Wisata Sejarah di Bengkulu

Bengkulu yang ditetapkan sebagai propinsi pada 18 November 1968, memiliki sepuluh kabupaten dan kotamadya, yakni Kota Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Muko Muko, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur dan Kabupaten Seluma.

Obyek wisata yang dimiliki berupa hutan hujan tropis dan menjadi habitat bunga Rafflesia Arnoldi dan Bengkulu mendapat julukan Bumi Rafflesia. Nama Rafflesia Arnoldi ini merupakan gabungan nama. Bunga terbesar di dunia ini, ditemukan pertama kali di Bengkulu pada 20 Mei 1818 oleh gubernur jendral Inggris Thomas Raffles asal Inggris dan ahli botani dr. Arnoldi.

Pada 24 Juni 1685, Inggris masuk Bengkulu (dirintis oleh VOC mendirikan perwakilan pada 1664, meski 6 tahun kemudian menutupnya dan kembali pada 1824) untuk melakukan perniagaan, melakukan monopoli lada, dan mengadili rakyat yang melawan kolonialnya. Benteng Marlborough dibangun pada 1714 – 1741 oleh British East Indian Company di masa gubernur jendral Joseph Callet, salah satunya untuk mengatasi pemberontakan rakyat Bengkulu dipimpin Sultan Mansyur dan Sultan Sulaiman.

Bengkulu juga menjadi tempat bersejarah ketika Soekarno, presiden pertama Indonesia menjalani masa pengasingan selama empat tahun, 1938-1942 oleh kolonial Belanda. Soekarno menikah dengan Fatmawati yang merupakan ibu dari mantan presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Bung Karno  (1939 – 1942) – https://bengkulennews.com

Tempat ini berada di Jalan Jeruk dan sekarang menjadi Jalan Soekarno-Hatta. Di sini merupakan tempat tinggal Presiden Republik Indonesia, Soekarno selama diasingkan pada zaman Hindia-Belanda (1939 – 1942).

Rumah pengasingan ini ukuran aslinya adalah 162 m² dengan bangunan 9 x 18 m. Bentuk bangunannya empat persegi panjang tidak berkaki dan dindingnya polos. Memiliki halaman yang cukup luas dengan atap berbentuk limas. Pintu utamanya berdaun ganda berbentuk persegi panjang dengan jendela persegi panjang berhias kisi-kisi. Belum diketahui kapan rumah ini pertama kali didirikan namun diperkirakan dibangun awal abad ke-20.

Awalnya rumah tersebut merupakan milik pengusaha Tionghoa bernama Tan Eng Cian yang bekerja saat itu sebagai penyumplai sembako untuk Pemerintah Hindia Belanda. Anda masih dapat melihat ciri rumah Cina dari bangunannya pada lubang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu bermotif huruf Cina. Rumah ini kemudian disewa oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.

Di rumah ini tersimpan benda-benda peninggalan Bung Karno yang memiliki nilai sejarah sekaligus menemani Bapak Proklamator dalam menyusun strategi-strategi perjuangan selama di pengasingan. Pembagian ruangan dan penataan koleksi benda bersejarah di rumah ini rapi dan teratur.

Di Rumah Pengasingan Bung Karno (https://beatricejunell.blogspot.com)

Di Rumah Pengasingan Bung Karno Anda dapat melihat langsung sepeda ontel kesayangan Bung Karno. Sejumlah foto yang dipajang secara acak di beberapa ruangannya. Bahkan, ada pula surat cinta Bung Karno untuk Ibu Fatmawati.

Beragam buku koleksi Bung Karno tersimpan di dua lemari kaca. Beberapa koleksi buku Bung Karno adalah: “Het Post Zegelboek”, “Jong Java’s Lief en Leed”, “The Automatic Letter Writer”, “Plammarion-in Het Stervensuur”, “Mia Bruyn-Buwehand”, “de Rhynmonders”, dan “Katholieke Jeugdbubel”.

