Geopark Gunung Sewu DIY (Video)

Curug Luweng Sampang, Gunung Kidul, DI Yogyakarta (https://indonesia.tripcanvas.co)

Geopark Gunung Sewu di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ditetapkan sebagai Geopark Dunia saat Simposium Geoparks Network Asia-Pasifik yang ke-4, di San’in Kaigan Geopark, Jepang, pada tanggal 15 hingga 20 September 2015, merupakan Geopark kedua di Indonesia.

Kawasan karst Gunungsewu merupakan kawasan paling istimewa di Jawa. Kawasan itu berbentuk conical hills, terdiri dari sekitar 40.000 bukit karst. Panjang kawasan ini mencapai 85 kilometer dengan luasan endapan gampingnya mencapai 1.300 kilometer persegi. Mencakup Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). Bentang alam karst tumbuh melalui pembubaran, ketika batu kapur itu terangkat dari dasar laut sekitar 1,8 juta tahun yang lalu.Uplift kemudian menyebabkan pembentukan teras pantai dan sungai serta singkapan batu pasir.  Batu-teras yang mengelilingi hampir setiap bukit di Gunungsewu menjadi saksi lokal bagaimana pengetahuan diwariskan dari generasi ke generasi untuk mempertahankan tanah yang relatif tipis untuk pertanian.

Piagam Gunung Sewu sebagai UNESCO Global Geopark (https://gunungsewugeopark.org)

Sejarah Gunung Sewu

Formasi geologi Geopark Gunung Sewu (Sumber: Majalah GeoMagz Vol. 5, No. 4, Desember 2015)

Kawasan gunung sewu merupakan kawasan batuan gamping yang terbentuk 15 hingga 2 juta tahun yang lalu. Banyak dijumpainya  fosil hewan laut di kawasan Geopark Gunung Sewu, sehingga dapat disimpulkan bahwa kawasan ini merupakan laut kedalaman kurang lebih 40 meter yang terangkat kepermukaan, kemudian terbentuk morfologi seperti bukit, lembah, dan lekukan topografi yang sangat unik. Proses pembentukan kawasan di Gunung Sewu dikendalikan oleh struktur biologi, seperti patahan dan retakan yang memfasilitasi masuknya air hujan ke dalam lapisan batu gamping yang lebih dalam.

Pengangkatan batuan gamping ini ke atas permukaan air laut ini membuat batu gamping mengalami proses pelarutan oleh air membentuk bentang alam karst. Dengan demikian karstifikasi tidak hanya terjadi dipermukaan saja tetapi juga dibawah permukaan tanah, sebelum akhirnya membentuk sistem pergoaan. Selain itu, pelarutan selama ratusan tahun menghasilkan lorong-lorong goa dan berbagai hiasan atau ornamen goa, seperti stalactit, stalagmit, coloumn dan sebagainya.

Luweng Grubug ini terlihat seperti sumur biasa dan tertutup oleh pohon yang rimbun, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta (https://www.satyawinnie.com)

Kawasan Geopark Gunung Sewu memiliki 33 situs kawasan warisan bumi yang terdiri dari 30 situs geologi dan 3 situs non geologi. Gunung api purba formasi Nglanggeran, endapan laut tua formasi Sambipitu Kabupaten Gunung Kidul, dan Goa Gong Kabupaten Pacitan merupakan situs unggulan geologi. Disamping itu ada situs Lembah Kering Purba Giritontro Kabupaten Wonogiri,  kompleks goa di Kecamatan Pracimantoro, dan Pantai Klayar Kabupaten Pacitan.

Karst Gunung Sewu adalah tipe karst tropis yang bercirikan bukit-bukit setengah bola, dan berlereng cembung, serupa yang terdapat di negara Jamaika, negara Philipina dan Dalmatia di negara Kroasia.

Luweng Jaran Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (https://www.wisatapacitan.biz)

Dibawah permukaan tanah kawasan Geopark Gunungsewu berkembang sistem goa, baik goa horisontal, goa vertikal atau gabungan keduanya. Terdapat lebih dari 400 goa telah terpetakan, dengan sebagian goa sudah dikelola masyarakat lokal dengan basis eko wisata.

Sistem goa vertikal atau luweng juga banyak dijumpai di kawasan Geopark Gunungsewu. Luweng Grubug Kabupaten Gunung Kidul sedalam lebih dari 90 meter dan Luweng Jaran Kabupaten Pacitan sedalam lebih dari 20 km menjadi sistem pergoaan terdalam dan terpanjang di pulau Jawa. Di dalam luweng ini banyak dijumpai sungai bawah tanah yang mengalirkan air sepanjang musim. Sedangkan goa-goa ditebing pantai selatan banyak menjadi habitat alami burung walet dan kelelawar.

