Wisata Sejarah di Blora Jawa Tengah

Cepu (“tjepoe”) adalah sebuah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kota ini menjadi perbatasan antara Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan Sungai Bengawan Solo sebagai pemisahnya. Kecamatan Cepu dikenal sebagai kota penghasil Minyakbumi dan Kayu Jatinya.

Penambangan Minyak dan Gas Bumi

Sumur minyak di Cepu ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian berganti nama menjadi Shell.

Sesudah Kemerdekaan Republik Indonesia, melalui satu Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan Presiden pada 20 Agustus 1968, PN PERMINA yang bergerak di bidang produksi digabung dengan PN PERTAMIN yang bergerak di bidang pemasaran guna menyatukan tenaga, modal dan sumber daya yang kala itu sangat terbatas. Perusahaan gabungan tersebut dinamakan PN Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional (Pertamina).

Sumur minyak tua dan gas yang tersebar di wilayah sekitar Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo. Jumlah sumur tua yang telah mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi.

Nama Cepu semakin dikenal dengan eksplorasi Blok Cepu. Blok ini mencakup wilayah Cepu dan Bojonegoro dengan kandungan minyak diperkirakan mencapai jutaan barel. Ada dua operator besar yang terlibat dalam eksplorasi minyak, yakni Exxon Mobile dan Pertamina. Pihak lain yang terlibat adalah Pemerintah Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Blora, dan Pemerintah Bojonegoro.

Penambangan Tradisional

Penambangan Minyakbumi oleh masyarakat Cepu (https://kotakkatikdikamar.blogspot.com)

Sebagian besar sumur-sumur tua secara tradisional ditambang oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan ember ditarik oleh sekitar 15 orang atau menggunakan sapi untuk menderek.

Menarik timba minyakbumi dengan Truk bekas dengan roda belakang (https://www.bedigal.com)

Sumur tua umumnya terletak di daerah perbukitan dan di tengah-tengah hutan jati. Dengan demikian, upaya ekstra harus mampu untuk melihatnya. Agak seperti sedikit petualangan.

Pompa Angguk (Sucker Rod Pump)

Pompa Angguk peninggalan Kolonial Belanda (https://www.infoblora.com)

Wisata sejarah sumur tua masih menggunakan Pompa Angguk (Sucker Rod Pump) peningalan zaman kolonial. Untuk menuju ke sana tidaklah sulit, sebab ada beberapa tempat yang masih memiliki sumur angguk. Seperti di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, kemudian Desa Semanggi Kecamatan Jepon.

Skema cara kerja Pompa Angguk (https://pompakompressor.blogspot.com)

Dari Kota Blora menuju ke arah Randublatung, kemudian ada pos pemeriksaan hasil hutan belok kiri sekitar 4 km sudah bisa melihat sumur angguk itu. Sumur angguk memang memiliki kekhasan sendiri, selain mengeluarkan bunyi nyaring juga sangat beraturan, bentuknya juga unik.

Bekas Stasiun Blora

Bekas Stasiun Blora (https://www.blorakab.go.id)

Bekas Stasiun Blora terletak di Kecamatan Blora, tepatnya di Jl. Pemuda yang berlokasi tepat bersebelahan dengan Sungai Lusi. Pada mulanya jalur kereta api di sisi stasiun ini memiliki posisi yang sangat unik, karena terletak di dua persimpangan yang berbeda, yaitu dari arah Selatan – Barat dari jalur kereta Demak – Godong – Purwodadi – Wirosari – Kunduran – Ngawen – Blora, sedangkan dari utara – timur, dari arah Rembang – Mantingan – Blora – Jepon – Cepu. Stasiun ini dibangun oleh Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Wirosari–Blora. Jalur ke Blora selesai pada tanggal 13 September 1894.

