Batik Wonogiri

3

abc28-20130906-075426

Wonogiri merupakan Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, terletak Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, bagian selatan langsung di bibir Pantai Selatan, bagian barat berbatasan dengan Gunung Kidul di Provinsi Yogyakarta, Bagian timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Pacitan. Ibu kotanya terletak di Kecamatan Wonogiri.

Latar belakang terciptanya Batik Wonogiri atau dikenal dengan Batik Wonogiren merupakan tradisi Tirtomoyo diawali oleh seorang abdi dalem Pura Mangkunegaran yaitu Kanjeng Wonogiren yang merupakan sang kreator terciptanya Batik Wonogiren sekitar tahun 1910-an.

Batik Wonogiren

e1ca8-20130906-075418(https://katadanrasa.wordpress.com)

35a23-20130906-075426(https://katadanrasa.wordpress.com)

Batik Wonogiren memiliki ciri khas eksklusif yaitu remukan (retakan). Remukan tercipta dari ketidak sengajaan saat proses membatik, akan tetapi para konsumen mengira remukan-remukan tersebut merupakan ciri dari Batik Wonogiren dan terlihat seperti alami dan indah. Para konsumen pun menyukai dengan Batik Wonogiren dengan remukannya, dan sampai sekarang remukan menjadi ciri khas dari Batik Wonogiren.

Macam-macam jenis motif Batik Wonogiren terdapat dua macam yaitu Batik Wonogiren Tradisi Tirtomoyo dan Batik Wonogiren Pengembangan. Contoh jenis motif Batik Wonogiren Tradisi Tirtomoyo adalah Manyar Sewu, Ratu Ratih, Sido Drajat, Suryo Suwito, Sido Asih, Tirto Tedjo Kusumo, Simbar, Wahyu Temurun, Sido Mulyo. Contoh Batik Wonogiren Pengembangan adalah Motif Gajahan, Motif Satriyo Manah, Motif kupu Kongket, Motif Urang, dan Motif Alas-alasan.

Batik Wonogiren

456fb-s7300043(https://yuell46.blogspot.com)

7194e-s7300044(https://yuell46.blogspot.com)

Estetika yang terkandung di dalam Batik Wonogiren Tradisi Tirtomoyo diungkap dengan menggunakan dasar teori estetika dari Darsono Sony Kartika, terdapat empat macam nilai dasar yang digunakan yaitu nilai intrinsik, nilai ekstrinsik, nilai estetis murni, dan nilai estetis tambahan. Dari dasar tersebut remukan menjadi nilai estetika utama yang ada pada setiap Batik Wonogiren. Dari seluruh bentuk motif yang ada di Batik Wonogiren Tradisi Tirtomoyo remukan menjadi ciri utama atau eksklusif dari Batik Wonogiren Tradisi Tirtomoyo.

Batik Wonogiren dalam perjalanannya mengalami pengembangan, mulai tahun 1960an. Warga Wonogiri memiliki keinginan untuk memproduksi dan memakai batik dengan ciri khas budaya setempat, meliputi kondisi geografis, sosial, fenomena, selera, dan sebagainya. Motif yang dibuat terinsipirasi dari hal-hal tersebut serta modifikasi pola Batik Klasik Kraton Surakarta. Contoh motif terpengaruh fenomena sosial adalah Keladi dan Jemani, berisi motif adaptasi dari bentuk daun Keladi dan Anthurium jenis Jenmani yang menjadi tren koleksi tanaman hias 2007. Motif tersebut dibuat atas ide dan pesanan kolektor tanaman hias. Kondisi lingkungan hutan, juga menjadi sumber inspirasi munculnya motif Gelondong Kayu dan Serat Kayu, berupa motif bilar kambium batang terbelah serta serat pohon berkayu.

Batik Wonogiren 

eebcf-653524_20121004075951(https://www.kaskus.co.id)

4061c-f2251ab5f7f5ebac16f131473103088d(https://www.pinterest.com)

Masyarakat di wilayah pembatikan Kecamatan Tirtomoyo memiliki peran berupa persepsi dan partisipasi penting dalam pengembangan desain Batik Wonogiren. Hal tersebut salah satu kontribusi penting guna menyumbang kekayaan jenis motif Batik Nusantara umumnya, dan khususnya di wilayah Surakarta. Subjek yang tepat untuk mengetahui secara langsung perihal pengembangan desain Batik Wonogiren melalui interaksi langsung dengan masyarakat pelaku.

Desain Batik Wonogiren merupakan objek yang muncul karena ide atau gagasan masyarakat, dalam hal ini perajin merupakan pengeksekusi persepsi masyarakat berupa ide; sebagai wujudnya adalah partisipasi dengan memvisualisasikannya ke sebuah bentuk. Perajin dimaksud adalah pihak yang berpartisipasi aktif mempunyai ide untuk membuat suatu motif dan mengaplikasikan pada kain, meskipun tidak sampai tahap akhir proses pembatikan.

Melalui Keputusan Bupati Wonogiri Nomor 431/03/501/1993, batik Wonogiren dibakukan cirinya melalui empat hal, yaitu corak bledak, dasaran jene (kuning kecokelatan), sekaran (lukisan bunga), dan babaran (guratan) pecah.

Di Kabupaten Wonogiri ada dua home industri yaitu di Wonogiri Kota dan di Kecamatan Tirtomoyo. Di Wonogiri beralamat di Joho Lor RT 1 RW 11 Kelurahan Giriwono Kecamatan/Kabupaten Wonogiri.

Peran aktif para pengrajin yang akan membuat kain batik kembali berjaya dan dikenal luas bahkan sampai luar negeri patut di apresiasi. Selain itu peran kita sebagai generasi penerus bangsa juga sangat diperlukan untuk melestarikan kain batik, caranya adalah dengan tetap mencintai batik sebagai salah satu karya anak bangsa, dengan bangga memperkenalkan budaya kita ke dunia luar dan selalu menggunakan produk anak bangsa. Sehingga budaya Indonesia khususnya Batik dapat dihargai di dunia Internasional.

Yuk kita melestarikan batik Wonogiri, dengan memakainya.

Semoga bermanfaat.

3 thoughts on “Batik Wonogiri

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Candi-Candi di Sumatera

Thu May 1 , 2014
Candi Muara Takus Riau Candi di Pulau Sumatra tidak sebanyak yang terdapat di Pulau Jawa. Kebanyakan candi di Sumatra terletak di lokasi yang cukup jauh dari kota, sehingga tidak banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. Sebagian besar candi di Sumatra, yang telah diketahui keberadaannya, berada di provinsi Sumatra Utara, khususnya […]

You May Like