Wisata Sejarah di Kabupaten Serang

Kota Kuno Banten Lama adalah situs yang merupakan sisa kejayaan Kerajaan Banten. Terletak di pantai utara Banten, Kecamatan kasunyatan, Kabupaten Serang dan Kota Serang, Provinsi Banten, relatif tidak jauh dari kota Jakarta, dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Jakarta.

Banten Lama pernah menjadi kota pelabuhan internasional kerajaan Islam yang kemudian runtuh pada abad ke-19. Di tempat ini terdapat banyak Situs peninggalan dari Kerajaan Banten, diantaranya, Istana Surosoan, Masjid Agung Banten, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu, Vihara Avalokitesvara.

Sejak tahun 1995, Kota Kuno Banten telah diusulkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.

Situs Komplek Keraton Surosowan

Komplek Keraton Surosowan (https://humaspdg.wordpress.com)

Situs Keraton Surosowan terletak di Desa Banten, Kecamatan Kaseman, Kabupaten Serang. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten Lama.

Kompleks keraton ini sekarang sudah hancur, yang masih nampak adalah tembok benteng yang mengelilingi dengan sisa-sisa bangunannya. Sisa-sisa bangunan ini berupa pondasi dan tembok-tembok dinding yang sudah hancur, termasuk sisa-sisa bangunan Balekambang. Tembok benteng masih tampak berdiri dengan ketinggian antara 0,5 meter hingga 2 meter, dengan lebar sekitar 5 meter. Pada beberapa bagian, terutama di bagian sebelah selatan dan timur, tembok benteng ini bahkan ada yang sudah hancur.

Komplek Keraton Surosowan (https://www.backpackerkoprol.com)

Kompleks Keraton Surosowan ini berbentuk segi empat dengan luas kurang lebih 3,5 hektar. Pintu utama masuk ke Keraton Surosowan terletak di sebelah utara, menghadap ke alun-alun. Berdasarkan sejarah Banten, Keraton Surosowan yang disebut juga Gedung Kedaton Pakuan, dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sedangkan tembok benteng dan gerbangnya yang terbuat dari bata dan batu karang dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf (1570-1580).

Benteng ini kemudian dihancurkan Belanda pada saat Kerajaan Islam Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1680 berperang melawan penjajah Belanda. Keraton ini sempat diperbaiki, tetapi kemudian dihancurkan kembali pada tahun 1813 oleh Daendels karena pada saat itu sultan terakhir Kerajaan Islam Banten, Sultan Rafiudin, tak mau tunduk kepada Belanda.

Salah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian adalan Pancuran Mas. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. begitu terkenalnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas.

Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban pra-sejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16.

Danau Tasikardi

Danau Tasikardi (https://www.bantenwisata.com)

Merupakan danau buatan dengan luas sekitar 6,5 ha yang seluruh alasnya dilapisi ubin bata. Secara administratif, danau buatan ini terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramat Watu, Kabupaten Serang, kira-kira 2 km di sebelah tenggara Keraton Surosowan. Danau ini dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf (1570 -1580). Di tengah danau dibangun sebuah pulau yang disebut pulau Keputren, yang semula diperuntukkan khusus bagi ibu Sultan Maulana Yusuf untuk bertafakur mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun kemudian pulau ini digunakan sebagai tempat rekreasi bagi keluarga kesultanan.

Danau Tasikardi berfungsi untuk menampung air dari Sungai Cibanten yang kemudian disalurkan ke sawah-sawah dan keraton untuk keperluan air minum dan kebutuhan sehari-hari bagi keluarga Sultan di Keraton Surosowan. Di pulau Keputren masih tersisa bangunan turap, kolam, dan sisa-sisa fondasi.

Pengindelan (Penyaringan Air)

Air dari Danau Tasikardi yang semula keruh dan kotor, sebelum masuk ke kota di Surosowan, terlebih dulu dijernihkan di suatu tempat. Penjernihan dilakukan dengan teknik penyaringan air yang khas dan kompleks, yang disebut dengan pengindelan. Pengindelan merupakan suatu bangunan semacam bunker yang berfungsi sebagai penyaringan air (filter station). Untuk menghubungkan Danau Tasikardi, Pengindelan, dan Keraton Surosowan, digunakan saluran air (pipa) dengan berbagai ukuran (diameter 2 – 40 cm) yang terbuat dari terakota.