Posisi strategis ini menyebabkan stasiun ini memiliki fungsi dan kelengkapan fasilitas sebagai stasiun Kabupaten. Misalnya halaman depan sebagai perpindahan dari sistem transportasi jalan baja ke sistem transportasi jalan raya atau sebaliknya. Tempat ini berupa terminal kendaraan umum, parkir kendaraan, dan bongkar muat barang. Konstruksi bangunan merupakan perpaduan kayu jati berkualitas tinggi dengan konstruksi besi baja yang sangat kokoh, hingga dapat bertahan selama seratus tahun. Sejak awal 1990-an, stasiun ini akhirnya tidak dioperasikan lagi, karena dianggap kalah bersaing dengan model angkutan transportasi darat lainnya yang lebih cepat dan tidak berjadwal. Bangunan stasiun ini sekarang masih tetap kokoh berdiri dan dimanfaatkan sebagai warung makan minum dan aktifitas perdagangan lainnya.

Gedung RS DKT Blora

RS DKT Wira Husada (https://www.blorakab.go.id)

RS DKT Wira Husada beralamat di Jl. Dr. Sutomo No. 45. Rumah Sakit ini merupakan fasilitas khusus TNI Angkatan Darat dalam bidang kesehatan bagi anggota militer dan keluarganya. Bangunan ini memiliki luas ± 700 m², berdiri di luas area tanah ± 1.600 m². Fasilitasnya yang dimiliki antara lain terdapat 28 ruang perawatan, peralatan medis, laboratorium dan apotik.

Pada mulanya, bangunan ini diduga merupakan bagian dari kompleks perumahan RS Kristen yang mulai dibangun oleh Gerakan Zending pada tahun 1907 di kawasan Tempelan, dan mulai beralih ke kawasan ini pada tahun 1914. Ciri bangunan yang menonjol adalah terdapat hiasan di daun jendela yaitu model kanopi seperti ciri dari bangunan Belanda pada umumnya, serta hiasan pada ujung genteng krepus berupa tiang bola. Memiliki pintu dan jendela besar, dengan bentuk atap yang tinggi sebagai ciri arsitektur indis. Fungsi arsitektur seperti ini agar sirkulasi udara dan cahaya ke dalam ruangan berjalan dengan baik

Gedung Pegadaian Unit Pelayanan Cabang Ngawen

Gedung Pegadaian cabang Ngawen (https://www.blorakab.go.id)

Gedung Pegadaian Ngawen terletak di jl. Raya Ngawen, Blora, Jawa Tengah, merupakan bangunan berasitektur Indisch-Empire ini layak dijadikan bangunan cagar budaya, karena nilai keasliannya yang relatif terjaga. Bangunan ini dibangun pada tahun 1911, sebagaimana tertera pada salah satu dinding bangunan.

Terdiri dari dua kelompok bangunan, yaitu gudang penyimpanan barang di sisi belakang dan ruang administrasi di sisi luar . Pada bagian luar terdapat kolom loket, yang sebenarnya berfungsi sebagai ruang pembayaran apabila barang yang akan digunakan telah melewati pemeriksaan oleh juru taksir. Hal ini menunjukkan karakter pegadaian ini, yang melayani masyarakat dari kalangan menengah ke bawah.

Sesuai dengan perkembangan Kecamatan Ngawen pada saat itu yang dihuni oleh masyarakat lokal yang bertumpu pada pertanian, dan sangat sedikit dari kalangan keturunan asing maupun kolonial. Karakter bangunan bergaya indisch ini dapat dilihat dari sisi depan atap bangunan yang berbentuk runcing menjorok ke depan (tuitgevel), suatu bentuk yang lazim dipergunakan untuk bangunan gudang (pakhuizen) yang menggunakan tadah angin berbentuk segitiga (timpanon).

Gedung Pegadaian Cepu

Gedung Pegadaian Cepu (https://wikimapia.org)

Gedung Pegadaian Cepu terletak di Jl. Diponegoro Kecamatan Cepu. Memiliki lokasi paling strategis di area bisnis perdagangan. Gedung ini dibangun pada tahun 1911, sesuai dengan yang tertera di bagian atap bangunan. Memiliki gaya arsitektur indisch, dengan tata ruang dan eksterior yang sangat indah.

