Wisata Sejarah di Bangka Belitung (2 dari 2)

Kabupaten Belitung

Rumah Tuan Kuase (Hoofdadministrateur)

Rumah ini berlokasi dengan jarak 250 M dari Tanjung Pendam yang menjadi ibu kota Belitung. Rumah ini saat ini menjadi cagar budaya yang dilindungi undang-undang dan masih terawatt sangat baik. Pada tahun 1883, bangunan ini pernah dibukukan dalam catatan John Francis Loudon dengan tajuk ‘De eerste jaren del biliton-onderneming’.

Gedung bekas Holland Indisch School (HIS)

Gedung bekas Holland Indisch School (HIS) – https://jelajahbelitung.com

Bekas Gedung Holland Indisch School (HIS) menjadi Gedung SMP Negeri 1, terletak di Jalan Sekolah, Tanjung Pandan, Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.

Di gedung ini dipergunakan sebagai tempat untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya kepada masyarakat Belitung.

Mercusuar Tanjung Kalian

Mercusuar Tanjung Kalian (https://travel.detik.com)

Mercusuar Tanjung Kalian merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda yang saat ini bisa kita saksikan bersama kekokohannya. Kota Mentok yang dibangun oleh Belanda sebagai kota pelabuhan menjadi salah satu kota sentral dalam mengatur berbagai macam distribusi kebutuhan saat itu. Karena banyaknya kapal yang akan berlabuh, pada akhirnya Belanda menganggap perlu dibangunnya sebuah mercusuar sebagai penanda tempat labuh kapal yang bersiap menepi. Mercusuar Tanjung Kalian dibangun pada tahun 1862 dan masih kokoh hingga sekarang. Dari puncak bangunan ini, pengunjung bisa menyaksikan indahnya seantero kota Mentok dan sekitarnya.

Bendungan Pice

Bendungan Pice (https://sp.beritasatu.com)

Dengan didirikannya perusahaan eksploitasi timah oleh Belanda pada tanggal 15 November 1860, banyak kapal keruk didatangkan untuk memulai upaya pemanfaatan lahan penggalian timah. Perusahaan yang didirikan Belanda yang dinamakan Biliton Maatschappy terus mendatangkan pekrja dari China hingga banyak dari jumlah pekerja China saat itu mencapai 2724 orang.

Seiring berjalannya waktu, kapal keruk berhasil menggali tanah Belitung hingga menjorok cukup jauh kedaratan dan terus menggerus sampai kapal keruk yang disebut Emmer Bagger (EB)—dalam bahasa Belanda—tidak dapat lagi terapung karena sudah jauh dari sumber air. Karena kebutuhan dan hasrat yang tinggi, Belanda pun tidak kehabisan cara untuk terus menggali timah dengan kapal keruk yang sudah tidak dapat bergerak. Solusi yang berhasil ditemukan oleh Belanda adalah membangun sebuah bendungan untuk menampung air agar kapal keruknya tetap dapat beroperasi.

Pada akhirnya, rencana Belanda ini dapat terealisasi pada tahun 1928. Pengoperasian bendungan ini meliputi buka-tutup pintu air sesuai dengan kedalaman kapal keruk yang sedang melakukan proses penggalian. Karena hal tersebut, Belanda berhasil mendapat banyak keuntungan. Dan ha ini pula menjadi salah satu sejarah pembuka capaian teknologi penambangan timah di Belitung.

Museum Tanjung Pandan

Museum Tanjung Pandan (https://rhien-travel-writing.blogspot.co.id)

Museum Tanjung Pandan terletak di Jl. Melati No. 41A, Tanjung Pinang, Belitung. Museum ini dahulu bernama Museum Geologi dan dibangun atas prakarsa DR. Osberger, seorang ahli Geologi berkebangsaan Belgia, pada tahun 1963 saat Beliau masih bertugas di unit Penambangan Timah Belitung. Di Museum ini pengunjung dapat menelisik sejarah penambangan timah di Pulau Belitung dalam bentuk replika tambang dan peralatannya, barang-barang peninggalan bersejarah, dan juga sebuah kebun mini lengkap dengan sarana bermain anak.

