Wisata Sejarah di Kota Bekasi Jawa Barat

Kota Bekasi merupakan salah satu kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Nama Bekasi berasal dari kata bagasasi yang artinya sama dengan candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. Kota ini merupakan bagian dari megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia. Saat ini Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri, juga dijuluki sebagai Kota Patriot dan atau Kota Pejuang.

Gedung Papak

Gedung Papak berlokasi di jalan Insinyur Haji Juanda No. 100, Desa Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi; koordinat GPS: 107º 00′.359″ BT dan 06º 14′ 641″ LS. Gedung yang dibangun pada awal abad ke-20 tersebut berdiri di atas tanah seluas 1,5 hektar. Luas bangunannya mencapai 2.500 meter persegi.

Bangunan yang oleh masyarakat sekitar disebut Gedong Papak ini dibangun tahun 1930. Gedong berarti rumah. Sedangkan kata papak berasal dari istilah pak-pak yang bermakna rumah yang atapnya tidak menggunakan genteng melainkan dibuat rata. Hal itulah yang menjadi ciri khas Gedung Papak. Pemrakarsa sekaligus pemilik awal Gedung Papak adalah tuan tanah Cina bernama Lee Guan Chin. Ia membangun kediamannya dengan gaya arsitektur yang kala itu sedang populer. Tidak mengherankan jika bentuk bangunan serupa dapat dijumpai di daerah lain seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Semarang, hingga Kudus.

Lee Guan Chin merupakan seorang saudagar yang dekat dan peduli pada masyarakat sekitar. Pada masa pendudukan Jepang, dengan sukarela ia menyerahkan Gedung Papak kepada Kyai Haji Noer Ali yang merupakan pimpinan gerakan revolusi di Bekasi. Bangunan itu kemudian dijadikan markas perjuangan rakyat setempat.

Usai perang kemerdekaan, pemerintah mengambil alih Gedung Papak dan menjadikannya sebagai rumah dinas walikota mulai tahun 1982. Sejak tahun 2004, pemerintah Bekasi menjadikan gedung tersebut sebagai tempat publik. Lantai kedua menjadi Kantor Komisi Pemberantasan AIDS Bekasi. Sedangkan lantai pertama dijadikan mushola sekaligus pusat kegiatan keagamaan. Tempat yang mampu menampung hingga 50 jamaah itu biasanya ramai saat bulan suci Ramadhan.

Untuk menuju gedung berhias keramik hijau tersebut, Anda cukup mengakses bus P9B dari Terminal Bekasi. Kendaraan umum tersebut melintasi Jalan Insinyur Haji Juanda tempat Gedung Papak berada.

Tugu Pahlawan

Tugu Pahlawan (https://wisatasejarahbekasi.blogspot.co.id)

Tugu Pahlawan terletak di tengah-tengah pertigaan di jalan KH. Agus Salim, Kota Bekasi, pembangunan tugu di lakukan sekitar tahun 1951, setelah presiden Bung Karno berpidato di lapangan alun-alaun kota Bekasi yang merupakan pidato kemerdekaan.

Bahan bangunan untuk membuat tugu ini pun semuanya berasal dari masyarakat, yakni sumbangan dari kelompok masyarakat di 10 Daerah di Bekasi. Secara serentak setelah kembalinya kehidupan masyarakat Bekasi seperti semula (khususnya di sekitar jalan KH. Agus Salim), masyarakat memunculkan sebuah ide untuk membangun sebuah monumen untuk mengenang perjuangan para pejuang kepada presiden Soekarno, dan akhirnya berdirilah tugu ini. Monumen berbentuk tugu ini terbuat dari batu persegi yang pada bagian atasnya terdapat kepala dengan sekelilingnya terdapat pecahan-pecahan peluru meriam, mortir, granat tangan, dan kelongsong peluru ukuran 12,7 mm. Latar Belakang dari pembangunan tugu ini adalah peristiwa aksi pembakaran kota Bekasi desember 1945 yang dipicu oleh kemarahan Panglima Tentara Sekutu, Jenderal Christison.

Monumen Perjuangan Rakyat

Monumen Perjuangan Rakyat

Monumen Perjuangan Rakyat ini terletak di Jalan Veteran, Kota Bekasi atau tepatnya di Alun-alun Depan Kantor Polresta Bekasi. Monumen ini didirikan pada tanggal 5 Juli 1955. Dibuat dalam rangka menyambut HUT Proklamasi RI ke-10 dan HUT Kabupaten Bekasi ke-5 tahun 1955. Pembuatan monumen ini diprakarsai dan dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Bentuk Monumen ini berupa tugu persegi lima terbuat dari batu bata. Tinggi Tugu 5.08 cm termasuk dasar tugu dikelilingi pagar tembok tinggi 1 meter dan masing-masing 3 meter juga persegi lima, dengan pengertian Pancasila.

