Wisata Sejarah di Cirebon

Cirebon dikenal dengan nama Kota Udang dan Kota Wali. Selain itu kota Cirebon disebut juga sebagai Caruban Nagari dan Grage. Kota Cirebon terletak di wilayah strategis, yakni titik bertemunya jalur tiga kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, dan Semarang. Semua jenis transportasi itu baik transportasi darat, laut, dan udara saling berintegrasi mendukung pembangunan di kota Cirebon.

Keraton kasepuhan (1)

Keraton Kasepuhan (https://www.cirebonradio.com)

Letak Keraton Kasepuhan di jalan Kasepuhan No. 43 Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Cirebon, Jawa Barat; koordinat GPS: 06º 43′ 559″ S dan 108º 34′ 244″ E. Dapat ditempuh sekitar 30 menit dari Stasiun Kereta Api Kejaksan dan 30 menit dari Terminal Bus Harjamukti Cirebon.

Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1452 oleh Pangeran Cakrabuana. Ia bersemayam di Dalem Agung Pakungwati, Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama ‘Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan juga pentas perayaan Negara lalu juga sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Bangsal Pringgandani tempat dimana Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menerima pisowanan para Adipati (https://rofioel.wordpress.com)

Sedangkan di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar, sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya. Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.

Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.

Dinding Keraton Kasepuhan Cirebon dengan hiasan keramik yang mengelilingi ornamen bunga dan burung.(https://cireboninfo.com)

Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.

Gapura  dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit, masuk Keraton didapat dua pendopo (https://www.thearoengbinangproject.com)

Saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M.

Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.

Bangunan di Keraton Kasepuhan (https://myfearless.wordpress.com)

Bangunan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan. Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu.

Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Alun-alun Keraton Kasepuhan (https://www.skyscrapercity.com)

Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambang dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Bangunan ini berasal dari budaya Hindu, dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.

Keraton Kanoman (2)

Keraton Kanoman (https://en.tempo.co)

Keraton Kanoman berada di Jalan Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk, Cirebon, Jawa Barat; koordinat GPS: 06º 43′ 15,8″ S dan 108º 34′ 12,4″ E. Di sebelah utara keraton terdapat pasar tradisional, sedangkan di sebelah selatan dan timur merupakan pemukiman penduduk. Di sebelah barat keraton terdapat sekolah Taman Siswa.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari Stasiun Kejaksan Cirebon, dapat ditempuh sekitar 10-15 menit dengan menggunakan mobil pribadi, angkot atau menggunakan jasa ojek, Anda juga bisa menggunakan becak dengan waktu tempuh sekitar 20-25 menit.

Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.

Bangsal Jinem Kraton Kanoman (https://www.thearoengbinangproject.com)

Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektare ini berlokasi di belakang pasar Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola.

Kereta Jempana dengan ornamen mega mendung, dibuat pada tahun Saka 1350 atau 1428 M atas prakarsa Pangeran Losari dan digunakan oleh permaisuri. Kereta yang terbuat dari kayu sawo ini dahulunya konon ditarik oleh enam ekor kuda (https://www.thearoengbinangproject.com)

Di keraton ini masih terdapat barang barang, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi’raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Kraton terdapat kompleks bangunan bangunan bernama Siti Hinggil.

Kereta Paksi Naga Liman (https://www.thearoengbinangproject.com)

Keraton Kacirebonan (3)

Keraton Kacirebonan (https://travellermeds.blogspot.com)

Letak Keraton Kacirebonan ini berada di Jl. Pulasaren, Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Cirebon, Jawa Barat; koordinat GPS: 06º 43′ 48,8″ S dan 108º 33′ 92,1″ E.

Kacirebonan merupakan pemekaran dari Keraton Kanoman setelah Sultan Anom IV yakni PR Muhammad Khaerudin wafat, Putra Mahkota yang seharusnya menggantikan tahta diasingkan oleh Belanda ke Ambon karena dianggap sebagai pembangkang dan membrontak. Ketika kembali dari pengasingan tahta sudah diduduki oleh PR. Abu sholeh Imamuddin. Atas dasar kesepakatan keluarga, akhirnya PR Anom Madenda membangun Istana Kacerbonan, kemudian muncullah Carbon I sebagai Pangeran Kacirebonan pertama.

