Batik Tegal

3

5ad37-20130420-091205_nv310506nvbatik_tegal_2-185x220

Tegal dikenal dengan warteg (warung tegal) yang berada dimana-mana. Tegal memiliki sebutan sebagai kota bahari (Bersih, Aman, Hijau, Asri, Rapi, dan Indah), serta Tegal terletak di pesisir utara Laut Jawa dan kehidupannya bertumpu pada hasil laut. Tegal memiliki lokasi yang strategis, karena berada pada jalur pantai utara (pantura) Jawa Tengah, terdapat persimpangan jalur utama yang menghubungkan pantura dengan kota-kota di bagian selatan Pulau Jawa.

Sebagai kota yang letaknya strategis, Tegal tak luput dari daerah penyebaran batik di tanah Jawa. Batik pertama kali dikenal di Tegal yaitu pada akhir abad ke-19. Budaya batik di Tegal dibawa Raja Amangkurat I (Sunan Amangkurat Mas) dari Keraton Kasunanan Surakarta. Amangkurat yang saat itu menyusuri pantai utara membawa pengikutnya yang diantaranya perajin batik. Perajin ini akhirnya menurunkan ilmunya pada anak cucunya dan meluas ke masyarakat. Batik yang dibuat motifnya masih meniru motif-motif khas keraton yaitu didominasi warna hijau dan kecokelatan.

Pada tahun 1908 batik juga diperkenalkan oleh RA Kardinah, istri Bupati Tegal RM Adipati Ario Reksonegoro pada masa itu. Kardinah juga membangun Sekolah Kepandaian Putri, untuk gadis pribumi yang bernama Wismo Pranowo. Di dalam sekolah tersebut, selain memberi pelajaran setara dengan Sekolah Pribumi Kelas Dua pada masa pemerintah Belanda, beliau juga memberi pelajaran praktik membatik. Terdapat fasilitas untuk membatik seperti gudang dan los untuk penyelesaian hasil-hasil pembatikan dengan soga (warna merah untuk batik) dan wedel (warna hitam untuk batik). Motif batik yang diajarkan menyerupai motif-motif batik Lasem.

Para perajin batik di Tegal telah menggeluti batik secara turun-temurun. Awalnya bahan pewarna yang dipakai waktu itu berasal dari pewarna alam yang bisa didapat dari lingkungan sekitar, misal pace/mengkudu, nila, soga kayu dan bahan kainnya juga tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah dan biru. Adajuga batik Tegal dengan warna dasar kain hitam dan putih yang didominasi warna coklat dan biru. Ciri khas lain batik Tegalan adalah berwarna-warni.

Batik tulis Tegal atau biasa disebut batik tegalan dapat dikenali dari corak gambar atau motif rengrengan besar atau melebar. Motif ini tak dimiliki daerah lain sehingga tampak eksklusif. Isen-isen agak kasar terinspirasi dari flora dan fauna lingkungan sekitar dipadukan dengan warna spesifik yang lembut atau kontras. Warna lembut dan kontras adalah motif batik gaya pesisiran, ini memunculkan kesan tegas dan lugas seperti karakter masyarakat Tegal.

Batik Tegalan

652f3-batiktegal1 Sumber: https://sketsabudaya.blogspot.com

Jika di daerah lain nama jenis batik ditentukan dari ragam hias utamanya, maka penamaan motif batik Tegalan sebagian besar justru berdasarkan motif latarnya (kecuali beberapa motif keratonan). Contohnya: beras wutah, semut runtung, blarak saleret, tumbar bolong. Hal menarik lain adalah penggunaan isen-isen (ornamen-ornamen kecil berbentuk seperti titik, koma atau lingkaran kecil). Jika di lain daerah isen-isen berada di luar motif utama, batik Tegalan justru menempatkannya di dalam motif utama.

