Museum – Museum di Aceh

78685-rumahcutnyakdhien3

Sahabat GWI Indonesia Banget, mencoba menambah kategori Museum, biarpun telah dibahas di Wisata Sejarah di setiap Propinsi atau Kabupaten yang ada di Nusantara ini, disini akan lebih diperdalam lagi.

Dimulai dari ujung Indonesia, Aceh, dengan mengunjungi museum-museum di Aceh, akan mengenal lebih dekat peradaban masyarakat aceh tempo dulu, dengan berbagai bukti sejarah yang tersimpan aman di museum sebagai cerminan masyarakat aceh dari masa ke masa.

Museum Negeri Aceh

3f244-museum_aceh Museum Negeri Aceh (https://id.wikipedia.org)

Museum ini terletak di jalan Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Banda Aceh 23241. Museum Aceh adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan saat singgah di Banda Aceh. Terletak di Jalan Alauddin Mahmud Syah, Banda Aceh, museum ini menyimpan berbagai pernak-pernik peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah. Disini kita dapat menemukan berbagai jenis perkakas, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, senjata tradisional dan pakaian tradisional. Di museum ini kita juga dapat menemukan berbagai koleksi manuskrip kuno, dokumentasi foto sejarah dan maket dari perkembangan Masjid Agung Baiturrahman.

Sejarah

Museum Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam didirikan pada tanggal 31 Juli 1915 dengan nama Atjeh Museum yang dipimpin oleh F.W. Stammeshous dan peresmian pembukaannya ketika itu dilakukan oleh Gubernur Sipil dan Militer Jenderal H.N.A. Swart. Pada awal berdirinya bangunan Museum tersebut hanya berupa Rumoh Aceh, yaitu suatu modifikasi bangunan rumah tradisional Aceh yang berasal dari Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial (De Koloniale Testooteling) di Semarang yang digelar antara 13 Agustus-15 November 1914. Di samping memamerkan berbagai macam koleksi pribadi F.W.Stammeshous (Kurator Atjeh Museum), Paviliun Aceh saat itu juga memamerkan aneka ragam benda pusaka para pembesar Aceh sehingga Paviliun tersebut tampil sebagai paviliun yang paling lengkap koleksinya dan memperoleh 4 medali emas, 11 medali perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai paviliun terbaik. Atas keberhasilan tersebut F.W. Stammeshous mengusulkan kepada Gubernur Aceh H.N.A. Swart agar Paviliun itu dibawa kembali ke Aceh untuk dijadikan Atjeh Museum yang kemudian diresmikan 31 Juli 1915 di Banda Aceh.

Koleksi

Koleksi museum negeri Aceh tergolong atas tiga klasifikasi besar, yaitu koleksi anorganik, organik dan campuran. Klasifikasi tersebut terbagi lagi dalam 10 jenis disiplin ilmu, yaitu Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika & Heraldika, Filologika, Keramonologika, Seni Rupa, Teknologika.

Koleksi pilihan terbaik

Lonceng Cakra Donya

cakradonya

Diantara koleksi yang cukup populer dari museum ini adalah sebuah lonceng yang usianya telah mencapai 1400 tahun. Lonceng ini bernama ‘Lonceng Cakra Donya’ yang merupakkan hadiah dari Kaisar Cina dari Dinasti Ming kepada Sultan Pasai pada Abad Ke-15, yang dihadiahkan saat perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Ho. Lonceng ini dibawa ke Aceh saat Sultan Ali Mughayat Syah dari Kesultanan Aceh menaklukkan Pasai pada tahun 1524 M.

Cap Sikuereueng

cap-sikureueng

Stempel sultan Aceh ini berasal dari sultan Ahmadsyah abad ke 18 (1723-1725). Stempel kesultanan Aceh terbuat dari batu yang diberi nama Cap Sikureueng. Disebut Cap Sikureueng karena pada stempel tersebut tertera sembilan nama Sultan yang pernah memerintah Aceh dengan komposisi empat tempat untuk nama-nama dari dinasti sebelumnya, empat tempat untuk nama-nama dinasti sendiri yang dipilih menurut keinginannya, dan satu tempat di tengah untuk Sultan yang sedang memerintah. Stempel dibuat dari generasi ke generasi setiap pergantian Sultan dengan mengikuti mode yang sama. Stempel juga melambangkan empat dasar hukum (Al Quran, Hadits, Ijmak Ulama, dan Qias), dan empat jenis hukum (hukum adat, qanun, dan reusam) dalam masyarakat Aceh.