Kedudukan Cirebon yang berada pada bayang-bayang pengaruh Mataram. ketika Amangkurat I berkuasa dari tahun 1646 hingga 1677. Masa pemerintahan yang ditandai dengan banyaknya pergolakan agaknya menjadi faktor penting mengapa Cirebon semakin menjadi lemah. Pada zaman Amangkurat I, penguasa Cirebon Panembahan Ratu II, cucu Panembahan Ratu, atas permintaan Mataram berpindah ke Girilaya. Kepergiannya dari Keraton Cirebon ke daerah dekat ibukota Mataram ini disertai oleh kedua puteranya, yakni Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya. Sebagai penggan ti kedudukannya selaku Sultan Cirebon, ditunjuk puteranya yang paling bungsu, yaitu Pangeran Wangsakarta.

Keraton Kacirebonan (https://www.thearoengbinangproject.com)

Panembahan Ratu wafat pada tahun 1662 Masehi. Sebelum meninggal beliau membagi kerajaannya menjadi dua yang diwariskan kepada kedua puteranya itu. Pangeran Martawijaya diangkat sebagai Panembahan Sepuh yang berkuasa atas Kasepuhan. Sedangkan Kertawijaya ditunjuk sebagai Panembahan Anom yang berkuasa atas Kanoman.

Sementara itu, Raja Amangkurat I yang kurang bijaksana menimbulkan kebencian di kalangan istana dan penguasa-penguasa daerah yang lain. Dengan didukung oleh seorang pangeran dari Madura bernama Tarunajaya, sang putera mahkota mengadakan pemberontakan. Sayangnya, usaha mereka menentang Amangkurat I tidak berhasil karena perpecahan antara keduanya.

Bangsal Keraton Kacirebonan (https://www.thearoengbinangproject.com)

Raja Amangkurat I kemudian meninggal di Tegalwangi setelah melarikan diri dari ibukota Mataram. Dalam pertempuran tersebut, kedua pangeran dari Cirebon itu memihak pada pihak pemberontak. Kira-kira tahun 1678 Masehi, kedua bangsawan pewaris tahta Cirebon kembali ke tanah kelahirannya.

Dengan demikian kini di Cirebon bertahta dua sultan, Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan dan Sultan Anom Keraton Kanoman.

Kurungan untuk tedak siti atau perayaan awal berjalan anak raja, dimana bayi akan diletakkan di dalam kurungan besar dan diberikan barang-barang. Barang yang dipilih oleh bayi pertama kali akan menentukan karakternya.

Sementara itu di Mataram sebagai akibat dari pemberontakan Tarunajaya, bertumpuklah hutang yang harus dibayarkan kepada pihak VOC-Belanda yang membantu Amangkurat I. Pihak Mataram membayar hutangnya itu dengan cara melepaskan pelabuhan-pelabuhan potensial beserta penghasilan yang amat menguntungkan itu kepada VOC.

Akibatnya lebih lanjut adalah penghapusan gelar Sultan dari penguasa Cirebon pada tahun 1681 Masehi. Sebagai gantinya, raja-raja Cirebon kembali pada gelar Panembahan yang sesungguhnya lebih rendah dari Sultan.

Leluhur Dispenser dari London (https://septarius.wordpress.com)

Pengganti Sultan Anom adalah putera bungsu. Sedangkan di Kasepuhan terjadi pembagian kekuasaan anatara Sultan Sepuh dan Sultan Cirebon. Ketika Pangeran Cirebon dibuang karena melawan Belanda, daerah kekuasaan nya diberikan kembali kepada Sultan Sepuh. Kemunduran Kesultanan Cirebon semakin meningkat sejak tahun 1773 Masehi. Setelah Panembahan terakhir wafat tanpa mewarisi keturunan, daerahnya kemudian menjadi terbagi-bagi dan dikuasai oleh para pangeran.

Mulai abad ke 19 setelah perjanjian Wina, kedudukan politik Kasepuhan maupun Kanoman benar-benar dihapuskan, sebagai gantinya mereka mendapat subsidi dari pemerintah kolonial Belanda.

Sejak itu bangsawan Cirebon hanya dikenal sebagi pelindung kesenian tradisional Cirebon. Maka tidak mengherankan apabila seni batik, seni ukir, seni tari, seni topeng, tetap lestari dan berkembang pesat.

