Wisata Sejarah di Bogor Jawa Barat

Kota Bogor, merupakan salah satu kota yang sejatinya menyimpan banyak sekali kisah sejarah. Menggali berbagai kejadian, serta peristiwa sejarah dikota tersebut, akan menjadi salah satu kegiatan wisata sejarah yang menawarkan sensasi dan pengalaman tersendiri. Kota yang berawal dari sebuah desa kecil bernama Parung Angsana ini, juga menjadi salah satu saksi kisah kejayaan Prabu Siliwangi dalam memimpin Kerajaan Padjajaran, serta berbagai romantisme sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan kependudukan kolonial Belanda.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, terdapat berbagai pembangunan beberapa fasilitas serta infrastruktur, yang dilakukan guna menggali berbagai potensi alam, pada kota yang dahulu juga dikenal dengan sebutan Buitenzorg atau kota yang aman dan tentram tersebut. Diantaranya, yakni pembangunan pusat-pusat penelitian pertanian dan biologi, serta pembangunan sebuah jalan bernama Jalan Raya Daendels, yang digunakan untuk menghubungkan pusat pemerintahan Batavia dengan kota Bogor.

Gedung Istana Bogor

Gedung Istana Bogor dengan kawanan Kijang (https://www.rmol.co)

Gedung Istana Bogor terletak di jalan Ir. H. Juanda No. 1, Bogor, dengan luas areal 28,8 Ha. Berawal dari keinginan orang – orang Belanda yang bekerja di Batavia (kini Jakarta) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat – tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.

Gubernur Jendral Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, ikut melakukan pencarian itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung yang bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff (1745 – 1750) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, (artinya bebas masalah atau kesulitan). Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Proses pembangunan gedung itu dilanjutkan oleh Gubernur Jendral yang memerintah selanjutnya yaitu Gubernur Jendral Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750 – 1761.

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang disebut Perang Banten 1750 – 1754.

Gedung Istana Bogor (https://www.kaskus.co.id)

Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels (1808 – 1811), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.

Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jendal Baron van der Capellen (1817 – 1826), dilakukan perubahan besar – besaran. Sebuah menara di tengah-tengah gedung induk didirikan sehingga istana semakin megah, Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.

Gedung ini kembali mengalami kerusakan berat, ketika terjadi gempa bumi yang pada tanggal 10 oktober 1834. Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851 – 1856), bangunan lama sisa gempa dirubuhkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur eropa Abad IX, bangunan baru satu tingkat didirikan. Perubahan lainnya adalah dengan menambah dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung. Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856 – 1861). Dan pada pemerintahan, selanjutnya tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jendral Belanda.

Gedung Istana Bogor tampak belakang (https://ozzixx.deviantart.com)

Akhir perang dunia II, Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, kemudian Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Barisan Keamanan Rakyat (BKR) sempat menduduki Istana Buitenzorg untuk mengibarkan bendera merah putih. Istana Buitenzourg yang namanya kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor diserahkan kembali kepada pemerintah republik ini pada akhir tahun 1949. Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia pada bulan Januari 1950.

Museum Pembela Tanah Air (PETA)

Museum Pembela Tanah Air (https://suankiekw49.blogspot.com)

Museum Pembela Tanah Air (Museum Peta) terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 35, tidak jauh dari Gedung Istana Bogor kurang lebih 700 m dengan luas 7400 m2.

Bangunan yang menjadi markas Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) ini dibangun tahun 1745 ini merupakan bangunan arsitektur bergaya kolonial (indis), kemudian di tahun 1943 di masa pendudukan Jepang, markas ini digunakan sebagai pusat pelatihan pasukan tanah air yang kala itu masih dikontrol oleh militer Jepang dengan nama Boei Gyugun Kanbu Kyo Iku Tai (Markas Komando Pusat Pendidikan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa), pasca kemerdekaan bangunan ini diambil alih oleh pihak militer KODAM VI Siliwangi sebagai Pusat Pendidikan Zeni (Museum Peta, 2013).