Bustanussalatin

bustan-aa

Bustanussalatin yang artinya taman raja-raja dibangun sebagai taman kesultanan Aceh. Sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1514 M. Terletak disepanjang Krueng Daroy yang melintasi Gunongan, Pinto Khop, Kandang, hingga ke Pulau Gajah dan Mesjid Raya. Di dalamnya banyak ditumbuhi pohon-pohon buah, bunga dan sayuran yang khasiatnya bermacam-macam. Dulu luasnya hampir 1/3 kota Banda Aceh.

Beberapa bangunan yang terdapat dalam taman Bustanusslatin di bangun pada masa Sultan Iskandar Muda diantaranya, Gegunongan Menara Permata (Gunongan) yang dibangun untuk istri Sultan Iskandar Muda yang dari Pahang atau yang lebih dikenal Putro Phang. Taman Ghairah (Taman Sari) dibangun oleh Sultan Iskandar Muda dengan maksud menjadikan Bandar Aceh Darussalam sebagai Taman Firdaus. Di dalam taman ini dahulu ditanam sekitar 50 jenis tanaman bunga dan 50 jenis tanaman buah-buahan khas Aceh. Ditaman ini juga dibina beragam sarana hiburan para sultan yang hingga kini masih dapat dilihat diantaranya Krueng Darol Iski atau Krueng Daroy yang membelah taman, Gunongan, Kandang Sultan Alauddin Mughayatsyah Iskandar Tani, Patarana Sangga dan Pinto Khop yang merupakan pintu masuk ke Taman Ghairah.

Bustanussalatin erat kaitannya dengan naskah karangan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Naskah tersebut ditulis atas permintaan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M). Penulisannya di mulai pada tanggal 4 Maret 1638 dengan nama lengkap Bustan As-Salatin fi Zikr Al-Awwalin Wal Al-Akhirin. Naskah ini terdiri dari 7 (tujuh) bab dan 40 pasal. Naskah ini bersifat keagamaan dan sejarah.

Naskah Bustanussalatin mempunyai pengaruh besar dalam sejarah dan kesusteraan Melayu dan Aceh. Salah satu bab dari Bustanussalatin mengisahkan sejarah Aceh secara detail, termasuk silsilah para raja dan penegakan hukum pada masa kesultanan Aceh. Nuruddin Ar-Raniry juga menggambarkan kemegahan dan keindahan Dar Al-Dunya dan taman Bustanussalatin. Dari naskah ini pula diketahui segala gambaran tentang keindahan bangunan, tanaman, dan Darul Isyki (Krueng Daroy) yang terdapat dalam Bustanussalatin. Dan segala peristiwa dan perayaan yang diadakan didalam maupun di luar taman kerajaan. Seperti perayaan Idul Adha pada masa Sultan Iskandar Tsani yang gambarannya ada dalam lukisan AD Firous.

Siwaih

siwaih-b

Siwaih merupakan senjata kebanggaan bangsawan Aceh abad ke 16, terbuat dari perpaduan gading atau tanduk berhiaskan emas, berlian, dan suasa. Dipadukan dengan motif tradisional Aceh.

Siwaih lebih difungsikan sebagai perhiasan yang digunakan pada upacara adat. Siwaih juga dapat digunakan sebagai senjata apabila keadaan sudah mendesak.

Museum Negeri Aceh
Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Banda Aceh 23241
Website: http://museum.acehprov.go.id
Email: museum@acehprov.go.id

jam_kunjung41

Museum Cut Nyak Dhien
Jl. Banda Aceh Calang, Lam Pisang Kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh

78685-rumahcutnyakdhien3 Replika Rumah Cut Nyak Dhien (https://kotabandaaceh.blogspot.com)

Museum Cut Nyak Dhien berbentuk rumah tradisional Aceh (rumoh Aceh), merupakan replika rumah srikandi Aceh, Cut Nyak Dhien. Pada mulanya rumah ini adalah tempat tinggal pahlawan wanita Cut Nyak Dhien. Di era Perang Aceh, rumah ini dibakar oleh tentara Belanda tahun 1893 yang kemudian dibangun kembali pada permulaan tahun 1980an dan dijadikan museum. Pondasi bangunan ini masih asli.

aceh-2014-35-1024x678 Silsilah keturunan keluarga Cut Nyak Dien (https://www.momtraveler.com)