Pengindelan abang, proses pertama penyaringan air sungai (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Teknik penjernihan air di bangunan pengindelan ini menggunakan teknik pengendapan dan penyaringan dengan pasir dan ijuk. Terdapat tiga buah pengindelan, yakni pengindelan abang, pengindelan putih, dan pengindelan emas. Ketiga pengindelan ini mempunyai struktur dan bahan bangunan yang sama, yakni dari pasangan bata dengan spesi berupa campuran bata, pasir, dan kapur (tras barter). Bagian luar bangunan diplester dengan spesi yang sama.

Pengindelan putih, proses kedua penyaringan air sungai (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Pengindelan abang merupakan sistem rangkaian penyaringan air yang pertama. Air dari Danau Tasikardi yang masih keruh diendapkan di tempat ini. Selanjutnya, air dialirkan ke pengindelan putih yang merupakan sistem rangkaian penyaringan air yang kedua. Di pengindelan putih, air disaring dan dijernihkan lagi, dan kemudian air hasil saringan dialirkan ke pengindelan emas.

Pengindelan emas, proses ketiga penyaringan air sungai (https://yacob-ivan.blogspot.co.id)

Air hasil penjernihan dan penyaringan dari pengindelan putih diendapkan lagi di pengindelan emas yang merupakan sistem rangkaian penyaringan air yang terakhir (ketiga). Dari pengindelan emas, air bersih langsung dialirkan ke pancuran mas yang ada di Keraton Surosowan untuk air minum dan kebutuhan sehari-hari bagi keluarga Sultan dan masyarakat di Keraton Surosowan. Bagaimana? Terbukti kan kalau nenek moyang kita hebat?

Dari pengindelan emas, air bersih langsung dialirkan ke pancuran mas yang ada di Keraton Surosowan (https://yacob-ivan.blogspot.co.id)

Situs Istana Keraton Kaibon

Keraton Kaibon (https://himse89.blogspot.com)

Asal-usul Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata “keibuan”. Pada saat itu, sultan ke 21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat muda sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibunya, Ratu Aisyah.

Istana Kaibon, tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda Sultan Syaifudin. Reruntuhan ini masih terlihat (agak) lengkap membentuk sebuah istana keraton. Di samping istana ini terdapat kanal dan pepohonan besar. Saya bayangkan pasti dahulunya istana ini bagus dan indah sekali. Namun lagi-lagi, istana ini pun dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1832 akibat peperangan antara Kerajaan Banten dan Belanda pada saat itu.

Sumber foto: Raddien

Meski demikian, ada banyak bagian bangunan yang masih berdiri tegak hingga sekarang, yaitu pintu-pintu dan deretan Candi Bentar khas Banten atau disebut gerbang bersayap. Masih dapat dilihat pula Pintu Paduraksa, pintu khas Bugis yang sisi kanan dan kirinya tersambung, tidak seperti kebanyakan pintu keraton yang bagian atasnya tidak tersambung.

Ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah juga masih tersisa seperempat bagian. Kamar ini khas karena bagian lantainya dibuat lebih menjorok ke bawah (tanah) untuk diisi air sebagai pendingin ruangan. Di atasnya dipasang papan yang berfungsi sebagai lantai. Saat ini, masih terlihat adanya lubang-lubang penyangga papan. Meski saat ini dikelilingi permukiman penduduk yang makin padat, istana seluas dua hektar itu tetap terjaga sebagai cagar budaya. Keraton yang terletak di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang ini juga masih dikelilingi kanal dan Kali Banten seperti saat pertama kali dibangun pada awal abad 19.

Benteng Spelwijk

Benteng Speelwijk (https://www.backpackerkoprol.com)

Terletak sekitar 500 m dari Masjid Agung Banten, di Kampung Pamarican terdapat Benteng Speelwijk. Bangunan ini adalah simbol kekuasaan kolonialisme Belanda, sekaligus penanda berakhirnya era kejayaan Kesultanan Banten. Benteng yang arsitektunya dirancang oleh Hendrick Loocaszoon Cardeel itu dibangun belanda pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672-1684). Pembangunan Bennteng ini membutuhkan waktu 4 tahun, yakni 1681-1684.

Nama Speelwijk diambil untuk menghormati Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-14, yakni Cornelis Janszoon Speelman yang memerintah antara tahun 1681-1684. Speelman meminta izin kepada Sultan Qohhar membangun Benteng dangan alasan untuk mengantisipasi serangan rakyat Banten yang benci kepada Belanda. Terutama orang-orang Banten pengikut Sultan Agung Tirtayasa.

