Kain Tenun Songket Lombok NTB

Banyak yang bisa kita kagumi dari keberadaan pulau Lombok yang terletak di Nusa Tenggara Barat ini. Salah satunya adalah kain tenunnya. Di Lombok kain tenun mewarnai perjalanan hidup seorang anak manusia, sejak ia dilahirkan hingga meninggal dunia. Lebih-lebih bagi orang sasak. Menurut orang Sasak yang merupakan penduduk asli pulau Lombok, kain tenun sangat berkaitan dengan banyak aspek dalam budaya mereka. Sampai-sampai untuk menenunpun harus didahului dengan upacara adat terlebih dahulu, meskipun sekarang ini ritual tersebut sudah tak lagi dijalankan. Terkecuali di beberapa daerah yang menjadi tempat pembuatan kain Umbaq.

Menurut penuturan budayawan Lombok  L  Agus Fathurrahman,  seorang bayi yang lahir di Lombok akan dibuatkan tenun Umbaq. Tenun Umbaq merupakan kain tenun bermotif garis-garis dengan rumbai, yang diikat dengan kepeng bolong atau uang logam berlubang. Kain yang dipakai untuk menggendong anak ini sebagai simbol kasih sayang dan penuntun hidup. Kain inilah yang nantinya akan dipegang (disimpan) si anak hingga ia dewasa dan meninggal dunia.

Di Pulau Lombok kain tenun masih dipakai dalam upacara adat seperti pada acara peraq api atau puput pusar bayi, berkuris (mencukur rambut bayi), sorong serah aji krama (penyerahan kain tenun dari keluarga mempelai pria kepada keluarga istri), dan besunat (khitan). Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kain tenun dipakai untuk menggendong anak, selimut, beribadah, dan penutup jenazah.  Serunya lagi di desa Sukarara Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, perempuan baru diperbolehkan menikah kalau sudah pandai menenun. Memang begitulah peraturan adat yang berlaku disana. Mereka disyaratkan bisa menenun setidaknya satu helai kain, yang nantinya kain tenun tersebut akan diberikan kepada calon suami. Jika hal tersebut dilanggar, sang perempuan tersebut akan dikenakan denda berupa uang maupun hasil panen padi.

Dalam buku Kain Tenun Tradisional Nusa Tenggara karya Suwati Kartiwa disebutkan, kain tenun Lombok mewarisi beberapa ciri yang sama dalam hal corak dan warna dengan tenun Bali, terutama yang berkembang di bagian barat Lombok. Namun, corak hias Lombok tidak sebesar Bali dan tidak pernah pula memakai benang emas.

Cara pembuatan

Pembuatan kain tenun secara klasik atau tradisional ini diawali dengan mempersiapkan pembuatan benang, berikut pembuatan zat warnanya juga. Pembuatan benang secara tradisional menggunakan pemberat yang diputar-putar dengan jari-jari tangan. Sementara pemberatnya sendiri berbentuk seperti gasing yang terbuat dari kayu atau terakota. Untuk bahan membuat benang mengggunakan kapas, kulit kayu, serat pisang, serat nanas, daun palem dan lain sebagainya. Untuk pembuatan zat warnanya sendiri terdiri dari dua warna yaitu biru dan merah. Warna biru didapatkan dari indigo atau Mirinda Citrifonela atau mengkudu. Selain menggunakan mengkudu sebagai bahan pewarna, mereka juga menggunakan pewarna dari bahan tumbuhan lain seperti kesumba (sono keling).

Kain tenun Lombok memang terbilang unik. Motif kain tenun yang dibuat biasanya sesuai dengan keinginan si penenun itu sendiri, saat melakukan proses penenunan kain tersebut.  Pada umumnya motif mengikuti bentuk-bentuk geometris atau bentuk-bentuk objek lainnya, yang divariasikan juga dengan kreativitas masing-masing pengrajin kain tenun.

Sebenarnya motif atau reragian terbentuk dari persilangan benang pakan dan benang lungsin. Benang pakan adalah benang yang arahnya vertikal atau mengikuti panjang kain tenun, sedangkan benang lungsin adalah benang yang fungsi arahnya horizontal atau mengikuti lebar kain tenun.

Motif Tenun

Beberapa jenis motif (reragian) kain tenun ternyata memiliki kandungan makna serta nilai estetika yang tinggi. Kain tenun Lombok  dipercaya memiliki nilai yang sakral dan tidak sembarang orang bisa mengenakannya. Motif dan makna sangat disesuaikan dengan kondisi si pemakainya. Di Lombok penerapan motif kain tenun biasanya disesuaikan dengan fungsinya. Kain tenun yang dibuat khusus untuk tujuan kelengkapan upacara, ragam hiasannya akan berbeda dengan kain tenun yang dibuat dengan tujuan untuk menghias diri semata. Khusus kain tenun yang dibuat untuk kelengkapan upacara, biasanya motif dan warnanya memiliki arti lambang simbolis tertentu. Karena diharapkan tuahnya mampu mendatangkan kebaikan-kebaikan tersendiri bagi pemakainya.