Museum Pembela Tanah Air (PETA) – (https://rifqirizky.blogspot.com)

18 Desember 1995 diresmikanlah pendirian Monumen dan Museum oleh Presiden Republik Indonesia saat itu Sooharto yang sekaligus sebagai mantan perwira PETA angkatan I dan selanjutnya diserahkan pengelolaanya dibawah Dinas Sejarah Angkatan Darat KODAM VI Siliwangi, Jawa Barat (Museum Peta, 2013).

Kebun Raya Bogor

Kaktus di Kebun Raya Bogor (https://m.kompasiana.com)

Kebun Raya Bogor terletak di jalan Ir. H. Juanda No. 13, Bogor, dengan luas 87 Ha. Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari ‘samida’ (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.

Kebun Raya Bogor (https://www.fotografindo.com)

Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’sLands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris). Selanjut baca: Kebun Raya Bogor.

Kantor Pos Besar (*)

Kantor Pos Besar Bogor (https://wikimapia.org)

Kantor Pos ini terletak di jalan Ir. Juanda No. 5, Bogor. Kantor Pos besar ini dulu adalah Gereja pertama di Kota Bogor (Buitenzorg), dibangun tahun 1845 dan digunakan bergantian oleh pemeluk Katolik maupun Protestan. Namun karena sudah banyak penduduk dan masing-masing membuat gereja sendiri yaitu Gereja Katedral untuk Katolik dan Gereja Zebaoth untuk Protestan di lokasi yang tidak jauh, maka Pemerintah Belanda menjadikannya kantor pos, terutama karena letaknya yang strategis di dekat Jalan Pos atau Post Weg.

Bangunan

Bangunan ini memiliki atap cukup tinggi dan terdapat jendela kaca berbentuk persegi empat dan kondisi sekarang ruang dalam disekat menjadi beberapa ruangan tidak permanen sesuai keperluan Kantor Pos, dengan luas bangunan 1.161 m2 dan luas lahan 2.087 m2

Hotel Salak The Heritage

Hotel Salak The Heritage Bogor (https://ikibogor.blogspot.com)

Masih terdapat pula beberapa bangunan peninggalan sejarah pemerintahan kolonial Belanda lainnya, juga ikut melengkapi keindahan suasana dikota Bogor. Diantaranya yakni Hotel Salak, yang masih terletak disekitar Jalan Ir. H. Juanda No. 8. Sebelum pengelolaannya diserahkan kepada pihak Negara Indonesia, serta berubah nama menjadi Hotel Salak The Heritage Bogor, hotel yang dahulu dikenal dengan nama Binnenhof Hotel tersebut, merupakan salah satu dari beberapa bangunan tua yang didirikan pada sekitar tahun 1859.

Hotel Salak The Heritage Bogor (https://www.tripadvisor.com)

Dalam kutipan sejarah juga dijelaskan, dimana pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Hotel Salak pada awalnya digunakan sebagai salah satu tempat peristirahatan bagi beberapa tamu penting dimasa tersebut. Berbagai upaya pemugaran serta renovasi yang dilakukan terhadap bangunan Hotel Salak, juga tidak merubah bentuk serta keaslian dari arsitektur bangunan peninggalan sejarah tersebut.

Nah, bagi wisatawan yang datang dan berkunjung kekota Bogor, dapat menjadikan Hotel Salak sebagai pilihan untuk menginap. Disamping berbagai fasilitas yang sudah begitu lengkap, kita juga akan disuguhkan dengan suasana, serta berbagai pesona keindahan dari bangunan dengan arsitektur indah tersebut.

Balai Kota Bogor

Gedung Balai Kota (https://jakartabytrain.com)

Gedung Balai Kota yang terletak di Jalan Ir. H. Juanda, Desa Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah.

Dalam beberapa kutipan sejarah, gedung yang saat ini telah difungsikan sebagai kantor Walikota Bogor tersebut, dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada sekitar tahun 1868. Bangunan tersebut tampak begitu indah dengan perpaduan sentuhan arsitektur Sunda dan gaya kolonial Belanda.

Terdapat beberapa pilar-pilar pada bagian depan gedung yang berdiri dengan kokoh, dan memberikan kesan megah pada bangunan tersebut. Selain itu, beberapa profil geometrik dengan bentuk unik, juga tampak menghiasi beberapa bagian pada sisi-sisi jendela dan pintu. Bangunan tersebut, semakin terlihat indah dengan perpaduan cat berwarna putih, yang menciptakan kesan bersejarah pada Gedung Balai Kota tetap terjaga.