Gunung Api Purba Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul (https://infomedanterlengkap.blogspot.com)

Situs Geologi

Kawasan Geopark Gunung Sewu (https://pustakadigitalindonesia.blogspot.co.id)

Daerah Gunungsewu merupakan kawasan karst Tropik yang cantik dan terluas di Asia tenggara. Daerah ini secara administerasi termasuk wilayah Kabupaten Gunungkidul (DIY), Kabupaten Pacitan (Jawa Tengah), dan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah). Secara geografik berada di 6° 10‟ to 6° 30‟ LS dan 99° 35‟ to 100° BT, lebih-kurang 25 km Tenggara Yogyakarta, sekitar 109 km NNW dari Pacitan, dan hanya 20 km SW dari Wonogiri. Luas kawasan Gunungsewu lebih-kurang 800 km2, sangat mudah diakses dari Yogyakarta – Wonosari, Wonogiri dan Pacitan. Dalam konteks geopark, Gunung Sewu memiliki 30 situs geologi (geosite) yang tersebar di tiga geoarea.

Pertama, Geoarea barat di Gunung Kidul. Di sini terdapat Formasi Nglanggran, Formasi Sambipitu, Gua Pindul, Kali Suci, Luweng Jomblang, Pantai Siung-Wediombo, Lembah Sadeng, Air Terjun Bleberan, Pantai Baron-Kukup-Krakal, Luweng Cokro, dan Gua Ngingrong. Semuanya berkaitan dengan gunung api, gua, sungai, air terjun, dan pantai.

Pantai Siung (https://kemolekanalam.blogspot.co.id)

Baca: Kemolekan Pantai Gunung Kidul

Kegiatan kegunungapian yang berlangsung sekitar 20 juta tahun yang lalu menghasilkan runtunan batuan gunung api dan menjadi lokasi tipe Formasi Nglanggran (Gunung api Miosen Awal). Kemudian fase sedimentasi setelah letusan Gunung Api Nglanggran menghasilkan endapan laut yang terbentuk sekitar 16 juta tahun lalu yang menjadi lokasi tipe Formasi Sambipitu.

Sistem perguaan di geoarea barat dimulai dari Gua Pindul yang berkembang pada batugamping Formasi Oyo terbentuk sekitar 1,8 juta tahun lalu, ketika batugamping terangkat dari dasar laut dan mengalami karstifikasi tingkat lanjut. Luweng Jomblang yang tegak sedalam 40 m pun terbentuk sekitar 1,8 juta tahun lalu. Luweng Cokro memperlihatkan retakan pada batugamping yang berkembang menjadi gua vertikal. Sementara Gua Ngingrong memiliki lorong mendatar sepanjang beberapa ratus meter yang dasarnya ditempati sungai bawah tanah kecil dan genangan air.

Sungai atau Kali Suci (https://kalisucisipencurihati.blogspot.co.id/)

Selanjutnya, Sungai Suci yang berhulu di bagian selatan Plato Wonosari masuk ke dalam tanah melalui mulut Gua Suci dan akhirnya muncul di Pantai Baron. Kelurusan gua-gua Suci-Glatikan-Mburi Omah-Grubug dikendalikan oleh struktur patahan berarah utara timur laut-selatan barat daya.

Adapun yang berupa pantai kita dapat menyaksikannya pada Pantai Siung-Wediombo dan Pantai BaronKukup-Krakal. Singkapan batuan gunung api tua yang tersesarkan di segmen Pantai Siung mbagian timur  dipotong oleh retas andesit-basal. Di segmen Pantai Siung  sebelah barat, bongkahan batugamping yang disebabkan  oleh struktur geologi membentuk tonjolan-tonjolan yang  sangat ekspresif.

Selanjutnya, lembah kering Girotontro-Sadeng yang memotong lapisan batu gamping Formasi Wonosari dinamakan Lembah Sadeng. Lembah hasil kikisan sungai ini terbentuk sekitar 1,8 juta tahun lalu. Lembah kering ini berbelok-belok mengikuti arah retakan batuan. Kemudian, cucuran air terjun Bleberan setinggi belasan meter yang melewati dinding terjal batugamping. Tebing ini merupakan bidang patahan yang arahnya memotong aliran sungai. Situs geologi ini dikelola oleh masyarakat setempat menjadi objek dan daya tarik geowisata.

Kedua, Geoarea tengah yang termasuk wilayah Wonogiri. Situs geologi yang dapat kita jumpai di sini adalah Lembah Giritontro, Gua Sodong, Gua Tembus, Luweng Sapen, Gua Mrico, Gua Potro-Bunder, dan Pantai Sembukan. Bila dibagi lagi, situs geologinya terdiri dari lembah, gua dan pantai. Mengenai lembah, di bagian utara ada Lembah Giritontro yang dindingnya berlereng terjal membentuk gawir setinggi puluhan meter karena dipengaruhi oleh patahan.

