Masjid – Masjid Kuno di Aceh

Masjid Raya Baiturrahman di tahun 1890 M

Sahabat GPS Wisata Indonesia, mencoba disusun kembali Masjid-Masjid Kuno yang ada di Provinsi Aceh, dari periode 1400 sampai 1800, akan dimulai dengan tahun yang paling tua. Kemudian akan dibahas satu persatu disetiap artikel nantinya.

1. Masjid Asal Penampaan

Masjid Asal Penampaan (https://www.lintasgayo.com)

Masjid Asal Penampaan terletak di Desa Penampaan, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.

Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid Asal Penampaan didirikan pada tahun 815 H/1412 M. Jika informasi ini akurat, berarti masjid Asal didirikan dalam masa Kerajaan Pasai. Sebab setidaknya, Kerajaan Pasai telah berdiri dari tahun 1282 M, (Ibrahim Alfian, 2004: 26) dan jatuh dalam kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam di tahun 1524 M, (Amirul Hadi, 2004: 13).

Bangunan Masjid Asal itu sudah 800 tahunan hingga kini masih utuh. Masjid Asal tersebut aslinya berukuran 20 X 20 meter berlantai tanah. Namun, kini masjid tersebut telah diperluas dengan bantuan dari para donator. Tapi, bentuk asli peninggalan sejarah itu hingga kini tidak dirombak, kecuali lantai tanah kini menjadi lantai semen.

2. Masjid Jami’ Indrapuri

Masjid Jami Indrapuri (https://bujangmasjid.blogspot.com)

Masjid Jami’ Indrapuri terletak di Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, dipinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri dengan jalan raya Medan-Banda Aceh.

Masjid Jami Indrapuri pada mulanya merupakan sebuah bangunan candi yang dibangun pada abad ke 12 M di kerajaan Indrapuri. Jauh sebelum berdirinya Kesultanan Aceh darussalam di abad ke 15M. Sultan pertama Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah dinobatkan sebagai Sultan pada hari Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Pengaruh Kesultanan Aceh menyebar di pulau Sumatera hingga ke wilayah semenanjung Malaya.

Manakala Islam kemudian masuk ke wilayah Indrapuri dan kemudian mengubah peradaban disana ke peradaban Islam, fungsi candi Indrapuri pun kemudian berubah menjadi sebuah masjid. Konon perubahan itu terjadi semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa di Kesultanan Aceh Darussalam tahun 1607 M hingga 1636 M. Sultan Iskandar Muda juga lah yang kemudian membangun masjid Indrapuri menggantikan Candi di lokasi tersebut.

3. Masjid Beuracan

Masjid Beuracan terletak di Desa Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie, yaitu di pinggir jalan Sigli-Medan yang dapat dijangkau dengan semua jenis kendaraan darat. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 40 x 40 meter dengan status tanah wakaf.

Berdasarkan informasi bahwa mesjid Beuracan dibangun oleh Tgk. Salim pada tahun 1622 M pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh. Tgk. Salim berasal dari Madinah. Ia datang melalui selat Malaka hingga sampai di daerah Meureudu bersama-sama dengan Tgk. Japakeh dan Malim Dagang. Tgk. Salim tinggal menetap di Pocut Krueng sehingga ia dikenal dengan nama Tgk. Chik di Pocut Krueng. Tgk. Japakeh menetap di Desa Meunasah Raya dan Malim Dagang menetap di Desa Manyang Cut. Ia adalah seorang ulama. Oleh karena itu, ia kemudian membangun masjid sebagai pusat pengajaran agama Islam kepada masyarakat disekitarnya. Di samping itu, ia juga membuka lahan persawahan seluas 50 ha dan tanah perkebunan dilingkungan mesjid seluas 6 ha, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan mesjid.

4. Masjid Jamik Jantho

Masjid ini terletak di Desa Weu Kemukiman Jantho Kecamatan Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar. Berjarak sekitar 60 km dari Banda Aceh, dan 28 km dari Saree. Informasi dari imam masjid enyebutkan bahwa masjid ini dipindahkan ke lokasi yang sekarang di tahun 1710 M. Sebelumnya masjid ini dibangun di Desa Jantho Lama sekitar tahun 1640 M, di masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)

5. Masjid Teungku Di Anjong

Beginilah kondisi masjid Teungku Di Anjong sampai tsunami menerjang 26 Desember 2004.

