Wisata Sejarah di Majalengka Jawa Barat

Dalam Buku Sejarah Majalengka Karya N. Kartika yang mewawancarai Budayawan Ayatrohaedi, Nama Majalengka bila diartikan dalam bahasa Jawa Kuno yaitu kata ‘Maja’ merupakan nama buah dan kata ‘Lengka’ yang berati pahit, jadi kata ‘Majalengka’ adalah nama lain dari kata Majapahit. Majalengka sebagai ibukota kabupaten selanjutnya semakin dikuatkan dengan adanya Surat Staatsblad, 1887 No. 159 mengatur dan menjelaskan tentang batas-batas wilayah dari Kota Majalengka.

Rumah Adat Panjalin

Rumah Adat Panjalin (https://www.panoramio.com)

Rumah kuno itu terletak di RT/RW 1/5 Blok Rabu, Kampung Penjalin, Desa Panjalin, Cikalong Wetan, Kabupaten Majalengka. Lokasi ini berjarak sekitar 23 km dari Majalengka. Untuk mencapai ke lokasi relatif cukup mudah dengan berjalan kaki dan kendaraan roda dua, kendaraan roda empat hanya bisa menjangkau jalan besar yang terdapat di bagian timur kampung. Jarak antara jalan besar dan rumah adat sekitar 200 m. Secara astronomis rumah ini terletak pada koordinat 6º41’51” LS dan 108º21’25” BT.

Di dinding terdapat tulisan huruf Jawa (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Tiang tanpa paku  (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Ornamen untuk angin-angin  (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Rumah Adat Panjalin dibangun oleh Raden Sanata, sekitar abad ke-17. Beliau merupakan salah seorang keturunan dari Talaga yang berguru di pondok pesantren Pager Gunung, dekat Kampung Penjalin. Raden Saneh menikahi Seruni yang merupakan putri dari sesepuh Kampung Penjalin, yaitu Raja Syahrani. Raja Syahrani sendiri merupakan keturunan dari Cirebon yang menetap, meninggal, dan dimakamkan di Panjalin. Di tempat ini beliau berkegiatan menyebarkan agama Islam. Rumah ini sangat mungkin peninggalan dari masa Islam, tetapi secara kronologis belum dapat dipastikan secara akurat.

Bagian dalam (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Bagian dalam (https://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Bangunan

Rumah ini terletak di tengah pemukiman kampung Penjalin. Rumah berupa rumah panggung dengan 16 tiang penyangga dari kayu, berukuran 9 x 9 m, dan menempati areal seluas 172 m2. Rumah dibagi menjadi dua bagian: ruang depan dan ruang dalam. Kedua bagian tersebut dibatasi dengan dinding papan kayu dan dilengkapi dengan pintu. Selain pembagian ruang rumah, rumah dilengkapi dengan pintu depan dan ventilasi. Rumah mempunyai satu pintu depan yang terletak di sisi timur bagian depan rumah dan untuk mencapai pintu digunakan tangga. Dinding rumah bagian depan dibuat dari papan kayu. Pada bagian atas pintu terdapat hiasan-hiasan geometris. Bagian dalam rumah berdinding bambu dan lantai juga terbuat dari bambu. Atap bengunan rumah berbentuk pelan-pelan dengan penutup atpnya dari genting.

Pemboran Pertama Minyakbumi di Indonesia

Ilustrasi Pemboran Minyakbumi (https://www.iatmi-smui.ui.ac.id)

Diawali dengan laporan penemuan minyak bumi oleh Corps of the Mining Engineers, institusi milik Belanda, pada dekade 1850-an, antara lain di Karawang (1850), Semarang (1853), Kalimantan Barat (1857), Palembang (1858), Rembang dan Bojonegoro (1858), Surabaya dan Lamongan (1858). Temuan minyak terus berlanjut pada dekade berikutnya, antara lain di daerah Demak (1862), Muara Enim (1864), Purbalingga (1864) dan Madura (1866). Cornelis de Groot, yang saat itu menjabat sebagai Head of the Department of Mines, pada tahun 1864 melakukan tinjauan hasil eksplorasi dan melaporkan adanya area yang prospektif. Laporannya itulah yang dianggap sebagai milestone sejarah perminyakan Indonesia (Abdoel Kadir, 2004).

