Museum Kereta Api Sawahlunto Sumatera Barat

Museum Kereta Api Sawahlunto terletak di Jalan Kampung Teleng, Kelurahan Pasar, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Museum Kereta Api Sawahlunto menempati ruangan di dalam bangunan Stasiun Kereta Api Sawahlunto ini, merupakan Museum Kereta Api kedua, sesudah  Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah.

Museum Kereta Api Kota Sawahlunto (https://www.travelling.web.id)

Di depan stasiun terdapat patung Dr. J.W Ijzerman yang merupakan seorang insinyur utama jawatan kereta api Belanda yang sangat berpengaruh dibalik pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda.

Gedung Stasiun Kereta Api Sawahlunto dibangun pada 1912, namun sejak 2003 angkutan batubara tidak lagi memakai kereta api, sehingga sekarang hanya digunakan untuk melayani kereta api wisata sewa dan reguler pada hari Minggu.

Museum Kereta Api Kota Sawahlunto

Sejarah

Setelah penemuan kandungan batubara yang mencapai 200 juta ton oleh WH de Greeve pada 1868, Belanda menanamkan modal 5,5 juta golden untuk membangun permukiman dan fasilitas perusahaan tambang batubara Ombilin. Jalur kereta api Sawahlunto – Emma Haven (Teluk Bayur) pun dibangun oleh Sumatra Staats Spoorwegen atau perusahaan kereta api negara Sumatera, memulai sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat.

Jalur Pulau Aie (Padang) – Padangpanjang selesai 12 Juli 1891, Padangpanjang – Bukittinggi selesai 1 November 1891, dilanjutkan jalur ke Solok yang selesai 1 Juli 1892. Jalur Solok – Muarokalaban dan jalur Padang – Telukbayur selesai secara bersamaan pada 1 Oktober 1892, dan akhirnya jalur Muarokalaban – Sawahlunto pun selesai pada 1 Februari 1894.

Selama lebih dari 100 tahun Stasiun Sawahlunto merupakan stasiun yang sibuk demi kepetingan pengangkutan batubara, setidaknya pada saat itu untuk sekali pengangkutan mampu menarik 200 gerbong berisikan batubara berkualitas terbaik. Pada awal tahun 2000-an terjadi kemerosotan yang sangat tajam terhadap hasil tambang batu bara dan puncaknya pada tahun 2003 pengangkutan batubara dengan kereta api dihentikan.

Mak Itam

Mak Itam telah pensiun sejak tahun 2013

Di samping museum terdapat depo tempat disimpannya loko uap dengan nomor seri E1060 buatan Jerman yang akrab disebut Mak Itam, saat dipulangkan dari Museum Kereta Api Ambarawa pada tahun 2008, Mak Itam kembali dihidupkan sebagai salah satu obyek wisata andalan Sawahlunto untuk mengenang kejayaan industri batubara yang pernah ada di kota kecil ini, wisatawan akan diajak berjalan diatas rel dengan rute Sawahlunto ke Muara Kalaban yang berjarak sekitar 8 Km, rute ini akan melewati sebuah terowongan yang lebih dikenal dengan sebutan Lubang Kalam yang berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Sawahlunto, terowongan ini memiliki panjang sekitar 800 meter.

Namun sejak tahun 2013, Mak Itam tidak lagi menjerit, berbagai upaya telah dilakukan agar Mak Itam kembali hidup namun rusaknya 12 pipa pemanas membuat tekanan uap yang dihasilkan dari pembakaran batu bara tidak cukup menggerakkan roda lokomotif. Akhirnya saat ini wisatawan hanya bisa melihat Mak Itam dibalik jeruji besi.

Koleksi

Museum Kereta Api Kota Sawahlunto (https://www.triptrus.com)

Museum ini memiliki koleksi berjumlah 106 buah yang terdiri dari gerbong (5 buah), lokomotif uap (1 buah), jam (2 buah), alat-alat sinyal atau komunikasi (34 buah), foto dokumentasi (34 buah), miniatur lokomotif (9 buah), brankas (3 buah), dongkrak rel (5 buah), label pabrik (3 buah), timbangan (3 buah), lonceng penjaga (1 buah), dan baterai lokomotif (2 buah).

Informasi lebih lanjut hubungi

Museum Kereta Api Sawahlunto
Jalan Kampung Teleng, Kelurahan Pasar, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Telp.: 62754 61023.
Jam Buka: Selasa – Minggu: 08.00 – 17.00, Senin: Tutup.

Spread the love

Leave a Reply