Motif Subhanale

Motif Subhanale (https://dlavabutik.com)

Konon dulu ada seorang penenun yang merasa puas dengan hasil tenunannya, kemudian mengucapkan kalimat “Subhanallah“ yang artinya Maha Suci Allah. Dari sanalah lahir nama Subhanale untuk motif kain tenun, sebagai bentuk mengagungkan  asma Allah.

Motif subhanale mempunyai makna keikhlasan dan kesabaran, serta bentuk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada mulanya yang dinamakan motif Subhanale adalah motif geometris segi enam, didalamnya diberi isian atu dekorasi berbagai bentuk bunga seperti bunga remawa, kenanga atau tanjung. Warna dasar kain merah atau hitam yang bergaris-garis geometris berwarna kuning. Motif Subhanale sendiri banyak ragamnya. Kain tenun motif Subhanale biasanya digunakan oleh kaum pria dan wanita untuk pakaian acara pesta atau upacara adat.

Motif Serat Penginang

Dalam bahasa Sasak “Serat Penginang“  artinya  tempat menginang (makan sirih). Ciri motif corak ini berbentuk kotak-kotak segi empat dan diberi hiasan motif binatang, tepak dara atau garis silang menyilang. Motif Serat Penginang bisa digunakan oleh pria atau wanita saat melakukan upacara adat. Motif ini bermakna manusia harus memiliki sikap kebersamaan dan rukun terhadap sesamanya.

Motif Ragi Genep

Ragi dalam ungkapan bahasa Sasak berarti syarat. Tata cara “Genep“ berarti cukup. Makna ungkapan ini adalah orang yang hendak berpergian sebaiknya berpakaian yang memenuhi syarat, sesuai dengan tata cara/norma yang berlaku di masyarakat tersebut.  Biasanya dipakai sarung dan dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari, baik oleh pria ataupun wanita. Pria untuk dodot sementara Wanita sebagai Selendang.

Motif Bintang Empat

Ciri khas motif bintang empat ini menggunakan corak kotak-kotak warna merah dan hijau muda, atau garis-garis mendatar dengan warna merah dan hitam. Penggambaran bentuk bintang empat ini menyerupai bunga ceplok. Istilah bintang empat berhubungan dengan arah mata angin, yang diambil sebagai inpirasi keluarnya bintang timur pada pagi hari. Sebagai pertanda bahwa fajar segera tiba. Motif  bintang empat  juga menceritakan tentang penanggalan zaman nenek moyang untuk mengetahui musim hujan dengan musim panas.

Yang perlu diketahui, kain tenun bermotif bintang empat dan ragi genep merupakan pasangan kain yang harus dipersiapkan, khususnya bagi seorang perempuan yang mau menikah. Tujuannya untuk dibawa sebagai hadiah bagi sang calon suami.

Motif Keker

Motif Keker (https://www.rumahseniindonesia.com)

Motif Keker menggambarkan kedamaian dalam memadu kasih sambil bernaung di bawah pohon.  Motif Keker merupakan motif klasik, digambarkan berupa hewan merak berhadap-hadapan yang bernaung di bawah pohon. Motif Keker ini mencerminkan kebahagiaan dan kedamaian dalam memadu kasih di bawah pohon. Motif keker menggunakan dasar benang katun dan berkembang menjadi benang sutra. Seiring dengan berjalannya waktu, motif keker berbahan benang emas atau perak. Penggunaan kain tenun dengan motif keker ini sebagai pakaian pesta.

Motif Tokek

Masyarakat Lombok khususnya suku Sasak menyakin keberadaan tokek sebagai hewan pembawa keberuntungan. Jadi dengan mengenakan kain tenun yang bermotif tokek, diyakini mampu memberikan keberuntungan bagi pemakainya tersebut.

Motif Wayang

Ada beberapa bentuk/ragam kain tenun yang menggunakan hiasan Wayang, Pada prinsipnya wayang selalu digambarkan berpasang-pasangan, biasanya diselingi/diapit oleh paying (pohon hayat). Motif wayang bermakna bahwa sebenarnya manusia itu tidak bisa hidup individualis (sendiri-sendiri). Sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk bermusyawarah dibawah naungan paying agung (pohon hayat). Pohon Hayat adalah lambang kehidupan. Kain dengan motif ini digunakan untuk pesta atau upacara adat baik laki-laki ataupun perempuan.