Stasiun Kereta Api Bogor

Stasiun Kereta Api Bogor (https://www.kaskus.co.id)

Stasiun Bogor dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1872 sebagai titik akhir jalur kereta api Batavia-Buitenzorg. Tahun 1881 dibangun stasiun baru. Sepanjang 1881-1883 SS melanjutkan pembangunan jalur kereta api dari Bogor-Sukabumi dan hingga 1887 terhubung hingga Tugu Yogyakarta.

Stasiun Kereta Api Bogor (https://www.kaskus.co.id)

Stasiun ini bergaya Eropa dengan berbagai motif. Misalnya ada yang bermotif geometris awan, kaki-kaki singa, dan relung-relung bagian lantai. Stasiun ini memiliki dua lantai. Desain tangga kayu meliuk-liuk menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2. Karakteristik bangunan utama khas dengan gaya Indische Empire sedangkan pada lobi bergaya Neoklasik. Desain atap emplasemen (kanopi/overkapping) membentang lebar dengan rangka baja dan penutup atap dengan besi bergelombang. Dahulu, sebuah lapangan luas bernama Wilhelmina Park pernah menjadi bagian dari stasiun Bogor.

Stasiun Kereta Api Bogor (https://www.kaskus.co.id)

Pada ruang VIP berdiri monumen prasasti dari marmer setinggi 1 meter. Monumen ini sebagai simbol tanda ucapan selamat pagi dari para karyawan SS kepada David Maarschalk yang memasuki masa pensiun atas usahanya mengembangkan jalur kereta api di Jawa.

Renovasi stasiun pernah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan tahun 2009. Bangunan stasiun yang bertuliskan “1881” ini, yang menghadap Jalan Nyi Raja Permas Raya (Taman Topi) ini akhirnya tidak difungsikan sebagai pintu masuk stasiun. Kini bangunan stasiun dipindah menghadap Jalan Mayor Oking.

Gedung Kantor Badan Koordinasi Wilayah Bogor (Bakorwil)

Gedung Bakorwil (https://anyerpanarukan.blogspot.com)

Gedung ini terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 4, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi gedung cukup strategis karena berada di jalur wisata bangunan bersejarah yang ada di Kota Bogor, yang bersebelahan dengan Kantor Kejaksaan Negeri Bogor. Gedung ini memiliki luas bangunan 808 m² di atas lahan seluas 25.120 m², dan status kepemilikannya adalah milik pemerintah.

Awalnya gedung yang dibangun pada tahun 1800-an ini terdiri atas satu lantai, kemudian pada tahun 1870 bangunan ini dirombak menjadi dua lantai di mana lantai satu berfungsi sebagai kantor sementara dan lantai dua untuk tempat tinggal asisten residen.

Tidak seperti bangunan megah lain semasanya yang dirancang oleh arsitek terkenal, gedung ini didesain oleh insinyur sipil dari Departemen Pekerjaan Sipil (waterstaat) yang terlihat kesederhanaan bentuknya, dan formal. Tembok-temboknya yang tebal dengan tiang-tiang besar pada bangunan serta jendela yang berbentuk setengah lingkaran mendapat pengaruh kuat dari gaya arsitektur Neo Klasik.

Bangunan yang memiliki denah persegi panjang ini, di sebelah kiri kanan bangunan terdapat tangga masuk, atap bangunan berbentuk limas, dan di depannya terdapat halaman yang cukup luas menghadap ke Istana Bogor. Pada tahun 1928, gedung ini berubah fungsi menjadi Kantor Pembantu Gubernur hingga tahun 1976. Kemudian semenjak digulirkan otonomi daerah, pada tahun 2000 gedung ini diambil oleh Pemerintah Kota Bogor untuk difungsikan sebagai Kantor Badan Koordinasi Wilayah Bogor atau yang biasa dikenal dengan singkatan Bakorwil.

Museum Perjuangan Bogor

Museum Perjuangan Bogor

Museum yang terletak di Jalan Merdeka nomor 56, Kota Bogor tersebut merupakan tempat penting dan tidak lepas dari perjalanan sejarah Indonesia, khususnya sejarah perjuangan di Kota Bogor.

