Wisata Sejarah di Sumatera Barat

Secara geografis, Sumatra Barat merupakan daerah tropis dengan hutan dan curah hujan yang tinggi. Wilayah ini juga dilintasi pegunungan Bukit Barisan, sehingga terdapat banyak lembah atau ngarai serta danau, suatu fenomena alam yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Para pelancong pasti akan berdecak kagum melihat betapa indahnya bumi Minangkabau. Selain itu juga banyak ditemukan jejak-jejak (peninggalan) jaman pra sejarah hingga kemerdekaan.

Saat ini, Kota Padang telah bergabung ke dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Setidaknya terdapat 76 bangunan cagar budaya di Kota Padang berdasarkan SK Walikota Padang Nomor 03 Tahun 1998. Namun, bangunan yang terbanyak tersebut tersebar di empat kecamatan yang meliputi Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Timur, Kecamatan Padang Selatan dan Kecamatan Lubuk Begalung.

Sahabat GPS Wisata Indonesia, disusun kembali dari beberapa nara sumber, berupa peninggalan kuno yang ada di kota atau kabupaten di provinsi Sumatera Barat.

Kota Padang

Kota Tua Padang (*)

Gedung-gedung di tepian sungai Batang Arau yang merupakan Pelabuhan Muaro sekitar tahun 1890-1930 (https://kidalnarsis.blogspot.co.id)

Seperti dikutip dari laman blueoctopus13, kota Padang adalah salah satu Kota tertua di pantai barat Sumatera di Lautan Hindia. Menurut sumber sejarah pada awalnya (sebelum abad ke-17) Kota Padang dihuni oleh para nelayan, petani garam dan pedagang. Ketika itu Padang belum begitu penting karena arus perdagangan orang Minang mengarah ke pantai timur melalui sungai-sungai besar. Namun sejak Selat Malaka tidak lagi aman dari persaingan dagang yang keras oleh bangsa asing serta banyaknya peperangan dan pembajakan, maka arus perdagangan berpindah ke pantai barat Pulau Sumatera.

Suku Aceh adalah kelompok pertama yang datang setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada akhir abad ke XVI. Sejak saat itu Pantai Tiku, Pariaman dan Inderapura yang dikuasai oleh raja-raja muda wakil Pagaruyung berubah menjadi pelabuhan-pelabuhan penting karena posisinya dekat dengan sumber-sumber komoditi seperti lada, cengkeh, pala dan emas.

Peta perkembangan Kota Tua Padang (https://kidalnarsis.blogspot.co.id)

Kemudian Belanda datang mengincar Padang karena muaranya yang bagus dan cukup besar serta udaranya yang nyaman dan berhasil menguasainya pada Tahun 1660 melalui perjanjian dengan raja-raja muda wakil dari Pagaruyung. Tahun 1667 Belanda membangun gudang-gudang untuk menumpuk barang sebelum dikapalkan melalui pelabuhan Muara Padang yang berada di muara Batang (sungai) Arau. Kawasan inilah yang merupakan kawasan awal Kota Tua Padang. Batang Arau yang berhulu sekitar 25 kilometer ke pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu dari lima sungai di Padang. Sungai ini sangat penting karena posisinya sangat strategis dibanding Batang Kuranji, Batang Tarung, Batang Tandis dan Batang Lagan. Status sebagai pusat perniagaan kemudian memacu pertumbuhan fisik kota dan semakin berkembang pasca terbangunnya pelabuhan Emma Haven yang sekarang disebut sebagai Teluk Bayur pada abad ke 19.

Jalan Pasar Gadang

Bangunan tua di kawasan jl.Pasar Gadang

Konon katanya  Belanda membangun gudang-gudang untuk menumpuk barang sebelum dikapalkan melalui pelabuhan Muara Padang yang berada di muara Batang Arau. Batang Arau yang berhulu sekitar 25 kilometer ke pegunungan Bukit Barisan merupakan salah satu dari lima sungai di Padang. Sungai ini sangat penting karena posisinya sangat strategis dibanding Batang Kuranji, Batang Tarung, Batang Tandis dan Batang Lagan.

