Wisata Sejarah di Sumedang Jawa Barat

2c2e9-rumah-pengasingan-cut-nyak-dien-di-sumedang-_151110224652-824

Sumedang adalah kota kecil yang berada di Provinsi Jawa Barat dan terdapat di antara dua kota besar, yaitu Bandung dan Cirebon. Selain sebagai tempat transit bagi para wisatawan, kota ini terkenal dengan makanan khasnya yaitu Tahu Sumedang dengan penyajian cita rasa yang berbeda dengan makanan sejenis yang terdapat di kota-kota lain dan menjadikan menu favorit bagi semua kalangan.

Museum Prabu Geusan Ulun

2b8cf-igp8672 (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Museum Prabu Geusan Ulun terletak di Jl. Prabu Geusan Ulun No. 40 B, Srimanganti, Sumedang, Jawa Barat, Telepon:(0261) 201714, koordinat GPS: 6° 51′ 7″ S, 107° 55′ 13″ E.

Museum Prabu Geusan Ulun terletak di Kompleks Pendopo Kabupaten Sumedang terletak di pusat Kota Sumedang. Kompleks ini semenjak Sumedang berdiri pada tahun 1705 hingga sekarang berfungsi sebagai pusat pemerintahan kabupaten Sumedang. Kompleks yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan tersebut berukuran seluas 1,8 ha dan dikelilingi dengan tembok setinggi tiga meter. Di dalam kompleks terdapat bangunan-bangunan yang cukup tua, yaitu:

Gedung Srimanganti

3de42-imgp9288 Gedung Srimanganti (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Gedung Srimanganti didirikan pada tahun 1706, pada masa pemerintahan Dalem Adipati Tanoemadja, arsitektur Gedung Srimanganti bergaya kolonial, kata Srimanganti mempunyai arti adalah tempat menanti-nanti tamu kehormatan. Dahulu gedung Srimanganti dikenal sebagai rumah “Land Huizen” (Rumah Negara).

Fungsi gedung Srimanganti pada masa itu adalah tempat tinggal buat Bupati serta keluarganya.Gedung Srimanganti dipergunakan sebagai tempat tinggal bupati dan keluarganya, diantaranya Pangeran Kornel, Pangeran Sugih, Pangeran Mekah dan Dalem Bintang.

Pada tahun 1942 Srimanganti tidak digunakan sebagai rumah tinggal Bupati serta keluarganya oleh Dalem Aria Soemantri dijadikan Kantor Kabupaten, sedangkan Bupati serta keluarganya tinggal di Gedung Bengkok atau Gedung Negara.

Gedung Bumi Kaler

55ae5-imgp9212 Gedung Bumi Kaler (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Gedung Bumi Kaler dibangun pada tahun 1850, pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Soeria Koesoemah Adinata / Pangeran Sugih yang memerintah Sumedang tahun 1836 – 1882. Gedung Bumi Kaler beberapa kali mengalami rehabilitasi pada tahun 1982, 1993 dan tahun 2006, namun tidak merubah dari bentuk aslinya. Sama halnya dengan Gedung Srimanganti, Bumi Kaler sudah terdaftar dalam Monumeter Ordonantie 1931 karena termasuk dalam bangunan yang dilindungi oleh pemerintah sebagai Benda Cagar Budaya. Gedung Bumi Kaler menjadi gedung Museum Prabu Geusan Ulun pada tahun 1982.

Gedung Gendeng

278dd-imgp9217 Gedung Gendeng (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Gedung Gendeng didirikan pada tahun 1850, pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata atau Pangeran Sugih. Gedung Gendeng waktu itu digunakan untuk menyimpan Pusaka-Pusaka lelehur dan senjata lainnya.

Bangunan tersebut dibuat dari kayu dan berdinding Gedeg serta berlantai batu merah, selain itu Gedung Gendeng juga tempat menyimpan Gamelan Pusaka. Gedung Gendeng mengalami beberapa kali pemugaran dan rehabilitasi bangunan, pertama tahun 1950, 1955 dan tahun 1993.