Museum Badau

Museum Badau (https://wisata-budaya-babel.blogspot.co.id)

Dinamakan Museum Badau di karenakan museum ini memang lokasinya berada di Kecamatan Badau, Tanjungpandan. Kurang lebih 29 KM dari pusat Kota Belitung, Tanjungpandan, bangunan museum ini berada di pinggir jalan raya Tanjungpandan-Belitung Timur.

Menurut sejarahnya di Pulau Belitung terdapat beberapa Kerajaan yang pernah berdiri, salah satu diantaranya yaitu Kerajaan Badau. Dalam buku sejarah Pulau Belitung yang disusun oleh DR. Osberger (geologist, pendiri museum Belitung), diceritakan bahwa pada abad ke XV, Kerajaan Badau berdiri yang dipimpin seorang yang berasal dari Pulau Jawa dengan nama Ronggo Udo. Semasa beliau memimpin, beliau dikenal dengan gelar Datuk Mayang Gersik, dan beliau merupakan Raja Pertama Kerajaan Badau pada masa itu. Beberapa benda bukti sejarah peninggalan kerajaan Badau itulah yang menjadi isi dari bagian Museum Badau ini.

Berbagai benda sejarah peninggalan kerajaan Badau yang ada di Museum ini, antara lain terdapat beberapa jenis Keris, Pedang, Gong, Kelinang, Garu Rasul / Kayu Gaharu dan sepasang Tombak yang menjadi kebanggaan dari masyarakat Badau, yaitu Tombak Berambu.

Rumah Kapiten

Rumah Kapiten (https://www.kompasiana.com)

Rumah Kapiten Phang Tjong Toen terletak di pusat Kota Tanjung Pandan, tepatnya di Jalan Depati Endek. Kondisi rumah ini sudah tampak tua dimakan zaman. Yang tertinggal darinya adalah masa-masa kejayaan di masa kolonial dulu. Bentuk bangunan rumah ini seperti gedung di zaman kolonial, terlebih dengan adanya tiang-tiang besar yang menopang bangunan rumah, dibangun pada tahun 1868.

Rumah Zusterhuis

Europeeshe Kliniek

Rumah Zusterhuis ini berada di Jalan Rumah Sakit, Tanjungpandan, Belitung, tidak berjauhan dengan rumah Sakit Umum Kabupaten Belitung yang dulunya merupakan bangunan bekas Europeeshe Kliniek.

Rumah Tuindienst

Rumah Tuindienst

Kantor dinas Petamanan jaman Kolonial Belanda. Pada saat ini gudang tua bersejarah itu di jadikan sebagai PWRI (Persatuan Wredatama Republik Indonesia) cabang Kabupaten Belitung.

Kabupaten Belitung Timur

Rumah Dinas Bupati Belitung Timur

Rumah Dinas Bupati Belitung Timur, terletak di Bukit Samak, Desa Lalang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur Rumah Dinas Bupati Belitung Timur dibangun pemerintah Kolonial Belanda untuk kediaman Kepala Administrator di Manggar, dan dikenal sebagai Rumah Tuan Kongsi. Rumah ini sempat digunakan sebagai tempat tinggal Kawilasi (Kepala Wilayah Produksi) PT. Timah, sebelum akhirnya menjadi Rumah Dinas Bupati Belitung Timur.

Gedung Societeit Manggar

(https://thebillitonian.blogspot.co.id)

Gedung ini sekarang masih berdiri dan digunakan oleh Yayasan PERGIB sebagai gedung SMA. Dulu, bangunan ini pernah digunakan oleh MPB (Majelis Pertemuan Buruh) sebagai tempat mengadakan pertemuan dan acara2 tertentu. Setelah itu oleh PT. Timah gedung tersebut dijadikan sebagai tempat hiburan bagi karyawan dengan nama Wisma Ria II.

Rumah Bekas Dinas Assistent Hoofdadministrateur Billiton Maatschappij

(https://thebillitonian.blogspot.co.id)

Bangunan kuno ini berada di kawasan Tanjung Pendam. Dizaman kejayaan PT Timah, bangunan ini dijadikan rumah dinas untuk Kepala UPT Belitung. Sekarang bangunan tersebut dikelola oleh Pemprov BABEL sebagai mess dg nama Bougenville.

Berbagai sumber

Ke halaman awal

0 thoughts on “Wisata Sejarah di Bangka Belitung (2 dari 2)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.