Wisata Sejarah di Kepulauan Riau (Kepri)

Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari 4 Kabupaten (Bintan, Karimun, Natuna dan Lingga) dan 2 Kotamadya (Tanjungpinang dan Batam), hingga Wisata Sejarah berdasarkan Kabupaten atau dari Pulau ke Pulau.

Sahabat GPS Wisata Indonesia, untuk mencapai tempat obyek wisata sejarah di Kepulauan Riau, sahabat mengunakan moda transpotasi laut yang memungkinkannya.

Pulau Lingga, merupakan Kabupaten Lingga dengan ibukotanya Daik, Provinsi Kepulauan Riau.

Bekas Istana Damnah

(https://archive.kaskus.co.id)

Yang tersisa dari bangunan yang dahulunya sangat megah ini hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari sebahagian tembok pagarnya yang seluruhnya terbuat dari beton. Sekarang puing istana ini terletak dalam hutan belantara yang disebut kampung Damnah. Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf AI-Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau X (1857-1899).

Kerajaan Riau Lingga

Replika Istana Damnah (https://travel.detik.com)

Raja-raja Kerajaan Riau-Lingga yang memerintah kerajaan selama periode pusat kerajaan di Daik Lingga yaitu :

  • Sultan Abdurakhman Syah (1812-1832)
  • Sultan Muhammad Syah (1832-1841)
  • Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857)
  • Sultan Sulalman Badrul Alam Syah II (1857-1883)
  • Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1883-1911)

Tingginya tingkat konflik di Selat Malaka, mengakibatkan kerajaan-kerajaan harus melengkapi keberadaanya dengan berbagai sistem pertahanan. Sistem pertahanan keamanan yang diterapkan oleh Kerajaan Lingga diantaranya adalah membangun pos-pos pertahanan, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai yaitu berupa tanggul-tanggul tanah yang dilengkapi dengan beberapa meriam untuk menjaga akses masuk ke kerajaan. Tanggul-tanggul tanah itu diantaranya adalah di Pulau Mepar, Bukit Cening, Kuala Daik dan tanggul tanah yang terdapat di Pabean.

Pendopo Istana Damnah (https://travel.detik.com)

Kota Kerajaan Lingga berpusat di Daik, yang saat ini merupakan ibukota Kecamatan Lingga, termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Secara astronomis Kelurahan Daik-Lingga terletak antara 00 13’ – 00 14’ LS dan 1040 36’ – 1040 41 BT (Rencana Kota Daik, 1991). Sampai saat ini tinggalan arkeologis di bekas Kerajaan Lingga cukup lengkap, diantaranya adalah beberapa bangunan monumental, seperti; mesjid, makam, bekas istana, benteng-benteng pertahanan, dan tinggalan artefaktual lainnya.

1. Benteng Tanah Bukit Cening

Benteng Tanah Bukit Cening (https://catatan-ar-mawazi.blogspot.com)

Benteng tanah ini berjarak sekitar 3 km sebelah selatan ibukota Kecamatan Lingga, tepatnya di Kampung Seranggo, Kelurahan Daik. Pada jarak satu kilometer terakhir menuju benteng, merupakan jalan setapak yang hanya dapat dicapai dengan jalan kaki. Benteng ini dibangun di atas bukit, menghadap ke tenggara, dengan pintu masuk berada di sebelah utara. Bagian selatan benteng ini adalah tebing yang menghadap ke Selat Kolombok, sebelah utara tampak Gunung Daik dan Sepincan, baratdaya tampak Pulau Mepar, sedangkan sebelah barat-barat laut merupakan daratan dan lokasi istana Sultan Lingga. Benteng ini merupakan bangunan tanah yang dibangun dengan meninggikan dan mengeraskan tanah, menyerupai tanggul, berdenah persegi empat, berukuran 32 m X 30 m, tebal sekitar 4 meter dengan ketinggian mencapai 1 – 1,5 m. Disebelah kiri, kanan dan depan benteng ini terdapat parit yang sebagian telah tertutup tanah. Melalui benteng ini pandangan bebas mengawasi daerah sekelilingnya.

Di dalam benteng ini terdapat sebanyak 19 buah meriam yang diletakkan berjajar di sisi selatan. Meriam-meriam di benteng ini dapat diklasifikasikan sebagai meriam berukuran sedang dan besar, dengan ukuran panjang antara 2 – 2,80 meter. Lubang laras berdiameter 8 – 12 cm. Pada meriam-meriam tersebut terdapat pertulisan yang terletak di bagian pangkal atau pada pengaitnya, sebagian dalam keadaan aus. Angka-angka tahun yang terdapat pada meriam itu adalah 1783 dan 1797, sedangkan tanda-tanda lain meliputi huruf P. HB. X. O. F. dan VOC.