Memiliki ruang teras yang dilengkapi dengan ruang tunggu yang mengedepankan privasi nasabah. Hal ini dapat dimengerti karena Cepu merupakan kota bisnis, industri, dan perdagangan. Di mana kelompok orang kaya dari berbagai ras baik Eropa, Cina maupun lokal cukup banyak dan pada segmen ini menuntut pelayanan dan kenyamanan yang lebih.

Bangunan dengan struktur beton baja ini memiliki pintu dan jendela besar, yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan dengan baik. Pada bagian luar dilengkapi konsol antik, untuk tadah hujan dan sinar matahari berlebih, disamping menghalangi orang yang lewat dari siraman air hujan.

Gedung Pegadaian Cepu (https://www.blorakab.go.id)

Salah satu hal paling menarik dari bangunan ini adalah masih terdapatnya hiasan kemuncak bangunan, berupa penunjuk arah tiupan angin yang disebut windwijwe atau windvaan. Hiasan ini dimungkinkan karena bentuk atap bangunan yang cukup terjal, yang kemiringannya lebih dari separuh rumah. Menurut kepercayaan pada masanya, selain berfungsi memperindah bangunan, hiasan seperti ini juga berfungsi untuk mengusir roh jahat.

Nilai keaslian bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya adalah tetap dipertahankannya karakter bangunan bergaya indisch pada bagian depan atap bangunan berbentuk runcing menjorok ke depan, yang lazim menunjukkan sebagai bangunan gudang yang menggunakan tadah angin berbentuk segitiga. Bangunan ini dapat dikatakan sebagai salah satu bangunan cagar budaya dari era kolonial terpenting di Kabupaten Blora, karena nilai keaslian, keindahan, dan keterawatannya.

Kantor Kodim 0721 Blora

Kantor Kodim 0721 Blora (https://www.blorakab.go.id)

Kantor Kodim Blora berlokasi di Jl. Pemuda No. 44 Blora. Bangunan ini dibangun pada tahun 1917, sebagaimana tertera pada tembok bangunan yang terletak di bagian belakang bangunan. Sejarah penggunaan gedung ini pada mulanya adalah milik orang Belanda, yang termasuk dalam kawasan pemukiman pejabat Hindia Belanda. Kemudian setelah masa kemerdekaan dimiliki orang keturunan Tionghoa bernama Lien Hong Swan dari Yogyakarta hingga tahun 1951. Setelah peristiwa G30SPKI dikuasai militer, dan sejak tahun 1965 dipergunakan sebagai markas Kompi dan kemudian dijadikan Kantor Kodim 0721 Blora.

Kantor Kodim 0721 Blora (https://www.infoblora.com)

Bangunan ini terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu : (a) Bangunan utama di tengah, yang terdiri dari ruang aula dan ruang komandan, (b) bangunan paviliun di sisi kiri kanan; di sisi kiri untuk pos penjagaan; sedangkan di sisi kanan untuk ruang administrasi dan keuangan.

Dan kelompok bangunan fasilitas di bagian belakang yang saat ini sebagian digunakan untuk lapangan olahraga dan asrama tentara. Terletak di area tanah seluas 5.537 m², dan bangunan seluas 532 m². Dengan bentuk bangunan tembok beton, berlantai marmer putih pada bangunan barat, dan ruang lain dari tegel ubin bermotif. Konstruksi kerangka atap, pintu dan jendela seluruhnya terbuat dari kayu jati berkualitas terbaik. Nilai keantikan dan keaslian bangunan ini cukup tinggi, sekalipun pada bagian atap konon pernah banyak terdapat ornamen patung yang kini telah hilang.

Gudang Banyu

Gudang Banyu (https://www.blorakab.go.id)

Bangunan penampung air dengan kapasitas 400 m³ ini terletak di Kelurahan Tegal Gunung, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. Dibangun pada masa kolonial Belanda sebagai tempat untuk penampungan air yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan air minum di Kota Blora. Sumber mata air diperoleh dari Sumber Mata Air Kajar. Cara kerjanya alami menggunakan gaya gravitasi bumi dalam mengalirkan air dari sumber mata air sampai penampungan air (Gudang Banyu).