Motif Panah

Motif ini melambangkan sifat jujur seperti anak panah yang jalannya meluncur lurus. Motif panah geometris dasarnya berwarna terang. Kain tenun motif panah ini biasanya dikenakan oleh kaum pria pada acara adat nyongkolan. Nyongkolan adalah prosesi pernikahan, dimana keluarga mempelai laki-laki berkunjung ke keluarga mempelai perempuan. Biasanya nyongkolan ini diiringin dengan kesenian  tradisional yang disebut gendang beleq.

Motif Bintang Remawe

Kain tenun dengan motif bintang remawe ini memiliki ciri khas berupa corak kotak-kotak. Motif bintang remawe tercipta dengan menenun lunsi serta menggunakan pakan dengan warna berbeda. Di dalam kotak-kotak tersebut diberi hiasan motif kembang remawa mekar, biasanya dipadukan dengan motif kupu-kupu. Dalam keseharian kain tenun motif ini biasanya dikenakan oleh para gadis yang berada di Pulau Lombok.

Motif Bulan Berkurung

Kain tenun dengan motif bulan berkurung ini dirajut dengan geometris segi enam, asesorisnya berbentuk bintang berjumlah enam dengan dasar warna cerah. Divariasi dengan motif lambe dan pucuk rebung. Motif bulan berkurung dikaitkan dengan kebesaran Tuhan yang harus selalu diingat dan disyukuri. Kain tenun dengan motif ini biasanya dikenakan oleh wanita atau pria pada saat mereka bulan madu sebagai sarung.

Motif Bulan Bergantung

Kain tenun motif bulan bergantung ini ciri khasnya adalah keberadaan bulan dilingkaran matahari, dihiasi dengan bintang-bintang dan biasanya divariasi dengan kembang. Sementara dibagian bawah diberikan variasi lambe dan pucuk rebung. Kain tenun dengan motif ini dikenakan oleh wanita atau pria di pulau Lombok pada acara/upacara adat.

Motif Nanas

Motif Nanas (https://www.rumahseniindonesia.com)

Kain tenun motif nanas ini menceritakan aktifitas masyarakat Lombok, yang dalam keseharian biasanya menanam nanas sebagai mata pencaharian tambahan. Biasanya kain tenun motif ini digunakan sebagai bahan pakaian atau sarung. Kain tenun motif ini bisa dikenakan baik oleh pria maupun wanita, saat menjalankan aktifitas mereka sehari-hari.

Motif Anteng

Biasanya motif anteng ini digunakan sebagai kain sabuk atau pengikat pinggang  kaum wanita.  Penggunaannya untuk pakaian sehari-hari atau saat mengikuti upacara Nyongkolan (acara berkunjung yang dilakukan mempelai pria ke keluarga mempelai wanita). Motif anteng bisa dikenali lewat coraknya yang berbentuk jalur-jalur lurus membujur, searah dengan benang lungsinya yang berwarna kuning, hijau atau warna lainnya. Kedua ujungnya berumbai, diperuntukkan bagi kaum wanita. Biasanya kain tenun motif ini digunakan pada saat mengikuti upacara adat.

Sebenarnya motif kain tenun Lombok sangat beragam. Kesemuanya sangat dipengaruhi oleh budaya yang berlaku di suku Sasak sendiri pada saat itu. Ketika masa Hindu, motif tumpal/pucuk rebung yang punya bentuk segitiga mirip dengan deretan gunung, jadi sesuatu yang sangat dominan sekali. Sebab ketika itu motif ini melambangkan Dewi Sri.

Seiring masuknya agama Islam di pulau Lombok, motif kain pun telah bergeser pada jenis tumbuh-tumbuhan, seperti suluran, pucuk rebung, pohon hayat, bunga-bunga dan bunga bersusut delapan seperti bintang. Sedang motif geometris pada masa hindu sebelumnya, hanya ada pada kain pelekat saja. Begitu juga dengan motif hewan yang ada pada masa Hindu, tergantikan dengan motif kaligrafi huruf arab kecuali motif burung.

Sekarang ini motif kain tenun di pulau Lombok tidak hanya terpaku dengan pola-pola diatas saja. Seiring berjalannya waktu, para pengrajin kain tenun di pulau Lombok sudah mengembangkan motif kain tenunnya menjadi lebih beragam dan tentu saja lebih bervariasi lagi dari sebelumnya. Biasanya permintaan dari pembelilah yang menjadi faktor penentu bagi bermunculannya motif-motif baru dalam kain tenun Lombok ini.

Sumber: Aminahsurabaya

Spread the love

Leave a Reply