Terpajang juga kursi, meja, hingga tempat tidur yang digunakan Bung Karno. Di salah satu ruangannya dapat Anda temukan sebuah mesin jahit antik yang dulunya biasa dipakai Ibu Fatmawati. Sejumlah perlengkapan rumah tangga yang dulu digunakan Bung Karno pun masih tersimpan di sini.

Ada juga beberapa kostum yang biasa dipakai untuk pertunjukan tonil. Dimana saat pengasingannya di Bengkulu, Bung Karno menulis naskah tonil berjudul “Monte Carlo”. Naskah tersebut dipentaskan dimana buktinya tersimpan di beberapa lemarinya berupa kostum para pemeran sandiwara “Monte Carlo” tersebut.

Saat ini bangunan lamanya masih dipertahankan seperti awalnya hanya saja pada 2006 Pemprov Bengkulu menambahkan bangunan bernama Persada Bungkarno yang berfungsi sebagai museum, perpustakaan, ruang pertemuan, dan gedung pertunjukan.

Rumah Fatmawati Soekarno

Rumah Fatmawati Soekarno (https://wisata.kompasiana.com)

Ibu Fatmawati yang bernama asli Fatimah lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923 dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Hassan Din sendiri adalah seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Ibu Fatmawati menikah dengan Bung Karno pada 1 Juni 1943, setelah sebelumnya keduanya bertemu pada saat pengasingan Bung Karno di daerah Anggut Atas, Bengkulu tahun 1938-1942. Dari pernikahan pasangan ini, lahirlah Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra. Beliau meninggal 14 Mei 1980 di Kualalumpur, Malaysia.

Fatmawati adalah seorang wanita yang berasal dari Bengkulu, namanya menjadi harum karena beliau adalah salah seorang istri Ir. Sukarno President Republik Indonesia yang pertama, yang yang menjahit dan mempersiapkan Sang Saka Bendera pusaka merah putih yang berkibar di hari proklamasi 17 Agustus 1945. Saksi sejarah tersebut berupa sebuah rumah yang terletak di Anggut Kota Bengkulu, berjarak kira-kira 600 meter dari rumah Sukarno.

Mesin Jahit (https://wisata.kompasiana.com)

Rumah Keluarga Fatmawati, dari luar sangat terlihat kesan rumah khas Sumatera yang berupa rumah panggung. Rumah yang berbahan kayu dan bercat coklat ini, tampak sangat indah dan asri karena cukup terawat. Rumah Keluarga Fatmawati ini dikelola oleh Yayasan Ibu Fatmawati. Walaupun rumah yang ada saat ini memang merupakan replika, Rumah Keluarga Fatmawati ini, benar-benar dikondisikan seperti aslinya, terutama bagian dalam rumah. Untuk rumah aslinya, berada di Jalan S Parman, sayangnya saat ini, rumah yang asli tersebut sudah tidak ada lagi. Maka dari itu, dibangunlah replika rumah yang menyimpan aset sejarah ini.

Suasana di sekitar rumah dengan nomor 10 ini, cukup tenang dan asri, karena tidak begitu ramai. Sayangnya, hal ini membuat salah satu aset wisata sejarah di kota Bengkulu ini, kurang dikenal oleh masyarakat maupun wisatawan.

Foto Ir. Sukarno dan Fatmawati (https://wisata.kompasiana.com)

Di dalam rumah ini, kita bisa menemukan koleksi-koleksi pribadi milik Ibu Fatmawati. Bahkan perabot rumah yang dimiliki rumah ini pun masih ada seperti lemari, ranjang besi, meja rias, kursi dan lain sebagainya. Pakaian yang dipakai ibu Fatmawati pada masa itupun masih terpajang dengan baik di rumah ini. Di bagian dinding juga terpajang foto-foto kenangan masa lalu ibu Fatmawati sejak masa kecil hingga dewasa.

Kita juga bisa melihat foto-foto kenangan antara bapak presiden pertama Ir. Soekarno dengan Ibu Fatmawati dengan jelas karena di kota inilah pertemuan dan cinta antara Ibu Fatmawati dan Bapak Soekarno muncul, hingga akhirnya mereka menikah pada tanggal 1 Juni 1943 dan menghasilkan lima orang anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh.

