung aglomerat, lava, dan tufa.

Berdasarkan peta kerentanan gerakan tanah Pulau Bali, didapatkan bahwa terdapat zona kerentanan gerakan tanah tinggi pada kawasan sekitar Kaldera Batur yang memiliki kelerengan curam dan sangat curam. Selanjutnya tersebar luas zona kerentanan gerakan tanah menengah (terdapat gerakan tanah terutama pada kawasan yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir (pinggir jurang), pada wilayah tebing bagian barat laut, utara dan timur laut Kaldera Batur, dan tersebar sedikit di selatan kaldera Batur. Gunungapi Batur merupakan tipe strato yang dibentuk oleh perselingan antara lapisan piroklastik dan aliran lava. Material piroklastik mengkontribusi lebih dari 95 % yang merefleksikan erupsinya yang eksplosif.

Hidrologi wilayah Batur Geopark terdiri atas air permukaan dan air tanah. Air permukaan terdiri dari Danau Batur dengan luas 1.607 Ha, kedalaman 70 meter, volume 815,58 juta/m3, panjang panjang garis pantai (shoreline) 21,4 km dengan daerah tangkapan seluas 10.535 Ha. Sungai yang ada di Kabupaten Bangli berjumlah 14 buah yang merupakan hulu-hulu sungai utama yang bermuara di bagian Selatan Pulau Bali. Air tanah di Kabupaten Bangli berdasarkan Peta Pengendalian pengambilan air tanah dan perlindungan daerah resapan (Dep. ESDM), menyatakan bahwa seluruh wilayah Kabupaten Bangli dari bagian utara Kota Bangli ke arah utara merupakan Daerah Resapan Air yang mengisi Cekungan Air Tanah (CAT) wilayah Kabupaten/Kota Sarbagita termasuk wilayah Kabupaten Bangli bagian selatan. Jumlah potensi mata air di Kabupaten Bangli tersebar di 88 buah titik di 42 desa dengan debit total 1.561,30 ltr/dt. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah umumnya pendek dan jenis alirannya bersifat ephemeral, yang sebagian besar terletak di sebelah utara, sedangkan yang mengalir ke bagian selatan lebih panjang, aliran sungainya kebanyakan bersifat perenmial.

Secara umum topografi wilayah kabupaten Bangli berada pada ketinggian antara 100 – 2.152 meter dpl, dengan puncak tertinggi adalah Puncak Penulisan. Rentang ketinggiannya adalah : wilayah kecamatan Susut (100–920 m), Kecamatan Bangli (100 – 1200 m), Kecamatan Tembuku (320 – 920 m) dan Kecamatan Kintamani 920 – 2.152 m. Kelerengan wilayah bervariasi antar wilayah kecamatan dan secara umum berada pada kondisi dataran (0–2%), landai (2-15%), bergelombang (15-30%), curam (30-40%) dan sangat curam (>40%). Kondisi datar relatif hanya terdapat pada kawasan di kaki Gunung Batur, landai dan bergelombang pada wilayah Kecamatan Susut, Bangli dan Tembuku sedangkan bergelombang dan curam serta sangat curam pada wilayah Kecamatan Kintamani.

Sejarah Gunung api Batur

Sebagian besar Pulau Bali terdiri atas deposit sub-aerial vulkanik yang meletus pada periode Kwarter akhir, yang terdiri dari Bratan, Batukau dan Seroja, Kaldera Batur dan Gunung Agung. Berbagai produk abu vulkanik dari Bratan dan Batur yang membuat sebagian besar formasi dan jenis batuan di Bali. Batuan tersebut sebagian besar terdiri atas deposit ash-flow (ignimbrite) yang melapisi dan menutupi sedimen dan batuan vulkanik yang lebih tua. Marinelli & Tazief (1968) menduga kalau formasi kaldera terjadi sekitar 22.000 tahun yang lalu yang diikuti oleh ledakan dan kaldera kedua. Sutawidjaya (1990) meneliti batuan dan ignimbrite sekitar pura Gunung Kawi-Ubud, menyatakan umur batuan tersebut sekitar 20.150 tahun yang lalu, sedangkan Ubud Ignimbrite yang ditemukan 25 km baratdaya Kaldera Batur, berumur sekitar 29.300 tahun yang lalu.

