Taman Nasional Gunung Palung Ketapang Kalimantan Barat

Taman Nasional Gunung Palung (https://www.mongabay.co.id)

Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan sebuah taman nasional yang terletak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sekitar 30 menit penerbangan dari Pontianak. Luas taman nasional ini adalah 90.000 hektar, yang terbentang di 6 Kecamatan, yaitu: Simpang Hilir, Simpang Hulu, Sei Laur, Sukadana, Matan Hilir Utara, dan Sandai.

Kawasan ini memiliki kontur yang bergunung dengan perbedaan elevasi yang cukup tajam dari 0 m dpl (untuk tipe hutan Mangrove) hingga 1.700 m dpl (untuk tipe hutan dataran tinggi atau pegunungan). Jenis tanah yang ada pun bervariasi dari Podsolik Merah Kuning, Podsol, Aluvial, Gambut dan bebatuan jenis Granit dan Sandstone. Di tengah kawasan ini terdapat dua buah gunung, yaitu Gunung Palung dan Gunung Panti. Selain itu, kawasan ini merupakan pusat aliran sungai dari beberapa sungai di pantai barat dan selatan Kalimantan Barat, yang meliputi tiga DAS (Daerah Aliran Sungai ) yaitu DAS Simpang, DAS Pawan dan DAS Tulak.

TNGP mempunyai ekosistem yang dikatakan sebagai yang terlengkap di antara taman-taman nasional di Indonesia. Di kawasannya terdapat Gunung Palung yang mempunyai ketinggian 1.116 meter. Selain itu, TNGP juga adalah habitat bagi sekira 2.200 ekor orangutan. Bekantan adalah mamalia dengan jumlah terbesar di TNGP.

Sejarah

Upaya mengenalkan arti penting kekayaan hayati dan spesies di Gunung Palung sudah dilakulkan sejak dahulu. Pada masa kolonial, pemerintah Belanda telah menetapkan secara resmi areal seluas 30.000 hektar yang meliputi Gunung Palung dan Gunung Panti sebagai kawasan lindung.

Selanjutnya, pemerintah Indonesia tetap pula mempertahankan status konservasi kawasan dan mengikuti sistem perlindungan kawasan lindung yang ada. Setelah Indonesia merdeka, kawasan tersebut diklasifikasikan sebagai kawasan cagar alam dengan maksud melindungi ekosistem alam dan keberagaman flora dan fauna yang ada.

Pada tahun 1979, Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang saat itu baru terbentuk mengajukan usulan untuk memperluas kawasan menjadi 90.000 hektar. Agar dapat melingkupi kawasan dataran rendah, rawa dan dataran sedang di sekitar Sukadana. Pada tahun 1990, status kawasan tersebut berubah kembali menjadi Taman Nasional. Walaupun dengan status yang demikian, karakteristik dan keunikan TNGP tetap mendapat tantangan yang cukup berat, dimana keamanan dan usaha perlindungan yang dapat menjaminkan kelestariannya masih memerlukan waktu yang cukup panjang.

Flora

Pulau Kalimantan merupakan sebuah pusat keanekaragaman tumbuhan. Di pulau ini terdapat 10.000 – 15.000 spesies tanaman bunga. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut setara dengan total jumlah flora di seantero Benua Afrika, yang memiliki luas 40 kali lebih besar.

Sedikitnya 2.000 spesies anggrek dan 1.000 spesies paku-pakuan dapat dijumpai pula di pulau ini, termasuk diantaranya tanaman spektakuler pemakan serangga, Kantong Semar (Nepenthes). Jumlah tumbuhan endemiknya juga sangat tinggi, dengan hampir 34% dari seluruh tanaman hanya dapat dijumpai di pulau ini. lni berarti tanaman tersebut tidak dapat dijumpai di tempat lain di muka bumi, selain Kalimantan.

Sebagai perbandingan, hanya 12% dari tanaman dan hewan yang merupakan endemik bagi pulau Sumatera. Dari habitat pegunungan hingga hutan mangrove di pantai, TNGP rnerupakan tempat yang luas bagi varietas yang sangat beragam. Walaupun data yang komperhensif dari jumlah flora yang ada masih belum tersedia, diperkirakan lebih dari 3,500 spesies tanaman kayu tumbuh di sini. Jumlah ini belum termasuk tanaman non kayu, seperti paku-pakuan, lumut-lumutan dan tanaman efifit, yang juga sangat banyak dapat dijumpai di dalam taman nasional.