Peta Pemboran di Cibodas (https://tatangmanguny.wordpress.com)

Selanjutnya, pada tahun 1871 seorang pedagang Belanda Jan Reerink menemukan adanya rembesan minyak di daerah Majalengka, daerah di lereng Gunung Ciremai, sebelah barat daya kota Cirebon, Jawa Barat. Minyak tersebut merembes dari lapisan batuan tersier yang tersingkap ke permukaan. Berdasarkan temuan itu, ia lalu melakukan pengeboran minyak pertama di Indonesia dengan menggunakan pompa yg digerakkan oleh sapi. Total sumur yang dibor sebanyak empat sumur, Sumur pertama itu dinamai Maja-1 atau Cibodas Tangat-1 dan menghasilkan 6000 liter minyak bumi yang merupakan produksi minyak bumi pertama di Indonesia.

Ilustrasi Penutupan Sumur Minyakbumi (https://freddyilhamsyah.wordpress.com)

Pengeboran ini berlangsung hanya berselang dua belas tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia oleh Kolonel Edwin L Drake dan William Smith de Titusville (1859), di negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Dengan demikian, pengelolaan minyak bumi di Hindia Belanda termasuk pionir (tertua) di dunia. Namun, sektor pertambangan, khususnya minyak bumi, belum menjadi andalan pendapatan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Hal ini bisa dilihat dari adanya Indische Mijnwet, produk undang-undang pertambangan pertama, yang baru dibuat pada tahun 1899. Kemudian Reerink juga melakukan pengeboran di Panais, Majalengka, Cipinang dan Palimanan, dengan mengunakan pompa bertenaga uap yang didatangkan dari Canada, menghasilkan minyak yang sangat kental yg disertai dengan air panas yang memancur setinggi 15 meter. Pada 1876 permohonan pinjaman modalnya ditolak NV Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM), sehingga akhirnya ia memutuskan menutup sumur-sumur tersebut dan kembali ke usaha dagang sebelumnya.

Gedung Jangkung

Model Gedung Jangkung (https://madjalengkatiheula.blogspot.co.id)

Terletak di persimpangan yang menghubungkan Jl. KH. Abdul Halim dengan Jl. Imam Bonjol dan Jl. Trikora, Desa Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, diperkirakan usianya lebih dari 1 abad, kemungkinan kurang lebih tahun 1900-an.

Bangunan

Bangunan Gedung Jangkung berada di sudut persimpangan jalan, sehingga bangunan ini merupakan bangunan sudut. Seperti lazimnya bangunan sudut, lahan tanah Gedung Jangkung berdiri cukuplah luas (42 x 28 m), sehingga masih terdapat lahan yang lapang untuk digunakan sebagai taman di bagian depan dan samping yang berbatasan dengan jalan. Luas bangunannya saja ± 28 x 19 m.

Gedung Jangkung (https://twitter.com)

Penyebutan Gedung Jangkung oleh masyarakat dikarenakan bangunan ini memiliki menara pada satu sudut bangunannya, yaitu di sudut barat daya, sesuai dengan sudut persimpangan. Bangunan berdiri di atas batur dengan ketinggian ± 75 cm. Pada bagian muka rumah tidak terdapat serambi. Pintu utama dinaungi oleh porch berkerangka atap dari bahan kayu dan beratap seng. Porch ditopang oleh pilar dengan ornament yang cukup indah yang secara keseluhan menampilkan bentuk pelengkung. Pintu depan berupa pintu tinggi dengan dua daun pintu berpanel kaca yang diapit oleh dua jendela di kanan dan kirinya. untuk menyesuaikan bentuk pintu utama dengan porch, maka di atas pintu dan jendela ditempatkan susunan bovenlight berupa kaca-kaca jendela tinggi yang tampaknya dapat pula dibuka bila perlu.

Serambi muka berada sisi utara bersisian dengan jalan masuk menuju ke halaman belakang. Pada bagian atas serambi terdapat satu lantai lagi, mungkin sebagai serambi terbuka yang pada tepiannya dibatasi oleh pagar setinggi 50 cm dengan ornament yang indah. Tangga naik menuju lantai atas tersebut berada di sisi belakang serambi.

Gedung Jangkung dibuat dengan ruangan-ruangan yang memiliki plafon tinggi, sehingga hampir di sepanjang dindingnya dipenuhi oleh jendela-jendela yang tinggi pada bagian bawah dan atas. Rumah ini juga memiliki pintu lain di bagian samping dan belakang. Typanum bagian sisi barat memiliki ornament ukiran kayu yang cukup menarik, pada bagian bawahnya terdapat kanopi dengan atap asbes dalam susunan berlian (diamond pattern). Bahan dan bentuk pasangan atap seperti ini juga terlihat pada bagian menara dengan kondisi yang telah rusak.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.