2. Benteng Tanah Kuala Daik

Terletak di tepi muara Sungai Daik, sekitar 2 km dari Kampung Cina. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan sampan. Masyarakat menyebut tempat ini sebagai Tanjung Meriam, karena menurut informasi, di tempat tersebut dulu banyak ditemukan meriam. Sisa bangunan yang ada saat ini hanyalah susunan batu yang menjorok ke laut. Keletakan benteng ini sangat strategis, yaitu berada di pintu masuk ke pusat kota yang dapat dilalui dengan menggunakan kapal. Kerusakan benteng tersebut kemungkinan akibat gerusan air laut yang semakin tinggi pada saat pasang, akibat pengendapan Lumpur pada muara Sungai Daik.

3. Benteng Tanah di Pabean

Benteng tanah ini terletak di pusat Kota Kecamatan Lingga, di sebelah utara Kantor Kecamatan Lingga dan tidak jauh dari arah aliran Sungai Daik. Kondisinya saat ini tidak beraturan, hampir rata dengan tanah akibat aktivitas penduduk disekitarnya. Lebar bangunan tanah saat ini mencapai 4 – 6 meter, dengan tinggi tidak lebih dari 1 meter. Berdasarkan sisa bangunan yang ada, benteng tersebut memanjang dari arah timur–barat. Bagian tengah benteng terputus, karena tepat pada bangunan ini digunakan sebagai pintu masuk ke halaman rumah penduduk. Menurut masyarakat, tempat ini merupakan Pabean pada masa lalu, tepatnya berada disekitar belokan aliran Sungai Daik. Pengamatan di lapangan menunjukkan di tempat tersebut permukaan tanahnya lebih rendah dan kondisinya berair. Di sekitarnya banyak ditemukan meriam yang saat ini diletakkan di alun-alun. Dua buah meriam yang terdapat di depan Mess Kecamatan memiliki keistimewaan, berbahan tembaga, berukuran panjang 3,35 m. Di bagian atas terdapat hiasan dan pertulisan / 8 / – O.

4. Benteng Tanah di Pulau Mepar

Benteng Tanah di Pulau Mepar (https://meparisland.blogspot.com)

Secara administratif Pulau Mepar termasuk dalam wilayah Desa Mepar, Kecamatan Lingga, berjarak sekitar 1 km dari Tanjung Butun. Untuk mencapai pulau ini ditempuh dengan menggunakan sampan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Pulau tersebut saat ini dimanfaatkan masyarakat sebagai pemukiman dengan pusat aktivitasnya di sekitar dermaga. Di Pulau ini terdapat 5 buah bangunan tanah dan beberapa buah meriam yang saat ini terletak di sekitar perkampungan penduduk.

Tiga buah bangunan benteng terletak di selatan pulau, satu di sebelah barat, dan sisanya berada di utara.

Benteng I. Terletak di atas bukit, sebelah tenggara pulau. Benteng tersebut dibangun dari tanah yang dikeraskan, terlihat dari susunan tanah dan kerikil. Benteng tanah ini berukuran 25 m X 23 m, tebal dinding antara 2,5 – 3 meter dan tinggi antara 1 – 1,5 meter. Benteng ini dikelilingi oleh parit yang cukup dalam, di bagian pintu masuknya terdapat saluran yang kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan air dari dalam benteng. Benteng I menghadap ke baratlaut, di sudut timurlaut dan utara terdapat kelebihan tanah (tonjolan) berukuran 2 – 3 meter, menyerupai bastion. Benteng terletak di tempat lebih tinggi, sehingga memudahkan pengawasan daerah sekitarnya. Melalui benteng I ini dapat diawasi Pulau Lingga yang berada di sebelah utaranya, dan Pulau Kolombok di sebelah selatan.

Benteng II. Dalam kondisi rusak, berdenah persegi empat, berjarak sekitar 5 meter dari garis pantai dan berada pada ketinggian 3 meter diatas permukaan laut. Benteng seluas sekitar 300 m2 ini, terletak di sebelah selatan pulau. Melalui benteng ini tampak Pulau Kolombok yang berada di sebelah selatannya.

(https://meparisland.blogspot.com)

Benteng III terletak di Kampung Hulu, berjarak sekitar 200 meter di sebelah baratdaya benteng II. Bangunan ini berjarak sekitar 20 meter dari garis pantai, dengan ketinggian sekitar 6 meter diatas permukaan laut. Bangunan ini berbentuk segitiga dengan luas sekitar 150 m2.

Benteng IV terletak di kampung yang sama dengan benteng III, dengan jarak sekitar 200 meter dari benteng III. Benteng ini berbentuk persegi empat berukuran luas sekitar 300 m2.