Rumah Cut Nyak Dien memiliki luas 25m x 17m, beratap daun rumbia dan terbuat dari kayu, seperti kebanyakan rumah adat Aceh. Bangunan museum ini terdiri dari tiga bagian, yakni ruang tamu, ruang tuan rumah, serta ruang keluarga. Ada sepuluh ruang, empat kamar, dua serambi di bagian depan dan belakang. Ada juga sebuah sumur yang memang sudah ada sejak dahulu. Sumur ini beda dengan sumur yang ada pada umumnya karena di bangun 10 meter di atas tanah. Tujuannya untuk mencegah kemungkinan penjajah meracuni air yang ada dalam sumur. Taktik semacam ini memang biasa digunakan oleh penjajah di era tersebut.

aceh-2014-27-678x1024 Sumur disengaja dibuat tinggi untuk mencegah musuh meracuni air ke dalamnya (https://www.momtraveler.com)

Dalam setiap ruangan ada benda-benda milik Cut Nyak Dien yang masih terpelihara dengan baik. Dari mulai kamar milik para dayang hingga kamar pribadinya masih tertata apik dan cantik. Ketika memasuki pintu utama, kita akan langsung memasuki ruang tamu yang bentuknya memanjang. Dahulu, ruangan ini juga berfungsi untuk menerima tamu dan mengatur strategi perang. Disini kita bisa melihat foto-foto lama menampilkan sosok Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, serta pejuang-pejuang Aceh lainnya. Di ruang tamu ini juga terdapat silsilah keluarga Cut Nyak Dien.

aceh-2014-30-678x1024 Kamar Cut Nyak Dien (https://www.momtraveler.com)

aceh-2014-24-1024x678 Kamar tidur para dayang (https://www.momtraveler.com)

Di bagian dapur terdapat kamar pembantu, koleksi peralatan makan, dan berbagai macam senjata tradisional khas Aceh terpajang dalam etalase kaca. Secara keseluruhan, kompleks museum ini lumayan lengkap dan rapi banget.

Sumber: Momtraveler

Museum Tsunami Aceh
Jl. Sultan Iskandar muda, Banda Aceh

ec50d-museum-tsunami-aceh1 Museum Tsunami Aceh (https://foregone0.blogspot.com)

Museum Tsunami Aceh semula akan dibuat berbentuk kapal besar dan dimaksudkan hanya sebagai penyimpanan semua dokumentasi yang terkait dengan bencana alam 26 Desember 2004. Agar generasi penerus Aceh dan Indonesia mengetahui bahwa pernah terjadi peristiwa maha dasyat di bumi rencong ini.

Namun kemudian rencana berubah, Pemerintah Aceh bersama BRR NAD-Nias mengadakan sayembara untuk desain museum tsunami. Setelah menyisihkan 68 peserta lainnya, desain yang berjudul “Rumoh Aceh’as Escape Hill” akhirnya dimenangkan oleh seorang dosen arsitektur ITB, Bandung, M.Ridwan Kamil yang diumumkan pada 17 Agustus 2007.

Museum Tsunami Aceh yang terletak di depan Lapangan Blang Padang, Banda Aceh ini memiliki tiga lantai, dengan luas setiap lantai sebesar 2.500 meter dan menghabiskan dana hingga Rp60 miliar lebih.

Goresan arsitektur Ridwan Kamil ini, sarat dengan nilai kearifan lokal dan didesain dengan konsep memimesis kapal, seperti hendak mewartakan Banda Aceh adalah kota air alih-alih daratan.

Filosofi

Desain dan pembangunan Museum Aceh dengan konsep ‘Rumoh Aceh as Escape Building’ mempunyai beragam filosofi. Pada lantai dasar museum ini menceritakan bagaimana tsunami terjadi melalui arsitektur yang didesain secara unik. Pada masing-masing ruangan memiliki filosofi tersendiri yang mendeskripsikan gambaran tentang tsunami sebagai memorial dari bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam yang menelan korban jiwa dalam jumlah yang cukup besar mencapai kurang lebih 240.000 jiwa. Berikut filosofi dari design lantai dasar Museum Tsunami Aceh.

Space of Fear (Lorong Tsunami)

space-of-fear-lorong-tsunami Space of Fear (https://share-all-time.blogspot.co.id)

Lorong Tsunami merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum Tsunami. Memiliki panjang 30 m dan tinggi mencapai 19-23 m melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 silam.  Air mengalir di kedua sisi dinding museum, suara gemuruh air, cahaya yang remang dan gelap, lorong yang sempit dan lembab, mendeskripsikan ketakutan masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi, atau disebut space of fear.