Tumbuhan dan Suksesi Hutan Tumbuhan merupakan biomassa yang dominan bagi seluruh ekosistem di Gunung Palung. Lebih dari 450 spesies tumbuhan dijumpai di TNGP, termasuk diantaranya pohon-pohon berkanopi lebar seperti Shorea, Dipterocarpus, Koompasia yang ketinggiannya bisa mencapai lebih dari 60 m. Seluruh ekosistem hutan dalam kondisi yang dinamis, dengan kata lain terjadi perubahan secara konstan. Pepohonan akan berkembang, mati atau tumbang. Ketika satu pohon mati, akan terbentuk sebuah ruang kosong dalam kanopi hutan, tersedialah jalan untuk cahaya matahari dan membuka ruang bagi tumbuhnya pohon-pohon baru.

Dipterocarpaceae

Bunga Dipterocarp (https://www.biotik.org)

Salah satu contoh dari spesies klimaks yang sangat penting yang dapat dijumpai di TNGP adalah pohon Dipterocarp, di mana secara ekologi dan komersial sangat bernilai. Karakteristik yang sangat rnengagurnkan dari Dipterocarp adalah jumlah bunganya yang besar berikut pembuahannya yang terjadi dalam interval yang tidak tetap. Setiap 2 – 10 tahun spesies Dipterocarp akan berbuah secara bersamaan dengan satu pohonnya menghasilkan kurang lebih 4 juta bunga dan 120.000 buah.

Durian adalah salah satu contoh dari buah Dipterocarp. Oleh karena itu, banyak spesies dari keluarga Dipterocarp tumbuh bersamaan dan membentuk kerapatan spesies yang unik, dan tidak dapat dijumpai di hutan tropis lainnya di dunia. Tapi kerapatan keragaman spasial ini serta kualitas dari kayunya, membuat tumbuhan Dipterocarp sangat digemari dan terus dieksploitasi secara besar-besaran oleh penebang. Filipina hampir kehilangan seluruh hutan Dipterocarp-nya akibat penebangan. Kalimantan dan Gunung Palung khususnya mungkin saja akan mengalami nasib yang sama, jika kita tidak berbuat sesuatu untuk melindunginya sesegera mungkin. Beberapa spesies tanaman kayu dan non kayu mengembangkan strategi khas bagi dirinya untuk beradaptasi pada lingkungan serta berkompetisi dalam mendapatkan cahaya matahari dan sumber makanan.

Beringin Pencekik

Beringin pencekik (famili moraseae, genusnya ficcus) adalah tipe tanaman perambat yang punya spesialisasi membunuh induk semangnya. Kehidupan tanaman ini dimulai dari ditinggalkannya benih oleh burung atau monyet pada sebuah batang pohon. Dalam perkembangannya, akar beringin pencekik akan masuk mencari tanah dan lambat laun memutus aliran yang masuk ke pohon induk serta memotong suplai makanan ke pohon. Akhirnya tanaman ini akan mengambil alih mahkota pohon dan berakibat membunuh induk semang.

Epifit

Matahari merupakan salah satu sumber terpenting bagi kehidupan. Dalam dunia tumbuhan, kompetisi dalam mendapatkan cahaya matahari juga terjadi. Turnbuhan Epifit telah berevolusi secara unik untuk mendapatkan cahaya matahari. Dalam perkembangannya epifit menempati sudut atau celah kecil pada sebuah pohon, terkadang pada batang yang tertinggi di mana mereka meletakkan akarnya. Mereka memiliki strategi yang beragam untuk mendapatkan air dan makanan Beberapa contoh tanaman epifit adalah anggrek, paku?pakuan dan bromeliat.

Kantong Semar

Kantong Semar merupakan tumbuhan pemakan serangga. Tumbuhan ini mampu menarik minat serangga dengan cairan manis yang dikeluarkannya. Serangga akan mendarat pada bagian licin di kantong semar yang berbentuk seperti daun dan jatuh ke air yang ada di bagian bawahnya. Serangga yang masuk perangkap dikonsumsi akan oleh tanaman. Terdapat lebih dari 28 spesies tanaman yang menakjubkan ini di Kalimantan. Tanaman kantong semar bagaimana pun bukanlah karnivora. Mereka juga mengembangkan cara khusus untulk beradaptasi dengan lingkungannya.

