Seke-maneke, Menangkap Ikan di Laut Berkelompok

Peta Pulau Sangihe (https://info-kotakita.blogspot.co.id)

Maneke adalah sebuah praktek dan pranata dalam kegiatan penangkapan ikan di laut secara berkelompok pada masyarakat di kepulauan Sangihe dan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Maneke dilakukan dengan menggunakan seke, yaitu seperangkat peralatan tangkap tradisional yang terdiri dari rakitan bambu halus berdiameter 2-3 sentimeter yang dipotong sepanjang setengah depa atau sekitar 80-90 sentimeter. Maneke atau menjaring ikan dengan alat tangkap tradisional, aktifitas menjaring dengan ikan dengan alat tangkap seke pada awalnya dilakoni ketika para nelayan belum menggunakan jaring insang, melainkan dengan merangkai pandihe. Seke-maneke adalah tradisi bahari yang digunakan oleh warga pulau Makalehi yang dilakukan secara berkelompok dalam menangkap ikan

Lokasi Rambu Saratu

Seiring perkembangan jaman, tradisi bahari seke maneke dirasakan semakin memudar. Berdasarkan study yang dilakukan oleh Kagho (2011) memaparkan keengganan pemuda dan pemudi ikut serta dalam kegiatan maneke. Para pemuda dan pemudi dengan latar belakang pendidikan SMA dan beberapa diantaranya sempat mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi berpendapat bahwa sekarang bukan saatnya lagi ikut maneke.

Sejarah

Seke maneke berasal dari kata seke yang berarti seperangkat peralatan tangkap tradisional dan maneke yang berarti menjaring ikan dengan alat tangkap tradisional. Tradisi maneke atau menangkap ikan secara kelompok dengan menggunakan perangkat alat tangkap yang disebut seke dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah Nusa Utara, terutama di pulau Bukide dan pulau Manipa, sisi timur maupun ujung selatan pulau Sangihe seperti di pulau Bebalang, pulau Kahakitang, pulau Para serta pulau Makalehi di sebelah barat pulau Siau.

Alat yang Digunakan

Alat yang digunakan untuk tradisi seke maneke adalah:

1. Seke adalah Alat tangkap ikan yang terbuat dari bambu dan rotan yang dibenamkan kedalam air laut.

2. Pandihe: adalah bambu yang dirangkai untuk menjaring ikan.

3. Jaring: digunakan untuk menggantikan bambu sebagai Pandihe.

4. Perahu: alat berlayar yang digunakan melakukan Seke-maneke, biasanya perahu yang digunakan dinamakan Pambut.

Kelompok-Kelompok Seke

Wilayah daerah tangkap untuk Seke maneke

Dalam kehidupan sosial masyarakat nelayan di Makalehi terdapat beberapa kelompok yang disebut “kelompok seke”. Kelompok seke pertama yang terbentuk adalah Seke Maghurang kemudian muncul Seke Mohongsalu, disusul lagi oleh Seke Yamangsara kemudian Seke Rario, Seke Potase dan terakhir Seke Pirua.

Kedudukan Seke Maghurang, Seke Mohongsalu dan Seke Rario di bagian selatan desa Makalehi meliputi kawasan laut yang dinamakan Malahemung, Tilade dan Saghe Kadio sedangkan tiga seke lainnya yaitu Seke Pirua, Seke Yamangsara dan Seke Potase berkedudukan di bagian utara kampung meliputi tempat yang disebut Malendang.

Ketiga seke di selatan tidak diperbolehkan menangkap ikan di pesisir utara wilayah penangkapan ketiga seke yang berkedudukan di utara, kecuali jika diundang oleh anggota seke lainnya.

Para petugas seke, secara hierarki dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu orang-orang sesuai urutan nomor yang telah ditentukan. Orang-orang nomor satu ini biasanya adalah orang-orang tua yang berpengalaman termasuk tonaseng dan seterusnya kebawah sesuai pengalaman dan kemampuan masing-masing. Hierarki ini juga membedakan pembagian jatah ikan hasil tangkapan.

Di setiap seke terdapat paling kurang tiga kengkang (sejenis perahu londe yang berukuran lebih besar dari biasanya). Ketiga kengkang itu antara lain: 1). Kengkang Namu yaitu perahu tempat tali yang dipasang daun janur untuk mengusir ikan, 2). Kengkang Pandihe, yaitu perahu tempat seke dan 3) Kengkang Usu yaitu perahu tempat membawa telide (telide adalah alat yang berfungsi untuk menekan seke jika ikan bergerak ke bawah. Kengkang Usu ini selalu mengikuti Kengkang Pandihe. Orang-orang yang berada di kengkang-kengkang ini biasanya adalah orang-orang muda yang bertenaga kuat.

Selama melakukan kegiatan penangkapan terdapat larangan tidak boleh menyalakan api di pantai, merokok, bercerita dan membuat gaduh. Ketika seke dilepas, orang yang turun kelaut dengan kaos tidak boleh melepaskan kaos yang dikenakannya. Semua pelanggaran terhadap aturan maneke ini akan dibahas oleh anggota dalam musyawarah seke dalam tingkatan internal seke masing-masing maupun antar seke-seke.

Struktur Organisasi

Setiap kelompok melayan memiliki struktur organisasi berdasarkan tugas yang mereka lakukan, sebagaimana tampak dalam gambar nomor 8. Setiap kegiatan maneke melibatkan sekitar 40 hingga 50 nelayan dan warga dimana tugas dan fungsinya sesuai dengan struktur yang sudah disepakati.

Para petugas seke, secara hierarki dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu orang-orang sesuai urutan nomor yang telah ditentukan. Orang-orang nomor satu ini biasanya adalah orang-orang tua yang berpengalaman termasuk tonaseng dan seterusnya kebawah sesuai pengalaman dan kemampuan masing-masing. Hierarki ini juga membedakan pembagian jatah ikan hasil tangkapan.

Di setiap seke terdapat paling kurang tiga kengkang (sejenis perahu londe yang berukuran lebih besar dari biasanya). Ketiga kengkang itu antara lain: 1). Kengkang Namu yaitu perahu tempat tali yang dipasang daun janur untuk mengusir ikan, 2). Kengkang Pandihe, yaitu perahu tempat seke dan 3) Kengkang Usu yaitu perahu tempat membawa telide (telide adalah alat yang berfungsi untuk menekan seke jika ikan bergerak ke bawah. Kengkang Usu ini selalu mengikuti Kengkang Pandihe. Orang-orang yang berada di kengkang-kengkang ini biasanya adalah orang-orang muda yang bertenaga kuat.

Tradisi-tradisi bahari Seke maneke

Selama melakukan kegiatan penangkapan terdapat larangan tidak boleh menyalakan api di pantai, merokok, bercerita dan membuat gaduh. Ketika seke dilepas, orang yang turun ke laut dengan kaos tidak boleh melepaskan kaos yang dikenakannya. Semua pelanggaran terhadap aturan maneke ini akan dibahas oleh anggota dalam musyawarah seke pada tingkatan internal.

Makna tradisi bahari Seke maneke

Sebagai sebuah wujud budaya Seke maneke adalah tradisi bahari yang sarat makna yang sangat terkait dengan sistem pengetahuan lokal dan pemaknaan yang cukup kompleks tentang alam fisik, tentang hubungan antar manusia, serta tentang alam makro kosmos dan Tuhan. Tiap maneke yang dilakukan selalu ada keterkaitan dengan semesta, tak hanya semata soal menangkap ikan.

Bagaimana tradisi bahari Seke-maneke, menarik bukan!

Sumber: Rumah Belajar

Spread the love

Leave a Reply