Adapun gua yang ada di geoarea ini terdiri dari Gua Sodong, Gua Tembus, Luweng Sapen, Gua Mrico, dan Gua Potro-Bunder. Gua Sodong terbentuk setelah batugamping Formasi Oyo terangkat ke permukaan sekitar 1,8 juta tahun yang lalu (tyl) dengan bentuk mulut gua yang dipengaruhi oleh kekar dan perlapisan batuan. Gua Tembus menembus bukit yang disusun oleh batugamping Formasi Oyo. Di gua ini  karstifikasi di kedalaman tanah dimulai sejak batugamping terangkat dari dasar laut, sekitar 1,8 juta tyl.

Goa Mrico (https://debbyeka.blogspot.co.id)

Di Luweng (gua) Sapen terdapat sistem gua kombinasi antara lorong mendatar dan lorong tegak dan genangan air yang jernih. Alirannya bersifat perennial dan hanya sedikit berfluktuasi antara musim hujan dan kemarau.

Gua Mrico memiliki lorong mendatar dengan dasar gua yang dilapisi sedimen berwarna coklat. Hal ini menunjukkan bahwa gua itu pernah menjadi hunian sementara manusia prasejarah. Sementara itu, dasar Gua Potro-Bunder dilapisi sedimen dan dihiasi ornamen seperti stalaktit, stalagmit dan flowstone.

Pantai Sembukan (https://okta-vita.blogspot.co.id)

Pantai Sembukan yang terjal dan disusun oleh batugamping Formasi Wonosari memiliki panorama yang sangat indah. Setempat tersingkap batupasir, yang letaknya berada di bawah batugamping yang permukaannya sangat berongga. Dinding terjal yang membatasi pantai merupakan gawir patahan turun yang berarah hampir barat-timur. Banyaknya kekar yang memotong batuan pantai menunjukkan proses neotektonik yang masih aktif hingga sekarang.

Ketiga, Geoarea bagian timur (Georea Pacitan) terdiri dari pantai, gua, sungai, dan telaga. Selengkapnya adalah sebagai berikut: Pantai Klayar, Pantai Buyutan, Pantai Watukarung, Pantai Srau, Pesisir Teluk Pacitan, Gua Gong, Gua Tabuhan, Luweng Jaran, Song Terus, Luweng Ombo, Luweng Ombo, Sungai Baksoka, dan Danau Guyangwarak.

Pantai Klayar (https://kemolekanalam.blogspot.co.id)

Pantai Klayar yang merupakan pocket bay terbagi menjadi bagian timur, tengah, dan barat. Di dasar tebing pantai ini terdapat paparan kecil yang permukaannya miring ke arah daratan (utara). Permukaan paparan itu terabrasi yang pada awalnya mendatar atau miring ke selatan (ke arah laut). Di Pantai Buyutan terdapat undak struktur setinggi 40 m yang disusun oleh batuan siliciclastic yang miring 60 ke arah laut. Di depan tebing pantai yang terjal terdapat beberapa sea-stacks, dengan bentuk-bentuk topografi permukaannya yang unik.

Pantai Watukarung (https://kemolekanalam.blogspot.co.id)

Pantai Watukarung juga merupakan pocket bay yang dikelilingi bukit batugamping. Sementara Pantai Srau yang disusun oleh batugamping Formasi Wonosari terdapat bentukan hasil abrasi seperti cone-shaped rocky islets, sea-stacks, sea-arch, dan sea-level notches. Di pinggiran Teluk Pacitan sebelah timur dan barat teramati adanya lima stacked level surfaces. Di bagian barat teluk tersingkap batuan terobosan andesit yang terpatahkan dan terkekarkan.

Adapun  Gua Gong yang merupakan ruangan besar berukuran panjang sekitar 100 m, lebar 15-40 m dan tinggi 20-50 m dibentuk oleh proses pelarutan pada batugamping Formasi Wonosari yang berumur 15-3 juta tahun. Selanjutnya Gua Tabuhan yang mempunyai lorong mendatar sepanjang 105 m, berarah barat-timur, dasarnya dilapisi oleh sedimen berwarna coklat dan mengandung sisipan tuf berwarna putih. Pada 1955, van Heekeren melakukan penggalian pada lapisan sedimen gua, dan menemukan sisa-sisa tulang vertebrata dan peralatan batu.