Bangunan dua lantai yang dibangun tahun 1879 ini pertama dimiliki oleh seorang pengusaha Belanda bernama Wilhelm Gustaf Wissner. Semula gedung itu dipakai sebagai gudang ekspor komoditas pertanian sebelum dikirim ke negara-negara di Eropa. Pada masa pergerakan gedung ini digunakan oleh Parindra pada tahun 1935 dengan nama gedung Persaudaraan.

Di masa penjajahan Jepang tahun 1942, tentara Jepang menggunakan bangunan ini untuk menyimpan barang–barang milik interniran Belanda, kemudian digunakan untuk menyambut dan mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1945.

Pada 10 November 1957, bangunan itu resmi menjadi Museum Perjuangan Bogor melalui musyawarah para tokoh Pejuang Karesidenan Bogor yang meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Depok.

Bendungan Katulampa

Bendungan Katulampa (https://content.rajakamar.com)

Bendungan Katulampa dibangun pada tahun 1889, tapi baru mulai beroperasi pada tahun 1911. Dibangun sejak adanya banjir besar yang melanda Jakarta pada 1872. Banjir saat itu membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Ciliwung. Bendung Katulampa ini fungsi utamanya adalah untuk irigasi pertanian di wilayah Bogor. Selain itu, karena posisi Bendung Katulampa berada di pertengahan antara Puncak dan Kota Bogor, maka bendung tersebut juga menjadi alat pengukur dan peringatan dini mengenai ketinggian air Sungai Ciliwung, untuk diketahui warga di daerah hilir sungai, seperti di Manggarai dan Depok. Keberadaan Bendung Katulampa menjadi sangat vital untuk mengetahui informasi mengenai ketinggian air, khususnya pada saat hujan mengguyur Bogor dan kawasan Puncak.

Sampai 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih banyak, yakni sekitar 2.400 hektar. Namun kini sawah hampir habis. Hanya Bogor dan Cibinong yang masih memiliki sekitar 70 hektar. Jakarta sama sekali habis. Sehingga fungsi irigasi Bendung Katulampa bisa dikatakan sudah berakhir, akibat punahnya areal persawahan di Bogor dan Jakarta. Praktis, fungsi utama Bendung Katulampa pun bergeser, dari irigasi menjadi pengukur dan peringatan dini akan datangnya banjir.

Gedung Balai Besar Industri Agro (BBIA) (*)

Agricultuur Chemisch Laboratorium (https://irwansutiarna.wordpress.com)

Terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 11 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi gedung ini bersebelahan dengan Museum Zoologi, dan berhadapan dengan Gedung Balai Penelitian Tanah.

Menurut sejarahnya, untuk mengantisipasi akan kebutuhan pengelolaan Kebun Raya Bogor, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan sebuah bangunan pada tahun 1890 yang menjadi cikal bakal BBIA, dengan nama Agricultuur Chemisch Laboratorium (ACL) yang berada dalam lingkungan Departement van Landbouw, Nijverheid en Handel. Tujuannya untuk melayani para ahli dan sarjana pertanian dalam meneliti tanaman-tanaman tropis terutama yang ada di Kebun Raya serta ekonomi dari tanaman-tanaman tersebut, serta memeriksa atau menguji barang-barang dan bahan untuk instansi pemerintah terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan sebagainya.

Pada tahun 1909, nama ACL diganti menjadi Bureau voor Landbouw en Handal-analyse berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 29 Januari 1909. Keputusan tersebut kemudian dipublikasikan dalam Javasche Couran sebagai Besluit van Directuur voor Landbow Nomor 3952 tanggal 27 Mei 1909.

Gedung Balai Besar Industri Agro (BBIA) – (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Lalu, pada tahun 1911 namanya diganti menjadi Handels Laboratorium, dan pada tahun 1918 diganti lagi menjadi Analytisch Laboratorium. Kemudian pada tahun 1934, terjadi peleburan diri dari Laboratorium Kimia Tumbuh-Tumbuhan (Phytochemisch Laboratorium) dalam lingkungan Kebun Raya dan balai penelitian yang tergabung dalam Balai Besar Penyelidikan Pertanian (Algemeen Proefstation voor de Landbouw) ke dalam Analytisch Laboratorium menjadi nama Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek (Balai Penyelidikan Kimia), yang terdiri atas Laboratorium Analitika, Kimia Tumbuh-Tumbuhan, Kimia Pertanian, Harsa dan Minyak Atsiri. Laboratorium hasil leburan itu ternyata dalam kiprahnya pernah menjadi laboratorium terkemuka di Hindia Belanda.

