Tenongan Pesan Damai dari Lereng Sindoro

Setiap bulan Sura (Muharam) warga sebuah desa, yang banyak melahirkan penari lengger, menggelar tradisi tenongan yang mampu meretas sekat perbedaan agama dan keyakinan.

NUN di lereng Gunung Sindoro, ratusan warga yang kebanyakan kaum perempuan berjalan beriringan membawa tenong—tempat makanan yang terbuat dari anyaman bambu. Tenong yang berisi aneka makanan itu diletakkan di atas kepala (disunggi—bahasa Jawa) untuk sesajen ritual tenongan atau disebut juga tarakan di Padepokan Kesenian, Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Tradisi tenongan dilakukan setiap tahun pada bulan Sura (Muharam) penanggalan Jawa, meneruskan tradisi yang sudah dilakukan oleh nenek moyang warga di dusun berhawa sejuk itu. Tenong yang dihias menggunakan kertas warna-warni itu dijadikan tempat menaruh makanan, seperti jajanan pasar, buah-buahan, dan ubiubian hasil kebun. ”Hingga sekarang, keberadaan ritual tenongan tetap dipertahankan,” ujar sesepuh Dusun Giyanti, Sosro Wardoyo.

Dahulu, masyarakat setempat menggunakan tenong sebagai tempat menaruh beras untuk nyumbang ketika tetangga mempunyai hajatan, mulai dari acara pernikahan, khitanan, hingga selamatan. Tenong terbuat dari bilah bambu yang dihaluskan, kemudian dianyam satu per satu hingga membentuk lingkaran. Kini tenong sudah jarang dijumpai karena keberadaannya tergeser oleh baskom yang terbuat dari aluminium.

Upaya warga Dusun Giyanti mempertahankan tenong, salah satunya adalah dengan menggelar tradisi tenongan yang setiap tahun dilakukan di bulan Sura karena diyakini sebagai bulan berdirinya dusun yang telah melahirkan banyak seniman lengger, kesenian khas Wonosobo. Rangkaian prosesi ritual tenongan diawali dengan ziarah ke makam sesepuh desa bernama Adipati Mertoloyo sebagai tokoh dan cikal bakal Dusun Giyanti. Seusai berdoa di makam, satu per satu warga yang membawa tenong mengikuti barisan para peziarah berjalan keliling menyusuri setiap sudut desa.

Kemudian mereka berkumpul di pesanggrahan kesenian yang didirikan pada tahun 1960 oleh Ki Hadi Suwarno. Hampir semua penduduk desa keluar dari rumah dengan membawa tenong berisi aneka jajanan pasar mengikuti prosesi ritual tenongan hingga selesai.

Setelah berkeliling kampung, warga meletakkan tenongnya di sepanjang jalan dan halaman pesanggrahan.

Sesepuh desa dan seorang penari lengger, menata sesaji di sebelah pohon beringin di areal pesanggrahan, sambil membaca beberapa mantra yang isinya memohon keselamatan, rezeki, kesuburan tanah, dan kesejahteraan kepada Yang Maha Kuasa. Doa bersama itu juga diikuti warga dari tetangga Dusun Giyanti.

Dalam prosesi itu, sebagian besar warga mengenakan pakaian batik dan pakaian adat Jawa, beskap. Tak jauh dari tempat tersebut, sejumlah tarian seperti lengger, barongan, dan kuda lumping (jaran eblek—bahasa Jawa) sibuk mempersiapkan pertunjukan, membuat suasana desa semakin meriah.

Kaum muda juga berpakaian adat Jawa, menata seperangkat gamelan serta topeng menunggu giliran tampil, sambil menyiapkan makan bersama yang menjadi acara utama tenongan. “Bagi warga Dusun Giyanti, tradisi tenongan merupakan kegiatan yang wajib dilakukan karena dipercaya sebagai bulan yang penuh kemuliaan,” ujar Sosro Wardoyo lagi.

Sumber: Warisanindonesia

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.