Wisata Kuliner di Blitar, Murah Meriah Sampai yang Super Pedas

0060a-pecel2bmbok2bbari

Tiga tempat makan sederhana ini ternyata dikenal sebagai tujuan wisata kuliner yang paling banyak dikunjungi, baik warga Blitar maupun pendatang dari luar kota. Tak hanya harganya yang sangat bersahabat, tapi juga memiliki cita rasa yang khas di setiap masakannya.

Warung Mak Ti Murah & Ambil Sepuasnya

f8151-warung2bmak2bti2bblitar Warung Mak Ti (https://kulinerblitar.blogspot.com)

Siang itu suasana di ruang makan warung Mak Ti, di Desa Jatinom, Kec. Kanigoro, Kab Blitar (Jatim) dipenuhi banyak pengunjung. Mereka yang datang berombongan tak hanya berasal dari Blitar saja, tapi juga dari kota-kota lain seperti Nganjuk, Kediri, Jombang, dan lainnya. Mereka tampak begitu bersemangat ingin segera mencicipi masakan yang tersedia. Begitu memasuki warung, masing-masing mengambil piring kemudian memenuhinya sendiri dengan nasi dan aneka lauk-pauk.

Berbagai macam jenis sayur seperti lodeh tewel (nangka muda), lompong, pepaya muda, dan lainnya lengkap dengan sambal terhampar di sejumlah panci diatas meja. Ikan goreng seperti bader, wader, jendil, nila, baik yang digoreng maupun disayur juga tersaji. “Yang saya jual di sini, ya, masakan ala desa atau kampung saja,” kata Mak Ti yang memiliki nama lengkap Supiyati (51).

Uniknya, warung makan Mak Ti tidak berada di tengah kota, melainkan di dalam perkampungan yang jaraknya sekitar 10 Km dari jantungkota Blitar. Kendati jaraknya cukup jauh, namun tak mengurangi minat orang-orang yang ingin merasakan masakan olahannya. “Kalau pas hari libur, justru makin ramai pembeli,” kata ibu tiga anak yang masih tampak bugar dan segar ini.

0f640-mak2bti Warung Mak Ti (https://blitarrayakuliner.blogspot.com)

Mak Ti lalu menceritakan, ia mulai membuka warung makan sejak tahun 2000. Sebelum membuka usaha makanan, ia bekerja sebagai juru masak panggilan. Biasannya ketika ada orang di desanya menggelar hajat, Mak Ti lah yang mengolah masakan untuk para tamu. Karena secara ekonomi tak ada perkembangan, ia mencoba mendirikan warung makan kecil-kecilan di depan rumahnya.

Namun, sejak awal membuka warung, Mak Ti memang telah membuat konsep berbeda dari warung lainnya. Ia membuatnya mirip seperti restoran di kota zaman sekarang, all you can eat , setiap pembeli boleh mengambil makanan sepuasanya cukup hanya membayar Rp 5000.

Awalnya, pembelinya sebagian besar mereka yang akan mau berangkat atau pulang dari sawah. “Tujuan saya tidak muluk-muluk, yang penting tidak rugi, dan cukup makan buat anak-anak, serta bisa berbagi dengan warga yang ada disini,” ujar Mak Ti yang ketiga anaknya sudah berkeluarga dan berekonomi mapan.

75ece-warung2bmak2bti4 Petunjuk arah ke Warung Mak Ti (https://wisatakuliner.com)

”Kalau hari libur, pengunjung yang datang ke sini bisa berkali lipat jumlahnya,”ujar Mak Ti.

Masakan Rumahan

Rupanya, masakan sederhana, murah, meriah namun lezat itu diminati banyak orang. Dari mulut ke mulut kemudian informasi itu meluas hingga ke luar kampung bahkan sekarang sampai ke luar daerah. Bersamaan dengan bertambahnya jumlah pembeli, Mak Ti pun memperluas warung makannya. Bahkan bagian depan warungnya juga disediakan lahan parkir yang cukup luas. Karena yang datang ke warungnya tak hanya mobil kecil saja, tapi terkadang rombongan dengan minibus.