Space of Memory (Ruang Kenangan)

space-of-memory-ruang-kenangan Space of Memory (https://uleelheu.blogspot.co.id)

Setelah berjalan melewati Lorong Tsunami, pengunjung akan memasuki Ruang Kenangan (Memorial Hall). Ruangan ini memiliki 26 monitor sebagai lambang dari kejadian tsunami yang melanda Aceh ada 26 Desember 2004. Setiap monitor menampilkan gambar dan foto para korban dan lokasi bencana yang melanda Aceh pada saat tsunami sebanyak 40 gambar yang ditampilkan dalam bentuk slide. Gambar dan foto ini seakan mengingatkan kembali kenangan tsunami yang melanda Aceh atau disebut space of memory yang tidak mudah untuk dilupakan dan dapat dipetik hikmah dari kejadian tersebut.

Ruang dengan dinding kaca ini memiliki filosofi keberadaan di dalam laut (gelombang tsunami). Ketika memasuki ruangan ini, pengunjung seolah-olah tengah berada di dalam laut, dilambangkan dengan dinding-dinding kaca yang menggambarkan luasnya dasar laut, monitor-monitor yang ada di dalam ruangan dilambangkan sebagai bebatuan yang ada di dalam air, dan lampu-lampu remang yang ada di atap ruangan dilambangkan sebagai cahaya dari atas permukaan air yang masuk ke dasar laut.

Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa)

foto-menatap-aceh-kini Space of Sorrow (https://nationalgeographic.co.id)

Melalui Ruang Kenangan (Memorial Hall), pengunjung akan memasuki Ruang Sumur Doa (Chamber of Blessing). Ruangan berbentuk silinder dengan cahaya remang dan ketinggian 30 meter ini memiliki kurang lebih 2.000 nama-nama koban tsunami yang tertera disetiap dindingnya. Ruangan ini difilosofikan sebagai kuburan massal tsunami dan pengunjung yang memasuki ruanga ini dianjurkan untuk mendoakan para korban menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Ruangan ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) yang dilambangkan dengan tulisan kaligrafi Allah yang tertera di atas cerobong dengan cahaya yang mengarah ke atas dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Ini melambangkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah (penciptanya).

Space of Confuse (Lorong Cerobong)

lorong-cerobong Space of Confuse (https://uleelheu.blogspot.co.id)

Setelah Sumur Doa, pengunjung akan melewati Lorong Cerobong (Romp Cerobong) menuju Jembatan Harapan. Lorong ini sengaja didesain dengan lantai yang bekelok dan tidak rata sebagai bentuk filosofi dari kebingungan dan keputusasaan masyarakat Aceh saat didera tsunami pada tahun 2004 silam, kebingungan akan arah tujuan, kebingungan mencari sanak saudara yang hilang, dan kebingungan karena kehilangan harta dan benda, maka filosofi lorong ini disebut Space of Confuse. Lorong gelap yang membawa pengunjung menuju cahaya alami melambangkan sebuah harapan bahwa masyarakat Aceh pada saat itu masih memiki harapan dari adanya bantuan dunia untuk Aceh guna membantu memulihkan kondisi fisik dan psikologis masyarakat Aceh yang pada saat usai bencana mengalami trauma dan kehilangan yang besar.

Space of Hope (Jembatan Harapan)

jembatan-harapan Space of hope (https://uleelheu.blogspot.co.id)

Lorong cerobong membawa pengunjung ke arah Jembatan Harapan (space of hope). Disebut jembatan harapan karena melalui jembatan ini pengunjung dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang ikut membantu Aceh pasca tsunami, jumlah bendera sama denga jumlah batu yang tersusun di pinggiran kolam. Di setiap bendera dan batu bertuliskan kata ‘Damai’ dengan bahasa dari masing-masing negara sebagai refleksi perdamaian Aceh dari peperangan dan konflik sebelum tsunami terjadi. Dengan adanya bencana gempa dan tsunami, dunia melihat secara langsung kondisi Aceh, mendukung dan membantu perdamaian Aceh, serta turut andil dalam membangun (merekontruksi) Aceh setelah bencana terjadi.

Website: https://museumtsunami.blogspot.co.id

Buka
Senin s/d Kamis, Jum’at Libur
Pagi: 09.00 -12.00 WIB
Siang: 14.00-16.30 WIB

Sabtu dan Minggu
Pagi: 09.00 -12.00 WIB
Siang: 14.00-16.30 WIB

Museum Ali Hasjmy
Jalan Sudirman nomor 20, Banda Aceh

dibyawm2t0 Museum Ali Hasjmy (https://news.okezone.com)

Sejarah

Pada awalnya museum ini merupakan tempat kediamannya Prof. Ali Hasjmy. Beliau dilahirkan pada tanggal 28 maret 1914 di daerah Lampase, Banda Aceh. Semasa hidupnya, beliau pernah menjabat sebagai gubernur Aceh dan juga merupakan mantan rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam di kota Banda Aceh. Beliau pula dikenal sebagai seorang ulama, seniman, budayawan dan juga sebagai politikus di Aceh.