Akan tetapi pada masa pendudukan Jepang, Balai Penyelidikan Kimia tersebut diganti namanya menjadi Gunsaikanbu Kagaku Kenkyusyu dengan tugas melakukan penelitian terapan, yang kelak menjadi ciri Balai seterusnya. Pada tahun 1980, nama Balai Penyelidikan Kimia diganti lagi menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian (BBPPIHP), yang berada di bawah naungan Departemen Perindustrian. Kemudian pada tahun 2002, BBPPIHP diganti namanya lagi menjadi Balai Besar Industri Agro (BBIA) hingga sekarang.

Bangunan

Gedung BBIA ini berdenah persegi panjang dengan memiliki luas bangunan sekitar 1.210 m² di atas lahan Kebun Raya Bogor yang menghadap ke jalan umum. Corak bangunan gedung ini bercirikan kolonial dengan ditandai pintu dan jendela yang cukup besar dan tinggi dengan atap berbentuk segitiga.

Museum Zoologi

Museum Zoologi (https://galeribogor.net)

Museum Zoologi yang ada di jalan Ir. H. Juanda No. 9, Kota Bogor. Di sini Anda akan menemukan koleksi beragam fauna yang di-awetkan. Banyak pengetahuan yang didapat jika kita berkunjung ke museum yang awalnya berfungsi sebagai Laboratorium Zoologi untuk memberi wadah penelitian yang berkaitan dengan pertanian dan binatang hama ini.

Anda akan berdecak kagum dengan koleksi jutaan spesimen yang terdiri dari puluhan ribu jenis fauna dari berbagai jenis. Diantaranya 650 jenis binatang mamalia (menyusui), 1100 jenis burung yang berasal berbagai wilayah di Indonesia, 600 jenis reptil dan ikan, moluska yang terdiri dari 2300 jenis, 10.000 jenis serangga serta 700 jenis invertebrate lainnya. Menurut sejarah berdirinya museum ini merupakan gagasan dari Dr. JC Koningsberger, dia adalah seorang ahli botani yang sedang berkunjung ke Kota Bogor pada Agustus 1894. Pada saat itulah museum yang luasnya 402 m2 ini mulai dibangun hingga selesai akhir Agustus 1901, diberi nama Landbouw Zoologisch Museum.

Kemudian pada 1906 namanya berubah menjadi Zoologisch Museum. Empat tahun kemudian namanya berubah kembali menjadi Zoologisch Museum en Laboratorium. Setelah sempat tidak berkembang karena pergolakan politik dunia pada masa penjajahan Jepang, lalu museum ini berganti nama lagi menjadi Museum Zoologicum Bogoriense di antara tahun 1945-1947. Hingga kini nama tersebut terus digunakan, kemudian sering disebut Museum Zoologi Bogor.

Gedung Balai Penelitian Tanah (*)

Gedung Balai Penelitian Tanah (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 98 Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Lokasi bangunan gedung ini tepat berada di depan Balai Besar Industri Agro (BBIA), atau bersebelahan dengan Gedung Badan Planologi Kehutanan.

Gedung Balai Penelitian Tanah ini dibangun pada tahun 1905. Dulunya, gedung ini bernama Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek, sebagai bagian dari Lands Plantentuin atau yang kini kesohor dengan nama Kebun Raya Bogor.

Dalam perjalanannya, gedung ini pernah berganti-ganti nama. Gedung ini sempat menjadi Bodemkundig Instituut hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1942. Oleh Jepang, gedung tersebut diganti namanya menjadi Dozyoobu. Namun, setelah Indonesia merdeka, nama Bodemkundig Instituut kembali digunakan.