Benteng Speelwijk dibangun dengan tidak mengerahkan tenaga rakyat Banten, melainkan orang-orang Cina dengan upah yang sangat rendah. Dinding Benteng terbuat dari campuran batu, pasir dan kapur, berdiri tegak setinggi 3 meter. Dikelilingi parit selebar 10 meter, dengan maksud agar sulit ditembus musuh yang menyerang Benteng ini.

Kondisi Benteng Speelwijk saat ini sudah tidak utuh, dibeberapa bagian bahkan sudah rata dengan tanah. Tetapi masih tampak jelas sisa-sisa bangunan berupa rumah komandan, gereja, kamar senjata, kantor administrasi, toko kompeni dan amar dagang. Di atas dinding bagian utara dapat dilihat ruang ”intip” yang berfungsi sebagai tempat mengamati musuh bagi prajurit Belanda. Dibagian barat laut dan barat daya benteng terdapat bungker atau ruang bawah tanah yang dihubungkan dengan lorong.

Dahulunya Benteng Spellwijk digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda dan sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam-meriam dan alat pertahanan lainnya. Namun, tempat tersebut saat ini hanya digunakan sebagai lapangan bola oleh para penduduk. Di sana kami diajak Pak Slamet untuk masuk dan mengamati sebuah terowongan yang katanya terhubung dengan Keraton Surosowan.

Masjid Pecinan Tinggi

Reruntuhan Masjid Pecinan (https://www.backpackerkoprol.com)

Seperti namanya, Masjid Pecinan Tinggi dibangun di sebuah pemukiman cina pada masa Kesultanan Banten. Terletak kurang lebih 500 meter ke arah barat dari masjid Agung Banten, atau 400 meter ke arah selatan dari Benteng Speelwijk. Berbeda dengan Mesjid Agung Banten yang masih berdiri dengan kokoh, Mesjid Pecinan Tinggi bisa dikatakan tinggal puing-puingnya saja. Selain sisa fondasi bangunan induknya yang terbuat dari batu bata dan batu karang, juga masih ada bagian dinding mihrabnya. Disamping itu, dihalaman depan disebelah kiri (utara) mesjid tersebut, masih terdapat pula sisa bangunan menaranya yang berdenah bujur sangkar. Menara ini terbuat dari bata dengan fondasi dan bagian bawahnya terbuat dari batu karang. Bagian atas menara ini sudah hancur, sehingga wujud secara keseluruhan/utuh dari bangunan ini sudah tidak nampak lagi.

Tidak banyak literatur yang menjelaskan asal usul didirikannya mesjid ini, kecuali hanya menjelaskan bahwa Mesjid Pecinan Tinggi ini merupakan mesjid yang pertama kali di bangun oleh Sultan Hasanudin sebelum kemudian mendirikan Mesjid Agung Banten.

Tidak jauh dari menara tersebut dan masih dalam area yang sama terdapat pula sebuah makam cina. Entah apa kaitannya antara makam tersebut dengan mesjid pecinan tinggi, yang jelas makam tersebut hanyalah satu-satunya yang terdapat di lokasi ini. Tulisan cina yang ada di makam tersebut masih terpatri dengan jelas yang menjelaskan bahwa yang dikuburkan disana adalah pasangan suami istri (Tio Mo Sheng+Chou Kong Chian) yang berasal dari desa Yin Shao dan batu nissan tersebut didirikan pada tahun 1843. Bisa jadi kedua orang itu adalah imam/ustadz/pemuka agama sehingga layak dimakamkan disamping Mesjid Pecinan Tinggi.

Mercusuar Anyer

Mercusuar Anyer (https://www.backpackerkoprol.com)

Mercusuar Anyer yang berada di Desa Cikoneng Kecamatan Anyer, Kabupaten.Serang, Posisinya terletak di Nol Kilometer antara jalan Anyer – Panarukan. Tinggi mercusuar ini sekitar 75,5 meter. Terbagi menjadi 18 tanggan dan memiliki 286 anak tangga.

Pada awalnya mercusuar ini dibangun dengan batu bata, yang kemudian hancur karena letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, dan sampai sekarang masih dapat kita lihat berupa pondasinya saja. Kemudian pada tahun 1885 dibangun kembali mercusuar dengan konstruksi baja.