Bangunan tua di kawasan jl.Pasar Gadang

Bangunan tua di kawasan jl.Pasar Gadang

Status sebagai pusat perniagaan kemudian memacu pertumbuhan fisik kota dan semakin berkembang pasca terbangunnya pelabuhan Emma Haven yang sekarang disebut sebagai Teluk Bayur pada abad ke 19. Kota ini lebih melesat lagi setelah ditemukannya tambang batubara di Umbilin, Sawah Lunto/Sijunjung, oleh peneliti Belanda, De Greve. Namun sentra perdagangan tetap di Muaro.

Bangunan tua yang dibangun tanggal 5 – 2 – 1918 tampak tak terawat

Kawasan yang dahulunya pernah ramai dan menjadi cikal-bakal kota Padang ini, kurang terawat. Sepanjang Muaro, Pasar Gadang, Pasar Mudik dan Pasar Batipuh saat ini hanya difungsikan sebagai gudang saja. Nilai estetikanya kurang diperhatikan sebagian gedung-gedung tersebut dibiarkan begitu saja menghitam karena timbunan lumut. Muaro masa kini memang masih menjadi daerah perniagaan tetapi tidak seramai jaman dahulu.

Gedung Bekas Padangsche Spaarbank (*)

Gedung bekas Padangsche Spaarbank (https://kidalnarsis.blogspot.co.id)

Gedung ini berlokasi di Jalan Batang Arau No. 33 Kelurahan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang,  didirikan pada tahun 1908, bergaya neo klasik eropa yang berkembang pada awal abad 20, memiliki dua lantai dan tinggi 35 meter, yang berdiri membelakangi Sungai Batang Arau.

Bekas Bank Tabungan Sumatera Barat (https://kidalnarsis.blogspot.co.id)

Gedung Padangsche Spaarbank  pernah digunakan sebagai Kantor Bank Tabungan Sumatra Barat sebelum direnovasi pada tahun 1992.

Sekarang menjadi Hotel Padang Arau (https://padangschebovenlanden01.blogspot.co.id)

Gedung Padangsche Spaarbank  pernah digunakan sebagai Kantor Bank Tabungan Sumatra Barat sebelum direnovasi pada tahun 1992. Sejak tahun 1994, dijadikan Hotel Batang Arau.

Museum Bank Indonesia (*)

Museum Bank Indonesia (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Batang Arau Nomor 60, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat atau depan Jalan Siti Nurbaya.

Awalnya, gedung Museum Bank Indonesia ini merupakan Kantor De Javasche Bank (DJB) Padang, atau dalam bahasa Belandanya De Javasche Bank Agentschap Padang. DJB Agentschap Padang merupakan kantor cabang DJB yang ke-3 setelah kantor cabang Semarang dan Surabaya, serta merupakan kantor cabang yang pertama di luar Pulau Jawa, didirikan pada tahun 1930, gedung ini dibuka pertama kali pada 29 Agustus 1864 dengan direktur pertamanya bernama A.W Verkouteren.

Seiring Padang berkembang menjadi kota perdagangan dan militer di pesisir Barat Sumetera antara abad ke-18 sampai abad ke-19, menjadikan Padang sebagai pintu utama perdagangan dan keuangan di Sumatera pada saat itu. Kondisi ini yang menyebabkan direksi DJB memutuskan untuk memperbarui gedung yang lama dengan gedung yang lebih modern pada tahun 1912. Karena terganjal perizinan, mengingat daerah tersebut direncanakan menjadi areal pelabuhan, maka baru bisa direalisasikan pembangunannya pada 31 Maret 1921.

Pembangunan gedung BI di kawasan Muaro melibatkan biro arsitek ternama dari Batavia, NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed Cuypers te Amsterdam, atau biasa disingkat menjadi Biro Fermont-Cupers. Pada tahun tersebut, nama Hulswit sudah tidak dicantumkan lagi pada nama biro tersebut karena Hulswit sudah meninggal. Biro ini mengerjakan mulai dari desain gedung sampai kepada pelaksanaan fisik gedungnya. Gedung ini rampung, dan mulai difungsikan pada tahun 1925. Kemudian Gubernur DJB di Padang kala itu dijabat oleh Mr. L.J.A. Trip.