Pada tahun 1989, beliau juga mendirikan sebuah yayasan pendidikan Ali Hasjmy. Pada yayasan itu menampung sekitar 15.000 buku-buku naskah kuno yang tertulis dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Aceh, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Belanda dan juga beberapa bahasa lainnya. Tersimpan pula benda benda budaya yang bernilai sejarah tinggi.

Ruangan

x17371b454b419e2e13007bd5a422bc5e_590_391_50_c1_c-jpg-pagespeed-ic-fq7ujgdgme(https://jalan2.com)

Museum ini terbagi dalam empat ruangan, yaitu ruangan khutubkhanah Tgk Chik Kutakarang, yang berisi kitab dan buku-buku kuno awal abad ke 20, ruangan kedua, berupa warisan budaya nenek puteh, yang berisi benda benda warisan budaya Aceh, seperti senjata khas Aceh, pakaian adat Aceh dan keramik kuno.

Ruangan ketiga, merupakan ruangan khasanah Ali Hasjmy, pada ruangan ini terdapat dokumen pribadi milik Ali Hasjmy. Terakhir ruangan teknologi tradisional Aceh, pada ruangan ini terdapat hasil kerajinan dari masyarakat Aceh.

Buka
Senin s/d Jum’at, Sabtu dan Minggu tutup
Pagi: 08.00 -12.00 WIB

Sumber: Jalan-jalan

Museum Malikussaleh
Jl. Mayjen Tengku Islamiah, Bandahara,
Kabupaten Aceh Utara, NAD

museum-malikussaleh-kabupaten-aceh-utara-aceh-1444568977_1 Museum Malikussaleh

Museum ini mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan abad VIII. Museum yang terletak di tengah kota ini menyimpan 500 jenis benda tradisional dan artefak sejarah. Benda tertua di museum ini adalah piring dan mangkok keramik yang ditemukan di kawasan situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam tertua di Nusantara. Selain itu, museum juga memiliki koleksi mata uang dirham: mata uang dari emas yang berfungsi sebagai alat pembayaran masa kerajaan Aceh Darussalam.

Museum yang dikelola Yayasan Malikussaleh ini pun mengoleksi 1.050 buku, 50 kitab, dan 20 hikayat perang Sabil. Kitab berhuruf Arab Jawou ditulis Tengku Chik Awe Geutah, seorang ulama besar dari Beruen, juga menghiasi museum. Sedangkan 20 hikayat yang terdapat di dalamnya sebagian besar berisi kisah yang menggugah semangat jihad warga Serambi Mekah saat berperang melawan kolonialisme Belanda.

Museum Giok Aceh Abu Usman Top Idocrase
Jalan Khairil Anwar Nomor 15-17, Peunayong
Banda Aceh

museum-giok-aceh

Berada di antara deretan pertokoan di Jalan Khairil Anwar, Peunayong, Banda Aceh, bangunan itu terlihat lebih menonjol dari pertokoan lain di sekelilingnya. Didominasi dinding kaca dan bingkai kelilng warna hijau, di puncaknya ada tulisan “Museum Giok Aceh Abu Usman Top Idocrase.” Inilah pertokoan dua pintu yang disulap menjadi Museum Giok Aceh oleh Abu Usman, pengusaha batu mulia sekaligus Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Batu Aceh (APBA).

Galeri

museum-giok1-620x413

Museum ini terletak di gedung lima lantai. Lantai satu terdapat gallery, dua hingga empat tersedia ruang pamer berbagai jenis batu. Sedang lantai atasnya aula serta kantor museum. Di ruang pamer, pengunjung bisa melihat berton-ton bahan mentah dan ribuan butir bahan jadi batu alam Aceh beragam jenis, antara lain naphrite jade hijau, hitam, putih, idocrase solar, lumut, neon, dan akik sulaiman. Setiap batu memiliki keterangan mengenai asal, kandungan mineral, dan tingkat kekerasan. Batu-batu tersebut dari delapan kabupaten dan kota di Aceh. Ke depan, museum akan melengkapi koleksi batu di sini dari semua wilayah Aceh.

Sumber: Kaskus

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.