Saking sudah terkenalnya, yang makan di warung Mak Ti tak hanya masyarakat umum. Wapres Budiono, dan sejumlah artis, termasuk Farah Quin, selebrity chef yang pernah syuting di warungnya yang sederhana namun bersih. “Saya juga heran, warung saya yang cuma begini dengan masakan seadanya, kok, ya didatangi artis sampai pejabat penting,” imbuh ibu berkulit putih ini sambil tersenyum.

Padahal, menurut Mak Ti, ia tidak memiliki resep khusus dalam measak, hanya menggunakan bahan dasar pilihan, dari beras, bumbu, dan ikan air tawar pasokan dari pencari ikan di Bendungan Selorejo, Malang yang menjadi menu utamanya. Dalam sehari, ia mendapat pasokan 5 kuintal ikan segar, dari nila, mujair, bader, jendil, juga bandeng. “Kalau disuruh menjelaskan resepnya, saya pikir tidak ada bedanya dengan orang lain, cuma soal rasa, kan, memang sudah bawaan tangan, ya,” katanya sambil tertawa.

Soal harga, Mak Ti juga menyebutkan, terbilang murah. Pembeli bisa makan nasi dan lauk sepuanya cukup dengan membayar Rp 8 ribu ditambah Rp 2 ribu untuk segala jenis minuman yang ada. “Kalau mau tambah ikan satu piring penuh, baru saya minta tambahan Rp 5000, tapi kalau cuma mengambil dua atau tiga ikan saja, akan saya gratiskan,” imbuh Mak Ti.

Dengan meningkatnya jumlah pembeli, tentu penghasilannya jadi luar biasa. Rata-rata dalam sehari, ia menerima pemasukan Rp 8 – 10 juta. “Selain dimakan di tempat, tidak jarang pembeli juga minta diantar makannya. Saya juga melayani katering untuk rombongan dalam jumlah besar yang datang dari berbagai daerah,” imbuhnya.

Salah seorang pelanggan Mak Ti, Yuli, yang berdinas di Kantor Pendapatan Daerah Kab. Nganjuk terlihat datang bersama beberapa temannya untuk makan. Ia mengaku sudah sering menikmati masakan Mak Ti. “Kebetulan saya bersama teman-teman ada tugas di Blitar, jadi sebelum pulang kami sempatkan mampir makan siang bersama di sini,” imbuh Yuli.

Nasi Pecel Mbok Bari Langganan Bung Karno

2813c-warung2bpecel2bmbok2bbari Warung Pecel Mbok Bari (https://wisatakuliner.com)

Blitar juga terkenal dengan dengan nasi pecelnya. Bahkan, sambal pecel Blitar sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang. Salah satu penjual nasi pecel yang paling terkenal adalah Nasi Pecel Mbok Bari. Nasi pecelnya sudah sangat dikenal karena sudah ada sejak tahun 40-an.

“Dulu ibu saya (Mbok Bari) bersama nenek saya berjualan nasi pecel cerkeliling, sering dipanggil oleh Bung Karno dan keluarganya di kediamannya di Istana Gebang,” kata Abdul Rochim (52), anak keempat Mbok Bari, yang membuka cabang keempat yang lokasinya tak jauh dari makam Sang Proklamator di Sentul, Blitar.

Tak hanya itu, ketika Megawati Soekarnoputri naik menjadi presiden, saat bertandang ke Blitar untuk mengunjungi makam ayahnya, juga tak lupa menyempatkan diri untuk mampir makan nasi pecel di Mbok Bari. “Karena nama ibu saya sudah dipakai sejak puluhan tahun silam, jadi memang namanya lebih dikenal,” ujar Abdul Rochim didampingi istrinya Hj. Susiana yang sehari-hari tetap melayani pembeli.