Pada awal tahun 1900-an, Batur dibagi atas lima tahapan utama (Kemmerling, 1918) :

Tahap I: Gunung Batur tua terbentuk sebagai strato-volcano yang besar, sekitar 3.000 meter tingginya, merupakan periode konstruksi awal dari Gunung Batur.

Tahap II: pada 29.300 tahun yang lalu erupsi cataclysmic menyebabkan runtuhnya Gunung Batur tua dan membentuk kaldera besar sekaligus memproduksi awan abu dalam jumlah besar dengan kecepatan 40 meter per detik (150 km per jam). Temperature diperkirakan antara 6000- 8000C. Awan abu tersebut mencapai pinggiran Denpasar sekarang, sekitar 90 km dari selatan Batur. Setelah mendingin menjadi lapisan batuan yang komposisinya kaya akan silika yang disebut “Ubud Ignimbrite”. Letusan tersebut dapat dikatakan sebagai periode kerusakan pertama Gunung Batur.

Tahap III: Konstruksi dari Gunung Batur kedua terjadi dan puncak gunung-gunung api lainnya di dalam kaldera besar dan disekelilingnya. Salah satunya membentuk Gunung Abang, ketinggian saat ini 2.172 m, yang merupakan gunung tertinggi di wilayah Batur.

Tahap IV: Pada 20.150 tahun yang lalu Gunung Batur kedua meletus lagi dengan dahsyat. Produk endapan vulkanik terjadi di Gunung Payang dan Bunbulan. Erupsi yang kuat ini memproduksi Gunung Kawi Ignimbrite. Di Tampaksiring, terdapat pura yang diukir di dinding berbahan magma ignimbrite. Konstruksi pura tersebut sekitar tahun 1100 SM. Pada saat itu, beberapa puncak gunung berapi tahap III hancur oleh erupsi.

Tahap V: Sekitar 5.500 tahun yang lalu dimulai erupsi lain yang memproduksi andesitic ignimbrite termasuk lapisan batuan vulkanik, yang kemudian membentuk Batur strato-volcano saat ini. Dokumen laporan yang ada hanya menyebutkan erupsi sejak 1804. Produk yang dihasilkan terdiri atas aliran blok lava yang dihasilkan dari tiga kepundan Gunung Batur dan dari erupsi. Pada tanggal 2 Agustus – 21 September1926, terjadi letusan hebat, yang membinasakan desa Batur yang berlokasi di dasar kaldera, namun sekitar 2.000 penduduk yang kuat berhasil mengungsi. Setelah tidur beberapa lama, antara periode 1921 – 1963, letusan kuat terjadi lagi. Aliran lava yang berasal dari kaldera-3 Batur meluas dan menutupi sebagian besar kaldera. Lava basaltic terdiri atas 51-53 % silica. Erupsi Batur tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang fatal. Puncak-puncak baru terbentuk, meskipun beberapa di antaranya rusak lagi oleh erupsi dan digantikan oleh puncak-puncak baru yang ditutupi oleh deposit yang lebih muda usianya.

Tahap I merupakan fase konstruksi awal dari Batur, tahap II merupakan fase perusakan, tahap III merupakan tahap konstruksi kedua (misalnya pembentukan Gunung Abang), tahap IV adalah fase perusakan kedua, dan tahap V merupakan fase konstruksi ketiga.

Berdasarkan atas kandungan silikanya, lava diklasifikasikan sebagai “acid” (kandungan tinggi silica, 63% atau lebih) atau “basic” (kandungan rendah silica, 52% atau kurang). Jenis lava intermediate mempunyai persentase silica di antara nilai-nilai tersebut dan dinamakan “andesitic”. Lava berkandungan silica tinggi akan kental sedangkan kalau kandungannya sedikit akan berkurang kekentalannya. Jenis batuan yang dibentuk adalah rhyolitic atau dacitic, dan basaltic. Lava basaltic yang kurang kental akan meliputi wilayah yang luas dan jauh dari sumbernya, tergantung dari kecuraman tanah yang dilalui dan topografinya. Lava basic umumnya mempunyai temperatur lebih tinggi.