(https://wisata.kompasiana.com)

Hal yang cukup menarik dan bernilai sejarah adalah, mesin jahit yang terletak di sebuah ruangan di rumah ini. Mesin jahit tersebut pernah digunakan untuk menjahit sebuah bendera Kebangsaan Indonesia, yaitu bendera Merah Putih ketika pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berlangsung pada tahun 1945 silam.

Makam Sentot Alibasyah

Makam Sentot Alibasyah (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/)

Sentot Alibasyah adalah seorang panglima perang pendukung Pangeran Diponegoro, pada perang Diponegoro (1825-1830). Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro, Sentot dan para pengikutnya dimanfaatkan oleh Belanda untuk memerangi kaum Paderi di Sumatera Barat. Karena dianggap bersimpati terhadap perjuangan kaum Paderi, akhirnya Sentot Alibasyah dibuang hingga akhir hayatnya di Bengkulu. Makam Sentot Alibasyah berlokasi di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu.

Meriam Honisuit

Meriam honisuit yang dijadikan monumen di Bundaran Jalan Raya Padang Panjang Kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Meriam berukuran raksasa dengan berat 2,2 ton, panjang Laras 3,4 m, Kaliber 19,01 cm. Pada tahun 1942 dibawa ke Kota Manna dari Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan untuk pertahanan pantai pasukan Jepang dari serangan pasukan Sekutu.

Benteng Marlborough (Fort Marlborough)

Pintu masuk Benteng Marlborough (https://perahukayu.wordpress.com)

Benteng Marlborough yang berada di Jalan Ahmad Yani, Kota Bengkulu. Benteng ini dibangun oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. Konon, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St. George di Madras, India.

Benteng Marlborough dibangun menghadap ke ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia dengan luas sekitar 44.100 meter persegi. Dengan arsitektur khas abad ke-18, bangunan benteng ini juga mirip dengan kura-kura. Pintu utama Benteng Marlborough dikelilingi parit yang luas hanya dapat dilalui dengan jembatan dan juga terdapat pintu keluar bawah tanah yang saat itu digunakan untuk berperang.

Berbagai lokasi Benteng Marlborough (https://arisabenk.hexat.com)

Benteng ini pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu; sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke Madras. Mereka kemudian kembali tahun 1724 setelah diadakan perjanjian. Tahun 1793, serangan kembali dilancarkan. Pada insiden ini seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian pada tahun 1807, residen Thomas Parrjuga tewas. Keduanya diperingati dengan pendirian monumen-monumen di kota Bengkulu oleh pemerintah Inggris.

Marlborough masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia-Belanda tahun 1825-1942, Jepang tahun 1942-1945, dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun1948, benteng itu manjadi markas Polri. Namun, pada tahun1949-1950, benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.

Rumah Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles

Rumah Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles (https://travel.detik.com)

Thomas Stamford Raffles adalah Gubernur terakhir Inggris di Bengkulu. Dalam masa kekuasaannya Raffles tinggal di rumah ini, selain digunakan sebagai tempat tinggal, juga dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas dalam pemerintahannya. Kini di pekarangan rumah bercat putih ini memelihara banyak kijang. Hingga setiap sore banyak masyarakat berkunjung kesini membawa anak cucu untuk memberi makan kijang.

Monumen Parr dan Monumen Hamilton

Monumen Parr (https://m.indonesia.travel)

Monumen Parr terletak di depan Pasar Barukoto diseberang benteng Marlborough, sedangkan Monumen Hamilton terletak di Jalan Soekarno-Hatta.

Monumen Hamilton (https://rejang-lebong.blogspot.com)

Monumen ini dibangun oleh Inggris untuk memperingati seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian pada tahun 1807, residen atau Gubernur Jendral Thomas Parr juga tewas dalam insiden pembakaran Benteng rakyat Bengkulu.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.