Bangunan DJB Padang ini memiliki kemiripan desainnya dengan DJB Kediri. Gedung ini bergaya arsitektur modern yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia, ciri yang menonjol adalah bagian atapnya menyerupai atap masjid. Atap berbentuk limasan dengan bagian puncaknya berbentuk kubah. Atapnya terbuat dari genteng. Pintu masuk berada di tengah yang menghadap ke timur. Sekeliling dinding bangunan terdapat jendela kaca yang diberik jeruji besi, jendela dibuat ramping dan tinggi. Di bagian depan terdapat 9 buah jendela, di bagian samping masing-masing ada 4 buah jendela yang sama. Bangunan ini berdenah segi empat. Di bagian muka, bagian tengah agak menjorok keluar. Arsitektur bangunan ini sedikit banyak dipengaruhi juga dengan gaya bangunan joglo. Hanya saja, pintu-pintunya yang lebar dan tinggi ini mengadopsi gaya Eropa.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung DJB pernah diambil alih dan kemudian diganti menjadi Nanpo Kaihatsu. Pada Oktober 1945, Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Beberapa wilayah di Indonesia berhasil dikuasai Netherlands Indies Civil Administration (NICA), termasuk di antaranya Padang. Pada 23 Oktober 1947 DJB Agentschap Padang kembali dibuka oleh NICA.

Pada 19 Juni 1951 pemerintah membentuk Panitia Nasionalisasi DJB untuk mengatur pembelian saham DJB yang diperdagangkan di Bursa Efek Amsterdam. Lalu, pada 3 Agustus 1951 pemerintah mengajukan penawaran kepada para pemilik saham DJB. Dalam waktu dua bulan, hampir seluruh saham DJB terbeli.

Akhirnya pada 1 Juli 1953, lahirlah Bank Indonesia melalui UU No. 11/1953 menggantikan DJB dan merupakan bank sentral milik Indonesia dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, DJB Agentschap Padang berubah menjadi BI Cabang Padang dan gedung ini tetap digunakan sampai 2 Januari 1977. Setelah itu BI Cabang Padang pindah ke Jalan Jenderal Sudirman No. 22 Padang, karena gedung yang lama sudah tidak dapat menampung kegiatan yang ada. Bangunan kokoh dan indah ini merupakan aset yang berharga bagi sejarah perbankan di Indonesia.

Gedung Bekas Geo Wehry and Co (*)

Gedung Geo Wehry & Co (https://kidalnarsis.blogspot.co.id)

Terletak di jalan Batang Arau No. 58 Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Gedung ini berdiri sekitar tahun 1926 yang dirancang oleh Ir. FJL Ghijsels (AIA Bureau), bergaya arsitekur neo klasik (art deco ornamental)  dengan luas 24 x 35 m2 dan tinggi 24 meter dengan bangunan penunjang lain di samping kiri dan belakang. Berdinding permanen ini memiliki atap yang berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada puncak atap sebagai tempat sirkulasi udara.

Geo Wehry and Co sebagai sebuah perusahaan terkenal, juga memiliki beberapa kantor-kantor lainnya untuk mengurusi keuangan, perdagangan, distribusi dan administrasi perusahaan. Gedungnya yang di Padang merupakan cabang perusahaan yang berpusat di Batavia.

Sekarang, gedung ini kurang tidak terawat dan saat ini digunakan sebagai gudang oleh PT. Panca Niaga.

Gedung Balai Kota Padang
Jalan M. Yamin No 57, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat.

Balai kota Padang (https://niadilova.blogdetik.com)

Balai Kota Padang (bahasa Belanda: Gemeentehuis Padang) adalah salah satu bangunan berarsitektur kolonial peninggalan pemerintah Hindia-Belanda di Indonesia yang berada di Jalan M. Yamin (sebelumnya Jalan Raaffweg pada masa kolonial) di Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. Bangunan yang berada tidak jauh dari Pasar Raya Padang ini berhadapan langsung dengan Plein van Rome (kini Lapangan Iman Bonjol) dan dikelilingi oleh berbagai pusat perkantoran pemerintahan. Bangunan dengan ciri khas sebuah menara jam ini diarsiteki oleh seorang arsitek dan perencana wilayah pemukiman dan perkotaan berkebangsaan Belanda dari Amsterdam bernama Ir. Thomas Karsten. Pembangunannya mulai dilakukan pada tahun 1931 dan selesai pada tahun 1936 dengan biaya mencapai f 120.000.

Balai kota Padang (https://zaky-newsinsident.blogspot.co.id)

Gedung Bekas Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij (NIEM) (*)

Gedung bekas Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij (https://kidalnarsis.blogspot.co.id)

Gedung ini beralamat Jalan Batang Arau No.42 Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Memiliki gaya arsitektur kolonial yang dibangun sekitar tahun 1930-an (1939) dengan panjang 35 meter dan lebar 24 meter.

Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij (NIEM) merupakan salah satu bank yang beroperasi pada jaman penjajahan Kolonial Hindia Belanda. NIEM ini didirikan tahun 1857-1858 di Batavia. Pada 1949 berubah nama menjadi Escomptobank NV.

Escomptobank NV menjadi bank terbesar kedua setelah Java Bank (1857) di Batavia.

Bank Escompto diambil alih oleh Pemerintah RI. Tahun 1960 nama bank ini diganti menjadi Bank Dagang Negara (BDN) yang kemudian melebur bersama Bank Eksim (Nederlandsche Handel Maatschaplj) dan Bank Bumi Daya (Nederlandse Handels Bank) menjadi Bank Mandiri KCP Padang Muaro hingga sekarang.

Kota Bukittinggi

Kota Bukittinggi memiliki banyak peninggalan bersejarah. Namun hanya 42 (empat puluh dua) yang baru berhasil didata. Ke-42 bangunan yang masuk kategori Cagar Budaya tersebut telah masuk dalam Perwako no.2 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Cagar Budaya di Kota Bukittinggi. Dan 24 diantaranya telah masuk ke dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.05/PW. 007/ MKP/2010.

Pada tahun 2014 dilakukan pendataan Cagar Budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan berhasil didata 72 (tujuh puluh dua) bangunan Yang Diduga Cagar Budaya. Hasil pendataan 72 bangunan yang diduga Cagar Budaya tersebut telah disampaikan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar untuk ditindak lanjuti.

Kota bukittinggi memiliki cagar budaya yang sangat potensial sebagai wilayah yang memiliki cagar budaya yang dapat menjadi identitas kota. Cagar Budaya di Kota Bukittinggi sebagian besar merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda. Peninggalan tersebut tersebar di Kota Bukittinggi yaitu di Kecamatan Aur Birugo XIII Belas, Guguk Panjang, dan Mandiangin Kota Selayan.

Oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagian bangunan cagar budaya sudah ditetapkan sebagai  cagar budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.05/PW.007/MKP/2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang Penetapan Gedung sekolah rajo (SMU 2), Gedung Kandepdikbud, Kompleks Kantor Polres Agam, Kompleks Kantor Kodim Agam, Tugu Manggopoh, Gedung SMP 1, Gereja Katholik, Rumah Bekas Kepala Stasiun Kereta Api, Gereja Protestan, Villa Oepang-oepang, Hotel Centrum (Pos dan Giro), Istana Bung Hatta, Jam Gadang, Rumah Kelahiran Bung Hatta, Wisma Anggrek, Villa Merdeka, Makam Tuanku Syechk Imam Jirek, Benteng Fort de Kock, Eks BNI 46 Bukit Tinggi, Cerobong Asap No. 101 B, Rumah gadang Engku Palo (Suku Tanjung), Rumah Tinggal di Jalan DR. A. Rivai No. 38, Pasar Lorong saudagar, Lembaga Pemasyarakatan Bukittinggi.

Benteng Fort de Cock

(https://id.wikipedia.org)

Benteng ini terletak di kota bukit tinggi. Zaman dulu juga bukittinggi di kenal dengan sebutan fort den cock. Benteng ini didirikan pada tahun 1825 oleh Kapten Bauer di atas Bukit Jirek Negeri, Bukit Tinggi. Sebagai antisipasi terhadap serangan rakyat pada masa perang paderi. Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih menjadi saksi bisu angkuhnya penjajahan Belanda pada saat itu untuk berkuasa atas Minangkabau dan sisa-sisa keangkuhannya masih tersirat dalam bangunan setinggi 20 meter dengan warna cat putih dan hijau ini.

(https://id.wikipedia.org)

Jam gadang

Jam Gadang (https://fadafes.blogspot.com)

Jam Gadang merupakan bangunan menara yang tinggi menjulang dengan megahnya, beratapkan khas Minangkabau, terletak di tengah kota Bukittinggi. Jam Gadang menjadi landmark dan lambang kota Bukittinggi, dibangun di atas bukit yang bernama Bukit Kandang Kerbau pada jaman Pemerintahan Belanda tahun 1827 oleh Contraleur (Sekretaris Kota) Rook Maker.