Bangunan ini dibuat pada tahun 1920-an, mengadopsi gaya bangunan berarsitektur Belanda dengan model segi delapan. Bentuknya menyerupai benteng dengan ruang kolong di bawah bak penampung. Memiliki ukuran bangunan 5m x 8m x 7m, dengan konstruksi beton cor. Semula dikelola oleh orang Belanda yang dulu dikenal sebagai Tuan Johan dan Tuan Barnas. Bangunan ini sempat dikelola oleh DPUK, sebelum akhirnya diserahkan kepada PDAM. Tetapi Kemudian di lokasi ini dibangun lagi bak penampung baru dengan daya tampung lebih besar dan sistem menara yang tinggi mencapai 20 m, sesuai dengan tingkat kebutuhan akan air minum pada saat ini di Kota Blora yang semakin tinggi.

Gedung SMPN 1 Blora

Gedung SMPN 1 Blora (https://www.blorakab.go.id)

Bangunan ini terletak di Jl. dr. Sutomo no. 38, Blora, Jawa Tengah, termasuk salah satu peninggalan Kolonial Belanda, tampak pada bentuk fisik bangunan dengan bentuk limasan memanjang, dengan atap tinggi dan plafon atap terbuat dari kayu. Bangunan kelas menganut sistem dua pintu di bagian sisi kanan dan kiri, dengan pintu sambungan antar kelas. Bentuk jendela ganda dengan ventilasi udara ukuran kecil pada sisi dalam. Sejarah Bangunan ini terkait dengan kebutuhan akan fasilitas umum yang berhubungan dengan sarana pendidikan masyarakat terutama komunitas bangsa Eropa yang tinggal di Blora. SMP N 1 Blora diperkirakan dibangun ± pada perempat pertama abad XX Masehi atau sekitar tahun 1930-an.

Kantor Pos Blora

Kantor Pos Blora (https://www.blorakab.go.id)

Kantor Pos Blora terletak di Jl. Pemuda, memiliki ciri bangunan indis dengan model limasan, bangunan yang ada saat ini diperkirakan dibangun pada tahun 1930-an, karena berdiri tidak jauh dari kantor telepon dan telegraph di sisi timur, yang pada masa lalu merupakan satu lembaga yang tidak terpisahkan, karena di bawah perusahaan PTT (Pos, Telepon dan Telegraf). Di Blora terdapat dua kantor pos utama, yaitu di Kota Blora dan Cepu, dan memiliki 13 cabang di seluruh kota kecamatan, kecuali di Kecamatan Tunjungan.

Gedung Polsek Ngawen

Gedung Polsek Ngawen (https://www.blorakab.go.id)

Gedung ini terletak di Jl. Raya Purwodadi Blora, Kecamatan Ngawen. Menurut sejarah pada masa kolonial Belanda, menjadi kawasan perkampungan pedagang cina yang pernah menjabat sebagai Carik Ngawen. Orang ini pindah karena hadirnya kolonial Jepang, yang menganggap mereka lebih berpihak kepada Belanda. Setelah Jepang masuk ke Blora membantai semua warga keturunan Cina, bangunan ini sempat dihancurkan. Setelah keadaan damai, dan karena tidak ada penghuninya, lalu digunakan sebagai Kantor Polisi Ngawen.

Gaya arsitektur bangunan merupakan campuran Cina dan Belanda. Materi pokok bangunan terbuat dari batu batu, kayu, dan besi. Ornamen konstruksi atap, pintu, dan jendela terbuat dari kayu jati, dan lantai dari ubin tegel kuno. Berdiri di atas tanah seluas 3.575 m², dengan ukuran bangunan 300 m². Tata ruang bangunan meliputi ruang penjagaan, ruang Kanit Sabara, Ruang Kanit Binmas, Ruang Kapolsek, Ruang Kanit Reskrim, Ruang Intelkam, Ruang Kasi, Kamar Mandi, dan Ruang Tahanan. Rumah dinas berada di utara Kantor Polsek dan bangunan gudang juga masih terjaga keasliannya.

