Tarian Tradisional Ciamis Jawa Barat

1

tari-kele Tari Kele (Berbagai kesenian daerah yang ada di Jawa Barat mempunyai bentuk serta ciri-ciri tersendiri sesuai dengan imajinasi dan kreatifitas masyarakat serta tidak lepas dari berbagai kelompok-kelompok tertentu sebagai pendukungnya.

Beberapa faktor yang menjadi pendukung tumbuhnya kreatifitas tersebut, diantara letak geografis, pola kegiatan sehari-hari dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Saat ini banyak berbagai kesenian daerah yang terbentuk dan berkembang dalam suatu masyarakat yang mencerminkan kondisi daerah dan menjadi ciri khas suatu daerah.

Tari Kele

10387771_335060869951705_877074766_n Tari Kele (https://www.photo365.co)

Tarian ini digarap oleh studio Titik Dua dari Ciamis, milik koreografer, Rachmayati Nilakusuma, atau yang akrab disapa Neng Peking itu.

Tari Kele memiliki makna penyambutan dengan mensucikan tamu-tamu yang datang berkunjung. Istilah kele itu sendiri berarti bambu atau juga disebut lodong yang berfungsi untuk mengambil nira di kalangan masyarakat sunda.

Jumlah penari dalam tarian ini biasanya tidak terbatas, tergantung tempat. Tapi biasanya berjumlah enam orang, biasanya para penari permpuan ini dipasangkan dengan empat orang pria yang membawa dongdong atau tempat untuk menyimpan hasil bumi.

Ide tarian ini diadaptasi dari upacara adat Nyangku di daerah Panjalu Kabupaten Ciamis. Upacara Nyangku melibatkan sembilan perempuan berbaju adat warna putih. Di pagi hari mereka mengambil air dari sembilan mata air yang ada di sekitar situ di Panjalu. Air itu kemudian dimasukkan dalam satu ruas bambu. ”Bambu tersebut dibawa dan disimpan di atas kepala. Lalu para perempuan ini berjalan beriringan menuju Alun-alun Panjalu.

Tari Ronggeng Amen

ronggeng-amen Tari Ronggeng Amen (https://alampriangan.com)

Kesenian tari yang berkembang di wilayah Ciamis Selatan dan Pangandaran.  Kesenian yang biasanya digelar pada acara hajatan ini cukup digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Merupakan perpaduan antara Ronggeng Gunung dan Tayub.

Hal yang membedakan Ronggeng Amen dengan Ronggeng Gunung adalah penggunaan alat musik yang lebih bervariasi.

Pola lingkaran

Ciri-ciri Ronggeng Gunung yang diadopsi Ronggeng Amen dapat dikenali dari pola lingkaran pada komposisi penarinya.   Ronggeng berperan sebagai titik pusat yang dikelilingi oleh penonton yang ikut menari membentuk lingkaran.

Semakin banyak yang menari, maka semakin banyak lapisan lingkarannya. Sehingga tempat menari yang berada di depan panggung biasanya dipilih areal yang luas agar bisa menampung masyarakat yang ikut menari.

Selain pola lingkaran, ciri Ronggeng Gunung yang diadopsi adalah gerakan tari yang dilakukan mengutamakan rampak kaki.  Sedangkan untuk tangan bebas bergerak.

Rampak kaki

Selain pola lingkaran, ciri Ronggeng Gunung yang diadopsi adalah gerakan tari yang dilakukan mengutamakan rampak kaki.  Sedangkan untuk tangan bebas bergerak.

Sinden di panggung

Ciri lainnya adalah beberapa lelaguan khas dinyanyikan oleh sinden yang berada di atas panggung.

Namun berbeda dalam ronggeng Gunung, dimana sang sinden atau ronggeng yang bernyanyi sekaligus juga sesekali menari  di tengah lingkaran,  pada Ronggeng Amen penyanyi tidak merangkap sebagai penari.

 

One thought on “Tarian Tradisional Ciamis Jawa Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Tarian Tradisional Pangandaran Jawa Barat

Thu Sep 22 , 2016
Sebuah tarian sebenarnya adalah perpaduan dari beberapa macam unsur yaitu unsur wiraga (tubuh), wirasa (rasa), dan wirama (irama). Ketiga unsur ini berpadu menjadi satu dalam bentuk tarian yang harmonis dan indah. Unsur utama dalam seni tari adalah gerak. Gerak dalam seni tari tentu selalu melibatkan unsur-unsur anggota tubuh manusia. Unsur-unsur […]