Wisata Sejarah di Kota Tangerang

Dulu bernama Tanggeran. Menurut tradisi lisan yang menjadi pengetahuan masyarakat Tangerang, nama daerah Tengerang dulu dikenal dengan sebutan Tanggeran yang berasal dari bahasa Sunda yaitu “tengger” dan “perang”. Kata “tengger” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda” yaitu berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, sekitar pertengahan abad 17.

Ada pula yang menyebut Tangerang berasal dari kata Tanggeran (dengan satu g maupun dobel g). Daerah yang dimaksud berada di bagian sebelah barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung Jalan Otto Iskandar Dinata sekarang).

Kata “perang” menunjuk pengertian bahwa daerah tersebut dalam perjalanan sejarah menjadi medan perang antara Kasultanan Banten dengan tentara VOC. Hal ini makin dibuktikan dengan adanya keberadaan benteng pertahanan Kasultanan Banten di sebelah barat Cisadane dan benteng pertahanan VOC di sebelah Timur Cisadane. Keberadaan benteng tersebut juga menjadi dasar bagi sebutan daerah sekitarnya (Tangerang) sebagai daerah Beteng. Hingga masa pemerintahan kolonial, Tangerang lebih lazim disebut dengan istilah “Beteng”.

Dua Dermaga dan Prasasti

Dermaga di sungai Cisadane (https://lifestyle.okezone.com)

Dua dermaga ini dibuat pada tahun 1800-an sewaktu kepemimpinan Kaisar Thong Tjie dari Dinasti Ching di Tiongkok.

Dua dermaga dan Prasasti ini terletak di pinggir Sungai Cisadane dekat Pasar Lama Tangerang, tidak jauh dari Klenteng Boen Tek Bio, tertua di Tangerang.

Nama kedua dermaga ini adalah Tangga Ronggeng dan Tangga Jamban. Tangga Ronggeng terletak di dekat klenteng tertua di Tangerang, Klenteng Boen Tek Bio. Tangga ini awalnya dibuat untuk mandi orang-orang. Tetapi setelah tangga tersebut selesai dibuat, banyak perempuan yang mandi telanjang di Cisadane. Maka, dermaga itu dinamakan Tangga Ronggeng.

Tangga Jamban berada beberapa meter dari Tangga Ronggeng. Tangga ini awalnya dibuat untuk orang-orang yang ingin beribadah ke klenteng. Namun, semakin lama orang-orang menggunakannya untuk buang air, sehingga dinamakan Tangga Jamban.

Prasasti (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Kedua dermaga itu masih digunakan sebagai tempat menambatkan perahu hingga sekarang. Dermaga tersebut berwarna merah dan diberi tambahan seperti altar untuk menaruh buah-buahan dan lilin.

Pembuatan Tangga Jamban diabadikan dalam sebuah prasasti. Bunyi Prasasti Tangga Jamban adalah seperti berikut ini:

“Ini adalah lisjt dari sekoempoelan itoe orang-orang boediman berdjoemlah 81 orang jang soedah boleh melakoekan soeatoe perboewatan moelia oentoek mendoekoeng itoe oesaha dari Perkoempoelan Boen Tek Bio boeat mendiriken seboeah dermaga boet tambatan itoe peraoe, seboeah topekong soengai, pemboeatan jalan-jalan besar dan joega bikin peraoe. Batoe peringatan ini ditoeliskan sebagai tanda pada taon kasebelas sewaktoe Kaisar Thong Tjie dari itoe Dynasty Ching memerentah di Tiongkok (Tahun 1873).

Stasiun Kereta Api Kota Tangerang

Stasiun Kereta Api Kota Tangerang (https://id.wikipedia.org)

Stasiun Kereta Api Kota Tangerang terletak di Kelurahan Pasar Anyar, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Stasiun ini berbatasan dengan pertokoan dan parkiran di sebelah utara, pertokoan dan pemukiman di sebelah timur, serta pemukiman di sebelah selatan.

Stasiun ini ada bersamaan dengan lintas jalur kereta api Duri-Tangerang, yaitu pada tanggal 2 Januari 1889. Arsitek bangunan stasiun dan lintasannya dari Staatspoorwagen (SS). Stasiun Tangerang merupakan stasiun akhir karena tidak ada lanjutan lintasan.

Bangunan stasiun ini telah mengalami banyak perubahan termasuk dalam bentuk bangunan. Bagian yang telah dirubah terlihat pada peron, loket, kantor, dan toilet. Bangunan inti stasiun berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur, bangunan tersebut yang banyak perubahan.

Stasiun pernah mengalami kebakaran pada tahun 2000an di sisi timur. Selain bangunan, perubahan sangat nampak pada jumlah jalur kereta api yang semula berjumlah lima menjadi berjumlah dua jalur. Bagian yang masih tampak asli tampak pada beberapa jendela, pintu dan kisi-kisi bangunan. Pada sebelah utara kantor terdapat papan yang menjelaskan telah dilindungi oleh Negara sebagai Benda Cagar Budaya, dikeluarkan oleh pusat pelestarian Benda dan Bangunan PT. Kereta Api Indonesia (KAI).

Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria

Lembaga Permasyarakatan Anak Pria (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Lembaga Permasyarakatan Anak Pria secara administratif berada di jalan Daan Mogot No. 29 C, kota Tangerang, Provinsi Banten. Bangunan tersebut berbatasan dengan Masjid Al Azhom di sebelah selatan, Taman Makam Pahlawan Taruna di sebelah barat, jalan Daan Mogot di sebelah utara, dan jalan Satria Sudirman di sebelah timur.

Lapas anak pria Tangerang dibangun pada masa Hindia Belanda pada tahun 1925, dengan kapasitas hunian 220 anak. Sejak tahun 1934 pengelolaan Lapas ini diserahkan kepada Pro Juventute untuk mengasingkan anak keturunan Belanda yang berbuat nakal. Perubahan fungsi dari Lapas menjadi Markas Resimen IV Tangerang terjadi pada tahun 1945. Pada tahun 1957 – 1961, pengelolaan berganti kepada Jawatan Kepenjaraan, yang kemudian berubah menjadi pendidikan negara. Di tahun 1964, pengelolaan bangunan diserahkan kepada Direktorat Jenderal Permasyarakatan dengan nama Lembaga Permasyarakatan Anak Pria.

Bangunan Lembaga Permasyarakatan berada di tanah miliki negara dengan luas12.150 m². Arah hadap bangunan ke utara, luas bangunan 3.350 m². Berdasarkan hasil wawancara, bangunan ini mengalami tiga tahap pembangunan. Bangunan pertama yang berbentukberdenah persegi, berbentuk seperti benteng, karena di keempat sudutnya berbentuk seperti belah ketupat (diamond). Tahun pendirian awal bangunan Lapas pada tahun 1925. Tahap kedua merupakan pembangunan bangunan bagian tengah, yang sekarang digunakan sebagai ruang tahanan dan kantor administrasi. Dari hasil wawancara diketahui bahwa pembangunan tahap kedua dilakukan sekitar tahun 1970-an. Selanjutnya, pada pembangunan tahap ketiga, yakni pada tahun 2010, dibuat sarana peribadatan dan olahraga di sisi barat dan timur bangunan tahanan.

Bagian pintu dan jendela bangunan Lapas belum banyak berubah kecuali pada pintu masuk utama yang sudah mengalami pergantian bahan dan bentuk. Bagian kusen jendela dan pintu pada bangunan lamanya berukuran besar. Setiap kusen pintu dan jendela diberi teralis. Perubahan material bangunan banyak dilakukan pada bagian genteng, pintu masuk utama, dan beberapa lantai ruangan. Setiap bangunan penjara yang berada di tengah dikelilingi oleh pagar besi.

Lembaga Pemasyarakatan Pemuda

Lapas Pemuda (http://www.bantenhits.com)

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda terletak di Jalan Jalan LPK Pemuda, Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.

Lapas Pemuda ini pembangunannya dimulai pada tahun 1924 dan  baru rampung pada tahun 1927. Lapas yang dibangun bangsa kolonial Belanda itu awalnya sudah berfungsi untuk memenjarakan pemuda Belanda dan pribumi yang disebut “ Jeugd Gevangelis “.

Di tahun 1942 – 1945, dan pada masa penjajahan Jepang, Jepang menggunakannya untuk tempat pelaksanaan pidana dengan sebutan “Keismusho Shikubu”.

Dan setelah Jepang kembali dipukul mundur Belanda , Pada tahun 1946- 1948 oleh pemerintah Belanda (Palang Merah NICA) tempat ini digunakan sebagai tempat penampungan Pengungsi Cina pedalaman.

Lembaga Pemasyarakatan Anak Wanita

Lapas anak wanita (https://sammyarpegio.blogspot.co.id)

Secara administratif Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Anak Wanita terletak di Jalan Daan Mogot No. 28 C, Kelurahan Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Batas bangunan tersebut sebelah utara dengan Jalan Daan Mogot, sebelah timur dengan Jalan Meteorologi, sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Jalan Kehakiman Raya.

Tahun 1928 bangunan ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk pengasingan anak-anak Indo Belanda yang melakukan kenakalan atau pelanggaran dan pengelolanya oleh Yayasan LOG. Kemudian diserahkan kepada Yayasan Pro Juventute pada tahun 1934. Penyerahan kepada pemerintahan Jepang pada tahun 1942 digunakan sebagai rumah tahanan perang terutama anak-anak dan wanita Belanda yang akan dikembalikan ke Negara Belanda. Selain itu pada tahun yang sama, pernah pula digunakan sebagai Sekolah Akademik Militer Tangerang yang terkenal salah satu pahlawannya, yaitu Daan Mogot.