0060a-pecel2bmbok2bbari Nasi Pecel Sayur (https://seven-des.blogspot.com)

Tanpa menyombongkan diri, Abdul Rochim menjelaskan, nasi pecel dari keluarga Mbok Bari, memang selalu menjadi jujugan atau panduan pembeli. Ia pun dulu mendapat didikan langsung dari sang ibu dalam berjualan nasi pecel. Ia masih ingat persis, setiap hari semua anak-anaknya punya kewajiban membuat berbagai kebutuhan sebelum warung nasi pecel buka di pagi hari. “Ibu memang tidak pernah mengajari secara khusus, tapi karena pekerjaan anak-anaknya sehari-hari membantu, jadi akhirnya bisa dengan sendirinya,” terang Abdul Rochim seraya mengatakan, Mbok Bari meninggal dunia tahun 2004 lalu.

Salah satu tugas Abdul Rochim dulu adalah membuat bumbu pecel. Karena saat itu belum ada alat penggiling, sehingga untuk menghaluskan kacang cuma ada satu cara yaitu ditumbuk di lumpang batu berukuran besar. “Waktu kecil, setelah salat Subuh, kami sudah dibangunkan untuk membantu membuat bumbu pecel di warung ibu,” papar Rochim.

Nasi Pecel Mbok Bari sudah ada sejak tahun 1940-an. Bahkan menjadi langganan Bung Karno dan keluarganya, termasuk Megawati Soekarnoputri.

Melayani Sendiri

Susiana juga ikut menjelaskan, pada dasarnya membuat bumbu pecel di manapun resepnya hampir sama. Tapi persoalannya, selain masing-masing orang memiliki perasaan yang berbeda dalam hal cita rasa, ada satu hal lagi yang dibutuhkan untuk menghasilkan bumbu yang lezat. Yaitu soal kualitas bahan.

Misalnya, untuk menghasilkan rasa bumbu yang pas, selain formula takaran antara satu bumbu dengan lainnya harus pas, kacang yang dijadikan bahan utama juga harus berkualitas terbaik. Di antarannya, ukuran butiran kacang itu harus rata satu dengan lainnya. “Misalnya, sebutir kacang berukuran 8 mm, maka secara keseluruhan juga harus berukuran 8 mm. Kalau yang lainnya lebih kecil-kecil, berarti itu kacang muda. Kalau tetap digunakan, rasanya akan jauh berbeda. Sebab ketika digoreng, kematangan tidak bisa sama antara satu butir kacang dengan lainnya,” imbuh Susiana.

Selain itu, untuk menghasilkan bumbu yang gurih, harus tetap menggunakan kacang lokal. Kacang “made in ” India yang saat ini banyak dijual di pasaran, apabila dijadikan bahan bumbu pecel akan menghasilkan bumbu yang kurang gurih. “Tak peduli kacang lokal harganya lebih mahal, tetap akan saya pilih demi menjaga kualitas. Kami, kan, sudah lama berjualan, jadi soal bahan tidak berani main-main,” imbuh Susiana seraya mengatakan, jika siang hari pembeli nasi pecelnya sebagian besar adalah para karyawan kantor pemerintahan.

Untuk saat ini, lanjut Susiana, dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 30 kilogram beras, bahkan jika musim liburan atau ada kegiatan di makam Bung Karno, dalam sehari ia bisa menghabiskan 75 kilogram beras. Sedangkan untuk sayuran pecelnya, ia menyediakan berbagai macam jenis, dari daun turi, bayam, kacang, kecipir, daun pepayan, daun ketela, cambah, juga daun kenikir.

Agar makin bersemangat makan, pembeli diminta mengambil sendiri nasi dan lauk pauk mendamping pecelnya, seperti tahu, tempe, dan berbagai masakan ikan. “Kalau diminta mengambil sendiri, kan, ada kesan pembeli jadi merasa lebih istimewa daripada diladeni,” ujar Susiana.