Kantor Satlantas

Kantor Satlantas (https://www.blorakab.go.id)

Kantor Satlantas terletak di jalan Pemuda Blora. Bangunan ini mengadopsi model arsitektur bentuk Indis dengan ciri atap berbentuk limasan dan struktur atapnya yang tidak terlalu tinggi. Pada mulanya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal. Salah satu detail menarik dari gedung ini adalah bentuk bangunan kuncungan dengan hiasan kemuncak, yang terbuat dari kayu yang dilancipkan. Pada sisi kanan, telah dibuat bangunan tambahan untuk berbagai fungsi, antara lain kantor kas, ruang pelayanan masyarakat, dan pos penjagaan. Pada halaman depan, selain dipergunakan untuk upacara, juga dipergunakan untuk uji ketrampilan guna memperoleh Surat Ijin Mengemudi (SIM). Bangunan ini merupakan salah satu rangkaian rumah tinggalan Pemerintahan Hindia Belanda yang tersisa di sepanjang Jl. Pemuda Blora. Dimana lokasi ini dikenal sebagai kawasan pemukiman orang Eropa, baik yang berprofesi sebagai aparat pemerintahan maupun pengusaha minyak dan kehutanan.

Bangunan Rumah Kolonial

Bangunan Rumah Kolonial (https://www.blorakab.go.id)

Bangunan ini terletak di jalan Pemuda No. 29, Kelurahan Tempelan, Kecamatan Blora, berasitektur kolonial, dengan materi utama terbuat dari beton dan kayu jati. Luas tanah ± 3.500 m² dan luas bangunan ± 1.000 m² dengan bangunan tambahan seluas ±200 m². Bangunan utama digunakan sebagai ruang keluarga dan kamar tidur, sedangkan bangunan sekunder digunakan untuk dapur, gudang, dan garasi. Lantainya berupa tegel kuno masih orisinil dari sejak pertama kali rumah ini dibangun. Pintu jendela dan tiangtiangnya terbuat dari kayu jati dengan detail ukir masih orisinil.

Sejarah kepemilikan rumah ini diawali dengan pendiri sekaligus pemiliknya adalah Tan Ko Giem.  Pada saat pertama kali rumah ini dibangun, hanya berfungsi sebagai rumah tinggal saja. Pada tahun 1950 – 1960-an beralih fungsi sebagai kantor NV. Tan Ing Goen. Sekarang beralih fungsi lagi sebagai rumah tinggal bagi keluarga Tan Bok Ay. Setealh Tan Ko Giem meninggal rumah ini kemudian diwariskan kepada generasi kedua yaitu Tan Giok Gian, dan diwariskan lagi kepada generasi ketiga, yaitu Tan Gwan Lie / Tan Gwan Djiang dan terakhir menjadi milik Tan Bok Ay sampai sekarang. Namun sekarang didiami oleh kedua putrinya, yaitu Tanti Febiola dan Christina Damayanti.

Bangunan Rumah Kolonial

Bangunan Rumah Kolonial (https://www.blorakab.go.id)

Rumah bergaya arsitektur cina ini sebelumnya milik Liem Tjoe Hie, berlokasi di Jl. Tentara Pelajar No. 26 Blora, Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora. Berdiri di atas lahan seluas ± 600 m², dengan luas bangunan ± 200 m². Bentuk atap bangunan ini adalah limasan, dengan bagian depan terbuat dari kayu, dan tembok untuk bagian belakang. Tata ruang bangunan terdiri dari pendopo depan atau ruang altar, kamar tidur di sebelah kiri dan kanan di bagian pendapa belakang dan dapur. Sampai saat ini belum pernah ada perubahan pada bangunan ini, dan masih terjaga keasliannya dengan baik. Rumah yang sekarang menjadi milik Hartanto D ini merupakan bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur cina yang masih tersisa di Blora.