Benteng V terletak di kampung yang sama, berjarak sekitar 200 meter dari benteng IV, berbentuk persegi empat. Kondisi benteng-benteng tersebut saat ini rusak dan dipenuhi dengan tanaman liar.

Pulau Penyengat, Kabupaten Bintan merupakan sebuah pulau kecil yang berjarak kurang lebih 2 km dari kota Tanjung Pinang, ibukota dari propinsi Kepulauan Riau. Pulau ini berukuran kurang lebih hanya 2.500 x 750 m, dan berjarak lebih kurang 35 km dari pulau Batam. Pulau Penyengat merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau.

Salah satu objek yang bisa kita liat adalah Masjid Raya Sultan Riau (akan dibahas di Wisata Spiritual) yang terbuat dari putih telur, kompleks Istana Kantor, Benteng Pertahanan di Bukit Kursi, Gudang Mesiu dan Balai Adat Pulau Penyengat, serta bagi Anda berkeinginan menginap tersedia juga Penginapan (Homestay).

1. Komplek Istana Kantor

(https://baltyra.com)

Istana yang digunakan sebagai Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau kali pertama oleh Yang Dipertuan Muda Raja Ali (1844-1855) sekarang dinamakan Komplek Istana Kantor, dengan luas kurang lebih satu hektar, Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

(https://baltyra.com)

Komplek istana ini sangat besar dan dikelilingi oleh tembok tebal lengkap dengan pintu gerbang di bagian belakangnya. Setelah wafat, Raja Ali dikenal dengan Marhum Kantor. Sekarang istana ini dinamakan Komplek Istana Kantor.

Gedung Mesiu (https://mytravelingphotograph.blogspot.com)

Gedung ini sengaja didesain khusus agar tahan dari pengaruh cuaca lembab dan basah. Untuk itu, mulai dari pondasi sampai atap bangunan dibuat menggunakan beton dan ukuran dinding dibuat melebihi ketebalan bangunan biasa. Sehingga, bubuk mesiu yang tersimpan di dalam bangunan kualitasnya tetap terjaga. Pada sisi kanan dan kiri gedung dilengkapi dengan jendela kecil yang dipasang jeruji besi. Pada zaman dahulu, jendela tersebut berfungsi untuk memberi cahaya masuk ke dalam bangunan.

2. Benteng Pertahanan Bukit Kursi

Benteng Pertahanan Bukit Kursi (https://dikapra.blogspot.com)

Benteng Pertahanan Bukit Kursi dibangun pada masa pemerintahan Raja haji. Pada masa itu Raja Haji menjadikan pulau penyengat sebagai basis pertahanan. Benteng ini disebut sebagai benteng yang modern pada zamannya.Dari atas bukit ini kita dapat melihat pemandangan kota tanjungpinang yang indah.

(https://jalankemanagitu.wordpress.com)

Bekas benteng pertahanan bangsa melayu saat melawan belanda. Wujud bangunan bentengnya memang sudah tidak ada. Yang tersisa tinggal sejumlah meriam ukuran besar, parit pertahanan, dan sebuah bangunan yang dulu difungsikan sebagai gudang mesiu.

3. Balai Adat Pulau Penyengat

Balai Adat Pulau Penyengat (https://pondokwisataselesa.blogspot.com)

Bangunan bangsal besar yang dulunya oleh pemerintah setempat digunakan untuk acara acara kebudayaan. Dibangunan ini terdapat pelaminan Melayu sehingga pengunjung bisa berphoto di atas pelaminan teersebut. Dibawah balai Adat terdapat sebuah sumur yang airnya bening dan rasa nya tawar. Inilah bukti legenda yang dahulu orang mengenal pulau Penyengat sebagai Pulau Air tawar.

4. Kawasan Pecinaan Senggarang

Kelenteng Su Te Kong (https://dikapra.blogspot.com)

Kawasan ini merupakan kawasan yang religius bagi umat Budha. Di kawasan ini terdapat beberapa kelenteng yang dinilai magis menurut kepercayaan umat Budha. Kelenteng Su Te Kong, merupakan kelenteng dewa api, Kelenteng Marko. Merupakan kelenteng dewa Laut, Kelenteng Tay ti kong, merupakan kelenteng dewa tanah Di kawasan senggarang juga terdapat patung-patung budha, patung-patung ini mempunyai daya tarik tersendiri.

5. Homestay

Pulau Penyengat menyediakan Inap Pulau (Homestay) dengan fasilitas dapat menampung 15 orang. Website: https://pondokwisataselesa.blogspot.com

Pulau Batam, Kotamadya Batam didapatkan beberapa wisata sejarah antara Rumah Melayu Limas Potong (baca: Rumah Adat Riau dan Kepulauan Riau) dan perigi (sumur) tua.