Kaldera Batur

Kawasan Geopark Gunung Batur Bali (https://www.geologinesia.com)

Kaldera Batur terdiri atas berbagai lapisan vulkanik yang terbagi atas dua bentuk kaldera hasil erupsi : Catur (13 x 10 km2) dan Batur (diameter 7,5 km) dibentuk di tengah-tengah. Tinggi dari lingkaran kaldera bervariasi dari 1.267 m sampai 2.152 m asl. Sisi timur kaldera ditempati oleh danau. Puncak Batur yang aktif (1.717 m) terletak di 8°14’30” selatan dan 115°22’30” timur yang berada di pusat kaldera. Menurut Kemmerling (1918), Gunung Sukawana dan Gunung Abang (2.152 m) merupakan sisa-sisa vulkanik. Diduga kalau Gunung Batur purba (pre-caldera) lebih tinggi dari Gunung Agung (3.142 m), dan area kaldera yang terbentuk saat ini dibentuk dari stratovolcavo tua yang gugur.

Terminologi “strombolian” dipakai untuk menjelaskan berbagai erupsi vulkanik yang bervariasi dari letusan vulkanik kecil-kecil. Namun demikian, aktivitas yang benar dari strombolian dicirikan oleh ledakan pendek dari lava yang dikeluarkan beberapa ratus meter ketinggiannya ke udara. Erupsi Strombolian tidak pernah membentuk kolom erupsi yang menerus. Gunung Batur meletus sedikitnya 22 kali sejak tahun 1800, umumnya erupsi jenis strombolian dengan atau tanpa aliran lava.

Puncak Batur (1.715 m) yang mempunyai beberapa titik-titik erupsi (kaldera) membentuk puncak baru dan aliran lava, yang dapat dilihat pada sisi barat dari lingkaran kaldera yang dibentuk oleh kerucut scorea dan aliran lava, terlihat dari sebelah barat kaldera. Akumulasi tephra sebagai endapan scorea yang membangun disekitar kolom erupsi sampai mulut kawah.

Formasi Sebelum Kaldera (Pre-caldera)

Pre-caldera strato-volcano, terdiri dari tefra basaltic andesite dan lava basaltic yang membangun lebih dari 3000 m di atas permukaan laut (Kemmerling, 1917; Wheller dan Varne, 1986). Batuan pre-caldera terutama tersingkap di sebelah timur (G. Abang) dan bagaian selatan kaldera dan juga mendasari Batur Ignimbrite di barat dan baratdaya dinding kaldera.

Warisan Budaya

Pura Ulun Danau Batur (https://sejarahbali.com)

Di pinggiran Danau Batur terdapat sejumlah pura sebagian telah ditetapkan sebagai situs arkeologi, antara lain : Pura Ulun Danau Batur, Pura Pancering Jagat Terunyan, dan Pura Bukit Mentik.

Pura Pancering Jagat Terunyan (https://panduanwisata.id)

 Pura Bukit Mentik (https://www.posbali.id)

Desa Trunyan

Desa Terunyan (https://anandatour.web.id)

Desa Terunyan, yang terpencil di pesisir timur dan biasanya dijangkau dengan perahu. Desa Trunyan terletak kurang lebih 5 kilometer dari Desa Kedisan atau kurang lebih 32 kilometer dari kota Bangli atau 70 kilometer dari Denpasar. Desa Trunyan merupakan salah satu Desa Bali Asli (Bali Aga). Disebut demikian karena penduduk di sana merupakan penduduk asli yang beragama Hindu, sedangkan lingkungannya merupakan lingkungan alam pegunungan karena terletak di lereng Gunung Batur yaitu di tepi sebelah Timur Danau Batur. Untuk mencapai desa tersebut dapat ditempuh dengan jalan kaki, atau menyeberang melalui Danau Batur dari Desa Kedisan dengan mempergunakan perahu motor atau boat dengan lama perjalanan kurang lebih 30 menit. Nama Trunyan berasal dari kata “Taru” dan “Menyan”, pohon yang tumbuh di desa tersebut. Penduduk Trunyan menganggap pohon sangat penting.

