Wisata Sejarah di Kota Sukabumi Jawa Barat

Kawasan wisata di Sukabumi tidak hanya menyuguhkan pemandangan alam yang indah nan asri, tetapi juga membawa wisatawan ke wisata sejarah karena sebagian besar tempat wisata itu dibangun pada zaman Belanda.

Secara resmi baru pada 1 Mei 1926 pemerintahan kota dibentuk dan diangkat Mr. GF. Rambonet sebagai burgemeester (wali kota) pertama di Sukabumi. Kota Sukabumi sudah dihuni oleh 1520 orang Eropa, sekitar 19 ribu penduduk melayu dan sekitar 3 ribu penduduk Cina.

Kota Sukabumi yang luasnya tak lebih dari 48,25 kilometer persegi ini ternyata menyimpan banyak bangunan heritagekolonial Belanda.

Stasiun Kereta Api Sukabumi

Stasiun KA Sukabumi di jaman kolonial Belanda (https://sisihidupku.wordpress.com)

Stasiun terletak di Jl. Stasiun Barat No. 2, Kota Sukabumi, ini berada pada ketinggian +583 m.Stasiun ini adalah stasiun yang paling selatan di Daop 1 Jakarta. Stasiun Sukabumi dibuka pada tahun 1882. Stasiun ini dahulu mempunyai 5 jalur, namun tinggal 3 jalur yang masih aktif. Jalur 1 biasanya digunakan untuk Kereta api Siliwangi. Jalur 2 biasanya digunakan untuk Kereta api Pangrango. Sedangkan jalur 3 adalah untuk langsiran lokomotif. Selain itu, stasiun ini dahulu mempunyai dipo lokomotif dan turn-table. Depo lokomotfnya sudah dibongkar dan tinggal turn-table yang masih tersisa. Sayangnya jembatan putarnya juga sudah tak dipakai lagi karena PT KAI saat ini mengoperasikan lokomotif CC206, lokomotif yang mempunyai 2 kabin sehingga tak usah diputar lagi. Stasiun ini buka sekitar jam 4 pagi dan tutup sekitar jam 10 malam.

Stasiun KA Sukabumi sekarang (https://sisihidupku.wordpress.com)

Kemungkinan dahulu stasiun ini pernah mempunyai cabang ke Cikembar. Jalur ini dahulu mungkin digunakan untuk mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM). Jalur ini sudah tidak ada lagi. Kemungkin alasan jalur ini sudah tidak ada lagi karena dibongkar oleh Kekaisaran Jepang saat Perang Dunia II dan diangkut ke Burma, Pekanbaru atau Bayah untuk membuat jalur kereta api di sana.

Toko Dunia

Toko Dunia di tahun 1960 – 1970 (https://www.soekaboemihistory.com)

Toko Dunia (https://www.soekaboemihistory.com)

Toko Dunia yang saat ini mudah terlihat dari dua sisi serta letaknya yang sangat strategis berada di Jalan Jenderal A. Yani, Kota Sukabumi dan berdekatan dengan Gedung Kapitol yang dahulu sangat terkenal, menjadikannya sebuah tempat yang sangat ikonik dan memiliki desain arstektural yang unik dengan langgam yang khas melalui bentuk bangunan yang berputar mengikuti kontur jalan ke Jalan Mayawati yang berada di sebelahnya. Toko “Dunia” dahulunya bernama Toko “Ban Ek Tjeng” serta pernah bernama Toko “Bianglala” di era 60’an dan 70’an.

Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir

Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir (https://info.pikiran-rakyat.com)

Rumah ini terletak di Jalan Bhayangkara No. 156 A, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, merupakan bekas Sekolah Polisi, di tahan tidak kurang selama 3,5 bulan.

Rumah Bekas Tahanan Bung Hatta dan Syahrir (https://info.pikiran-rakyat.com)

Berstatus tahanan yang dipindahkan, Bung Hatta dan Syahrir harus menempuh perjalanan yang berputar-putar dari Maluku hingga Surabaya, lalu ke Jakarta, kemudian menuju Sukabumi. Perjalanan mulai 1 Februari 1942 melalui Banda Neira dengan pesawat Catalina, diteruskan ke Tunjungan, dan selanjutnya menumpang kereta api ke Stasiun Gambir, keesokan sorenya baru tiba di Sukabumi. Kedatangan Hatta dan Syahrir dengan pengawalan ketat kepolisian Hindia Belanda. Meski Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menghormati kedua tokoh ini, statusnya tetap “interniran”.

Gedung Juang 45

Gedung Juang 45 (https://www.panoramio.com)

Gedung ini terletak di Jl. Veteran 1 No.2, Selabatu, Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43114, tinggi gedung mencapai 15 meter dengan panjang lebih dari 30 meter. 