Ornamen yang paling menarik pada bangunan ini adalah tetap dipertahankannya pintu masuk yang biasa disebut regol dengan atap peneduh khas bangunan rumah cina. Peletakan pintu tersebut berada di tengah bangunan, dengan bentuk kupu tarung serta kusen kayu besar dan dua buah tonjolan kayu yang menjadi ciri khasnya. Pintu ini dilengkapi dengan pagar tembok yang dihiasi dengan roster dan pagar besi di atasnya.

Antara pagar dan bangunan utama, terdapat tanaman asri yang ditanam berbagai jenis tanaman bunga tropis. Bagian teras rumah, dilengkapi dengan perabot meubel yang memiliki nilai keantikan tinggi. Terdapat satu pintu masuk yang diapit oleh dua buah jendela. Dimana diantaranya diapit oleh kaca cermin kuno. Pintu utama tersebut berwarna cat coklat memiliki pintu kecil tambahan (sering disebut dengan pintu koboi) dengan tulisan cina besar, yang menyimbolkan permohonan baik.

Rumah Dinas Wakil Bupati Blora

Rumah Dinas Wakil Bupati Blora (https://www.blorakab.go.id)

Rumah Dinas Wakil Bupati Blora yang terletak di Jl. Pemuda No. 15A Blora. Tipe bangunan bergaya paduan arsitektur klasik Eropa dengan kondisi yang masih cukup terawat dengan baik. Ciri bangunan yang menonjol terlihat pada facade depan dengan hiasan dari ornamen yang raya serta pilar-pilar bergaya Korintea dan Doria. Pada bagian depannya juga terdapat tiga pintu besar ganda berjajar, dengan bagian dalam berbalut kaca dan kayu jati utuh. Berdiri di atas tanah seluas ± 1.500 m² dengan luas bangunan ± 700 m².

Bagian paling menarik dari bangunan ini adalah gambaran ornamen pada bagian atap, berupa patung malaikat kecil dengan sulur tumbuhan, yang menggambarkan harapan perlindungan dan kesejahteraan bagi penghuninya. Bangunan ini terdiri dari bangunan utama yang terdiri dari 4 kamar, serta teras depan dan belakang. Fasilitas tambahan berupa ruang makan, toilet didalam kamar, dapur, garasi dan gudang.

Sejarah penggunaan bangunan ini sebelum digunakan sebagai Rumah Dinas Wakil Bupati Blora antara lain digunakan sebagai Kantor Perijinan, Kantor Bappeda, dan pernah disewa oleh perusahaan minyak milik Grup Humpuss.

Gedung SDN 1 Kunden

Gedung SDN 1 Kunden (https://www.blorakab.go.id)

Gedung ini terletak di Jl. Dr. Soetomo, Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora. Merupakan sekolah paling bersejarah di Kabupaten Blora yang berkaitan dengan sejarah perjuangan pergerakan wanita. Karena hingga awal abad ke-20 hanya golongan bangsawan dan golongan elit masyarakat saja yang dapat menikmati pendidikan modern. Seiring berjalannya waktu, sekolah ini berganti nama menjadi SD Kunden 1.

Bangunan ini adalah model bangunan kolonial, sebagaimana tampak pada bentuk fisik bangunan dengan bentuk limasan memanjang, dengan atap tinggi dan plafon atap terbuat dari kayu. Berdiri di atas tanah seluas 1.333 m² dengan luas bangunan ± 428 m². Dengan halaman bagian depan untuk kegiatan upacara dan olahraga. Dilengkapi dengan 6 ruang kelas, UKS, Perpustakaan, dan ruang guru.