Masjid ini terletak di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh. Masjid Teungku Di Anjong yang aslinya berkonstruksi kayu telah hancur dilumat gelombang tsunami. Kini telah dibangun masjid baru dengan konstruksi beton, tapi tetap mengikuti arsitektur tradisional Aceh, sebagaimana bentuk Masjid Teungku Di Anjong sebelumnya.

Masjid Teungku Di Anjong dalam sketsa,di tahun 1882 M

Bangunan ini pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai masjid, tapi dibangun sebagai tempat belajar (Dayah/pesantren).

Dayah ini didirikan kira-kira pada tahun 1769 M oleh Teungku Di Anjong yang hidup di masa Sultan Alaidin Mahmud Syah (1760-1781 M). Teungku di Anjung wafat tahun 1782 M, tidak diketahui siapa yang melanjutkan kepemimpinan dayah ini sepeninggal beliau dan bagaimana kelanjutan dayah ini. Teungku Di Anjong dikebumikan di dayah beliau di Desa Peulanggahan.

6. Masjid Al-Muhajirin

Masjid Al-Muhajirin berada di lingkungan Rindam Iskandar Muda – Mata Ie. Tepatnya di Desa Lheu-U Kemukiman Daroe Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Masjid ini didirikan pada tahun 1835, bangunan aslinya telah direnovasi menjadi seperti yang terlihat sekarang.

7. Masjid Tuwo Padang 

Masjid Tuwo Padang terletak di Kelurahan Padang Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan.Menurut informasi salah seorang tokoh masyarakat setempat dan berdasarkan pada data (dokumentasi) yang terpajang pada papan informasi di dalam masjid Tuwo Padang pertama sekali dibangun pada tahun 1276 H (1858 M). Angka tahun tersebut terdapat dan ditulis pada salah satu tiang masjid di sisi barat yang diabadikan pada salah satu tiang untuk mengingatkantahun pertama berdirinya masjid ini. Bangunan masjid dibangun sangat sederhana berbentuk panggung, berkonstruksi kayu dan beratap limasan tumpang dua, dinding dan lantainya terbuat dari papan dan tidak memiliki serambi.

8. Masjid Teungku Chik Kuta Karang

Mesjid Teungku Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu I Kemukiman Kuta Karang Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Mesjid ini didirikan oleh Tgk. Chik Kuta Karang sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997.

9. Masjid Baiturrahim 

Masjid Baiturrahim terletak di Gampong Tualang, Kemukiman Peureulak, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Propinsi Aceh.

Pada tanggal 16 Dzulhijjah 1303 H atau 1883 M, dilakukan rehabilitasi total yang menggantikan masjid lama dengan masjid berkontruksi beton, dan beratapkan genteng, Rehabilitasi ini dilakukan oleh Teungku Chik Muhammad Ali, keturunan Datok Po Kalam dengan mendatangkan ahli dari Pulau Penang, Malaysia.Luas masjid Baiturrahim 4.800 m2, luas bangunan 486 m2 dan daya tampung jema’ah 600 orang.

10. Masjid Raya Baiturrahman

Sketsa ini (Peter Mundy 1637), menunjukkan bentuk masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda tahun 1614 M. Masjid ini terbakar sekitar tahun 1677 M, saat terjadi pergolakan kaum wujudiyyah di masa Sultanah Nurul ‘Alam Nakiatuddin Syah.

Menurut A. Hasjmy, inilah bentuk Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun oleh Sultanah Nurul ‘Alam Nakiatuddin Syah (1675-1678 M). Masjid inilah yang dibakar pada tanggal 6 Januari 1874 oleh Belanda dalam agresi keduanya.

Masjid Raya Baiturrahman di tahun 1881 M. Pada awalnya rakyat Aceh menolak, karena menurut mereka, masjid ini dibangun oleh kaphe. Masjid ini diserahkan kepada rakyat Aceh pada hari Selasa, 27 Desember 1881 M/6 Safar 1299 H.