Pada tahun 1950, nomenklatur Bodemkundig Instituut diganti menjadi Balai Peneyelidikan Tanah, dan pada tahun 1961 menjadi Lembaga Penyelidikan Tanah. Setahun kemudian, namanya berubah lagi menjadi Lembaga Penyelidikan Tanah dan Pemupukan, dan pada tahun 1976 diganti lagi menjadi Lembaga Penelitian Tanah, dan menjadi Pusat Penelitian Tanah pada tahun 1981.

Pada 29 September 1988, gedung ini juga pernah diresmikan berdirinya Museum Tanah yang bekerjasama dengan International Soil Reference and Information Centre (ISRIC) Wageningen Belanda.

Pada tahun 1990 mandat penelitian diperluas ke bidang agroklimatologi. Konsekuensinya, nama institusi ini dirubah menjadi Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittanak). Setelah Otonomi Daerah, yakni pada tahun 2001 nama ini berubah lagi menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak). Pada tahun 2002 Puslitbangtanak mempunyai tiga balai penelitian. Salah satunya adalah Balai Penelitian Tanah (Balittanah).

Balai Penelitian Tanah (Balittanah) bertugas melakukan penelitian untuk menghasilkan teknologi dan informasi sumberdaya dan pengelolaan tanah serta memberikan pelayanan dalam bidang analisis tanah, air, tanaman, dan pupuk, pemetaan, analisis data penginderaan jauh (inderaja), pelayanan basis data tabular dan spasial (menggunakan GIS), serta berbagai pelayanan lain yang berhubungan dengan informasi dan teknologi pengelolaan tanah. Sehingga, bangunan gedung ini boleh dibilang masih digunakan sebagai balai penelitian yang sama seperti ketika gedung ini didirikan.

Bangunan

Gedung yang memiliki luas bangunan 544,5 m² di atas lahan seluas 1.028 m² ini bergaya arsitektur kolonial Belanda, yang ditandai dengan jendela-jendela tinggi yang masih asli berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu.

Pada bagian depan gedung, tepatnya di atas pintu masuk utama terdapat tulisan angka tahun dibangunnya gedung ini, dan sekaligus nama dari bangunan gedung ini.

Lapas Paledang (*)

Lapas Paledang

Lapas (Lembaga Pemasyaratan) Paledang terletak di Jl. Paledang No. 6, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. Lapas ini sudah digunakan sejak masa kolonial, pada tahun 1906.

Gedung Badan Planologi Kehutanan (*)

Gedung Badan Planologi Kehutanan (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Gedung ini terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 100 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Gedung Badan Planologi Kehutanan didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1912. Awalnya, gedung ini bernama Het gebouw van Planologie van het Ministerie van Bousbouw in Butenzorg. Akan tetapi setelah Indonesia merdeka, gedung ini dinasionalisasi dengan fungsi dan peruntukkan yang sama semenjak dibangunnya gedung ini, yaitu planologi kehutanan. Dalam lingkup Departemen Kehutanan, penanggungjawab terwujudnya kemantapan prakondisi pengelolaan hutan adalah Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan, atau bisa dikatakan bahwa Dirjen tersebut merupakan executing agency bagi pelaksanaan kegiatan pembangunan kehutanan yang akan dilakukan oleh instansi-instansi di bawah Departemen Kehutanan lainnya.

Bangunan

Bangunan gedung ini berdenah persegi panjang dengan areal kosong di tengahnya. Areal kosong ini menjadi plaza bagi bangunan ini yang dimanfaatkan sebagai ruang terbuka di tengah bangunan gedung ini, seperti taman maupun areal perpakiran. Selain itu, pada sejumlah dinding dari gedung ini terdapat sejumlah relief yang menggambarkan aktivitas berkenaan dengan hutan, seperti tanaman maupun binatang yang ada di hutan maupun kegiatan pengolahan hasil hutan.

Gedung Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) (*)

Gedung Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 15 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Lokasi bangunan gedung ini tepat berada di samping Pintu 1 Kebun Raya Bogor, atau berseberangan dengan Gedung Badan Planologi Kehutanan Bogor. Gedung PHKA ini didirikan pada tahun 1912 oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan tujuan untuk menangani permasalahan kehutanan yang ada di Kota Bogor dan sekitarnya. Sewaktu didirikan, gedung ini bernama Hoofdkantoor van Het Boswezen te Buitenzorg. Tulisan nama gedung ini pun menempel di atas lengkungan pintu masuk utama ke bangunan gedung tersebut beserta tahun pendiriannya. Kemudian gedung ini sempat berganti-ganti nama ke dalam bahasa Indonesia, hingga pada akhirnya menjadi Gedung PHKA seperti sekarang ini berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010 tanggal 25 Agustus 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan.

