Pizza Andaliman, Gaya Italia untuk Lidah Batak

edc2a-525422_620

Tiada yang aneh dari tampilan pizza itu. Bentuknya sama-sama bulat. Lalu ada tomat, daging, sosis, jamur, dan keju yang juga menjadi topping. Namun, saat potongan pertama dikunyah, rasa pedas yang khas menyesap dalam mulut. Ini berbeda dengan pizza lainnya.

Ini memang bukan sembarang pizza. Makanan asal Italia ini dimodifikasi sedemikian rupa oleh Sebastian Hutabarat, pemilik Pizza Andaliman Café agar cocok di lidah orang Batak. Kuncinya ada pada bahan bernama andaliman.

Wujud andaliman mirip merica. Rasanya pun tak jauh beda. Hanya, andaliman lebih getir dan kuat meski tidak sepedas cabai. Bumbu andaliman kerap digunakan untuk menaburi hampir semua makanan di Sumatera Utara sehingga sering disebut merica Batak. “Andaliman adalah alasan mengapa orang Batak keras dan berapi-api kalau bicara,” ujar Sebastian.

Pizza ala Sebastian ini disajikan dengan tiga macam saus, yakni saus sambal, saus mayo, dan saus andaliman. Ketiganya olahan sendiri. “Saya juga minta saran ke pengunjung, bahan apa yang cocok dijadikan topping,” ujar Sebastian. Alhasil, selain bahan yang biasa, tak usah kaget jika Anda menemukan ikan teri pada topping Pizza Andaliman. “Ini Italian style, Batak taste, he-he-he….”.

Kisah Pizza Andaliman dimulai pada akhir 2014. Ketika itu, Sebastian menghadiri jamuan Natal di Desa Silimalombu, Kabupaten Samosir. Di sana, dia disuguhi roti buatan Thomas Heinle, lelaki asal Jerman yang tinggal di Silimalombu setelah menikahi nelayan setempat, Ratnauli Gultom. Dia kesengsem. Sebastian pun langsung minta diajari Thomas membuat roti. Namun dia malah diajari bikin pizza. “Bahan-bahan yang digunakan Thomas, seperti cabai, tomat, dan jamur, diambil dari kebun sendiri,” ucap Sebastian.

Setelah paham cara membuat pizza, muncul ide Sebastian menambahkan andaliman sebagai saus. Ide itu disambut hangat Thomas yang ikut ke Balige. Tanggal 13 Januari 2015 adalah tanggal bersejarah bagi Sebastian. Itulah saat dia dan Thomas pertama kali menjual Pizza Andaliman. Sebelum Pizza Andaliman, Sebastian sudah beberapa kali membuka usaha kafe, namun berkali juga tak berhasil.

Pizza Andaliman Café terletak di Balige, Toba Samosir, Sangkar Ni Huta. Restoran ini terletak di tepi Danau Toba dan hanya 30 menit dari Bandara Silangit. Letaknya yang strategis membuat kafe Sebastian sering disinggahi pelancong. “Social media juga bikin kami cepat dikenal karena orang-orang penasaran ingin coba,” ujarnya.

Saat libur Lebaran lalu, Sebastian mendapat untung besar. Omzet Pizza Andaliman Café melonjak empat kali lipat. “Biasanya sehari Rp 1 juta, tapi kemarin sehari bisa sampai Rp 4 juta dan sepekan dapat Rp 21 juta,” tuturnya.

Harga yang ditawarkan Pizza Andaliman Café cukup ramah di kantong. Sebastian membanderol antara Rp 7.000–60.000 dengan variasi ukuran dan topping. Apabila Anda tak terlalu menyukai pizza, masih ada spaghetti, nanas scrumble, banana ball, dan brownies kukus sebagai alternatif hidangan.

Menurut seorang pengunjung, Elenarina Tiarmauli Gultom, 28 tahun, rasa Pizza Andaliman sangat khas. “Saya juga cocok dengan ukurannya yang beragam. Yang ukuran kecil, pas untuk saya,” kata Ellen—panggilan perempuan yang bekerja sebagai sales representative sebuah maskapai penerbangan di Bandara Silangit ini.

Pengunjung lainnya, Royandi, 26 tahun, asal Medan, mengatakan Pizza Andaliman adalah tempat yang wajib ia datangi jika berkunjung ke Balige. “Rasanya bikin bergetar, makanya wajib ke sini kalau lagi lewat Balige,” ujarnya.

Selain Pizza Andaliman, restoran ini menyajikan wine mangga yang dicampur es krim. Rasa asam wine dan serat mangga yang masih bisa dirasakan ternyata cocok ketika dipadukan dengan manisnya es krim tiga rasa, vanilla, cokelat, dan stroberi. Ide mencampur wine mangga dengan es krim berawal dari coba-coba. “Saya berpikir mungkin kalau dimodifikasi lagi akan lebih banyak yang beli. Akhirnya saya coba pakai es krim, ternyata banyak yang beli,” kata Sebastian.

Produk wine mangga juga berasal dari Desa Silimalombu, yang dibuat istri Thomas Heinle, Ratnauli Gultom. Wanita asli Samosir ini membawa sendiri produk wine mangga menggunakan kapal dan bus dari Silimalombu ke Balige.

Sumber: Tempo

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.