Dari puncak menara kita dapat menikmati dan menyaksikan betapa indahnya alam di sekitar kota Bukittinggi yang dihiasi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago dan Ngarai Sianok. Selain itu, Jam Gadang juga berguna sebagai penuntun bagi masyarakat sekitar untuk mengetahui waktu. Hal yang unik pada Jam Gadang adalah angka IV yang tertulis IIII sesuatu yang tidak biasa di dalam penulisan angka romawi.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (*)

Terletak  jalan Cindua Mato No. 1, Kelurahan Benteng Pasar Atas, kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Museum Zoologi Bukittinggi

Museum ini didirikan bersamaan waktunya dengan pendirian Museum Zoologi Bogor, yaitu tahun 1894.

Kebun Binatang Bukittinggi

Kebun binatang ini dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an, dengan nama Stormpark (Kebun Bunga). Pembangunan kebun binatang ini dirancang oleh Gravenzande, Controleur belanda yang bertugas di kota Bukittinggi pada waktu itu.

Pada awal pembangunannya, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini hanya berupa taman yang belum mempunyai koleksi binatang, kemudian beberapa koleksi hewan mulai dimasukkan kedalam taman tersebut, dan barulah pada tanggal 3 Juli 1929 taman ini dijadikan kebun binatang dengan nama Fort De Kocksche Dieren Park atau Kebun Binatang Bukittinggi oleh Dr. J. Hock, sampai sekarang, merupakan Kebun Binatang tertua di Indonesia.

Museum Rumah Adat Baanjuang

Museum Rumah Adat Baanjuang (https://www.imgrum.org)

Museum ini didirikan oleh seorang Belanda bernama Mr. Mondelar Countrolleur pada tanggal 1 Juli 1935. Berbentuk bangunan rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah gadang bagonjong gajah maharam dan memiliki 9 ruang dengan anjuang pada bagian kiri dan kanan, dengan luas bangunan 2.798 m2. Hampir semua bahan bangunan masih terlihat ketradisionalannya, seperti atap bangunan dari ijuk, dinding kayu atau bambu serta berlantai kayu. Rangkiang (Lumbung) Padi dibangun kemudian pada tahun 1956.

Kabupaten Tanahdatar

Desa Pariangan (Nagari Tuo Pariangan) di Tanah Datar

Nagari Tuo Pariangan (https://ranahminang-dicinto.blogspot.com)

Desa tertua di Minangkabau, dimana berasalnya nenek moyang orang Minangkabau, terletak dilereng Gunung Merapi ditepi jalan raya Padang Panjang – Batusangkar. Di desa ini dapat dilihat keaslian bentuk desa adat yang mencerminkan kehidupan sosial Minangkabau seperti Balairung, mesjid, Rumah adat, Lumbung padi yang merupakan unsur pokok dari suatu kelompok sosial orang Minangkabau. Terdapat pemandian air panas, dan beberapa peninggalan sejarah seoperti batu basurek, kuburan panjang yang menurut ceritanya adalah kuburan Dt. Tantejo Gurhano arsitek Rumah Adat Minangkabau.

Masjid di Nagari Tuo Pariangan (https://wartaloka.blogspot.com)

Di nagari ini terdapat pula prasasti kuno peninggalan raja-raja pada masa Kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung. Ada beberapa prasasti yang masih utuh yang dapat dijumpai di nagari tersebut, seperti Prasasti Pariangan, Batu Tigo Luak, dan Menhir. Prasasti tersebut sudah berumur cukup lama bahkan menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat Pariangan dari zaman megalitikum hingga kini. Batu dan prasasti tersebut tetap utuh di tempatnya semula, Namun, akibat perubahan cuaca dan kurangnya perawatan, permukaan batu dan prasasti mulai memudar, warnanya berubah dan berlumut.

Istano Basa Pagaruyung

Pintu Gerbang (https://www.skyscrapercity.com)

Istano Basa Pagaruyung terletak di kecamatan Tanjung emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar.

Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804.

Istano Basa Pagaruyung (https://www.skyscrapercity.com)

Komplek Istano Basa Pagaruyung yang mulai dibangun pada tanggal 27 Desember 1976, bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya, merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan Minangkabau yang sekaligus menjadi Pusat Kerajaan Minangkabau pada masanya, konstruksi bangunannya berbeda dengan rumah tempat tinggal rakyat.