Namun karena benda Pusaka-pusaka makin banyak sampai akhirnya Gedung Gendeng tidak memadai lagi untuk menyimpan benda-benda Pusaka tersebut maka dibangunlah Gedung Pusaka khusus untuk menyimpan benda-benda Pusaka. Gedung Gendeng sekarang beralih fungsi menjadi Gedung social budaya. Gedung Gendeng merupakan Museum Yayasan Pangeran Sumedang pertama yaitu pada tahun 1973.

Gedung Gamelan

44164-12-1 Gedung Gamelan (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Gedung Gamelan didirikan pada tahun 1973, oleh Pemda Sumedang atas sumbangan dari Gubernur DKI Jakarta Bapak Ali Sadikin, fungsi Gedung ini sebagai tempat khusus menyimpan Gamelan-Gamelan Pusaka. Gedung Gamelan mengalami renovasi pada tahun 1993, selain sebagai tempat menyimpan Gamelan, gedung Gamelan juga dipakai sebagai tempat latihan tari klasik setiap hari minggu . Setiap satu tahun satu kali pada bulan Maulud semua Gamelan Pusaka dicuci dan tidak dibunyikan latihan taripun diliburkan. Gedung Gamelan merupakan Gedung Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pertama.

Gedung Pusaka

95ca7-3-1-a Gedung Pusaka (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Gedung Pusaka adalah gedung museum yang kelima dari enam gedung yang ada di Museum Prabu Geusan Ulun sebagai gedung baru. Fungsi Gedung Pusaka sesuai namanya sebagai tempat khusus menyimpan benda-benda Pusaka peninggalan para leluhur Sumedang.

Pada tanggal 25 Maret 1990 pembangunan Gedung Pusaka mulai dikerjakan dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Ibu Ibu Hj. Rd. Ratjih Natawidjaya . Proses pembangunan Gedung Pusaka memakan waktu cukup lama yaitu selama tujuh (7) tahun, selesai pada tahun 1997, kemudian diresmikan oleh Bupati Sumedang Bapak Drs. H. Moch. Husein Jachjasaputra.

Gedung Kereta

ca0aa-16 Gedung Kereta  (https://museumgeusanulun.blogspot.co.id)

Pada saat perencanaan pembangunan Gedung Pusaka direncanakan pula pembangunan Gedung Kereta. Gedung Kereta merupakan bangunan terakhir dari Museum Prabu Geusan Ulun yang dibangun pada tahun 1990. Fungsi Gedung ini untuk menyimpan Kareta Naga Barong sebagai replika dari Kareta Naga Paksi peninggalan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata / Pangeran Sugih dan kereta lainnya yang menjadi koleksi Museum Prabu Geusan Ulun.

Menara Loji (*)

07f17-menara_loji_2 Menara Loji (https://sumedangtandang.com)

Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud merupakan perusahaan perkebunan karet ternama milik Baron Braud, pria berkebangsaan Jerman bersama perusahaan swasta milik Belanda. Pada tahun 1841, perkebunan ini didirikan terbentang luas sekitar 962 hektar dari tanah Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN-dulu STPDN) hingga Gunung Manglayang, Sumedang.

Menara Loji ini dibangun pada sekitar tahun 1800-an yang berfungsi sebagai penanda dan berbunyi pada waktu-waktu tertentu setiap harinya, yaitu pada pukul 05.00 sebagai penanda untuk mulai menyadap karet, pukul 10.00 sebagai penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet, dan terakhir berbunyi pada jam 14.00 sebagai penanda berakhirnya kegiatan produksi karet.

Pada tahun 1990, area perkebunan karet ini dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangun empat buah perguruan tinggi, yakni Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), Universitas Pajdajdaran (Unpad), dan Universitas Winaya Mukti (Unwim). Sayangnya, perkembangan pesat yang dialami Jatinangor tidak diiringi dengan perhatian terhadap situs sejarahnya. Termasuk Menara Loji ini. Menara Loji yang kemudian termasuk pada kawasan pendidikan Unwim, Menara Loji dan kawasan di sekitarnya seperti terabaikan.

