Peninggalan Kasultanan Ternate Maluku Utara

Sejarah singkat, pemerintatahan Maluku Utara dimulai tahun 1257, Pembentukan kerajaan Moloku dengan Baad Mansur Malomo sebagai Penguasa. kekuasan raja-raja Ternate, membauat Raja-raja tersebut dijuluki sebagai raja Cengkih, kedatangan Portugis menimbulkan persatuan Kerajaan-kerajaan Maluku yang disebut Moloku Rie Raha pada 1530 untuk melawan Portusgis.

Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara total, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai “Sultan Bualawa” (Sultan Cengkih).

Hal ini berlanjut hingga kedatangan Portugis ke-wilayah ini, pada abad ke-16, namun keberadaan islam yang lebih awal telah memberikan kekuatan tersendiri bagi Muslim Maluku.

Museum Kedaton Sultan Ternate (https://radar08.blogspot.com)

Keberadaan Ternate sebagai pusat kekuatan utama di kepulauan rempah-rempah, merupakan suatu hasil dari gabungan (aliansi) antara empat kerajaan yaitu : Ternate, Tidore, jailolo dan Bacan. Aliani amat kaut sehingga berhasil memilki wilayah kekuasaan diwilayah timur indonesia seperti : Sulawesi Utara, Kepulauan selatan Filipina, dan Irianjaya.

Namun demikian terjadi rivalitas atau persaingan antara kedua kerajaan antara Ternate dan Tidore, dalam yang pada perkembangannya kedua kekuatan tersebut masing-masing di sokong oleh kekuatan Asing Seperti Ternate dengan Portugis dan Tidore dengan Spanyol. Pada tahun 1529 Ternate berhasil mengalahkan Tidore namun kemenangan ini memulai krisis Ternate.

Akibat Agretifitas Portugis, Ternate membangun kekuatan untuk melawan Portugis tapi berakhir dengan terbunuhnya Sultan Khairun di Loji Portugis. Kemudian pengganti sultan Khairun, Sultan Baabullah Portugis berhasil di usir. Namun kemenangan tersebut bukan menjadi kemenangan bagi kerajaan Ternate, sebab pada abad 16 Ternate menjadi wilayah taklukan VOC.

Museum Kedaton Sultan Ternate (https://gilangtamma.com)

Peninggalan Kasultanan Ternate

Sultan Ternate ke 48 : Mudaffar Sjah, permaisuri (jo ou ma boki) dan anak-anaknya (https://www.fotografer.net)

Sebagai kesultanan, Ternate tentu memiliki tingkat kemakmuran tinggi, setidaknya seperti yang tampak pada penampilan fisik kerajaan dan keluarga kerajaan. Emas merupakan salah satu indikatornya. Penggunaan berbagai bentuk emas sebagai hiasan tubuh, seringkali membuat tercengang orang Eropa yang menyaksikannya. Catatan Francis Drakke (1580) menggambarkan pakaian Sultan Ternate yang bertemu dengannya sebagai: “…Pakaian benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas dan kalung raksasa dari emas murni…”.

Koleksi emas Kesultanan Ternate baik yang diperagakan dalam vitrim museum yang disimpan oleh keluarga kesultanan antara lain berupa mahkota, kelad bahu, kelad lengan, giwang, anting-anting, buah baju, cincin, gelang, serta bentuk hiasan lainnya.

Mahkota Berambut Kesultanan Ternate (https://tourismnews.co.id)

Mahkota Berambut Kesultanan Ternate merupakan benda bersejarah yang tersimpan di Keraton Kesultanan. Masyarakat adat Ternate menyebut mahkota dalam bahasa daerah stampa. Mahkota Berambut bernilai sakral bagi masyarakat Ternate. Rambut yang ada di atas mahkota, konon bertambah panjang setiap tahun.

Mahkota tersebut juga berfungsi untuk memilih calon Sultan Ternate. Konon, setiap anak lelaki keturunan Sultan Ternate harus mencoba Mahkota Berambut. Jika Mahkota berhasil melekat dan pas di kepala seseorang calon, maka orang itulah yang terpilih menjadi Sultan Ternate. Satu dari lima binatang penjaga tersebut dipilih sebagai simbol kesultanan, yakni burung garuda. Lambang burung garuda berkepala dua berarti kerajaan Moloku Kie Raha terbentuk pada 1322. Sementara simbol burung hati terbalik mengandung makna, Sultan Ternate harus selalu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya.

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.