Perang sampai Menari di Atas Perahu Warnai Festival Danau Sentani 2015

Festival Danau Sentani 2012

Festival Danau Sentani (FDS) kembali digelar tahun ini. Dengan mengusung tema “My Culture My Prosperous” yang juga berarti “Budayaku Sejahteraku” FDS diharapkan dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan serta mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Budayaku sejahteraku, maksudnya budaya harus dipelihara dengan baik sebagai kesejahteraan masyarakat,” kata seniman sekaligus penggarap FDS, Theo Yepese, di Jakarta, Senin (8/6/2015).

Festival yang terlaksana tiap tahun sejak 2008 silam ini secara garis besar mengadakan beberapa acara, seperti pawai budaya, lomba-lomba, pertunjukan seni tari dan musik, pameran budaya, promosi wisata dan tur wisata, serta promosi PON 2020.

Dalam tahun kedelapannya ini, FDS menggelar beberapa acara menarik, seperti “Menari di Atas Perahu” dan “Berperang di Atas Perahu”.

 Festival Danau Sentani 2015 (https://lidibiru67.com)

Acara “Menari di Atas Perahu” ini akan diikuti 26 kampung dari 26 Ondoafi (tokoh masyarakat adat), masing-masing grup terdiri dari 40 orang. Sementara untuk “Berperang di Atas Perahu” diikuti 20 kampung dari 20 Ondoafu dengan jumlah anggota minimum 30 orang.

Ada juga acara Gema Tifa Kolosal yakni pementasan musik menggunakan Tifa, alat musik tradisional Papua. Acara ini dilakukan sekaligus memperkenalkan Tifa yang menjadi ikon dalam FDS 2015 ini. “Ikon tahun ini adalah tifa, alat musik tradisional yang merupakan kebesaran Ondofolo, salah satu kebesaran para petinggi adat.” lanjut Theo.

Festival yang akan digelar di Kawasan Wisata Khalkote, Distrik Sentani Timur, Jayapura, Papua pada 19-23 Juni 2015 memang kehadirannya cukup ditunggu-tunggu. Bahkan tahun ini, pemerintah menargetkan FDS 2015 dapat mendatangkan wisatawan lebih dari pengunjung tahun lalu yang mencapai 10 ribu wisatawan.

Optimisme ini bukan tanpa sebab. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan tak ada yang perlu diragukan lagi dari keindahan alam Papua. Hanya saja, promosi wisata memang perlu dilakukan lebih giat lagi untuk menarik minat wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara.

“Kalau alam memang (Papua) bagus, tapi ini dibalut dengan kebudayaan. Semoga bisa lebih menarik,” tambah Arief.

Sumber: Kompas

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.