Batik Nunukan

Pada tahun 1999, pemerintah pusat memberlakukan otonomi daerah dengan didasari Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan dasar inilah dilakukan pemekaran pada Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi 2 kabupaten baru lainnya, yaitu Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Pelatihan teknik batik yang dilakukan Disparpora Nunukan (https://kaltara.prokal.co)

Di Kabupaten Nunukan ditempati lima suku besar yaitu Dayak Lundayeh, Dayak Tagalan, Dayak Taghol, Dayak Tidung dan Bulungan, hingga terbentuk Batik Lulantatibu merupakan singkatan dari nama sejumlah suku Dayak tersebut.

Motif

Upaya pencarian corak untuk batik Lulantatibu dibutuhkan beberapa tahun mengingat ada 5 etnis Suku Dayak di Kabupaten Nunukan yang memiliki corak dengan ciri khas suku masing-masing.

Dayak Lundayeh yang menempati wilayah bagian Utara Kabupaten Nunukan memiliki corak khas gambar tempayan yang dalam bahasa setempat dinamai arit tabuk. Filosofi dari arit tabuk adalah melindungi.

Tempayan sendiri dalam kehidupan suku Dayak Lundayeh selain digunakan sebagai tempat menyimpan bahan makanan dan harta benda, juga merupakan alat untuk menyimpan jazad manusia. Sehingga tidak heran jika dalam berbagai kerajinan tangan suku Dayak Lundayeh akan terdapat goresan perpaduan garis lurus dan lengkung sebagai simbol arit tabuk.

Sementara dari Suku Dayak Taghol yang mendiami wilayah Kecamatan Lumbis, corak yang digambarkan dengan perpaduan 4 garis membentuk tameng sangat dominan. Tameng bagi Suku Dayak Taghol memilik arti perlindungan.

Simbol tameng bagi suku Dayak Taghol juga berarti ketahanan. Meski semua suku Dayak di Kabupaten Nunukan memiliki goresan tameng, namun tameng suku Dayak Taghol memiliki corak yang sangat kuat.

Sementara dari Suku Dayak Tagalan diambil goresan perpaduan 4 buah lengkung yang disebut pinduku. Arti kata pinduku dalam bahasa Suku Dayak Tagalan merupakan persatuan. Corak pinduku selain terdiri dari 4 garis lengkung juga terdapat lingkaran di sekeliling garis lengkung serta aksen titik-titik kecil.

Dari Suku Dayak Tidung dan Bulungan corak yang diambil sebagai motif batik lulantatibu berupa goresan bunga raya. Bunga raya mengandung filosofi kemakmuran. Bunga raya dalam keseharian Suku Dayak Tidung Bulungan juga difungsikan sebagai obat yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Setelah berhasil memadukan berbagai motif dari suku yang ada di Kabupaten Nunukan untuk membentuk batik Lulantatibu, pemerintah daerah kemudian menggelar lokakarya yang mengundang perwakilan seluruh warga dayak di Kabupaten Nunukan pada tahun 2011.

Akhirnya pada bulan Mei 2017, batik corak lulantatibu berhasil mendapat paten. ”Yang kita patenkan motif dari masing masing suku dayak bukan corak batiknya,” imbuh Wahyu Puji Lestari, Kasie Kemitraan dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Kabupaten Nunukan.

Batik Lulantatibu sendiri selain menjadi cerminan keberagaman suku di Kabupaten Nunukan juga merupakan simbol kebersamaan antar suku yang mendiami kawasan di wilayah perbatasan tersebut.

Sumber: kompas

Spread the love

One thought on “Batik Nunukan

Leave a Reply