Wisata Sejarah di Kota Medan Sumatera Utara

Keberadaan Kota Medan saat ini tidak terlepas dari dimensi historis yang panjang, dimulai dari dibangunnya Kampung Medan Puteri tahun 1590 oleh Guru Patimpus, berkembang menjadi Kesultanan Deli pada tahun 1669 yang diproklamirkan oleh Tuanku Perungit yang memisahkan diri dari Kesultanan Aceh. Perkembangan Kota Medan selanjutnya ditandai dengan perpindahan ibukota Residen Sumatera Timur dari Bengkalis Ke Medan, tahun 1887, sebelum akhirnya statusnya diubah menjadi Gubernemen yang dipimpin oleh seorang Gubernur pada tahun 1915.

Secara historis, perkembangan kota medan sejak awal memposisikan menjadi jalur lalu lintas perdagangan. Posisinya yang terletak di dekat pertemuan Sungai Deli dan Babura, serta adanya Kebijakan Sultan Deli yang mengembangkan perkebunan tembakau dalam awal perkembanganya, telah mendorong berkembangnya Kota Medan sebagai Pusat Perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. Sedang dijadikanya Medan sebagai ibukota Deli juga telah medorong kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintahan. Sampai saat ini, di samping merupakan salah satu daerah Kota, juga sekaligus ibukota Propinsi Sumatera Utara.

Sahabat GPS Wisata, beberapa tujuan wisata sejarah pilhan dapat menjadi bahan referensi bilamana sahabat berkunjung ke kota Medan.

1. Hotel De Boer (Hotel Inna Darma Deli)
Jalan Balai Kota No. 2, Medan

Hotel Inna Darma Deli (https://kekunaan.blogspot.com)

Hotel Dharma Bakti awalnya merupakan hotel milik perusahaan Belanda bernama NV Hotel Mijn De Boer didirikan pada tahun 1878. Pada 1909, Hotel De Boer ditingkatkan hingga memiliki 40 kamar dengan 400 buah lampu. Pada 14 Desember 1957, dalam rangka nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, Hotel NV Mijn De Boer diambil alih pemerintah Indonesia.

2. Kuil Shri Mariamman
Jl. Teuku Umar No 18, Medan Polonia, Medan

Kuil Shrimariaman (https://wisatasumatera.wordpress.com)

Kuil Shrimariaman dibangun pada tahun 1884 yang berletak di Kampung Madras. Umumnya Umat Hindu datang untuk bersembahyang di Kuil ini setiap pagi. Kuil ini juga digunakan untuk ritual lainnya dalam agama Hindu seperti perayaan Depavali, Perayaan Panen Padi, dan sebagainya.

3. Stasiun Kereta Api

(https://kekunaan.blogspot.com)

Untuk kelancaran pengangkutan hasil perkebunan di sekitar Kota Medan, maka perusahaan swasta Belanda yang bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) didirikan pada tahun 1870 mulai mengembangkan infrastruktur perkeretapian di Sumatera Utara. Tahun 1885 rel kereta api sudah dibangun dan stasiun kereta api yang berdekatan dengan Lapangan Esplanade (kini Lapangan Merdeka) juga sudah berdiri pada tahun 1887.

Sekilas arsitektur Stasiun Medan tampak baru telah mengalami perombakan total dari bentuk aslinya, namun demikian bukan berarti tidak ada sama sekali sisa arsitektur peninggalan masa kolonial Hindia Belanda. Menara jam di bagian muka stasiun, keberadaan dipo lokomotif maupun bagian atap peron di jalur 2 dan 3 serta jembatan gantung di ujung sebelah selatan merupakan sisa arsitektur kolonial yang bisa disaksikan.

4. Titi Gantung

Titi Gantung (https://leavetoindonesia.blogspot.com)

Bangunan yang didirikan tahun 1885 ini memiliki fungsi awal untuk pejalan kaki yang ingin menyeberang tanpa lewat jalur kereta api, dan untuk para calon penumpang kereta api. Tak hanya sampai di situ, jembatan ini juga bisa digunakan untuk pelancong atau turis yang ingin menikmati pemandangan sekitar dari ketinggian. Jembatan ini menyajikan pemandangan lampu malam yang cantik, terutama saat sedang ada pasar malam di Lapangan Merdeka.