Bagian berbentuk daun dari kantong semar mengumpulkan dan menyimpan air hujan untulk digunakan pada masa kesulitan air, dan didiami oleh miniatur jaring makanan yang kompleks. Terdapat banyak mikroorganisme yang hidup di air yang terdapat di dalam tanaman, sering pula ditemui laba-laba dan larva lalat yang dimangsa oleh serangga yang masuk ke dalamnya. Kantong semar dapat ditemukan di hutan gambut dan habitat hutan pegunungan di TNGP.

Fauna

Dalam satu hektar habitat hutan tropis bisa dijumpai lebih dari 41.000 spesies serangga. Di tambah mamalia, burung, reptil, ampibia dan ikan, jumlah ini akan semakin bertambah. Beberapa peneliti memperkirakan lebih dari 30.000 spesies berbeda di seluruh dunia. Dari manakah keragaman ini berasal? Para peneliti sedang mencari teori yang dapat menjelaskan beragamnya keanekaragaman hayati dari hutan nujan tropis, seperti yang kita temui di Kalimantan.

Bekantan, Ular terbang, Kadal dan Tupai, burung-burung misterius, Kijang Mini merupakan sebagian satwa unik dan eksotis yang ada di Kalimantan. Keadaan ini membuat pulau ini sangat diminati seluruh dunia. Indonesia sering diibaratkan berkompetisi dengan Brazil untuk dianugerahi penghargaan Pusat Keanekaragarnan Hayati di dunia. Walaupun luas Indonesia hanya 1.3%  dari permukaan bumi, namun di dalamnya terdapat 10% dari seluruh tumbuhan yang diketahui, seperdelapan dari seluruh jumlah mamalia dan seperenam dari seluruh burung dan hewan amfibi. Dua pusat utama keanekaragaman hayati di Indonesia adalah Kalimantan dan Papua.

Kalimantan sangat kaya akan satwa burung dan mamalia. Walaupun hanya menutupi kurang cari 0.2% pernukaan humi, satu dari dua puluh burung dan mamalia yang telah diketahui dapat dijumpai di Kalimantan. Fakta-fakta ini membuat Kalinantan sebagai salah satu kawasan penting di dunia dalam perlindungan keanekaragaman hayati.

Mamalia

Di TNGP terdata ada 131 jenis mamalia, dan bisa dipastikan ada banyak lagi yang belum teridentifikasi. Kebanyakan dari mamalia tersebut adalah tikus, kelelawar, dan rubah. Kelelawar merupakan hewan yang nokturmal (hewan giat malam), yaitu aktif dan hanya dijumpai di malam hari. Kalong menyerupai kelelawar tetapi berukuran lebih besar, dengan panjang sayap mencapai 1.5 meter. Ada 8 spesies kelelawar yang terdata di TNGP Tikus hutan juga merupakan hewan nokturnal, tidak seperti tkus rumah, tikus hutan ini umumnya mempunyai bulu yang berwarna-warni, dan cantik.

Kalong atau Large Flying Fox (Pteropus vampyrus)

Kalong (https://www.cakiar.com)

Pada senja hari. hewan ini muIai aktif can keluar mencari buah-buahan sebagai makanannya. Hewan ini sangal penting dalam kehidupan hutan hujan tropis, karena mereka berperan dalam penyerbukan dan penyebaran biji buah-buahan yang dimakannya, termasuk durian. Kelelawar besar ini sangat mengesankan, banyak orang takut terhadap mereka, padahal hewan ini tidak berbahaya. Mereka menggunakan penciuman dalam mencari buah-buahan. Kalong ini hidupnya berkoloni, biasa di temui di hutan mangrove dan nipah.

Orangutan (Pongo pygmaeus)

Orangutan remaja yang mendiami hutan hujan TNGP (https://yayasanpalung.wordpress.com)

Satwa yang beratnya bisa mencapai 90 kg ini mempunyai lengan tangan yang panjang dan kokoh. Mereka hidup di atas polhon dengan sumber makanan dari pohon juga, yatu buah, daun, kulit kayu, dan serangga. Sarangnya terbuat dari ranting dan dahan polhon. Dari hasil penelitian, Orangutan betina dapat melahirkan keturunannya setialp 7 tahun, dan anak Orangutan tersebut selalu berada di dekat induknya hampir sepanjang waktu. Orangutan jantan mempunyai pipi yang besar can selalu berteriak panjang untuk memberitahukan wilayah kekuasaannya, tinggi pejantan ini dapat mencapai 1.4 meter (dengan panjang lengan lebih dari 2.4 meter).