Batik Tegalan

0bbe4-batiktegal2 Sumber: https://marsharamadhanibiancaprasetyo.blogspot.com

Dalam perkembangannya, batik Tegalan dapat dibedakan dalam dua motif dasar, yakni motif klasik dan motif pengembangan. Motif klasik dibedakan lagi menjadi dua macam, yakni motif klasik irengan yang didominasi warna hitam, coklat dan biru serta motif klasik bangjo yang dipengaruhi tradisi batik Lasem yang didominasi warna kuning, coklat, merah, hijau dan biru. Motif yang dikategorikan sebagai motif klasik irengan diantaranya motif gribikan, jahe-jahenan, kawung mlinjo, sidomukti ukel, udan liris, ukel wit-witan, kopi pecah, parang, parang angkik, putihan, sawat candra atau sawat ireng, rujak sente, welut gumbel, kecubungan, buntat, kawung endog, manggaran, cempaka putih, cempaka mulya, ukel pyur, semut runtung, serta sidomukti putihan.

Sedangkan motif yang termasuk motif klasik bangjo adalah motif wadas gempal, jamblangan, kawung jenggot, cecek kawe, unian, sokaraja, blarakan, kopi pecah, galaran, buntut bajing, semut runtung, beras mawur, tumbar bolong, dan tambangan.

Batik Tegalan

88a65-batiktegal3 Sumber: https://alamatsenja.blogspot.com

Motif pengembangan merupakan motif yang dipengaruhi tradisi batik lain dalam pembuatan batik Tegalan. Meski demikian modifikasi motif pengembangan ini tidak mengubah karakteristik batik Tegal dengan warna-warna terang dan motif flora fauna yang banyak ditemui di Tegal. Motif pengembangan ini diantaranya motif gedong kosong, manuk emprit, sotong, manuk surwiti, kipas-kipasan, kembang kertas, kawung melinjo, kawung ece, kawung kecik (motif kawung merupakan khas keratonan, namun telah dikombinasikan dengan corak melinjo ataupun sawo kecik), manggaran, mayang jambe, galaran, grandil, cecek ngawe, blarak saleret, kembang pacar, beras wutah, tumbar bolong, semut runtung. Motif-motif ini yang kemudian justru lebih berkembang di masyarakat, karena pakem (tata aturan) ragam hiasnya lebih bebas dan memungkinkan pembuatnya dapat lebih berimprovisasi. Berbagai motif batik tersebut merupakan murni hasil karya para perajin batik Kota Tegal.

Batik Tegalan

3fea5-batiktegal4 Sumber: https://batikcity.com

Batik Tegal memiliki makna dan filosofi tertentu, misal motif Gurdo, sebagai penggambaran panji-panji garuda dan kebesaran yang dibawa oleh kelompok Amangkurat I dalam perjalanan pelariannya. Berdasarkan cerita rakyat adanya panji-panji ini menyebabkan timbulnya keinginan untuk membuat motif batik tulis Tegalan. Batik ini memiliki warna terang yang mempertontonkan bentuk-bentuk sayap burung garuda.

Batik Tegal Motif Gurdo

a8fc6-batiktegal-motifgurda Sumber: https://komarabatik.blogspot.com

Motif Tapak Kebo, menurut cerita rakyat motif tapak kebo tercipta karena pada waktu Amangkurat Mas menetap di Tegal, keadaan tanah pada saat itu masih gersang dan tandus sehingga tanah tersebut diolah dan dibajak dengan kebo. Ketika kebo-kebo membajak sawah meninggalkan jejak-jejak kaki sehingga terciptalah motif tapak kebo. Motif Pipitan, masyarakat Tegal percaya bahwa ketika sawah mulai ditanami padi, banyak burung pipit yang datang memakan padi. Motif Dapur Ngebul, lagi-lagi menurut cerita rakyat setelah panen, maka beras dicuci dan ditanak di dapur. Hal ini menyebabkan dapur berasap maka terciptalah motif dapur ngebul.Motif Gribigan, berdasarkan cerita rakyat setelah panen taraf hidup masyarakat pada waktu itu mulai meningkat sehingga mulai ada rumah-rumah yang dibuat dari gribig maka muncullah motif gribigan. Motif Gribigan dengan bentuk khas anyaman bambu yang memiliki warna agak gelap.

Motif Kelabangan, Menurut kisah rakyat untuk mengusir burung-burung pipit tersebut, gadis-gadis menjelang nikah menunggu padi sambil mengepang rambut menyerupai kelabang sehingga tercipta motif kelabangan.

