Batik Ponorogo

f738f-batikponorogo-bledhakmerak

Kota Ponorogo Jawa Timur tak hanya terkenal dengan reognya, tapi juga batik dengan corak khas merak dan reog. Sejarah pembatikan Ponorogo berkaitan dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Karena Raden Bathoro Katong yang juga di sebut sebagai Raden Katong dan Adipati Ponorogo merupakan pejuang Islam dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan. Perkembangan selanjutnya, di daerah Tegalsari Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Saat itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Putri keraton Solo yang menjadi istri Kyai Hasan Basri diboyong ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. Disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Batik Ponorogo Motif Merak 

1b876-batikponorogo-merakSumber: https://batikindonesia.com

Batik Ponorogo sempat tenggelam dan menghilang dari pasaran, ketika semua kabupaten di Provinsi Jawa Timur memunculkan kain batik tulis dengan corak daerah masing-masing. Padahal, Ponorogo dulunya merupakan salah satu kota di Indonesia yang pernah menjadi bukti sejarah perbatikan di Indonesia. Pada era tahun 1960-1980, kota Ponorogo memiliki 750 pembatik. Pembatik tersebut berlindung di bawah dua koperasi yang menjadi induk ekonomi para pembatik, yaitu dua koperasi yang khusus mengurusi pengusaha batik. Sebagai bukti pernah jayanya ekonomi Ponorogo dengan batik, bisa dilihat banyaknya bangunan tua yang ada di Ponorogo. Daerah perbatikan lama yang bisa dilihat sekarang ialah di daerah Kauman (sekarang Kepatihan Wetan), Desa Ronowijayan, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Namun pada akhir tahun 1980-an masuklah batik printing, mulai saat itu kondisi batik mulai mengalami penurunan. Banyak pengusaha yang gulung tikar dan beralih profesi.

Pengakuan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia oleh UNESCO merupakan angin segar bagi pembatik di Ponorogo. Para pembatik memiliki kekuatan baru untuk kembali bangkit karena permintaan cenderung meningkat. Tahun 2009 adalah tahun kebangkitan batik khas Ponorogo. Pengrajin batik berharap mampu mengembalikan kejayaan batik Ponorogo seperti awal abad ke-20. Dukungan pemerintah juga sangat penting untuk mampu meningkatkan dan mengembangkan batik Ponorogo. Sebab, tak ada perkembangan batik di daerah manapun tanpa campur tangan pemerintah. Misal, Pemda menghimbau agar para PNS memakai seragam batik dengan corak kas Ponorogo.

Batik Corak Khas Ponorogo 

0930b-batikponorogo-motifreogSumber: https://kata-katakota.blogspot.com

Batik Ponorogo terbagi dua, yaitu batik klasik Ponorogo dan batik kontemporer Ponorogo. Batik klasik memiliki warna yang cenderung gelap dengan motif flora dan fauna yang motifnya condong ke Solo dan Jogjakarta. Motif-motif itu diantaranya adalah latar ireng reog, sekar jagad, djarot asem, klitik dan sebagainya. Batik Ponorogo juga terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini, motifnya antara lain merak tarung, merak romantis, dan batik reog. Kain batik yang diproduksi tidak melulu tulis, tetapi juga cap sehingga semua kalangan mampu membeli batik.

Batik Klasik Ponorogo 

d18af-batikponorogo-klasikSumber: https://batikcity.com

Sedangkan untuk batik kontemporer memiliki motif abstrak sehingga tidak bisa ditiru. Salah satu batik kontemporer Ponorogo yaitu Batik Lesoeng, batik ini mulai populer sekitar 5 tahun yang lalu. Batik Lesoeng adalah batik dengan lebih memberikan warna dalam batik yang sudah ada, memberikan kesan yang berbeda agar lebih menarik dan memberikan energi baru untuk para pengrajin batik dan pecinta batik. Warna batik juga eksklusif karena pewarnaan memanfaatkan daun atau pohon, bukan produk kimia dengan warna dominan yang berupa warna merah, hijau, dan biru. Hal tersebut dikarenakan pada awal penciptaannya batik ini terinspirasi dari kesenian reog Ponorogo yang sering menggunakan warna burung merak. Yang menjadi keistimewaan dari batik ini adalah motif yang dihasilkan tidak ada yang sama persis. Batik Lesoeng merupakan gabungan dari batik tulis dan lukis sehingga proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama, antara 15 sampai 30 hari.

Batik Lesoeng 

d3ec0-batikponorogo-batiklesoengSumber: https://indonesiarayanews.com

Semakin berkurangnya usaha batik di Ponorogo karena minimnya modal dan promosi. Para generasi muda lebih banyak memilih bekerja di luar daerah atau negeri ketimbang berkutat dengan canting. Keadaan ini pula yang menjadi alasan batik ponorogo semakin terpuruk keberadaannya. Faktor lain, maraknya penjiplakan motif asli yang menjadi ciri khas daerah untuk kepentingan komersial. Setiap ada corak baru, dalam waktu sekejap corak tersebut langsung menjadi produk massal. Hampir semua perajin memproduksi corak serupa, hanya dengan warna yang sedikit berbeda atau bahkan benar-benar mirip. Diharapkan ada langkah pencegahan penjiplakan seni batik. Sehingga, motif khas batik suatu daerah dipatenkan dan diakui hak ciptanya untuk tidak ditiru demi kepentingan komersial semata. Walaupun bagi pengusaha, perilaku membebek di kalangan perajin batik merupakan tantangan. Justru dengan cara demikian memaksa perajin untuk lebih kreatif memunculkan corak baru, tetapi tetap dalam kerangka bercirikan Ponorogo.

Batik Ponorogo Motif Bledhak Merak

3763a-batikponorogo-bledhakmerakSumber: https://batikkeris.net

Batik Ponorogo adalah kebudayaan milik bersama yang harus dijaga dan dikembangkan oleh masing-masing pribadi untuk kepentingan bersama. Perlu adanya kerjasama antara pemerintah, peneliti, kalangan akademisi dan masyarakat Ponorogo untuk mengangkat kembali batik agar dapat eksis dan menjadi tren model untuk semua kalangan. Salah satu upayanya yaitu meningkatkan keahlian dan kreativitas, Pemda juga terus melakukan pelatihan dan pembinaan bagi pembatik Ponorogo. Diharapkan dengan pembinaan ini, pembatik Ponorogo akan menciptakan batik khas Ponorogo lainnya yang diminati pasar. Semoga bermanfaat.

Sumber: Fitinline

One thought on “Batik Ponorogo

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.