Saat ini ketika pengelola Unwim beralih dan menjadi kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor, Menara Loji berada di bawah tanggung jawab ITB. Sebagai pengelola yang baru, ITB menyulap kawasan menara tua itu menjadi Taman Loji. Menara loji pun jadi terlihat lebih terawat dari sebelumnya. Tujuan didirikan taman ini yaitu agar Jatinangor memiliki ruang terbuka publik sekaligus bisa mengenang peninggalan sejarah pada zaman dahulu.

Gedung Bengkok (Gedung Negara)

e37df-gedung_negara Gedung Bengkok atau Gedung Negara (https://historiamag.blogspot.co.id)

Gedung Bengkok terletak di Jl. Pangeran Geusan Ulun No. 36, Sumedang Jawa Barat, didirikan pada tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 1836-1882.

Gedung tersebut didirikan di atas tanah beliau untuk keperluan upacara-upacara resmi, peristirahatan bagi tamu-tamu dari Jakarta jika berkunjung ke Sumedang.

Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dien (*)

2c2e9-rumah-pengasingan-cut-nyak-dien-di-sumedang-_151110224652-824 Rumah pengasingan Cut Nyak Dien di Sumedang (https://gayahidup.republika.co.id)

Bekas rumah tinggal Cut Nyak Dien terletak di Kampung Kaum Kelurahan Regol Wetan, tepatnya sekitar 100 meter sebelah barat Masjid Agung Sumedang atau Jalan Pangeran Suriaatmadja, Nomor 174 A, Lingkungan Kaum, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.

Pemilik rumah panggung ini sebenarnya Kiyai Haji Ilyas dan istrinya Hajjah Solehah. Sekarang, rumah ini ditinggali cucu dan cicit Kiai Haji Ilyas, yakni Neng Aisyah (73) dan Nenden Dewi Rosifa (38) bersama anggota keluarga lainnya.

Di rumah tersebut, ada sebuah ruangan berukuran 3 x 5 meter yang menjadi kamar Cut Nyak Dien. Di kamar tersebut terdapat ranjang berukuran 2 x 2 meter. Selain itu, ada juga mesin jahit di dalam rumah tersebut.

3a9f2-rumah2bbekas2bcut2bnyak2bdien-1 Rumah pengasingan Cut Nyak Dien di Sumedang (https://suaramahasiswa.info)

Cut Nyak Dien, nama pejuang wanita asal Aceh Barat ini dikenal luas sebagai pahlawan nasional yang gigih melawan penjajah Belanda sejak perang Aceh meletus pada 1873.

Bagi masyarakat Sumedang, Cut Nyak Dien tak sekadar pahlawan nasional, semasa tinggal di Sumedang selama dua tahun dari sejak kedatangannya pada 11 Desember 1906 hingga wafatnya pada 6 November 1908, Cut NYak Dien begitu dihormati dan dikagumi masyarakat Sumedang karena seorang hafidz Alquran, dan turut mensyiarkan Islam di tanah bekas kerajaan Sumedang Larang ini, dikenal sebagai Ibu Perbu atau Ibu Ratu dari Seberang dan dan Ibu Suci.

Bagi masyarakat Sumedang, sosok Cut Nyak Dien merupakan sosok teladan, pribadi yang tangguh, penebar semangat pantang menyerah.

Benteng Gunung Palasari (*)

859c2-benteng2bpalasari2bkiri2b22bsdp Benteng Gunung Palasari (https://www.sumedangdailyphoto.com)

Benteng ini terletak Desa Pasanggarahan Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.

Bangunan benteng ini dibangun sekitar tahun 1913 sampai 1917, terdapat delapan bangunan benteng pertahanan penjajah Belanda. Walau ada delapan buah bangunan, sebenarnya ada sembilan bangunan karena bangunan nomor delapan merupakan gabungan dua bangunan.

