Ruang Seni Baru “NalaRRoepa” Hadir di Karangjati, Tamantirto, Kasihan, Bantul

Kehadiran Ruang Seni bernama NalaRRoepa yang berada di Dusun Karangjati, RT 5 RW XI Kelurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul Yogyakarta menambah jumlah galeri alternatif di Jogja.

NalaRRoepa bercat putih bersih tampak mencolok ditengah rerimbunan pepohonan pedesaan, berukuran luas tanah 184 meter persegi berlantai tiga dengan pembagian lantai dasar sebagai tempat diskusi mengingat hampir setiap hari teman-teman se profesi bertandang, lantai dua sebagai ruang pamer daan lantai tiga digunakan untuk gudang karya seni rupa.

Efektif dan begitu efisiennya untuk sebuah Ruang Seni milik Dedy Sufriadi, pelukis jebolan ISI Yogyakarta. Awalnya gedung itu akan digunakan sebagai studio pribadi, berhubung kawan-kawannya mengusulkan agar bisa dimanfaatkan rame-rame maka jadilah Ruang Seni baru yang peresmiannya pada Selasa malam (15 April 2014, bersamaan dengan pembukaan Pameran Lukisan karya Komunitas MJK (Malam Jum’at Kliwon), sekumpulan perupa lintas generasi yang gemar bermain Futsal.

Penamaan Nala (bahasa sangsekerta yang berarti Kedudukan Tinggi) diambil dari nama anak perempuan Dedy yang masih berumur 11 bulan, kemudian ditambah kata R dan diteruskan dengan Roepa, bahasa Ibu sehingga nama itu adalah ruang seni pengingat anak. Begitu terbukanya NalaRRoepa sehingga sampai tahun 2015 sudah full-booked untuk agenda pameran.

Keberadaaannya ditengah-tengah pemukimam penduduk desa, maka Dedy tetap menghormati warga yakni komit menghindari perhelatan pameran yang hingar-bingar, sehingga dia memilih musik akustik untuk performa hiburan di setiap pembukaan pameran, karena pilihan tersebut jauh dari kebisingan.

Untuk fase awal, Dedy mengajak sesama seniman membangun data base untuk memenej pemasaran melalui jaringan bersama. Hal itu dimaksudkan untuk mensejahterakan para anggotanya, sekaligus mengubah paradigma bahwa seniman itu harus di studio saja berkarya melulu. Dua tahun pertama, Dedi melakukan subsidi silang untuk setiap karyanya yang terjual dia potong 25 % guna membiayai pameran mendatang disaat kesulitan dana.

Saat ditemui RRI, salah seorang perupa bernama Herman Lekstiawan dengan karyanya berjudul “Dead Of The Golden Land” sebagai simbolisasi kehidupan rakyat Papua yang diibaratkan hidup di tanah emas namun kondisinya tetap miskin. Sementara itu Dani King Heriyanto melalui karya serialnya berjudul “Tertangkapnya Si Burung Mimpi” memberi perspektif yang realistis bahwa hidup itu harus punya mimpi dan mimpi tersebut di realisasikan.

Sementara itu perupa Iqi Qoror yang dijadwalkan menggelar pameran tunggalnya di Singapura bulan Mei 2014, menghadirkan perilaku manusia yang “sok” padahal dirinya sesungguhnya tidak bisa apa-apa. Sedangkan Hayatudin membeberkan kemunafikan pengusaha kakap yang kerap mengatakan turut menjaga lingkungan namun faktanya perusahaan raksasa yang dia pimpin merusak lingkungan dalam skala yang jauh lebih besar.

Ke-29 perupa lainnya yang mengikuti pameran di NalaRRoepa yakni, Satria Agatana, Erizal, Atmo, Robi Fathoni, Andi Sules, Seno, Made Palguna, Wisnu, Dedy Sufriadi, Giring, M Andi Dwi, Gusmen, Ridwan, Doddy Setiawan, Setya dwi Acong, Ronal Apriyan, Suneo Santoso, Joni Antara, Isur Suroso, Anak Agung bejo, Adi Gunawan, Joko Gundul, Cokorda Bagus, Mulyo Gunarso, Hendy, Agus Tbr, Zulfirmansyah, Deni Rahman dan Topan Ali.

Sumber: RRI Jogja

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.