Karya-Karya Raksasa di Art|Jog

Seremonial pemotretan Kabinet Goni di tangga Istana Negara, berupa boneka-boneka dari goni karya Samsul Arifin

Tahun 2014 sebagai tahun politik disikapi para seniman dengan Festifal Seni Rupa Art|Jog bertema “Legacies of Power”.

Art|Jog adalah pesta seni tahunan yang sudah diadakan selama tujuh tahun terakhir di Yogyakarta. Tema tahun ini diambil karena 2014 adalah tahun politik di Indonesia, saat rakyat Indonesia akan menjelang peristiwa besar dan penting, yaitu Pemilihan Umum, dan puncaknya adalah pemilihan presiden.

Karya Ida Bagus Putu Purwa berjudul Negeri Ego. Karya ini berukuran 300 x 360 cm dengan media acrylic, cat minyak, dan charcoal di atas kanvas. Ida Bagus Putu Purwa menyoroti para wakil rakyat yang hanya ingin menonjolkan egonya dalam pemerintahan, semua ingin menjadi yang ‘paling’ dengan menghalalkan berbagai cara, termasuk dengan saling menjatuhkan.

Banyaknya kasus korupsi anggota partai membuat pemilihan umum kali ini menarik untuk diamati karena kasus-kasus tersebut berpengaruh terhadap kepercayaan pemilih. Legacies of Power mencoba menggali persoalan demokrasi dengan melihat sejarah peralihan kekuasaan di Indonesia, baik melalui konfrontasi yang bersifat fisik, diplomasi, maupun proses yang lebih demokratis seperti Pemilihan Umum.

Dari ratusan karya yang dipamerkan, beberapa karya nampak mencolok karena ukurannya yang super besar. Seniman Samsul Arifin merespon tema ARTIJOGI14 dengan menampilkan figur boneka karung goni yang disusun secara hierarkis dalam pundan berundak di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Karya Samsul Arifin mengingatkan akan seremonial pemotretan kabinet baru Indonesia di tangga Istana Negara.

Karya Ichwan Noor berjudul Play Wood Installation. Karya ini terbuat dari kayu berukuran 495 x 180 x 108 cm dan menyerupai mobil balap Formula 1. Menurut Ichwan Noor Formula 1 adalah sebuah ironi besar dari budaya global abad ini yang menggaungkan kampanye “go green”. Formula 1 melahirkan sebuah mitos dengan upacara-upacara magis yang terasa dekat dengan kita, yang menciptakan totem modern yang menginspirasi karya ini, yang juga merupakan sebuah permainan dari limbah kayu yang menciptkaan interpretasi baru tentang mitos, ruang imajinasi serta ruang persepsi.

Beberapa seniman juga menciptakan karya raksasa berisi kritik kepada pemerintah maupun kritik sosial. Joko Pekik melukis sebuah lukisan sepanjang 6 meter bergambar buaya sebagai lambang kapitalis yang mencengkeram bangsa. Lukisan ini dijual dengan harga Rp 6 miliar. Adapun perupa Edhi Sunarso membangun patung Soekarno setinggi 4,4 meter untuk mengenang pengasingan presiden pertama itu.

Sumber: Yahoonews

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.