Masjid Raya Baiturrahman dengan tiga kubah

Masjid Raya Baiturrahman dengan tiga kubah. Perluasan dengan penambahan dua kubah ini dilakukan oleh Gubernur Van Aken pada tahun 1936.

11. Masjid Indrapurwa

Menurut keterangan dari imam masjid, masjid ini dulu dibangun di Desa Pante Ara. Akibat abrasi, lokasi itu telah menjadi laut, pondasi mesjid itu masih terlihat saat air surut, kira-kira berjarak sejauh 2 kilometer dari bibir pantai. Kemudian masjid ini dipindahkan ke Desa Lam Badeuk Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar.

Masjid Indra Purwa adalah salah satu dari tiga masjid yang oleh Snouck Hurgronje dinyatakan dibangun di atas bekas reruntuhan candi. Masjid lainnya ialah Masjid Indrapuri yang sekarang ini masih mungkin untuk diteliti. Sementara Indrapatra tidak terbukti dibangun sebagai candi, dan tidak berbukti pernah dibangun masjid di atasnya.

Keberadaan Masjid Indrapurwa sebagai situs sejarah tidak bisa lagi dilacak karena telah hancur dalam musibah tsunami. Sebelum dihantam tsunami, masjid ini pun sudah tidak pada lokasi aslinya yang dikatakan berada di atas candi. Menurut keterangan dari Imam Masjid, masjid itu dulu berada di Gampong Pante Ara, namun karena dikikis abrasi, lalu dipindahkan ke lokasi baru di Gampong Lam Badeuk Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

Pada mimbar yang terdapat di Masjid Indrapurwa terdapat ukiran yang bertuliskan tahun 1276 Hijriyyah. Kalau dikonversi ke tahun miladiyyah, angka ini menunjuk tahun 1859 M, tentunya ini harus diasumsikan sebagai tahun pembuatan mimbarnya. Adapun tentang tahun pendirian masjid, tidak diperoleh keterangan.

Keberadaan Masjid Indrapurwa telah musnah ditelan oleh Tsunami, menurut keterangan penduduk setempat, pondasi masjid itu masih dilihat saat air laut surut, kira-kira jaraknya 2 km dari bibir pantai.

12. Masjid Tua Kabayakan

Masjid ini didirikan pada tahun 1895 di Kampung Kabayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Pada saat Belanda menyerang Kampung Kabayakan pada 22 Mei 1905, masjid ini hampir rampung dibangun. Pembangunan masjid ini dilakukan secara bergotong-royong oleh masyarakat Kampung Lot Kala, Gunung Bukit, dan Kampung Jongok Meluem (Sagi Onom dan Sagi Lime) yang kepanitiaannya diketuai oleh Teungku Khatib. Arsitektur masjid ini dirancang oleh seorang arsitek berdarah Cina bernama Burik.

13. Baiturrahim Singkil *

Masjid Baiturrahim terletak di Pusat Kota Singkil, ibukota Kabupaten Aceh Singkil, Propinsi Aceh, merupakan Masjid pertama dan tertua.

Sebelumnya masjid ini bernaman Masjid Jamik Baiturrahim yang dibangun di Singkil lama pada tahun 1256 H atau 1836 M, lalu dipindahkan ke Singkil Baru pada tahun 1909 M.

Gempa bumi dan gelombang pasang tanggal 28 maret 2005 telah menjadikan masjid ini mengalami kerusakan berat. Untuk memperbaikinya pada tanggal 7 Mai 2005 telah dibentuk Panitia Pembangunan Masjid Baiturrahim yang bertugas untuk merehab masjid yang rusak agar bisa dipergunakan sekaligus merencanakan pembangunan masjid baru sebagai pengganti masjid yang rusak. Desain bangunan baru Masjid berukuran 37 x 37 m dengan 4 menara tinggi, 4 menara kecil dan satu kubah besar serta 4 Qubah kecil. Kubah besar dan atap serta ornamennya diupayakan mirip dengan masjid yang dibangun tahun 1909.

Sumber:
Buku Mesjid Bersejarah di Nanggroe Aceh, Jilid 1, Departemen Agama Provinsi Aceh (E-book)

(*) Tambahan

One thought on “Masjid – Masjid Kuno di Aceh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.