Hewan mi hanya ditemukan di Sumatera dan Kalimantan, yang terus menyusut jumlah populasinya akibat semakin hilangnya kawasan hutan di Indonesia. Diperkirakan TNGP dan areal sekitarnya merupakan satu-satunya habitat satwa arboreal ini yang memiliki dokumentasi paling lengkap. Habitat hidup mereka meliputi Hutan Rawa Gambut, Hutan Dataran Rendah dan Hutan Pegunungan Dipterocarpaceae . Di TNGP telah dilakukan penelitian tentang perilaku, makan, dan reproduksi dari Orangutan ini dalam waktu yang relatif panjang. Hasil penelitian yang telah diperoleh akan sangat berguna dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi Orangutan. Pada saat ini diperkirakan hanya tinggal 2000 – 3000 Orangutan yang ada di dalam dan di sekitar TNGP. Ancaman yang paling serius bagi Orangutan ini adalah semakin berkurang pohon penghasil buah yang merupakan makanan bagi mereka yang semakin dirambah para penebang liar. Jika hal ini dibiarkan tidak lama lagi Orangutan ini akan punah.

Bekantan atau Proboscis Monkey (Nasalis larvatus)

Proboscis Monkey (https://www.youtube.com)

Jenis hewan endemik Borneo (seluruh Pulau Kalimantan, termasuk di Malaysia) artinya yaitu hewan tersebut habitat hidupnya hanya di Borneo. Jenis ini antara lain Monyet Belanda (Nasalis larvatus) yang mempunyai hidung besar dan mancung (jantan) dan dapat ditemui di sepanjang pinggir sungai pada senja hari. Kemudian ada juga Kukang (Nycticebus caoucang borneanus), Lori (Lorises) yang mempunyai ekor sangat pendek. Hewan Lori ini mempunyai gerakan (memanjat) yang sangat larnban. Kemudian ada juga hewan Tarsius (Tarsius bancanus borneanus) yang merupakan hewan nokturmal primata satu-satunya yang bisa ditemukan di TNGP.

Bekantan jantan mempunyai hidung mancung dan berwarna merah. Warna merah pada hidung monyet endemik Kalimantan ini, diduga penarik perhatian betinanya. Jenis monyet ini umumnya ditemukan di sepanjang tepi sungai hutan mangrove, tepian sungai, dan hutan rawa gambut. Hidup berkelompok di sekitar sumber makanannya, yang berupa dedaunan dan buah-buahan. Memiliki kemampuan berenang dengan baik, sehingga memungkinkannya menyeberang sungai dalam jarak yang cukup jauh. Di TNGP, Bekantan dapat ditemukan di sepanjang sungai di bagian barat dataran rendah.

Carnivora

Hutan hujan tropis di Asia Tenggara merupakan tempat yang mempunyai keragaman jenis predator terestrial yang tertinggi di dunia. Di kawasan TNGP terdapat beberapa jenis berang-berang, jenis kucing, musang, luak dan juga rubah. Dari 9 jenis kucing (Family Felidae) yang ditemukan di Indonesia, 5 jenis dapat dijumpai di TNGP, yang salah satunya adalah Macan Dahan yang merupakan spesies langka. Hewan carnivora ini jarang dapat dilihat langsung, tetapi keberadaan mereka dapat diketahui dari jejak yang ditinggalkannya.

Beruang Madu atau Sun Bear (Helarctos malayanus)

Beruang Madu di TNGP (http://www.getborneo.com)

Sebarannya sepanjang Burma sampai Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Sumatera. Merupakan satu-satunya family Ursidae yang ditemukan di Kalimantan. Mempunyai berat antara 50-60 kg dan tinggi pada saat berdiri sekitar 1,2 meter, dengan warna hitam cemerlang dan sedikit warna muda di muka dan di atas dagu. Memiliki kemampuan memanjat dengan sangat balk. Hidup di tanah maupun di atas pohon, dimana mereka membuat sarang seperti Orangutan. Makanan mereka adalah sarang lebah madu, dedaunan, hewan kecil, buah, dan bagian dalam yang lunak dari pohon palem/nipah kelapa. Hewan ini umumnya tidak berbahaya, mereka mempunyai penciuman yang tajam, tetapi tidak dapat melihat dan mendengar dengan baik. Meskipun dernikian terkadang mereka juga dapat membahayakan manusia karena perilaku yang tidak bisa ditebak. Kelangkaan jenis ini disebabkan karena perburuannya, dan perusakan pada habitat mereka.