Tamansari Gua Sunyaragi

Tamansari Gua Sunyaragi (https://berita.upi.edu)

Gua Sunyaragi merupakan salah tampat wisata sejarah yang terletak di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Cirebon, Jawa Barat. Objek wisata ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi, bus, motor ataupun angkutan umum. Objek wisata ini dikelola oleh YPKK (Yayasan Pengelola Keraton Kesepuhan), di bawah satu yayasan yang sama dengan Keraton Kesepuhan Cirebon.

Gua Sunyaragi ini dibuat pada tahun 1703 oleh pangeran Arya yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati. Nama Sunyaragi sendiri berasal dari kata “sunya” yang berarti sepi dan “ragi” yang berarti raga. Dan tujuan utama didirikannya adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Konstruksi dan komposisi bangunannya merupakan sebuah taman air. Pada zaman dahulu komplek gua tersebut dikelilingi oleh sebuah danau yaitu danau jati.

Tamansari Gua Sunyaragi (https://yudasmoro.net)

Berdiri di area seluas 15 hektar objek wisata ini memiliki keunikan yang sangat berbeda dengan tempat lain, karena saat kita mulai memasuki area ini kita sudah di dapat melihat komplek bangunan-bangunan peninggalan sejarah Sultan Cirebon yang sangat unik dan panorama pemandangan yang indah. Bentuk-bentuk dari bangunan dan gua yang ada di kawasan ini sangat menarik, seperti bentuk gua yang relatif kecil dan pendek. Selain itu kita juga dapat melihat beberapa patung peninggalan sejarah pada masa lalu.

Sunyaragi adalah tempat para pembesar keraton dan para prajurit keraton bertapa dan meningkatkan ilmu kanuragannya. Bagian-bagiannya terbagi menjadi 12 bagian, yatu : bangsal jinem, goa pengawal, goa pandakemasang, goa simanyang, goa lengse, goa peteng, goa arga jumud, goa padang ati, kelanggengan, lawa, goa pawon, dan komplek mande kemasan.

 

Peta Tamansari Gua Sunyaragi (https://www.potlot-adventure.com)

Pendopo Kabupaten Cirebon

Pendopo Kabupaten Cirebon (Pendopo Kabupaten Cirebon)

Pendopo Kabupaten Cirebon terletak di Jl. Kartini, Kelurahan Kejaksan, Kecamatan Kejaksan, Cirebon, Jawa Barat.

Pendopo Kabupaten Cirebon Perjalanan sejarah Kota Cirebon setelah masa kesultanan ditandai beberapa peninggalan bangunan yang didirikan pada masa kolonial. Salah satu peninggalan bangunan lama tersebut adalah Pendopo Kabupaten dan Rumah Dinas Bupati. Rumah Dinas Bupati Cirebon berdiri pada lahan seluas ±18.150 m2. Pada situs ini terdapat dua bangunan utama, yaitu Pendopo dan Rumah Dinas yang berada di belakangnya. Luas kedua bangunan itu ± 3.200 m2. Kompleks ini dikelilingi pagar tembok setinggi lebih dari 2 m pada sebelah selatan dan barat serta pagar besi pada sebelah timur dan utara. Pintu gerbang berbentuk candi bentar yang dibangun belakangan terletak di sebelah timur dan barat. Sebagian pelataran yang biasa digunakan mobilitas dilapisi dengan aspal, sisanya kerapkali dijadikan tempat merumput beberapa ekor rusa yang dibiarkan hidup lepas, di bawah rindangnya pohon beringin, mangga, serta beberapa tanaman keras dan tanaman hias.

Gedung Karesidenan Cirebon

Gedung Karesidenan Cirebon (https://www.cirebonradio.com)

Gedung ini terletak di Jl. Siliwangi, Kampung Krucuk, Kecamatan Kejaksan, Cirebon. Dibangun pada tahun 1865 ketika Keresidenan Cirebon dipimpin oleh Albert Wilhelm Kinder De Camurecq, awalnya gedung ini berfungsi sebagai Rumah Dinas Residen. Anda akan memasuki bangunan ini melalui pintu gerbang berbentuk candi bentar yang dibangun tahun 1980-an. Bangunan induknya terdiri dari ruang Jepara, yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu, dan ruang lainnya yang berfungsi sebagai ruang kerja dan ruang istirahat Gubernur.

Di bagian belakang terdapat tambahan bangunan baru. Sampai saat ini bangunan induk masih seperti bentuk aslinya. Gedung ini, mengalami tiga kali perubahan nama, dari Gedung Keresidenan Cirebon (1865-1973), Gedung Kantor Pembantu Gubernur Wilayah III Cirebon (1974), dan kemudian Kantor Badan Koordinasi Wilayah Cirebon (2000-sekarang). Pada tahun 1991, gedung kantor baru ini baru diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat, Yogie S. Memet.