Goa Gong (http://www.nativeindonesia.com)

Baca: Menelusuri Goa Gong Pacitan Jawa Timur

Luweng Jaran merupakan sistem gua yang terpanjang di Jawa dengan lorong yang sudah dipetakan sekitar 14,3 km. Pembentukannya dikendalikan oleh sesar berarah utara-timur laut-selatan-barat daya pada lapisan batugamping Formasi Wonosari sekitar 1,8 juta tahun lalu. Song Terus adalah gua berlorong pendek yang menembus bukit setempat yang terbentuk tidak lama setelah batugamping Formasi Wonosari terangkat ke permukaan, sekitar 1,8 juta tahun lalu. Luweng Ombo adalah gua yang berkembang dari dolina yang mengalami peruntuhan dan pelarutan.

Baksoka menjadi satu-satunya situs geologi di geoarea timur Gunung Sewu yang merupakan sungai permukaan. Lembah sungai yang berundak menyingkapkan endapan Kuarter lempung hitam (Formasi Kalipucung), yang menindih tak selaras batu pasir gampingan Formasi Oyo. Pada endapan aluviumnya, van Heekeren (1955) menemukan banyak sekali artefak budaya Pacitanian dari Zaman Paleolitikum.

Guyangwarak merupakan telaga yang berair sepanjang tahun. Telaga itu dibentuk oleh genangan air yang mengisi lekuk dolina yang dasarnya dilapisi oleh terrarossa bersifat lempungan sehingga menjadi kedap air. Nama Guyangwarak menunjukkan bahwa telaga ini menjadi tempat badak mandi. Kejadian itu disaksikan oleh leluhur penduduk Pacitan, sehingga punahnya badak di Gunung Sewu diduga belum lama terjadi.

Warisan Budaya

1. Geoarea barat di Gunung Kidul

Gunungkidul  yang memiliki wilayah yang terluas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini teryata memang istimewa. Memiliki luas 46,6%dari  total wilayah di DIY dan teryata memiliki asset budaya dan cagar budaya yang sungguh luar biasa.

Temuan-temuan tersebut diantarannya, Situs Bleberan, Situs Sokoliman, Situs Gunung Bang, dan Situs Gondang.

Untuk kerangka manusia purba banyak ditemukan di goa-goa  di wilayah Gunungkidul, seperti Goa Rancang, Goa Braholo, Goa Tritis dan Goa Song Blendrong.

Selain banyak peninggalan-peninggalan pada masa prasejarah juga banyak ditemukan pada jaman atau masa klasik Hindu Buda, seperti struktur candi-candi yaitu candi Dengok, Candi Plembutan, Candi Pulutan, Candi Krapyak, Candi Risan dan Candi Genjahan.

Hampir semua candi-candi tersebut mengalami kerusakan,  dalam bentuk fisik tidak diketahui walaupun lokasinya ada, sehingga secara arkeologis tidak dimungkinkan untuk dipugar, kecuali candi Risan masih bisa dilihat atau disaksikan walaupun kondisinya sudah tidak utuh lagi, namun masih terpelihara dengan baik.

2. Geoarea tengah di wilayah Wonogiri

Wonogiri memiliki latar belakang sejarah tua juga dikuatkan dengan penemuan Prasasti Wonogiri (903 M) saat pemerintahan Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung (898 – 913 M), diterangkan bahwa desa-desa yang terletak di kanan-kiri Sungai Bengawan Solo dibebaskan dari pajak dengan syarat penduduk desa tersebut harus menjamin kelancaran hubungan lalu lintas melalui sungai.

RM Said atau Pangeran Sambernyawa mengawali perjuangan mendirikan dinasti Mangkunegaran justru dari Bumi Nglaroh (Desa Pule Kecamatan Selogiri) pada tanggal 19 Mei 1741. Di tempat ini ditemukan adanya peninggalan sejarah berupa batu gilang. Adanya penemuan itu, Pemerintah Kabupaten Wonogiri memilih tanggal 19 Mei 1741 sebagai hari jadi pemerintah Wonogiri dengan Peraturan Daerah (Perda) nomor 5 tahun 1990. Untuk mengenang sejarah, di Nglaroh dibangunlah Monumen Batu Gilang.

Pemanfaatan GeoPark Gunung Sewu

Dengan segala keunikan, keindahan alam, dan keanekaragaman seni budaya masyarakatnya,  kawasan Gunung Sewu memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. Pengembangan potensi Geo Park Gunung Sewu bertujuan untuk melestarikan alam kawasan karst, sumber penelitian dan ilmu pengetahuan, konservasi, disamping untuk mengembangkan sisi perekonomian masyarakat yang hidup dikawasan Gunung Sewu.

Informasi lebih lanjut hubungi

2 thoughts on “Geopark Gunung Sewu DIY (Video)

Leave a Reply