Warung Bu Martumi Masuk Sampai Dapur

31e58-warung2btewel2bmbah2bmartumiWarung Bu Martumi (https://wisatakuliner.com)

Ada satu lagi, tempat makan di Blitar yang mungkin bisa dijadikan salah satu alternatif berwisata kuliner, yaitu warung makan Bu Martumi (71) yang ada di Desa Ngoran, Kec. Nglegok, Blitar (Jatim) atau berjarak sekitar 9 Km dari pusat kota Blitar. Warung Bu Martumi ini memilik kekhasan tersendiri dalam mengolah masakannya, yaitu serba super pedas. “Meski tempo hari harga cabai sempat melambung tinggi kami tidak akan mengurangi kepedasannya,” kata Bu Martumi sambil tertawa.

Masakan yang dijual Bu Martumi memang khas tradisional. Mulai dari lodeh tewel, rebung, kentang, petai, dan sayur berkuah lainnya. Sedangkan lauk lainnya, mulai dari ayam kampung yang disayur, ikan gabus, lele, telur, serta lainnya. Ibu seorang anak yang masih tampak bugar itu membuka warung makannya sejak tahun 1962 di depan rumahnya. Saat itu, pembelinya sebagian besar adalah para pedagang yang hendak berangkat atau pergi ke pasar, serta pekerja yang akan berangkat ke sawah.

Selain berharga murah, masakannya dikenal sangat lezat, sehinga warungnya menjadi langganan warga yang ada di sana. “Warung saya mulai ramai tiga tahun kemudian setelah dibuka, tepatnya tahun 1965, sampai sekarang,” imbuh nenek empat cucu dan lima cicit ini. Bu Martumi berjualan masakan di rumahnya sejak pagi hingga menjelang sore. Sedangkan pada sore sampai dini hari, ia berjualan di Pasar Ngentak yang tak jauh dari rumahnya. “Tapi yang menunggui warung di pasar, anak dan cucu. Saya sudah tidak kuat bekerja sampai larut malam,” paparnya.

d6415-warung2btewel2bmbah2bmartumi4Nasi dengan sayur gori di Warung Bu Martumi (https://wisatakuliner.com)

Harga seporsi nasi di warung Bu Martumi cukup murah Rp 2500. Bahkan diberi gratis bila ingin menambah nasi.

Gratis Nasi

Salah satu rahasia warungnya tetap ramai, salah satunya karena pembeli boleh mengambil makanan sepuasnya. Untuk nasi, Bu Martumi hanya menghitung sekali Rp 2.500, sedangkan untuk menambah nasi tak akan dihitung lagi alias gratis. Sementara, harga lauknya berbeda-beda. Satu potong ayam kampung harganya Rp 5000, bandeng goreng Rp 4000, dan yang agak mahal adalah ikan gabus yaitu mencapai Rp 5 – 15 ribu per ekor, tergantung besar dan kecilnya.

Yang menarik, para pembeli diperlakukan layaknya penghuni rumah, artinya pembeli bisa masuk ke dapur dan bisa mengambil segala yang disuka, mulai lauk sampai berbagai sayur lengkap dengan sambal dan lalapnya. Untuk menikmati makanannya, disediakan meja dan kursi di rumahnya yang sederhana. “Nanti setelah pembeli mau pulang baru dihitung apa saja yang di dhahar,” ujar Bu Martumi yang dalam sehari menghabiskan 2 kuintal nangka muda dan 1/2 kuintal cabai.

Saat ini, lanjutnya, pembelinya sudah melebar. Bukan hanya warga Blitar saja, tapi banyak yang datang dari berbagai kota lain. “Kami juga menerima berbagai pesanaan untuk acara-acara perkantoran atau hajatan,” pungkasnya.

Sumber: Tabloitnova 1 dan Tabloitnova 2

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kuliner Khas Surabaya

Mon Aug 18 , 2014
Surabaya, provinsi terbesar kedua sesudah Jakarta, kotanya penuh dengan pepohonan hingga membuat sejuk, damai dan tenang. Paling saya suka mengemudi kendaraan di Surabaya, tenang dan santai; seperti di Yogyakarta, dengan jalan yang lebar, banyak dijumpai jalan flyover, dll; padahal belum semacet di Jakarta. Mungkin Walikota Surabaya belajar dari Jakarta ya? […]