Pada tahun 2007 Istana ini terbakar karena tersambar petir Istano Basa mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Si Lindung Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.

Benteng Bukit Tajadi (Benteng Tuanku Imam Bonjol)

Monumen bukti peninggalan sejarah Tuanku Imam Bonjol di Tanjung Bungo, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman yang tak terurus. Foto Antara Sumbar/Zennis Helen

Benteng ini terletak di atas bukit. Untuk mencapainya ditempuh melalui jalan di belakang Kantor Wali Nagari Ganggo Hilir, Jalan Pasar Ganggo Hilir no. 7, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Benteng ini berupa bukit yang oleh masyarakat disebut sebagai Bukit Tajadi. Di sepanjang jalan menuju lokasi benteng terdapat beberapa makam, di antaranya adalah makam Inyiak Son Sangbulu yang merupakan pengikut Tuanku Imam Bonjol.

Benteng pertahanan Imam Bonjol hanya berupa sebuah bukit yang berfungsi untuk mengawasi daerah sekitarnya (Bonjol). Melalui bukit tersebut pandangan akan leluasa mengawasi daerah Bonjol dan sekitarnya. Di lokasi tersebut tidak ditemukan struktur bangunan yang mengindikasikan sebuah bangunan pertahanan. Pada masa belakangan di lokasi benteng berada didirikan monumen untuk mengenang perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Pada bagian puncak dari Benteng Bukit Takjadi tersebut dibangun sebuah tugu berwarna putih yang terlihat dari jalan raya.

Tidak jauh dari lokasi benteng Bukit Takjadi terdapat lokasi dengan lubang-lubang kecil di permukaan tanah sebagai sisa tungku yang dipercaya merupakan bagian dari dapur yang digunakan pada masa perjuangan Tuanku Imam Bonjol.

Dari tahun 1835 sampai tahun 1837 Benteng Bukit Tajadi baru jatuh ke tangan Kompeni Belanda dengan sekutunya, pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837, dan pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol secara keseluruhan dapat ditaklukkan.

Benteng Van der Capellen

(https://kotawisataindonesia.com)

Benteng ini terletak di Kampung Baru Nagari Baringin, Lima Kaum, Tanah Datar, Sumatera Barat. Perjalanan dari kota Padang Panjang sampai di benteng ini memerlukan waktu sekitar 40 menit.

Awalnya benteng ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1822. Tujuan pembangunan benteng ini adalah sebagai tempat pertahanan dari serangan musuh pada saat terjadi Perang Paderi.

Pada tahun 1821 awalnya terjadi peperangan antara Kaum Adat dan Kaum Agama. Pada saat itu, kaum Agama ingin mengubah akhlak Kaum Adat yang rusak dan bertentangan dengan ajaran agama.

Tetapi hal ini ditentang oleh kaum adat. Akhirnya kedua kelompok ini pun mengalami konflik dan Kaum Adat kemudian minta bantuan pada pasukan Kolonial Belanda yang pada saat itu telah menduduki Padang.

Pihak Belanda pun bersedia membantu dengan mengajukan beberapa perjanjuan lebih dulu yang isinya antara lain kepala penghulu menyerahkan kekuasaanya pada pemerintah Belanda dan tidak melawan Belanda. Setelah perjanjian tersebut, pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Raff menuju ke tanah datar dan menyerang rakyat di sana.

Pasukan Belanda kemudian membangun benteng permanen di Batusangkar. Bangunan benteng dibangun di atas lahan seluas 8880 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 22 meter persegi dengan ketebalan dinding 75 cm.

Benteng ini diberi nama Van Der Capellen. Nama ini disesuaikan dengan nama Gubernur Jenderal Belanda yang pada saat itu memimpin yakni Van Der Capellen.

Jembatan Akar

Jembatan Akar (https://alternatifwisata.blogspot.com)

Jembatan Aka (Jembatan Akar) yang berada di kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir. Jembatan akar ini terletak 80 km dari kota Padang. Melintasi Sungai bayang, jembatan akar ini menjadi penghubung antara dua desa yaitu Pulut-pulut dan Lubuak Silau.