Monumen ini didirikan untuk memperingati beberapa peristiwa yang terjadi di Bekasi, yaitu :

a. Peristiwa bulan Agustus 1945
b. Peristiwa Awal bulan Pebruari 1950 ( Penentuan Resolusi Rakyat Bekasi )

Monumen Kali Bekasi : Last Japanese Standing in Indonesia

Monumen Kali Bekasi (https://www.kaskus.co.id)

Tugu Kali Bekasi merupakan monumen perjuangan rakyat Bekasi di masa perang kemerdekaan, berdiri sejak tahun 1955. Bangunan itu berada di tepi Kali Bekasi, arah timur Stasiun Bekasi dan bersebelahan dengan jembatan rel. Dalam sejarahnya, pada 19 Oktober 1945, Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jatinegara, Sambas Atmadinata, menginformasikan kepada Zakaria, Komandan TKR di markas Bekasi, ada 90 tentara Jepang akan melintas menggunakan kereta menuju Bandar Udara Kali Jati Subang.

Zakaria memerintahkan Kepala Stasiun Bekasi memindahkan jalur perlintasan dari jalur dua ke jalur satu yang merupakan jalur buntu. Akibatnya, kereta yang membawa pasukan Jepang berhenti tepat di tepi Kali Bekasi. Saat kereta digeledah, ditemukan banyak senjata api. Pejuang marah walaupun awak kereta menghadang memperlihatkan surat perintah jalan. Perang pun tak terhindarkan. Kali Bekasi yang jernih menjadi merah, pembangunan monumen ini adalah simbol perdamaian dan cinta kasih. tiap tahun ada peristiwa tabur bunga.

Monumen Bambu Runcing

Monumen ini terletak di pertigaan Jalan Warung Bongkok, Desa Suka Danau, Cibitung, Bekasi, didirikan pada tahun 1962. Monumen ini merupakan perlambang daerah pertempuran kota bekasi dengan tentara sekutu tanggal 13 Desember 1945. Monumen ini menyerupai bambu runcing menghadap ke atas, panjangnya 2,92 meter, lebarnya 2,92 meter , sedangkan tinggi keseluruhan 5,56 meter.

Tugu Perjuangan Rakyat Bekasi

Tugu Perjuangan Rakyat (https://brayabekasi.blogspot.co.id)

Monumen ini terletak di Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi (pada areal Stadion Bekasi). Secara fisik, Monumen ini terpancang lima buah tugu yang setiap bagian puncaknya dibuat meruncing, masing-masing berhadapan satu sama lain dan tingginya 17 meter, sebagai replika kelima sila Pancasila dan gambaran komitmen untuk senantiasa memelihara “persatuan dan kesatuan bangsa”. Hal ini juga menggambarkan begitu besarnya perjuangan rakyat Bekasi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Di Bagian tengah, terdapat kolam berbentuk 5 (lima) tiang pancang yang melambangkan Pancasila. Di belakang monumen ada relief perjuangan rakyat Bekasi mulai jaman Tuan Tanah, Jaman Belanda, Jaman Jepang, Jaman Kemerdekaan Repulik Indonesia sampai memasuki Jaman pembangunan yang dipahatkan pada Batu semen persegi panjang dan dari arah depan monumen terukir sebuah syair seorang sastrawan Chairil Anwar yang ikut terjun langsung ke medan perang di Bekasi. Disekitar kelima Tugu tersebut terdapat kolam berbentuk persegi lima yang berisi air dengan pancaran air mancur sebanyak 17 buah (walaupun sekarang ini tidak berfungsi lagi dengan baik).

Kolam dan air gambaran akan nikmatnya Allah yang sangat besar bagi daerah Bekasi. Monumen ini didirikan pada tahun 1975 pada masa pemerintahan Bupati Abdul Fatah, dan diresmikan oleh Gubernur Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat. Monumen ini melambangkan perjuangan yang gigih dan patriotisme yang tinggi bangsa Indonesia dalam memperjuangkan daerah front perjuangan di daerah Bekasi, sehingga monumen ini disebut “Tugu Perjuangan Rakyat di Bekasi”, karena di wilayah Bekasi berbagai penjuru pejuang datang dari wilayah lain berkumpul dan berjuang mempertahankan.

Sumber: Jakarta.panduanwisata

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.