Wisata Sejarah di Kabupaten Tangerang

1

Pemerintahan Kabupaten Tangerang telah berdiri sejak Tahun 1943. Tepatnya pada tanggal 27 Desember 1943, yang beribukota di Tigaraksa. Lokasi Tangerang terbilang strategis karena tidak jauh dari pelabuhan Merak di Cilegon dan berbatasan langsung dengan Jakarta sebagai Ibukota negara.

Kabupaten Tangerang lama menyandang predikat sebagai sentra industri (lebih dari 1000 pabrik) dan manufaktur sehingga suasananya mengikuti jejak Jakarta yang senantisa ramai sebagai sebuah kota megapolitan. Belum lagi Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga berada di Tangerang membuat kawasan ini terbilang sangat aktif transportasinya.

Kramat Solear

Kramat Solear yang merupakan hutan lindung seluas 4,5 hektar di Dusun Solear, Desa Cikasungka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang sekitar 16 kilometer dari Tigaraksa dikenal sebagai kawasan wisata yang dihuni ratusan hewan kera. Di lokasi ini terdapat makam pengikut para wali yakni makam Syekh Mas Mas’ad bin Hawa yang berada di bawah sebuah pohon tua dikelilingi tembok dan pendopo.

Keramat Solear juga dikenal dengan nama Kramat Tigaraksa itu sudah ada sejak abad ke-16 tepatnya tahun 1552. Kramat Tigaraksa sering digunakan oleh para wali untuk mengadakan pertemuan. Pertemuan biasanya diadakan saat para penyebar agama tersebut melakukan perjalanan dari Cirebon ke Banten.

Banyak kera di Kramat Solear (https://jakarta.panduanwisata.id)

Di kramat Solear juga terdapat makam sahabat para wali yaitu Syekh Mas Massad. Beliau merupakan panglima tentara Islam yang ditugaskan oleh Sultan Banten untuk menyebarkan agama di daerah Tigaraksa. Ketika itu, Tigaraksa dikuasai oleh tokoh masyarakat bernama Pangeran Jaya Perkasa alias Mas Laeng. Ia adalah patih dari Kerajaan Pajajaran. Dalam pertempuran melawan Syeh Mas Massad, Mas Laeng dibantu oleh Ki Seteng. Pertempuran selalu berakhir imbang dan ketiganya memutuskan untuk berdamai. Perdamaian tiga tokoh besar tersebut mengilhami nama ‘Tigaraksa’ yang berarti tiga orang yang memelihara perdamaian.

Di kawasan Kramat Tigaraksa terdapat banyak kera, jumlahnya mencapai 600 ekor dan terbagi menjadi dua kelompok. Kabarnya setiap bulan Maulud kedua kelompok kera akan berperang memperebutkan wilayah. Atraksi kera juga dapat disaksikan pada peringatan kemerdekaan. Biasanya diadakan lomba panjat pinang kera dengan hadiah makanan kesukaan si hewan.

Stasiun Kereta Api Cisauk

Stasiun Cisauk (https://harribaskoro.com)

Stasiun Kereta Api Cisauk merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta yang berada pada ketinggian + 33 m di atas permukaan lain, dan merupakan stasiun paling tenggara di Kabupaten Tangerang. Stasiun Cisauk terletak di Jalan Cisauk Raya, Desa Sampora, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Lokasi stasiun ini berada di antara Stasiun Cicayur dan Stasiun Serpong.

Bangunan Stasiun Cisauk yang lama merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Duri-Rangkasbitung sepanjang 76 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1899 berbarengan dengan pengerjaan jalur kereta api Duri-Tangerang.

Proyek jalur kereta api Duri-Rangkasbitung ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Barat jilid 2 (Westerlijnen-2) hingga Merak. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan searah. Setelah jalur rel Duri-Rangkasbitung selesai, maka dilanjutkan jalur rel Rangkasbitung-Serang-Cilegon (1900), dan Cilegon-Merak (1914).

Awalnya, stasiun ini merupakan stasiun lintasan kereta api (Stopplaats). Namun seiring kehadiran perumahan kelas menengah ke atas Bumi Serpong Damai (BSD), dan terus diikuti pengembang perumahan lainnya di kawasan sekitar Cisauk, menjadikan keberadaan stasiun ini menjadi strategis untuk aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang dari daerah Cisauk dan BSD yang akan bepergian ke Jakarta atau sebaliknya. Akhirnya, stasiun ini dikembangkan menjadi stasiun penumpang.

Perlu diketahui, bahwa stasiun yang berada pada jalur rel Duri-Rangkasbitung pada awalnya merupakan stasiun lintasan. Hal ini karena lokasinya ketika itu masih berupa hutan maupun persawahan, jadi belum ada pemukiman seperti sekarang ini. Sehingga, bangunan awal stasiun-stasiun tersebut pada umumnya tidaklah begitu besar.

Kini, stasiun ini berkembang menjadi modern seiring tuntutan akan adanya moda transportasi massal di kawasan tersebut. Pintu utama masuk stasiun dipindahkan di sebelah selatan rel kereta api dengan tampilan yang lebih modern dengan e-ticketing. Sedangkan, bangunan utama stasiun yang lama masih tetap berdiri dan berada di sebelah utara rel kereta api. Kedua bangunan tersebut masing-masing memiliki area parkir yang luas, namun parkir yang di sebelah utara rel masih cenderung terbuka hingga Jalan Cisauk Raya. Area parkir di bagian selatan cenderung sudah tertata, dan e-ticketing juga. Jadwal kereta api Commuter Green Line pun setiap saat ada, sehingga memudahkan para penumpang yang akan bepergian ke Jakarta. Selain itu, setiap harinya stasiun ini juga dilalui kereta api ekonomi yang akan menuju Rangkasbitung hingga Merak maupun sebaliknya menuju ke Tanah Abang.

Stasiun ini memiliki 2 jalur. Jalur 1 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah barat, yaitu Stasiun Cicayur hingga Merak. Jalur 2 digunakan untuk jalur yang menuju ke arah timur, yaitu Stasiun Serpong hingga Tanah Abang.

Stasiun Cisauk yang lama ini memiliki luas bangunan utama stasiun (lama) sekitar 195 m², dan tercatat sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan nomor register 256/C6.15341/CSK/BD. Stasiun lama ini masih digunakan sebagai kantor dalam mengelola stasiun ini.  Sedangkan, jalur yang melintasi stasiun ini sudah dielektrifikasi yang terkonek dari Tanah Abang hingga Stasiun Maja.

One thought on “Wisata Sejarah di Kabupaten Tangerang

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Wisata Sejarah di Kota Serang

Wed Aug 2 , 2017
Pusat kota di Kota Serang merupakan kota tua yang dibangun kolonial Belanda. Nina Lubis dalam bukunya berjudul Banten dalam Pergumulan Sejarah menyebutkan, pusat kota Serang dibangun setelah Kesultanan Banten dibumihanguskan penjajah Belanda dengan dibakarnya Keraton Surosowan oleh Gubernur Jendral Daendels pada 1808. Serang ditetapkan menjadi kawasan landrosambt (semacam pengawas) yang […]