Pintu masuk Mercusuar (https://www.gudangwisata.com)

Mercusuar ini sangat penting perananya untuk menentukan arah mata angin di selat sunda dan menentukan batas daratan & lautan serta sebagai rambu penerangan kapal-kapal pedagang VOC yang berlayar melintasi selat sunda sebagai merupakan jalur pelayaran internasional pada abad 18-an. Sekarang mercusuar ini masih sering digunakan oleh dinas perhubungan sebagai alat bantu navigasi laut bagi kapal yang melintasi selat Sunda.

Pulau Sanghyang

Pulau sanghyang (https://www.bantenwisata.com)

Pulau sanghyang ini secara administratif terletak di desa Cikoneng kecamatan Anyer kabupaten Serang provinsi Banten. Letaknya di selat sunda atau sekitar kurang  lebih 10 Km dari pantai Anyer.

Pada tahun 1942 Jepang mendarat di Cikoneng dan menjadikan daerah itu sebagai basis pengerahan tenaga kerja romusha untuk dikerjakan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Terdapat prasasti yang menceritakan aktifitas mereka di Pulau Sanghyang, menggunakan bahasa Jepang, berbunyi; Genjumin romusha no hi. Pada tahun 1943 terjadi peperangan besar antara Jepang melawan Belanda. Belanda kalah kemudian meninggalkan tempat tersebut hingga menyingkir di Pulau Sembuku Lampung. Tahun 1945 pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Di sini banyak ditemukan bangunan peninggalan sejarah yang berkaitan dengan masalah pertahanan. Sekarang banyak peninggalan tersebut dijadikan sebagai pos pengamat lalu lintas kapal-kapal di Selat Sunda, pendeteksi dini bagi kerawanan lain yang datang dari laut (Samudra Hindia).

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berdiri 15 Juli 1985 di atas tanah seluas 10.000 m2 dengan luas bangunan 778 m2. Gagasan pembangunan museum ini diawali adanya penelitian dan pemugaran Situs Banten Lama oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Direktorat Perlindungan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

Dari sekian banyak benda-benda purbakala yang menjadi koleksinya, benda-benda tersebut dibagi menjadi 5 kelompok besar.

  • Arkeologika, benda-benda yang digolongkan dalam kategori ini adalah Arca, Gerabah, Atap, Lesung Batu, dan lain-lain
  • Numismatika, koleksi bendanya berupa Mata Uang, baik Mata Uang lokal maupun Mata Uang asing yang dicetak oleh masyarakat Banten

Mesin pencetak Cetak uang (https://archive.kaskus.co.id)

Jenis-jenis mata uang Uridab (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten) – https://archive.kaskus.co.id

  • Etnografika, benda-benda koleksinya berupa miniatur Rumah Adat Suku Baduy dan berbagai macam Senjata Tradisional dan juga senjata peninggalan Kolonial seperti Tombak, Keris, Golok, Meriam, Pistol, dan lain-lain

Replika Rumah Adat Suku Baduy (https://archive.kaskus.co.id)

  • Keramologika, yaitu benda-benda koleksi berupa macam-macam Keramik. Keramik yang tersimpan berasal dari berbagai tempat seperti Burma, Vietnam, China, Jepang, Timur Tengah dan Eropa. Tidak ketinggalan pula keramik lokal asal Banten yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan Gerabah dan biasanya gerabah ini digunakan sebagai alat-alat rumah tangga
  • Seni rupa, yang termasuk didalamnya adalah benda-benda seni seperti Lukisan atau Sketsa. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini menyimpan banyak koleksi lukisan tetapi hampir keseluruhannya adalah lukisan hasil reproduksi

Selain menyimpan benda-benda koleksi kepurbakalaannya di dalam ruangan, terdapat dua Artefak yang disimpan di halaman Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, yaitu artefak Meriam Ki Amuk dan juga alat penggilingan Lada.

Meriam Ki Amuk (https://archive.kaskus.co.id)

Yang paling terkenal adalah Meriam Ki Amuk, meriam yang terbuat dari tembaga dengan tulisan arab yang panjangnya sekitar 2,5 meter ini merupakan bantuan dari Ottoman Turki. Konon Meriam Ki Amuk memiliki kembaran yaitu Meriam Ki Jagur yang saat ini tersimpan di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta. Sedangkan alat penggilingan lada yang terbuat dari batu padas yang sangat keras telah hancur menjadi beberapa bagian. Pada zaman dahulu Banten memang dikenal sebagai penghasil lada, itulah yang menyebabkan Belanda datang ke Banten, salah satunya ingin menguasai produksi lada.

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.