Batik Tegal Motif Kelabangan

6011a-batiktegal-motifklabangan Sumber: https://komarabatik.blogspot.com

Bukan saja motif dan coraknya yang berbeda dari batik kota-kota lain, namun prilaku pembatik juga cukup menarik. Dulunya mereka membuat batik hanya untuk kebutuhan keluarga, terutama bila akan mempunyai hajat seperti perkawinan dan sunatan. Batik merupakan sumbangan yang berharga bagi acara-acara penting dalam keluarga. Mereka secara tidak sadar memposisikan batik sebagai hasil karya seni yang nilainya tidak terukur. Satu hal lagi yang membedakan Batik Tegalan dengan batik daerah lainnya adalah penggunaan jenis cantingnya. Beberapa daerah lain, misalnya Solo dan Yogyakarta menggunakan bermacam-macam canting, dari canting lengkrengan yang bercorong besar, canting isen-isen yang diameter corongnya sedikit lebih kecil, hingga canting bercorong tujuh yang memungkinkan membuat lengkungan-lengkungan dengan jarak yang sama. Namun pembatik Tegalan masih terbatas pada penggunaan dua hingga empat macam canting. Akibatnya bisa dilihat pada hasil produksinya, yaitu lebih banyak garis atau titik-titik tebal dalam konstruksi ragam hiasnya.

Aktivitas usaha batik tulis tegalan di Kota Tegal dikelompokkan dalam sentra industri kecil-menengah di Kelurahan Kalinyamat Wetan, Bandung, Tunon, dan Keturen, wilayah Kecamatan Tegal Selatan.

Batik Tegalan hingga hari ini masih belum terlalu dikenal luas oleh publik. Padahal batik Tegalan memiliki karakteristik yang khas, mulai dari filosofi, motif, corak dan warnanya. Sejumlah pihak mulai mengkhawatirkan perkembangan batik Tegalan yang semakin tenggelam padahal belum sempat berkembang pesat. Peran pemerintah daerah masih terbilang minimal, karena itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar batik Tegal dapat disejajarkan dengan batik lainnya dalam dunia perbatikan nasional. Pemerintah daerah dapat melakukan intervensi dengan memfasilitasi terbangunnya pasar batik, misal melalui pameran, pemanfaatan batik sebagai pakaian dinas (Pemkot Tegal mawajibkan pegawainya mengenakan baju batik pada hari kamis), fasilitasi usaha antara pengrajin, pengepul, dan buruh pengrajin dalam skema program kemitraan inti-plasma, hingga fasilitasi teknologi dan manajemen usaha melibatkan lembaga pendidikan lokal, serta fasilitasi hak cipta batik Tegal.

Produksi Batik Tegalan umumnya dilakukan masyarakat secara kecil-kecilan dalam industri rumah tangga. Jumlah produksi pun biasanya didasarkan pada pesanan. Kapasitas produksi yang terbatas, disamping popularitasnya yang belum massif membuat batik Tegal baru beredar pada pasar lokal dan regional serta penjualan secara perorangan.

Saat ini, batik tulis Tegal terancam kehilangan generasi, karena sebagian besar generasi muda di sana memilih bekerja ke Jakarta sebagai pedagang atau penjaga warteg. Biasanya yang masih mau membatik hanya perempuan-perempuan yang sudah menikah dan punya anak, kalau masih gadis, mereka memilih merantau. Selain itu juga karena pendapatan pembuat batik Tegal semakin tidak memadai. Pasalnya, harga bahan baku semakin mahal, sementara harga jual kain batik tidak mengalami kenaikan. Padahal, waktu pembuatannya sangat lama. Rata-rata dalam sehari menghabiskan waktu empat hingga enam jam untuk membatik. Selama ini, sebagian pembatik masih tergantung pada pedagang batik.

Tertarik dengan batik yang berasal dari kota Tegal ini. Silakan jadikan batik Tegal sebagai salah satu koleksi kain ataupun busana batik anda. Semoga bermanfaat infonya.

Sumber: Fitinline

3 thoughts on “Batik Tegal

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Batik Pemalang

Sun Feb 2 , 2014
Pemalang merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Pekalongan di sebelah timur, Kabupaten Purbalingga di sebelah selatan, dan Kabupaten Tegal di sebelah baratnya. Pemalang lebih dikenal dengan sebutan Pemalang Kota Ikhlas. Karena berdekatan dengan Kabupaten Pekalongan kota batik, ternyata […]

You May Like