6f243-benteng2bpalasari2b25281725292bsdp Benteng Gunung Palasari (https://www.sumedangdailyphoto.com)

Di dalam setiap bangunan benteng terdapat ruangan yang berukuran sekitar 2 x 3 meter. Umumnya setiap bangunan terdiri atas dua ruangan. Khusus untuk bangunan pertama, memiliki enam buah ruangan dan bangunan nomor tujuh dilengkapi dengan tujuh ruangan. Sehingga jumlah ruangan yang ada di bangunan benteng ini berjumlah 27 buah ruangan. Setiap ruangan dilengkapi dengan pintu di depannya. Sebagian dilengkapi juga dengan jendela kecil di samping kiri dan kanan pintu. Menurut informasi, awalnya setiap pintu dilengkapi dengan daun pintu yang terbuat dari alumunium. Hanya saja untuk saat ini daun pintunya sudah hilang.

Jembatan Cincin (*)

5bdf2-jembatan2bcincin2bjatinangor2 Jembatan Cincin Jatinangor Sumedang (https://www.fandyhutari.com)

Jembatan Cincin pertama kali dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918. Jembatan ini digunakan sebagai sarana lalu lintas bagi pekerja perkebunan untuk membawa hasil perkebunan. Dapat dikatakan, jembatan ini merupakan roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Selain itu, Jembatan Cincin juga berguna sebagai jembatan rel kereta yang menghubungkan jalur dari arah Tanjungsari ke Rancaekek. Menurut kabar dari warga sekitar yang sudah lama tinggal di tempat tersebut, Jembatan Cincin ini hanya beroperasi semenjak tahun 1918 hingga tahun 1942.

ad1c1-2m4aver Jembatan Cincin Jatinangor Sumedang (https://zonahitam.on.paseban.com/)

Tahun 1942 menjadi terakhir kalinya Jembatan Cincin ini dioperasikan, karena semenjak kedatangan tentara Jepang ke Indonesia Jembatan ini sudah tidak pernah lagi dipakai dan diambil alih oleh Jepang, tiang dan besi-besinya pun dibongkar.

Benteng Gunung Kunci

656f3-gunung-kunci Benteng Gunung Kunci (https://jurnalbumi.com)

Benteng Gunung Kunci terletak di Jalan Pengeran Sugih, Kelurahan Kota Kulon, Kecamtan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum. Pembangunan berlangsung dari tahun 1914 hingga 1917, dan diresmikan pada tahun 1918.

Secara keseluruhan, benteng ini memiliki luas 2600 meter persegi. Di dalam benteng terdapat goa atau bunker-bunker seluas 450 meter persegi. Benteng Gunung Kunci terbagi dalam tiga bagian, lantai 1 diperuntukkan bagi ruang prajurit, lantai 2 ruang perwira, dan lantai 3 sebagai benteng pengawas atau pertahanan.

6642e-gunung-kunci-gua Benteng Gunung Kunci (https://jurnalbumi.com)

Goa Gunung Kunci sebenarnya bukan satu-satunya benteng pertahanan yang dibuat Belanda di Sumedang. Setidaknya Belanda membuat 4 benteng pertahanan yang mengelilingi Sumedang, yakni di Pasir Bilik, Gunung Gadung, Gunung Palasari dan Gunung Kunci. Dari ke empat benteng tersebut, Gunung Kunci merupakan salah satu benteng yang masih terlihat utuh.

Monument Lingga

b2275-dscf2430 Monumen Lingga (https://khasdaerah.blogspot.co.id)

Monumen Lingga terletak di tengah alun-alun kota Sumedang, dengan koordinat GPS: 06º51’11” LS dan 107º55’19” BT, dibangun sendiri oleh Pangeran Siching dari Belanda pada tahun 1922 yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu Mr. Dirk Fock, yaitu pada 22 Juli 1922. Pada saat peresmian monumen ini ikut hadir bupati Sumedang yang menggantikan Pangeran Aria Suria Atmadja, yakni Tumenggung Kusumadilaga dan beberapa pejabat Hindia Belanda dan tentunya orang-orang pribumi.

(*) Tambahan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.