Galeri Tambang Mbah Soero Sawahlunto Sumatera Barat

Galeri Tambang Mbah Soero terletak di Jalan M Yazid, Tangsi Baru, Kelurahan Tanah Lapang, Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, sekarang bernama Galeri Tambang Batubara dan Lubang Tambang Mbah Suro.

Di tempat ini pengunjung akan dipinjami topi dan sepatu tambang sebelum masuk ke Lubang Tambang Mbah Soero (https://www.thearoengbinangproject.com)

Galeri Tambang Batubara dan Lubang Tambang Mbah Suro terletak di kawasan Tangsi Baru. Bangunan ini oleh Pemda Kota Sawahlunto direkomendasikan sebagai Pusat Informasi sejarah tambang batubara Kota Sawahlunto. Awalnya sebagai tempat stock field (penumpukan batubara) yang digali dari Lobang Tambang Batubara Mbah Soero. Tahun 1947 pada lokasi ini dibangun Gedung Pertemuan Buruh (GPB). Gedung ini berfungsi sebagai tempat hiburan sekaligus tempat bermain judi bagi para buruh pekerja tambang yang tinggal di sekitar kawasan Tanah Lapang dan Air Dingin, di sinilah para buruh tambang menghamburkan uangnya setelah mereka menerima upah

Sejarah

Patung mandor mbah Soero dan pekerja tambang (https://www.thearoengbinangproject.com)

Lobang Tambang Mbah Soero dulunya dinamakan Lubang Soegar. Lubang ini merupakan lubang pertama di kawasan Soegar yang dibuka oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898. Pada lubang ini terdapat kandungan batubara yang paling bagus (kalori 7000) dibandingkan dengan daerah-daerah lain, seperti Sungai Durian, Sigalut, Parambahan, dan Tanah Hitam. Hal ini disebabkan karena kawasan Soegar terletak di lapisan patahan paling bawah dari permukaan Bumi.

Untuk membuka lubang ini Belanda mendatangkan buruh paksa dari berbagai penjara di Nusantara seperti Medan, Jawa, Sulawesi, dan Padang. Mereka dibawa dengan kapal melalui Emma Haven (Pelabuhan Teluk Bayur) dan selanjutnya menggunakan transportasi kereta api dari pelabuhan menuju Sawahlunto.

Sesampainya buruh ini di Sawahlunto, mereka dikirim ke penjara orang rantai yang khusus dibuat oleh Belanda untuk para buruh paksa (orang rantai). Mereka bekerja membuka lobang tambang Soegar dengan kaki yang dirantai, makanan seadanya, dan upah kecil. Namun tenaga mereka dikuras untuk menyelesaikan konstruksi lubang tambang.

Pintu masuk menuju terowongan yang menyimpan sejarah pilu pekerja tambang atau yang juga dikenal sebagai manusia rantai (https://www.wego.co.id)

Setelah lubang tambang selesai dibuka dengan 2 buah lubang angin (ventilasi udara) maka Belanda mulai melakukan eksploitasi batubara atau ’emas hitam’ yang sangat berkualitas itu. Jumlah produksi batubara yang dihasilkan oleh orang rantai pada tahun 1892 sebanyak 48.000 ton. Kemudian dengan adanya lubang Soegar ini produksi batubara meningkat menjadi 196.207 ton pada tahun 1900. Hal ini membuktikan keberadaan lubang Soegar sangat berpengaruh pada produksi batubara.

Pada awal abad ke-20 orang Belanda mendatangkan mandor dari Jawa. Salah satunya Mbah Soerono yang lebih akrab dipanggil Mbah Soero. Mbah Soero diangkat menjadi mandor oleh Kolonial Belanda karena ilmu kebatinan yang dimilikinya. Ia ditugaskan untuk mengawasi penambangan di Lubang Soegar ini. Dalam kesehariannya ia dikenal sangat rajin bekerja, berperilaku baik dan taat beribadah.

Selanjutnya lubang ini ditutup pada tahun 1920-an karena adanya perembesan air dari Batang Lunto dan kadar gas metana yang terus meningkat. Kemudian pada tahun 2007 sesuai dengan Visi dan Misi Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya maka berbagai objek bekas tambang kembali dibenahi, salah satunya Lubang Soegar. Untuk penghargaan kepada mandor Mbah Soerono yang dipanggil sebagai pahlawan pekerja di masa buruh paksa (orang rantai), maka Lubang Soegar ini lebih popular di tengah masyarakat Sawahlunto dengan sebutan Lobang Tambang Mbah Soero.

Kondisi Tambang

Lobang Tambang Mbah Soero (https://www.thearoengbinangproject.com)

Lubang Tambang Mbah Soero dengan lebar dan tingginya sekitar 2 m ini memiliki kedalaman 15 m dari permukaan tanah, dan baru bisa dimasuki sejauh 186 meter, dari bekas lubang galian tambang yang diperkirakan memiliki panjang keseluruhan sekitar 1 km.

Dasar Lubang Tambang Mbah Soero terlihat rapi dengan penerangan yang cukup baik. Udara segar dipompa ke dalam lubang dari permukaan tanah dan dialirkan melalui pipa-pipa, yang membuat udara di dasar Lubang Tambang Mbah Soero tetap terasa segar. Pengeras suara pun telah dipasang jika sewaktu-waktu diperlukan. Salah satu lubang di dasar Lubang Tambang Mbah Soero masih ditutup dengan pagar besi. Di beberapa tempat, atap lorong dilapis pelindung untuk melindungi pengunjung dari tetesan air yang masih merembes turun dari langit-langit.

Informasi lebih lanjut hubungi

Galeri Tambang Batubara & Lobang Tambang Mbah Soero
Jl. Muhammad Yazid, Tangsi Baru, Kelurahan Tanah Lapang, Lembah Segar
Kota Sawahlunto
Telp.: 62754 61725, 62754 61985

Jam Kunjungan:
Senin – Minggu 9.00-17.30

Tiket:
Lobang Mbah Soero: Rp 7.500,00

 

Spread the love

Leave a Reply