Kain Tenun Mbojo Sumbawa NTB

Kain tenun mbojo merupakan salah satu bentuk budaya khas nusantara yang berasal dari daerah Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan beberapa daerah lain di sekitar gunung Tambora. Karena kekhasan dan keunikannya, kain tenun mbojo telah menjadi komoditi penting yang diperjual belikan oleh para pedagang setempat sejak berabad-abad lamanya. Seperti kain tenun lainnya, kain mbojo juga memiliki beragam motif dan warna. Model kain tenun mbojo yang cukup populer dibuat dari perpaduan tiga warna benang atau lebih yang ditenun membentuk pola zig-zag.

Kain Tenun Mbojo (https://www.kampung-media.com)

Pada era kesultanan, tepatnya sebelum tahun 1960-an kain tenun mbojo disebut-sebut sebagai produk budaya yang penting bagi masyarakat Bima. Hal ini diperkuat dengan adanya peraturan adat yang menyebutkan bahwa setiap wanita yang memasuki usia remaja harus menguasai keterampilan menenun kain mbojo. Baik untuk dikenakannya sendiri atau diperjual belikan.

Kain Tenun Mbojo (https://www.arunabutik.com)

Kain tenun mbojo juga menjadi semacam pakaian wajib yang harus dikenakan oleh para wanita muslim Bima ketika hendak bepergian atau keluar rumah. Pakaian muslim wanita Bima ini dikenal dengan nama rimpu. Rimpu menjadi semacam identitas wanita muslim Bima dan mulai populer sejak berdirinya negara Islam di Bima, yaitu pada 15 Rabiul Awal 1050 H atau 5 Juli 1640.

Kain Tenun Mbojo (https://pedalku.com)

Berdasarkan status sosial pemakainya terdapat dua macam rimpu yang biasa dikenakan oleh perempuan Bima, diantaranya berupa rimpu cili dan rimpu colo. Rimpu Cili merupakan sejenis sarung tenun yang didesain khusus untuk perempuan Bima yang belum menikah, sedangkan rimpu colo diciptakan untuk perempuan Bima yang sudah menikah.

Kain Tembe atau Sarung (https://www.wego.co.id)

Jenis kain tenun mbojo yang diciptakan oleh masyarakat Bima, secara garis besar dapat difungsikan sebagai tembe (sarung), sambolo (destar), weri (sejenis ikat pinggang), dan baju mbojo.

  • Tembe (sarung) merupakan kain tenun bernilai tinggi yang terbuat dari benang kapas dan ditenun dengan cara tradisional.
  • Sambolo (dester) yang kerap disebut sebagai sambolo songke merupakan sejenis ikat kepala tradisional mbojo khusus diperuntukkan bagi laki-laki Bima.
  • Weri (ikat pinggang) merupakan ikat pinggang tradisional mbojo yang terbuat dari malanta salolo. Bahan utamanya yaitu berupa kain putih tanpa motif yang memang ditenun khusus untuk bahan salolo.
  • Baju Mbojo sebenarnya merupakan hasil kreasi penenun wanita Bima yang mulai dipopulerkan sejak tahun 1980-an.

Kain Tenun Mbojo (https://budaya-indonesia.org)

Selain dikenakan sebagai bahan pakaian harian oleh masyarakat Bima, pada perkembangannya kain tenun mbojo juga digunakan oleh para desainer Indonesia untuk membuat busana modern nan anggun dan elegan. Sebut saja koleksi busana Stephanus Hamy yang dipamerkan pada rangkaian pergelaran busana Lomba Perancang Mode (LPM) Graduates JFW 2013 di Plaza Senayan Jakarta pada tahun 2012 silam.

Kain Tenun Mbojo (https://foto.okezone.com)

Sumber: Fitinline

Spread the love

Leave a Reply