Jembatan dibangun untuk memudahkan masyarakat untuk mencapai satu tempat ke tempat lain. Ada jembatan tua nan cantik, membentang di atas jalur kereta api, terletak di dekat Stasiun Kereta Api Medan. Namanya Titi Gantung. Bentuknya berliku dan memiliki oranamen indah di sekeliling tubuhnya.

(https://www.skyscrapercity.com)

5. Istana Maimun
Jl. Brigjen Katamso, Medan
Buka: Pukul 09.00 Wib – Pukul 17.00 WIB

Istana Maimun (https://www.garuda-indonesia.com)

Istana Maimun, terkadang disebut juga Istana Putri Hijau, seluas 2.772 m2, merupakan istana kebesaran Kerajaan Deli. Istana ini didominasi warna kuning, warna kebesaran kerajaan Melayu. Pembangunan istana selesai pada 25 Agustus 1888 M, di masa kekuasaan Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan Makmun adalah putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, pendiri kota Medan.

Singgasana Sultan Deli (https://thearoengbinangproject.com)

Istana seluas lebih dari 2,700 meter ini memiliki lebih dari 30 buah ruangan dengan desain interior yang merupakan perpaduan budaya Melayu, Islam, Itali, Spanyol, dan Italia. Selain berfoto-foto di bangunan bersejarah ini, pengunjung juga dapat melihat-lihat koleksi perabotan Belanda kuno, koleksi foto-foto kelaurga sultan, dan koleksi macam-macam senjata.

(https://thearoengbinangproject.com)

Sejak tahun 1946, Istana ini dihuni oleh para ahli waris Kesultanan Deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di istana ini sering diadakan pertunjukan musik tradisional Melayu. Biasanya, pertunjukan-pertunjukan tersebut diselenggarakan dalam rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya. Selain itu, dua kali dalam setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana. Pada setiap malam Jumat, para keluarga sultan mengadakan acara rawatib adat (semacam wiridan keluarga).

6. Kampung Madras Medan (Kampung Keling)
Jalan Zainul Arifin – Kampung Keling/Madras

(https://www.skyscrapercity.com)

Bangsa India, terutama Tamil datang ke Sumatera Utara pada akhir abad ke-19 semasa penjajahan Belanda. Mereka mengadu nasib dengan menjadi kuli perkebunan. Dalam catatan Badan Warisan Sumatera (BWS), rombongan pertama orang Tamil yang datang ke Medan sebanyak 25 pada tahun 1873.

Mereka dipekerjakan oleh Nienhuys, seorang Belanda pengusaha perkebunan tembakau, yang nantinya dikenal sebagai tembakau Deli. Tembakau yang membuat tanah Deli menjadi termasyur di dunia internasional. Hingga pada akhirnya dikenal sebagi “Tanah Sejuta Dollar” Setelah itu, semakin banyak saja para buruh dan tenaga-tenaga kerja yang didatangkan dari India untuk bekerja di Tanah Deli entah sebagai buruh perkebunan, supir, penjaga malam, sais kereta lembu, dan membangun jalan serta waduk.

Saat Belanda membuka cabang De Javasche Bank di Medan, sejumlah Sikh dipekerjakan sebagai penjaga pada tahun 1907. Melihat situasi dan kesempatan ekonomi di kota Medan, beberapa malah membuka usaha peternakan lembu karena meningkatnya permintaan pasokan susu dari Belanda.

Kampung Madras merupakan kawasan seluas sekitar 10 hektare di Kota Medan, Indonesia yang pernah mempunyai komunitas India yang besar. Kawasan ini terletak di sekitar kecamatan Medan Polonia dan Medan Petisah.

Suasana di Kampung Madras Medan sangat kental dengan adat istiadat penduduk India yang beragama Hindu. Di lokasi ini masih terdapat cukup banyak bangunan khas Belanda sehingga selain wisata budaya, anda juga dapat menikmati wisata sejarah di Kampung Madras Medan. Selain itu anda juga dapat menikmati wisata kuliner ala India, dan berbelanja pernak pernik India serta menjahit baju dengan kualitas baik di Kampung Madras Medan.