Dahulu dikenal dengan nama Hotel Victoria, pemiliknya seorang pengusaha berkebangsaan Jerman, AA Lenne alias Tuan Leni, dibangun sejak tahun 1899, digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat, hingga nama gedung ini tetap dikenal sebagai Societeit Soekamanah pada masa tersebut.

Societeit Soekamanah (https://soekaboemihistory.com)

Bangunan Ikonik dengan arsitektural yang bergaya “Niew Bouwen” ini dirancang dan dibangun oleh Arsitek A.F Aalbers dan Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker yang membuatnya secara detail, presisi dan elegan dengan yang memenangkan tender pembangunan Gedung dan Pertokoan adalah Bouw Maatschappij Soekaboemi.

Gedung Juang sempat dikuasai Jepang selama tiga tahun sejak 1942. Tepatnya 21 Agustus 1945, gedung berhasil dikuasai rakyat Sukabumi untuk kemudian dijadikan markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Museum Sejarah Sunda Prabu Siliwangi

Museum Sejarah Sunda Prabu Siliwangi (https://www.nu.or.id)

Terletak di Pesantren Dzikir Al-Fath, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Didalam museum ada berbagai macam sisa-sisa kerajaan Padjajaran, diantaranya adalah prasasti, pena dan surat-surat berkasara sunda kuno, kujang, keris, pedang, patung dan juga lukisan serta foto. Ada sebuah Al-Qur’an kuno berukuran cukup besar, Al-Qur’an ini dipercaya merupakan pemberian dari Syekh Quro Karawang untuk Prabu Siliwangi.

Keberadaan Museum Sejarah Sunda Prabu Siliwangi ini sudah diakui oleh Pemerintah, hal ini dibuktikan dengan dikantonginya izin dari pemerintah setempat dengan Nomor SK. 556/24/DIAPORABUDPAR/2011.

Kantor Pos Sukabumi

Kantor Pos Sukabumi (https://soekaboemihistory.com)

Kantor Pos terletak di Jl. A.Yani No. 42, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Kantor Pos atau Post Kantoor Soekaboemi dibuka pada tanggal 1 Mei 1873, saat itu status Kantor Pos Soekaboemi berstatus sebagai hulppostkantoor (kantorpos pembantu).

Kantor Pos Sukabumi (https://www.panoramio.com)

Pada. Tahun 1883, Kantor Pos Soekaboemi menempati bagian sisi timur ruangan stasiun kereta api di Station Weg atau sekarang bernama Jalan Stasiun Timur.

Pada tahun 1914, Pemerintah membeli tanah dan rumah bekas salah seorang Patih Sukabumi, untuk membangun gedung kantor pos yang baru seharga 100 Ribu Gulden di lokasi saat ini yaitu di Grote Postweg atau Jalan A. Yani., dan tahun 1928 pembangunannya dilaksanakan serta diarsiteki oleh Firma Bennink & Co, dengan arsitek terkenal pada masanya yaitu Albert Frederik Aalbers dan mulai dioperasikan pada bulan Januari 1929.

Kotak Surat

Kotak Surat (https://sukabumiupdate.com)

Kotak surat atau dalam bahasa Belanda disebut brievenbus, di Kota Sukabumi sendiri saat ini hanya tersisa enam kotak surat yang masih dipertahankan dan berfungsi. Bagi para pecinta seni dan penggemar korespondensi, kotak surat masih cukup dibutuhkan karena mereka tak harus pergi ke kantor pos untuk sekadar mengirimkan surat.

Kantor Pos Sukabumi masih mempertahankan enam unit kotak surat di beberapa titik strategis. Lokasinya berada di dekat Balai Kota Sukabumi di Jalan R Syamsudin SH, di eks Terminal Sudirman, di depan Kantor Pos Sukabumi, di dekat Kantor Pegadaian di Jalan Pelabuhan II, di Kecamatan Lembursitu, dan di Jalan Bhayangkara.

Terowongan di bawah tanah

Terowongan bawah tanah (https://kumparan.com)

Terowongan bawah tanah ini membentang mulai dari Toserba Yogya, Jalan RE Martadinata, toko ABC hingga ke Jalan Pasundan, Kota Sukabumi.

Keberadaan lorong ini merupakan hasil perkembangan pembangunan Kota Praja Kota Sukabumi tahun 1900-an.

Terowongan bawah tanah

Penentuan sasaran identifikasi lorong bawah tanah mengacu pada peta aliran air yang diterbitkan oleh Leiden University pada tahun 1046. Diduga peta tersebut merupakan peta yang dirilis paling akhir terkait data aliran air di Kota Sukabumi versi kolonial Belanda.

Hasil ekspedisi sementara menunjukan terdapat 20 titik lokasi lorong bawah tanah di wilayah Kecamatan Gunung Puyuh dan Kecamatan Warudoyong. Lorong ini berupa terowongan air yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.