Desa Trunyan mempunyai suatu tradisi unik, berbeda dengan masyarakat Bali umumnya yang membakar mayat (kremasi) dalam upacara ngaben, masyarakat Trunyan meletakkan mayat di atas tanah, sistem penguburan jenazah yang jauh berbeda dengan desa-desa lainnya di Bali. Mayat warga yang meninggal hanya ditutup dengan kain putih dan tutup bamboo yang disebut “Ancak Saji”, namun wajahnya dibiarkan terbuka, kemudian ditaruh di kuburan tanpa dikubur. Tradisi dari upacara ini disebut “mapasah”, yang tengkorak dan kerangkanya masih banyak yang utuh sampai sekarang.

Di desa ini terdapat pohon terunyan yang konon pohon ini hanya terdapat di desa Terunyan. Kata Terunyan sendiri berasal dari kata taru menyan atau pohon wangi yang dipercaya menjadi kunci mengapa jenazah tidak beraroma busuk meski hanya diletakkan di atas tanah.

Sistem tersebut didasarkan atas mitologi, bahwa di sana pada jaman dahulu khawatir akan bau harum dari sebuah pohon tercium sampai ke sorga, maka beliau memerintahkan rakyat agar tidak mengubur mayat-mayat warga yang meninggal sehingga akan terciumlah bau busuk, namun akibat bau harum tersebut bau busuk dari mayat-mayat warga tak tercium lagi. Telaahan hasil pengamatan di lapangan adalah sbb.: Dengan tetap menghormati dan melestarikan tradisi yang sudah ada, dapatkah diberlakukan “pembuangan” mayat lama, jika ada mayat baru, dengan lebih rapi dan bersih, serta dibudayakan estetikanya. Topografi pinggir danau yang umumnya merupakan tebing curam tampak rawan longsor, dan perlu perhatian yang berwenang. ( Sumber : Gambar : Kompas.com – Benny Dwi K 23 Agustus 2012, artikel : Kompas.com 23 agustus 2012 )

Tarian Khas Kabupaten Bangli

Tari Kreasi Kang Ching-Wie atau Barong Landung

Tari Kreasi Kang Ching-Wie yang mengisahkan mendaratnya Kapal saudagar Cina diperairan Balingkang beserta putrinya yang bernama Kang Ching Wie. Dalam perdagangannya di wilayah Kerajaan Balingkang bertemulah Kang Ching Wei dengan rajanya yang bergelar Sri Jaya Pangus. Dari pertemuan itu timbul rasa ketertarikan sampai akhirnya mereka menjalin hubungan cinta kasih. Akan tetapi cinta terlarang itu kemudian diketahui oleh permaisuri dan dikutuklah kedua pasangan tersebut sehingga menjadi Barong Landung yang kita warisi sampai sekarang.

Tarian ini terinspirasi dari kisah nyata dari kerajaan Balingkang yang merupakan kerajaan pertama di Bali. Akulturasi budaya Bali kuno dengan Cina tampak pada garapan seni ini. Tari kreasi ini diiringi oleh seperangkat Gambelan Baleganjur. Dan kehidupan sosial masyarakat di sekitar Kaldera Gunung Batur juga masih terpengaruh oleh kisah Raja Jayapangus dengan Putri Kang Ching Wie.

Karya seni ini ditampilkan saat Pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-36 pada tanggal 13 Juni 2014. Fragmentari yang cukup monumental ini dipentaskan didepan podium kehormatan yang disaksikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tarian khas Kabupaten Bangli berupa tari kreasi akan dijadikan tari maskot atau ciri khas Geopark Kaldera Batur.

Informasi lebih lanjut hubungi

Geopark Kaldera Gunung Batur
Kintamani, Bangli – Bali – Indonesia
Telp./Fax.: (62) 366 91537
Website: https://www.baturglobalgeopark.com
Email: info@baturglobalgeopark.com