Macan Dahan atau Clauded Leopard (Neofelis nebulosa)

Macan Dahan (https://pixdaus.com)

Hewan ini merupakan jenis kucing semi arboreal, ditemukan di Kalimantan dalam jumlah terbanyak untuk jenis kucing (family Felidae) Panjang tubuh sekitar 1,5 meter dari hidung ke ujung ekor. Hewan cantik ini mempunyai warna dasar kuning keemasan yang diselingi dengan bercak bercak hitam besar di punggungnya, dan berganti menjadi bintik bintik hitam di kakinya, kemudian lingkaran lingkaran gelap di sepanjang ekornya. Warna yang demikian memudahkan hewan ini untuk bersembunyi di bagan terang maupun bagan gelap dalam hutan. Berburu makanan (Monyet, anak Orangutan, Babi hutan, Rusa, Landak, dan lkan) dilakukan baik siang maupun malam. Macan dahan tidur di atas pohon, dan dapat berburu mangsa sama baik di pohon ataupun di permukaan tanah. Jenis ini ditemukan dari Himalaya ke selatan sampai Sumatera dan Kalimantan. Macan tutul ini mempunyai posisi ekologis yang istimewa di TNGP dan Kalimantan karena mereka menduduki posisi puncak dalam rantai makanan.

Burung

TNGP mempunyai variasi jenis burung yang tinggi, sedikitnya ada 8 spesies endemik Borneo. Untuk mengamati burung diperlukan kepekaan dalam membedakan suara dari pada pengamatan mata. Sedikitnya ada 236 spesies burung yang telah terdata di TNGP,Jenis yang paling sering didengar suaranya adalah burung enggang atau rangkong, dan dari jenis ini yang paling mengesankan adalah Burung Enggang Badak (Buceros rhinoceros). Selain itu terdapat pula, jenis Burung Enggang lain yaitu Burung Enggang Gading (Buceros vigil) yang hampir mirip dengan Burung Enggang Badak, tetapi mempunyai ekor yang jauh lebih panjang seperti ekor layangan. Hasil penelitian terbaru menemukan bahwa ada 14 spesies burung pelatuk (wood pecker) di kawasan TNGP. Burung pelatuk biasanya tinggal dan mencari makan pada pohon yang sudah tua atau mati.

Enggang Gading atau Heimeted Hornbill (Buceros Vigil)

Sepasang Enggang Gading sedang bercengkrama (https://www.wisatakalimantan.com)

Suara jenis burung enggang ini sangat khas, yaitu teriakan panjang dan keras. Jenis burung besar ini mudah dikenali dari suaranya, mempunyai bulu ekor yang panjang sepanjang ukuran tubuhnya, dan merupakan jenis enggang yang langka di Indonesia Hal ini dikarenakan banyaknya orang yang memburu gading yang ada di kepalanya yang dipercayai lebih berharga dari batu jade dan diekspor ke Cina sebagai bahan ukiran. Seperti semua jenis enggang, Enggang Gading juga mempunyai pola sarang yang aneh. Sebelum induk enggang bertelur, pejantan dan betinanya menutup sarangnya dengan ranting, kemudian betina menjatuhkan dirinya ke dalam sarang tersebut. Selanjutnya sarang tersebut ditutup kembali oleh pejantannya sampai telur burung menetas dan menjadi anak burung. Suplai makanan diberikan pejantan melalui celah sempit di sarang. Burung enggang hanya makan buah-buahan, dengan kekuatan paruhnya mereka mampu memecah buah yang paling keras sekalipun. Mereka berperan penting dalam penyebaran biji benih. Ancaman yang paling besar bagi burung enggang ini adalah kegiatan penebangan. Makanan utama mereka adalah buah ficus (beringin pencekik) yang merupakan tumbuhan epifit, yang hidupnya menempel pada pohon besar lain dan umumnya merupakan pohon kornersial, seperti jenis Dipterocarpacea

Reptil dan Amfibi

 Viper Snake di TNGP (https://www.welove-indonesia.com)

Dua grup hewan ini juga terdapat di dalam kawasan TNGP, tetapi keberadaan jenisnya belum begitu banyak diketahui karena dua jenis hewan ini tidak begitu favorit untuk diteliti. Jenis ular yang paling terkenal adalah ular piton yang panjang tubuhnya dapat mencapai 10 meter. Raja ular, yaitu King Cobra yang terkenal dengan kebiasaannya yang suka memangsa jenis ular lain, dan merupakan salah satu ular yang paling berbisa di dunia. Selain itu ditemukan juga krait, viper, rat snake, dan ular pohon.