7. Gedung BTN
Jalan Pemuda No. 10 A, Medan

Gedung ini dahulunya merupakan gedung milik Postpaarbank. Pemerintah Hindia Belanda melalui Koninklijk Besluit No. 27 tanggal 16 Oktober 1897 mendirikan Postpaarbank dengan maksud mendidik masyarakat agar gemar menabung, yang kemudian terus hidup dan berkembang serta tercatat hingga tahun 1939 telah memiliki empat cabang, yaitu Jakarta, Medan, Surabaya dan Makasar. Pada tahun 1940, kegiatannya sempat terganggu sebagai akibat penyerbuan Jerman atas Belanda yang mengakibatkan penarikan tabungan secara besar-besaran dalam waktu yang relative singkat. Namun demikian, keadaan keuangan Postpaarbank pulih kembali pada tahun 1941.

8. Balai Kota Lama
Jl. Balai Kota, Medan

Balai kota lama (www.pemkomedan.go.id)

Gedung Balai Kota Lama ini berdiri sejak tahun 1900 dan telah menjadi saksi perkembangan Kota Medan dari waktu ke waktu. Setidaknya, ada 12 walikota yang pernah memiliki kantor di sana. Bangunan cantik ini sempat mengalami masa-masa kelam. Pada tahun 1990, Gedung Balai Kota Baru dibangun dan mulai saat itulah, Gedung Balai Kota Lama terbengkalai dan tak terurus. Namun setelah ada pembangunan hotel di belakangnya, gedung ini mulai kembali terawat. Letak Gedung Balai Kota Lama ada di Jalan Balai Kota Medan dan bisa dikunjungi kapan saja. Baik malam atau siang, gedung ini tetap memancarkan pesonanya. Kesan paling teringat saat berkunjung di Gedung ini adalah mengingatkan kita pada jaman belanda.

9. Rumah Tjong A Fie (Tjong A Fie  Mansion)
Jl. Ahmad Yani, Kesawan, Medan
Website:https://www.tjongafiemansion.com
Jam buka museum: 09:00 – 17:00 WIB

(https://www.skyscrapercity.com)

Rumah Tjong A Fie didirikan tahun 1900, apa yang spesial dari tempat ini sampai bisa menarik perhatian wisatawan? Rumah Tjong A Fie adalah rumah yang dulunya dimiliki oleh Tjong A Fie, orang terkaya di Medan pada masa lampau. Tjong A Fie meninggal pada tahun 1926 akibat pendarahan otak, namun ia meninggalkan sebuah warisan berupa rumahnya yang merupakan saksi sejarah dan juga sebuah museum. Kekayaan yang ia miliki, ia bagikan sebelum meninggal kepada masyarakat yang membutuhkan.

(https://www.skyscrapercity.com)

10. Gedung Bank Indonesia
Jalan Balai Kota No. 4, Medan

(https://kekunaan.blogspot.com)

Dahulu Gedung Bank Indonesia Medan merupakan Kantor Cabang De Javasche Bank yang ke-11. Kantor ini mulai dibuka pada tanggal 30 Juli 1907 bersamaan dengan Kantor Cabang Tanjung Balai dan Tanjung Pura yang masing-masing dibuka pada tanggal 15 Januari 1908 dan 3 Februari 1908. Namun, akibat adanya pengaruh resesi dunia tahun 1930-an, mengakibatkan Kantor Cabang Tanjung Balai dan Tanjung Pura akhirnya terpaksa ditutup.

11. Menara Air Tirtanadi
Jl. Sisingamangaraja No.1, Medan

(https://pemkomedan.go.id)

Menara Air Tirtanadi adalah sebuah menara air yang sangat penting bagi masyarakat kota Medan. Didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1908 sebagai tempat penampungan air, saat ini Menara Air Tirtanadi masih berfungsi sebagai penampung air yang sangat berguna bagi masyarakat Medan. Sejak dahulu kala, Menara Air Tirtanadi sudah menjadi salah satu ikon kota Medan, hingga sekarang menjadi tempat wisata yang tidak biasa di kota Medan.

12. Kantor Pos
Jl. Medan Merdeka Square, Medan

Kantor Pos (https://www.skyscrapercity.com)

Tidak lama Gedung Balai Kota Lama berdiri, dibangunlah Kantor Pos Medan. Bangunan yang didirikan pada tahun 1909 ini memiliki bentuk yang cukup Unik karena memiliki atap kubah. Meski memiliki fungsi yang masih sama, yaitu sebagai kantor pos, bangunan ini hampir selalu ramai didatangi wisatawan. Apalagi letaknya yang tidak terlalu jauh dari Merdeka Walk yang ada di jantung Kota Medan membuat bangunan ini cukup strategis untuk didatangi.