Bangunan kelas menganut sistem dua pintu di bagian sisi kanan dan kiri, dengan pintu sambungan antar kelas. Bentuk jendela ganda dengan jendela angin ukuran kecil pada sisi dalam. Di sekolah ini masih terdapat satu ruang kelas dengan bentuk meja kursi jadi satu, yang merupakan kekayaan sejarah perabot interior sekolah yang selayaknya dilestarikan. Banyak pula perabot lain seperti lemari, papan tulis hitam model ganda yang juga menjadikan sekolah ini layak ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Loko Tour

Stasiun awal Loko Tour (https://www.infoblora.com)

Loko Tour di Cepu sudah dibuka sejak 1978. Dan jenis wisata ini merupakan serangkai dari objek wisata yang berada di wilayah Kabupaten Blora, seperti Pusat Penelitian dan Pengembangan Jati milik Perusahaan Umum Perhutani Pusat yang berada di Kesatuan Pemangku Hutan Cepu dan wisata geologi berupa pengeboran minyak dan gas bumi. Di Jawa Tengah, hanya ada dua Loko Tour, yaitu di Cepu dan di Ambarawa.

Lokomotif tua buatan Berliner Maschinenbaun Jerman tahun 1928 (https://en.wikipedia.org)

Loko Tour merupakan paket perjalanan wisata di hutan jati Cepu yang menggunakan rangkaian kereta api yang ditarik oleh lokomotif tua buatan Berliner Maschinenbaun Jerman tahun 1928. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu tunggak (akar kayu). Sekali perjalanan, loko tua ini membutuhkan sebanyak delapan kubik kayu (8 staple).

Gerbong Loko Tour (https://ardindatyas.blogspot.com)

Dengan Loko tua yang bisa menampung maksimal 60 penumpang ini, saya memulai perjalanan dari Kantor Perhutani Jalan Sorogo Kesatuan Pemangku Hutan Cepu, sekitar 35 kilometer ke arah tenggara Kota Blora. Selanjutnya kereta kuno ini melintasi hutan jati wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Ledok, Kendilan, Pasar Sore, Blungun, Nglobo, Cabak, dan Nglebur. Jarak tempuhnya mencapai 60 kilometer dengan kecepatan maksimum 20 kilometer per jam. Lokasi yang ditempuh cukup menarik karena berada di ketinggian 25 – 30 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara 22-34 derajat celcius dan curah hujan yang rata-rata 1.670 milimeter per tahun.

Gerbong Loko Tour (https://ardindatyas.blogspot.com)

Wisata Loko Tour juga menggelar berbagai macam hiburan kesenian daerah, antara lain kesenian tayub, penanaman jati, tebangan, seradan, serta kunjungan ke museum jati dan Pusat Pengembangan Bio Teknologi Hutan.

Loko Tour 
Kantor Perhutani KPH Cepu
Jln. Sorogo No. 02, Bojonegoro, Jawa Tengah
Telp.: (62) 296 423 328

Gedung Pertemuan SOS Sasono Suko

Gedung Pertemuan SOS Sasono Suko, Cepu (https://adepypy.blogspot.com)

Gedung Pertemuan SOS Sasono Suko terletak di desa Wonorejo Kelurahan Cepu.

Stasiun Kereta Api Cepu

Stasiun Cepu (CU) adalah stasiun kereta api yang terletak di Balun, Cepu, Blora. Stasiun yang terletak pada ketinggian +28 m dpl ini berada di Daerah Operasi 4 Semarang, dan merupakan stasiun KA aktif yang berada paling timur di Jawa Tengah. Stasiun Cepu adalah stasiun KA terbesar di Kabupaten Blora, dan berada di depan Lapangan Ronggolawe. Dari Stasiun Cepu terdapat bekas percabangan rel kereta api menuju Kota Blora, yang kini sudah tidak aktif.

0 thoughts on “Wisata Sejarah di Blora Jawa Tengah

  • Mar 27, 2016 at 4:45 pm
    Permalink

    Salam kenal kembali Pak Sahal Ma'mur. Dulu pernah di Cepu untuk tugas akhir kuliah, namun belum pernah sampai ke Blora. Hingga wisata sejarahnya mungkin sedikit subyektif hanya daerah Cepu saja, untuk itu mohon membuat kelompok Sadar Wisata Sejarah khususnya Peninggalan Bangunan Kompeni di seluruh Kabupaten Blora, kemudian di Posting di Bloranews.com; GWI nantinya akan menambahkan info tersebut.

    Salam Sukses dan Mulia,
    Tri Agus Y – Admin GWI

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.