Katak Pohon

Katak Pohon (https://infopendaki.com)

Jenis ini bersuara pada malam hari dengan suara yang sangat keras, mereka sulit dilihat hanya dikenali dari suaranya. Dengan ukuran tubuh yang kecil mereka bisa dengan mudah bersembunyi diantara dedaunan, ranting, clan dahan. Katak ini menyembunyikan telur mereka di balik dedaunan mati yang lembab pada kolam kecil atau lobang pohon, Lebih dari 180 spesies katak yang ada di Kalimantan, sekurangnya setengah dari jumlah tersebut hidup di pohon.

Invertebrata

Invertebrata adalah binatang yang tidak mempunyai tulang belakang dan merupakan mayoritas binatang yang ada di daerah tropis. Grup taksonomi untuk kelas Serangga itu sendiri termasuk kumbang, semut, lebah, kupu-kupu dan ngengat, capung, lalat, dll. Invertebrata merupakan jenis yang sangat penting dalam parameter kesehatan hutan. Serangga mempunyai peranan dalam mengurai bahan organik pada rantai hutan. Kupu-kupu, ngengat, dan lebah berperan dalam polinasi bunga. Berikut adalah beberapa grup invertebrata yang dapat ditemui di TNGP.

Termites (Family Isoptera)

Ada beberapa genus dan spesies rayap pada hutan Dipterocarp, yang bersama-sama dalam peranan menguraikan jasad organik Makanan rayap ini antara lain kayu rotan, tanah, dedaunan mati, dan juga epifit. Rayap sepintas terlihat seperti semut, mereka juga hidup secara berkoloni dengan jurnlah jutaan. Koloni rayap hidup dengan rnengelilingi telur koloni tersebut. Koloni rayap ini banyak ditemukan di dalam kawasan TNGP, baik dengan membentuk pilar baik di tanah maupun di atas pohon. Beberapa satwa besar seperti Orangutan dan Beruang Madu gemar memakan sarang rayap ini.

Beberapa lokasi atau obyek yang menarik untuk dikunjungi:

1. Riam Berasap

Riam Berasap (https://ketapangcityku.blogspot.co.id)

Riam Berasap merupakan nama air terjun yang terdapat di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya di hulu Sungai Siduk Desa Laman Satong Kecamatan Matan Hilir Utara.

2. Pantai Pulau Datok

Pantai Pulau Datok (https://infopromodiskon.com)

Pantai Pulau Datok terletak di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya di Desa Sutra Kecamatan Sukadana.

3. Gunung Permas

Gunung Peramas terletak di Kecamatan Sukadana yang juga termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

4. Lubuk Baji

Lubuk Baji (https://greens-life.blogspot.co.id)

Lubuk Baji terletak pada gugusan Gunung Pelerangan Desa Begasing, Kecamatan Sukadana.

Transportasi

Para wisatawan yang ingin berkunjung ke Taman Nasional Gunung Palung dapat menempuh beberapa jalur.

Pertama, dari Pontianak menuju Ketapang dengan pesawat udara (2,5 jam) atau dengan Express Boat (6 jam). Kemudian, perjalanan dari Ketapang ke Teluk Melano ditempuh dengan minibus (2 jam). Perjalanan dari Teluk Melano ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung dapat ditempuh dengan Long Boat (6 jam).

Kedua, perjalanan dari Pontianak ke Teluk Batang dapat ditempuh dengan menggunakan Express Boat (4 jam). Dari teluk Batang ke Teluk Melano, dapat ditempuh dengan minibus (1 jam), dan Teluk Melano ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung dapat ditempuh dengan Long Boat (6 jam).

Informasi lebih lanjut hubungi

Balai Taman Nasional Gunung Palung
Jl. Wahid Hasyim 41A Ketapang-Kalimantan Barat
Telp./Fax:+62-534-33539
CP: Franky Zamzani
Website: https://btngunungpalung.tripod.com

Spread the love

One thought on “Taman Nasional Gunung Palung Ketapang Kalimantan Barat

Leave a Reply