Jembatan Akar (https://alternatifwisata.blogspot.com)

Jembatan akar ini memang sengaja dibuat pada tahun 1890, oleh tokoh Adat yang bernama Angku Ketek untuk menggantikan jembatan bambu yang selalu hanyut jika terkena arus sungai saat sungai meluap. Uniknya, jembatan akar baru bisa digunakan 25 tahun selanjutnya, setelah rajutan akar kedua pohon beringin menjadi kokoh.

Jembatan Akar (https://alternatifwisata.blogspot.com)

Kota Sawahlunto

Sawahlunto merupakan salah satu kota di sumatera barat yang berjarak sekitar 90 km dari kota padang. Sawahlunto adalah surga bagi penikmat wisata sejarah. Adapun sejarah yang menjadi kebanggaan kota ini adalah kejayaan batu bara di masa silam. Belanda mendirikan kota ini pada 1888 dan menjadikannya salah satu pusat penambangan batu bara. Oleh karenanya, dibangun pula sarana dan prasarana transportasi yang cukup maju pada zamannya.

Itulah beberapa peninggalan bersejarah di sumatera barat sebagai pengingat akan masa-masa suram yang terjadi kala itu. Tetapi kita jangan pernah sekalipun meremehkan sejarah karena dari sejarah lah kita dapat belajar sesuatu untuk memajukan bangsa.

a. Rumah Pek Sin Kek
Jl. Ahmad Yani 292, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat

Pek Sin Kek adalah seorang etnis Tionghoa. Ia datang dan bermukim di Sawahlunto sejak awal abad 20. Sebagai pendatang, Pek Sin Kek tergolong pengusaha sukses. Pada tahun 1906 ia membangun tempat usaha dan tempat tinggal keluarganya di Pusat Kota. Rumah Pek Sin Kek pernah digunakan sebagai Gedung Theater, Perhimpunan Masyarakat Melayu hingga Pabrik Es. Setelah direvitalisasi tahun 2005-2006, bangunan khas berarsitektur Pecinan ini dijadikan souvenir shop. Di sini Anda dapat berbelanja sambil menikmati kekhasan arsitektur bangunannya nan unik.

b. Gedung Pusat Kebudayaan (Gedung Societeit)

Gedung Pusat Kebudayaan (https://www.wisatakandi.com)

Gedung ini dibangun pada tahun 1910 dengan nama Gluck Auf, berfungsi sebagai gedung pertemuan dan jamuan atau pesta para pejabat kolonial Belanda. Bangunan ini juga pernah menjadi Rumah Bola yang dipergunakan sebagai tempaat bermain bola bowling, gedung societies tempat para pejabat kolonial mengadakan pertemuan, tempat berpesta para pejabat tambang dan none-none Belanda setelah bekerja. Sore hingga malam hari mereka menghibur diri, menghabiskan waktu dan uang dengan minum-minum dan berdansa di Rumah Bola. Ini merupakan hiburan untuk menghilangkan rasa penat dan rindu sanak saudara di negeri Kincir Angin.

Setelah kemerdekaan, gedung ini beberapa kali mengalami alih fungsi, di antaranya sebagai Gedung Pertemuan Masyarakat (GPM), kemudian menjadi kantor Bank Dagang Negara (BDN), dan juga pernah ditempati oleh Bank Mandiri hingga tahun 2005. Setelah dilakukan revitalisasi, pada 1 Desember 2006 gedung ini difungsikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Kota Sawahlunto. Selain sebagai Gedung Pusat Kebudayaan, gedung ini juga dikenal dengan sebuatan Gedung Societeit.

c. Kantor PT Bukit Asam (PTBA)

(https://www.wisatakandi.com)

Kantor PT Bukit Asam (PTBA) bisa dikatakan sebagai gedung paling megah yang ada di Sawahlunto. Bangunan ini dibuat pada tahun 1916 dengan nama Ombilin Meinen yang berfungsi sebagai kantor pertambangan PTBA UPO. Hingga kini gedung masih tetap berdiri kokoh dengan warna dominan orange dan tetap berfungsi sebagai sebuah kantor.

d. Gedung Pegadaian

(https://thearoengbinangproject.com)

Gedung Pegadaian Sawahlunto merupakan salah satu bangunan tua di kota ini, yang pertama kali dibangun pada 1917. Gedung Pegadaian Sawahlunto ini semula digunakan sebagai Gedung Komedi yang berfungsi sebagai tempat pertunjukkan sandiwara dan komedi, lalu menjadi kantor pegadaian, Museum Kota Sawahlunto, dan kembali lagi menjadi Gedung Pegadaian Sawahlunto. Gedung ini dapat dijumpai di Jalan Ahmad Yani, Kota Sawahlunto dengan arsitekturnya yang sangat khas.