Pada tahun 1950 dikelola oleh Yayasan Pra Yuwana. Selanjutnya, pengelolaan diserahkan kepada pemerintahan Indonesia di bawah Departemen Kehakiman RI sebagai Rumah Pendidikan Negara (1962).

Perubahan nama menjadi Lapas Anak Wanita Tangerang tahun 1964. Setelah itu berubah nama tahun 1977 menjadi Lapas Anak Negara Wanita Tangerang. Tahun 1985 berubah nama kembali menjadi Lapas kelas II B Anak Wanita Tangerang (SK Kementerian Kehakiman tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja LP).

Bangunan Lapas ini memiliki luas tanah 66.000 m² dan luas bangunan 39.560 m². Pada luas tersebut terdapat 5 bangunan pavilion hunian tahanan, 1 bangunan blok sel, 1 bangunan gedung kantor, ruang aula, mushala, dapur, tunker dan sarana pendidikan. Kantor berada pada bagian depan bangunan dekat pintu masuk utama. Bangunan ini keseluruhan dikelilingi oleh tembok dinding setinggi 5 m. Bangunan kantor dan pavilion terlihat perbedaan bentuk. Pada bangunan kantor ukuran jendela dan pintu tidak besar seperti yang ada pada bangunan pavilion.

Ukuran dan denah bangunan kantor dan paviliun pun berbeda. Ukuran bangunan kantor lebih besar daripada bangunan paviliun. Denah bangunan kantor memanjang dari utara hingga selatan, sedangkan bangunan paviliun lebih menyerupai bangunan tempat tinggal. Pada bagian muka bangunan Lapas tersebut terdapat dua lapangan yang terpotong jalan. Lapangan sebelah selatan terdapat lonceng yang tingginya ± 10 m. Bagian dalam bangunan terbagi dalam dua bagian, yaitu bagian utara dan selatan. Bagian utara terdapat 5 bangunan, yaitu 2 bangunan paviliun yang salah satunya diberikan pagar teralis, 1 bangunan untuk dapur, 1 ruang pendidikan dan 1 bangunan sel.

Bagian selatan terdapat dua bangunan paviliun, 1 ruang data, 1 mushala, dan 1 ruang kegiatan kerja. Bagunan lainnya yaitu ruang aula yang berada di bagian timur Lapas, berseberangan dengan bangunan kantor serta menara air berada di bagian tengah Lapas. Pada bangunan Lapas ini ada sebagian yang telah mengalami perubahan pada genteng karena mengalami krusakan dan bentuk genteng telah tidak diproduksi lagi di masa sekarang.

Bendungan Pasar Baru

(https://wisatakuliner09.blogspot.co.id)

Bendungan Pasar Baru terletak di jalan K.S. Tubun, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Propinsi Banten. Bendungan Pasar Baru dibangun pada tahun 1927, selesai dan diresmikan tahun 1930. Keperluan dibangunnya bendungan adalah untuk mengairi areal persawahan seluas 40.663 Hektar. Bendungan ini awalnya bernama Bendungan Sangego, kemudian berubah menjadi Bendungan Pintu Sepuluh atau Bendungan Pasar Baru. Perubahan pada bendungan ini tidak terlalu banyak karena terlihat dari peralatan dan mesin yang digunakan sudah tua.

Pintu masuk Bendungan (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Fungsi bangunan adalah untuk mengatur aliran air di sungai Cisadane. Bendungan ini mempunyai 10 pintu air dari besi dan 11 tiang penopang. Konstruksi bendungan terbuat dari beton bertulang. Pada sisi utara dan selatan bangunan terdapat rel lori yang digunakan untuk mendistribusikan pintu air pengganti jika ada pintu air yang rusak. Bendungan memanjang dari timur ke barat dengan panjang 125 m dengan rincian 10 jumlah pintu air, lebar pintu 10 m, 3 intake, 2 pintu penguras lumpur, tinggi pintu bawah 5 m, tinggi pintu atas 3 m, dan berat pintu masing-masing 25 ton. Bangunannya memiliki dua tingkat. Penghubung ke lantai atas menggunakan tangga yang berada di ujung timur dan barat bangunan. Bagian ujung barat dan timur bangunan menggunakan tegel berwarna abu-abu, bercorak kotak-kotak dan berukuran 20 x 20 cm. Pada lantai dua terdapat 5 ruang yang berisi penggerak pintu air. Alat-alat yang digunakan pada bendungan ini sudah cukup mengkhawatirkan sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Gudang Bendungan (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Di sebelah barat bendungan terdapat bangunan berdenah persegi, dengan pintu berupa rolling door dari besi. Bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan lori dan difungsikan sebagai gudang. Lori digunakan untuk membawa pintu air pengganti dan gudang. Keadaan bangunan tersebut dalam keadaan cukup terawat, dan lori masih bisa digunakan hingga sekarang.

One thought on “Wisata Sejarah di Kota Tangerang

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.