Bangunan

Struktur bangunan gedung ini mirip dengan Gedung Badan Planologi Kehutan Bogor, berdenah persegi panjang di tengah-tengahnya terdapat areal kosong yang digunakan untuk taman maupun parkir kendaraan bermotor. Sedangkan di belakang bangunan gedung ini sudah menyatu dengan areal Kebun Raya Bogor.

Berdasarkan riwayat historis yang dimiliki, gedung PHKA ini tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB) yang harus dijaga, dirawat serta dilindungi. Sejak didirikan hingga sekarang ini, fungsi gedung ini masih tetap sama, yaitu menangani dan mengelola masalah kehutanan yang ada di Kota Bogor dan sekitarnya.

Gedung Pulasara (*)

Gedung Pulasara (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Terletak di Jalan Roda No. 65 dan No. 84, RT.05, RW. 02, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Yayasan kematian ini memiliki dua bangunan yang letaknya saling berseberangan.

Gedung Pulasara ini, awalnya bernama gedung Fond Miskin yaitu gedung yang dipergunakan untuk mengurus dan merawat serta melayani orang yang meninggal. Bangunan ini didirikan pada tahun 1930, dan merupakan peninggalan perkumpulan orang-orang Tionghoa pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), bangunan gedung ini dijadikan sebagai poliklinik. Namun, akhirnya poliklinik tersebut dipindahkan ke tempat lain sesuai dengan keinginan Pemerintah Daerah Bogor pada waktu itu.

Pada tahun 1968, Fond Miskin berubah nama menjadi Pulasara hingga saat ini. Sehingga, nama gedung ini pun dikenal sebagai Gedung Pulasara.

Bangunan

Bentuk bangunan ini tidak mengalami banyak perubahan, baik penataan ruangnya maupun fisik bangunan lainnya. Hanya saja, pada tahun 1970 dilakukan pembangunan tempat penitipan jenazah yang berada tepat di depan bangunan Pulasara sehingga bangunan tersebut sedikit mengalami renovasi. Dari sejak dibangun hingga sekarang, bangunan ini masih digunakan sebagai tempat mengurus orang yang meninggal. Kondisi gedung Pulasara masih terjaga dan terawatt dengan baik oleh Yayasan Kematian Pulasara.

Gedung Badan Pertanahan Nasional (BPN) (*)

Gedung Badan Pertanahan Nasional (https://kekunaan.blogspot.co.id)

Terletak di Jalan Salak No. 2 Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Lokasi bangunan gedung ini berada di depan Istana Bogor agak ke timur.

Awalnya, gedung BPN ini merupakan bangunan untuk tempat tinggal yang dihuni oleh keluarga Belanda. Diperkirakan keluarga tersebut juga merupakan keluarga yang mempunyai kedudukan di kalangan masyarakat Belanda yang tinggal di Batavia. Bangunan ini didirikan pada tahun 1938, dan dikenal dengan sebutan Gedung Blenong.

Bangunan

Gedung ini memiliki luas bangunan 807,50 m² di atas lahan seluas 1.744,20 m². Bagian atapnya memiliki kubah yang terbuat dari beton, sedangkan bagian depan terdapat tiang penyangga atap yang membentuk serambi.

Gedung SMPN 1 dan SMAN 1 (*)

Gedung SMPN 1 dan SMAN 1 (https://hellobogor.com)

Gedung sekolah SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Bogor ini adalah gedung MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau Sekolah Menengah Pertama sejak jaman Belanda. Sekolah ini kemudian dipugar dan ditambah beberapa gedung lain pada tahun 1946 dan 1950. MULO juga pernah menjadi saksi bisu perebutan kemerdekaan dimana gedung ini berhasil direbut oleh para pejuang gerilya untuk markas.

(*) Tambahan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.