1. Rumah Melayu Limas Potong

Rumah Limas Potong, rumah adat Melayu peninggalan Raja Nong Isa yang berada di Kelurahan Batu Besar. (Foto: Ali) – https://www.batamtoday.com

Rumah adat Melayu peninggalan Raja Nong Isa semasa bertahta di kawasan Nongsa, Batam, tepatnya di Kampung Melayu RT.01/RW.08 Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa.

Rumah panggung ini adalah satu-satunya rumah peninggalan semasa peninggalan zaman Raja Nong Isa pada 1829. Rumah Limas potong ini direhabilitasi selama kurang lebih satu tahun yakni tepatnya pada tahun 1959.

Surat perintah Yang Dipertuanmuda Riau Lingga kepada Raja Isa untuk membina suatu kawasan yang kemudian bernama Nongsa pada 18 Desember 1829, hingga sekarang sebagai hari jadi Kota Batam.

Batam bukan sebagai pusat kerajaan melainkan hanya semacam pemberian otoritas kepada Raja Isa untuk mengembangkan kawasan ini, sehingga tidak banyak situs sejarah yang dapat diketemukan.

2. Rumah Limas Potong

(https://jalankemanagitu.wordpress.com)

Rumah Limas Potong milik keluarga Haji Muhammad Sain di Kampung Teluk, Batam yang dibangun 1 November 1959 dijadikan cagar budaya oleh Pemko Batam.

3. Perigi (Sumur) Tua Pulau Buluh

Perigi Tua Pulau Buluh (https://www.haluankepri.com)

Perigi (Sumur) Tua Pulau Buluh dibuat tahun 1911 terletak di kota tua yang bertengger di sisi Barat Pulau Batam, atau berjarak kurang dari satu mil dari Pelabuhan Rakyat Sagulung ini.

Perigi ini memiliki kedalaman sekitar tujuh meter dan berdiamater 1,5 meter. Bagian bawahnya ditumbuhi lumut hijau nan lebat dan rerumputan dari jenis ganggang. Dinding-dinding yang melingkarinya, terbuat dari susunan batu bata berlabel “Batam” produksi pabrik batu bata pertama di Pulau Batam bernama “Batam Brick Works” yang dibangun dan dikelola oleh Raja Ali Kelana sejak 26 Juli 1896.

Raja Ja’far beserta kerabatnya yang pernah singgah di Pulau Buluh menghadiahkan perigi ini kepada warga setempat sebelum bertolak ke negeri seberang, Malaysia. Perigi ini telah turun temurun dijadikan sumber air tawar bagi warga sekitar.

Kabupaten karimun, dengan ibukotanya Tanjung Balai Karimun berada di bagian tenggara dari pulau Karimun dan secara keseluruhan merupakan bagian dari wilayah perdagangan bebas (free trade zone) BBK (Batam-Bintan-Karimun) yang cukup strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional di sebelah barat Singapura.

Prasasti Pasir Panjang

Prasasti Pasir Panjang (https://www.haluankepri.com)

Prasasti Pasir Panjang yang terletak di Desa Meral, Kabupaten Karimun Provinsi Kepualuan Riau; berada dikawasan PT Karimun Granit harus minta ijin lebih dulu pada petugas jaga.

Prasasti Pasir Panjang merupakan peninggalan bersejarah berupa batu tertulis. Tulisan yang terdapat pada batu ini terdiri dari tiga baris. Tulisan yang tertera merupakan aksara nagari dan berbahasa Sansekerta yang berbunyi “Mahayunika Galagantricacri”. Dari tulisan yang terdapat pada batu ini para ahli menyimpulkan bahwa tulisan itu mengandung arti “Pemujaan  kepada Sang Budha melalui Tapak KakiNya”. Prasasti ini dipercaya berasal dari abad IX-X Masehi. Sementara itu ada juga yang berpendapat berasal dari abad ke XI dan XII.

Prasasti Pasir Panjang terletak di lereng bukit batu granit di wilayah Desa Pasir Panjang. Prasasti ini ramai dikunjungi oleh turis dalam dan luar negeri. Bahkan banyak para peneliti yang mempelajarinya. Di samping itu prasasti tersebut dianggap tempat keramat bagi umat Budha sehingga ramai orang Tionghoa yang datang berziarah guna keselamatan dan meminta berkah. Prasasti ini merupakan potensi wisata yang sudah dikembangkan dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Karimun.

Informasi lebih lanjut hubungi

Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau
Jl. Basuki Rahmat, Tanjungpinang
Telp.: +62 771 315 677 +62 771 315 822
Email: pariwisata_kepri@yahoo.com
Website: https://kepri.travel

Berbagai sumber

One thought on “Wisata Sejarah di Kepulauan Riau (Kepri)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.