13. Gedung London Sumatera
Jl. Jendral Ahmad Yani, Medan

Gedung London Sumatera (https://www.skyscrapercity.com)

Namanya unik, Gedung London Sumatera. Agaknya dinamakan demikian karena bentuknya yang seperti bangunan di London, sedang tempatnya berada di Pulau Sumatera. Gedung megah berwarna putih ini berdiri sejak tahun 1906, bertepatan dengan kelahiran Ratu Belanda masa itu, Ratu Juliana.

Tak cuma megah, gedung berlantai 5 ini juga jadi gedung pertama yang memiliki lift. Pada masa itu, gedung ini memiliki fungsi sebagai kantor perdagangan dan perkebunan. Hingga kini, bangunan yang memiliki nama lain Gedung Lonsum itu tetap berfungsi aktif sebagai tempat perkantoran. Setelah menjadi pusat perkantoran, gedung ini dirubah namanya sedikit jadi PT PP London Sumatera.

14. Gedung Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS PPS)

(https://kekunaan.blogspot.com)

Dulu, gedung ini dikenal dengan nama gedung AVROS, akronim dari Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera atau Asosiasi Umum Perkebunan Karet di Pantai Sumatera Timur.

Gedung AVROS dibangun antara tahun 1918 dan 1919 dengan hasil rancangan GH Mulder, yang pada waktu itu gaya arsitektur karyanya dipengaruhi oleh rasionalisme yang bangkit pada awal abad ke-20. Bangunan ini memiliki empat lantai dalam konstruksi beton dengan jendela kaca besar, dan tangga yang terbuat dari kayu. Setiap lantai memiliki balkon berupa galeri terbuka. Galeri ini dirancang untuk melindungi ruang dalam dari terpaan panasnya matahari, sehingga ruangan selalu sejuk.

15. Gereja Immanuel
Jl. Diponegoro, Medan

(https://www.skyscrapercity.com)

Gereja Immanuel ini dibangun pada tahun 1921. Gereja ini masih digunakan oleh umat Kristiani untuk kebaktian pada hari minggu dan hari lainnya, seperti: Upacara Pernikahan, Misa Natal dan sebagainya. Gereja ini dapat menampung sekitar 500 umat Kristiani untuk mendengarkan Khotbah Pendeta.

(https://travel.detik.com)

16. Gereja Roam Katholik
Jl. Pemuda, Medan

(https://klmpok4-museologi.blogspot.com)

Gereja Roam Katholik, di bangun pada tahun 1929. Gereja ini masih digunakan Umat Katholik pad hari minggu dan hari lainnya seperti acara pernikahan dan sebagainya.

17. Restauran Tiptop
Jl. A. Yani, Medan

Restoran Tiptop (https://sumutpos.co)

Restoran yang berdiri sejak 1934 itu mampu menjaga orisinalitas bangunan maupun menu masakannya. Menu-menu di restoran memikat selera makan orang-orang Belanda. Misalnya beefsteak, bitterballen, kue markoop, speculaas, saucijs brood, horen, dan aneka jenis es krim berbahasa Belanda. Whipped cream dibuat sendiri, tidak menggunakan whipped cream spray seperti yang dijual di toko-toko.

Keaslian alat masak juga masih dipertahankan karena pengaruhnya pada rasa makanan. Alat masak itu masih berbentuk tungku kayu dari pohon mahoni. Alat khusus untuk membuat kue tersebut berada di bagian belakang restoran. Keaslian tungku itu masih dipertahankan, termasuk keberadaan bata tahan apinya yang sudah gosong.

Daftar Bangunan yang dilindungi berdasarkan Perda No. 6 Tahun 1988 di Kota Medan

(https://pussisunimed.wordpress.com)

Informasi lebih lanjut hubungi

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara 
Jl. Diponegoro No. 30, Medan, Sumatera Utara
Telp. +62 61 453 5508, Fax. +62 61 457 8594 / 415 8253
Website : https://www.sumatratourism.com
Email : sumatra_tourism@yahoo.co.id

Berbagai sumber

2 thoughts on “Wisata Sejarah di Kota Medan Sumatera Utara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.