e. Hotel Ombilin
Jl. M Yamin, Pasar Remaja, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat

(https://thearoengbinangproject.com)

Hotel Ombilin berada tepat di seberang Gedung Pusat Kebudayaan. Hotel ini dibangun pada 1918 dan digunakan sebagai tempat menginap para ahli tambang yang membutuhkan tempat istirahat nyaman pada masa kolonial Belanda. Pada 1945-1949, bangunan ini pernah beralih fungsi menjadi asrama tentara Belanda. Hingga kini, hotel ini tetap mengusung nama sebagai Hotel Ombilin dan menjadi salah satu tempat menginap favorit saat berwisata di Sawahlunto.

f. Museum Goedang Ransoem

(https://www.wisatakandi.com)

Museum gudang ransum di sawahluntoMuseum Goedang Ransoem didirikan pada tahun 1918. Dulunya Museum ini dibangun untuk dijadikanDapur Umum, tempat memasak untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi buruh tambang. Pada saat Dapur Umum ini dibangun, Pemerintah Kolonial sudah memanfaatkan kemajuan teknologi. Untuk memasak dengan jumlah banyak telah digunakan teknologi uap panas.

g. Gedung Koperasi Ombilin
Jl. Yos Sudarso, Sawahlunto, Sumatera Barat

(https://www.wisatakandi.com)

Bangunan ini dibangun pada tahun 1920 dengan nama “Koperasi Ons Belang” yang berfungsi sebagai koperasi tempat memenuhi kebutuhan orang-orang Eropa dan Indo-Eropa. Gedung ini juga pernah berfungsi sebagai asrama dan kantor BEKA (Badan Ekonomi Kota Arang). Sekarang gedung kembali berfungsi sebagai koperasi yang menjual aneka barang kebutuhan seperti layaknya sebuah mini market. Lokasi Koperasi Ombilin berada di pusat kota dan hanya bersebelahan dengan Hotel Ombilin.

h. Gereja Santa Barbara dan Sekolah Santa Lucia

Gereja Santa Barbara (https://thearoengbinangproject.com)

Santa Lucia dibangun pada tahun 1920 yang berfungsi sebagai tempat menuntut ilmu anak-anak kolonial Belanda. Bangunan ini pernah digunakan sebagai asrama tentara, sekolah islam dan kantor agama. Hingga saat ini, bangunan ini kembali kepada fungsi awalnya yaitu sebagai sekolah Santa Lucia. Tepat berjajar dengan Santa Lucia berdiri sebuah gereja bernama Gereja Santa Barbara dengan arsitektur yang tak kalah menarik.

Sekolah Santa Lucia (https://destindonesia.com)

9. Gedung Balai Kota Padang
Jalan M. Yamin, Padang

Balai kota Padang (https://niadilova.blogdetik.com)

Balai Kota Padang (bahasa Belanda: Gemeentehuis Padang) adalah salah satu bangunan berarsitektur kolonial peninggalan pemerintah Hindia-Belanda di Indonesia yang berada di Jalan M. Yamin (sebelumnya Jalan Raaffweg pada masa kolonial) di Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. Bangunan yang berada tidak jauh dari Pasar Raya Padang ini berhadapan langsung dengan Plein van Rome (kini Lapangan Iman Bonjol) dan dikelilingi oleh berbagai pusat perkantoran pemerintahan. Bangunan dengan ciri khas sebuah menara jam ini diarsiteki oleh seorang arsitek dan perencana wilayah pemukiman dan perkotaan berkebangsaan Belanda dari Amsterdam bernama Ir. Thomas Karsten. Pembangunannya mulai dilakukan pada tahun 1931 dan selesai pada tahun 1936 dengan biaya mencapai f 120.000.

Informasi lebih lanjut hubungi

Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Provinsi Sumatera Barat
Jl. Khatib Sulaiman No. 7 Padang, Sumatera Barat
Telp.: +62 751 7055183
Fax.: +62 751 446282
Website : https://www.minangkabautourism.info
Email : info@minangkabautourism.info

Berbagai sumber

(*) Tambahan

One thought on “Wisata Sejarah di Sumatera Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.