Gedung Bank Indonesia Cabang Cirebon

Gedung Bank Indonesia (https://www.thearoengbinangproject.com)

Gedung Bank Indonesia terletak di Jl. Yos Sudarso, Kampung Cangkol, Desa Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat.

Gedung tiga lantai ini berdiri di atas lahan seluas ± 1.961 m2. Fungsinya semula adalah Agenschap De Cheribon dan dibuka tanggal 31 Juli 1866 sebagai kantor cabang ke- 5 De Javasche Bank. Direnovasi dari hanya satu lantai menjadi tiga lantai, akhirnya pada tanggal 21 September 1919 gedung ini dirancang oleh arsitek F.D. Ciypers & Hulswit dengan gaya art deco. Eks Gedung De Javasche Bank Cabang Cirebon merupakan satu-satunya yang memiliki satu kubah sebagai tanda keunikannya. De Javasche Bank hingga sekarang sudah beberapa kali berganti nama; pada masa pemerintahan Jepang menjadi Hanpo Kaihatsu Ginko, kemudian Bank Indonesia. Dari tahun 1866 sampai dengan 1953 selalu dipegang oleh bangsa Belanda kecuali pada masa Jepang. Sejak tahun 1954 pimpinan kantor cabang dipegang oleh bangsa Indonesia.

Balai Kota Cirebon

Gedung Balaikota Cirebon (https://uniknya.com)

Gedung ini terletak di Jl. Siliwangi No. 84, Kampung Tanda Barat, Kelurahan Kejaksan, Kecamatan Kejaksan, Cirebon, Jawa Barat.

Pembangunan gedung ini diprakarsai oleh Jeskoot, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Stadsgemeente Cheribon, sedangkan perancangnya dikerjakan oleh dua orang arsitek bernama H.P Hamdl dan C.F.H. Koll. Bangunannya berbentuk anjungan kapal yang puncaknya dihiasi dengan empat ekor udang, binatang air yang lazim digunakan untuk julukan kota ini. Langgam arsitektur bangunan ini bergaya art deco yang sedang popular pada sekitar tahun 1920-an.

Stasiun Kereta Api Kejaksan

Stasiun Kereta Api Kejaksan (https://bisadillah.blogspot.com)

Stasiun kereta api ini terletak di Jl. Siliwangi, kelurahan Kebonbaru, Kejaksan, Cirebon, Jawa Barat. Karena terletak di kecamatan Kejaksan, Stasiun Cirebon kadang-kadang disebut juga Stasiun Kejaksan. Stasiun yang terletak di Daerah Operasi III Cirebonini terletak pada ketinggian 4 m di atas permukaan laut. Gedung Stasiun Cirebon yang sekarang dibangun pada tahun 1920 berdasarkan karya arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879–1955) dalam gaya arsitektur campuran art nouveau dengan art deco. Dua “menara”-nya yang sekarang ada tulisan CIREBON dulu ada tulisan KAARTJES (karcis) di sebelah kiri dan BAGAGE (bagasi) di sebelah kanan. Pada tahun 1984, gedung stasiun ini dicat putih.

Gedung PT. British American Tobaccos (PT. BAT)

Gedung BAT (https://doerayme.blogspot.com)

Jl. Pasuketan, Kampung Kebumen, Desa Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat.

Gedung PT B.A.T. pada awalnya merupakan perusahaan rokok SS Michael. Sebelum tahun 1925, mereka membelinya dan kemudian mengembangkannya secara besar-besaran. Bangunan dua lantai ini dibangun tahun 1924 oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit dengan gaya art deco. Anda akan melihat bahwa secara umum, bangunan ini terdiri dari lobi, ruang kantor, pabrik dan sarana penunjang, seperti mushola dan kantin. Material utama bangunan berupa besi, batu, bata merah, pasir, semen, kayu, marmer, tegel, keramik genteng, dan sabes. Warnanya didominasi warna putih dan biru. Pada tahun 1990-an, lantai pabrik semula terbuat dari kayu dan diganti dengan lantai marmer. Sejak gedung ini dibangun, nyaris tidak memiliki halaman dan hanya menyisakan lahan untuk pohon, pos polisi dan tempat untuk berjalan kaki.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.