Sejarah dan Perkembangan Gudeg (1 dari 2)

ffaa1-133863961581506430 Mbah Sing Dodol Gudeg/Ilustrasi Admin (Diadjeng Laraswati H/KFK)

Tak banyak yang tahu, saat ini gudeg telah dikonsumsi oleh warga Eropa. Sudah setahun lebih Elies Dyah Dharmawati (59) mengekspor gudeg melintasi benua hingga Eropa. Ibu yang akrab disapa bu Lies ini mengemas gudeg dalam bentuk kaleng.

Itulah gudeg, makanan khas Yogja yang kini telah bertransformasi menjadi makanan kelas dunia. Dengan kekhasan buah nangka muda (gori) yang manis, daging ayam kampung yang disuwir-suwir, telur bebek pindang rebus, paduan sayur tempe, dan sambal krecek, menjadikan gudeg sangat populer di berbagai kalangan.

Kompasianers, sampai saat ini saya belum menemukan literatur sejarah pasti gudeg. Untuk melacak eksistensi gudeg biasanya dari warung-warung penjual gudeg itu sendiri. Di selatan Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) berderet warung-warung gudeg. Di antara warung tersebut, warung ibu Slamet yang pertama kali merintis usaha gudeg, yakni pada 1942.

Baru pada 1950-an, muncul warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang dikenal dengan Gudeg Yu Djum. Meski warung ibu Slamet yang pertama menjual gudeg, tetapi Gudeg Yu Djum yang dikenal sampai kini. Bahkan Warung Campur Sari sempat tutup pada 1980-an dan 13 tahun kemudian muncul dengan brand berbeda, yakni Gudeg ibu Lies yang dimiliki ibu Elies Dyah Dharmawati itu.

Di lokasi berbeda, di sisi Barat areal gedung bioskop jalan Sultan Agung, Yogyakarta, terdapat Gudeg Permata yang dirintis oleh ibu Pujo sekitar 1951. Dinamakan Gudeg Permata, karena nama bioskop di lokasi warung gudeg itu berada adalah Permata. Bioskop Permata itu sendiri sudah berdiri sejak 1940-an.

Kompasianers, Gudeg Permata ini begitu terkenal. Tak cuma dari kalangan warga biasa, tetapi dari kalangan ningkrat maupun tokoh nasional. Sebut saja Sri Sultan HB X, almarhum Sri Paku Alam VIII, Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, Menpora Andi Mallarangeng, Wakil Gubernur Banten Rano Karno, dan masih banyak lagi.

7047b-1338648372710219867

Gudeg Yu Djum juga tak kalah terkenal. Warung yang terletak di seberang kampus Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta itu juga kerap didatangi oleh para tokoh nasional maupun public figure. Haryadi (38) juru parkir di Kampung Mbarek, kampung Gudeg Yu Djum ini mengatakan, setiap hari ada 100 hingga 150-an mobil pengunjung yang masuk ke kampung ini, dimana rata-rata 1 mobil berisi 5 penumpang. Tujuannya tak lain ke warung Gudeg Yu Djum.

Meski di Plengkung Wijilan dan di area gedung bioskop jalan Sultan Agung, Yogyakarta baru muncul pada 1940-an, tetapi ada literatur yang mengatakan sejarah gudeg telah ada sejak era dibukanya alas (hutan) Mentaok untuk pembangunan Kraton Mataram.

Ketika membebaskan hutan, di situ terdapat banyak tumbuh pohon nangka muda (gori) sebagai bahan baku utama gudeg. Selain itu juga terdapat pohon kelapa yang tumbuh di pinggir hutan dan tepi sungai. Suatu ketika para prajurit yang bertugas memasak gori dan santan dari kelapa diminta prajurit lain yang bertugas menebang pohon. Walhasil, gori yang telah bercampur santan itu lupa diangkat selama 6-8 jam. Namun, dari ‘kecelakaan’ itu justru menciptakan makanan baru bernama gudeg.

Sementara ada kisah lain yang mengatakan, penemu gudeg bukan prajuit Mataram yang bertugas di dapur umum. Gudeg ditemukan oleh seorang istri prajurit yang bernama Sri Sumantri. Wanita ini pertama kali memasak gudeg menggunakan nangka muda yang dicampur dengan gula dan santan pada 1557 M.

Setiap hari Sukarman (49) mengolah 200 kilogram gori (buah nangka muda) menjadi gudeg, mengupas 2.000 butir telur, dan menyembelih 150 ekor ayam. Tentu saja, bukan cuma Sukarman sendiri. Ada sekitar 40 orang yang menjadi karyawan di Gudeg Yu Djum, Dusun Karangasem, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta ini.

“Kami bisa memproduksi dua atau tiga kali lipat pada akhir pekan,” ujar pria berbadan kekar itu (Kompas Minggu, 3 Juli 2011). “Produksi ditingkatkan lagi pada libur lebaran. Bahkan kami bisa memproduksi dua ton gudeg untuk dijual pada hari kedua hingga ketujuh setelah lebaran”.

2ca27-100_5395Gang Pusat Pembuat Gudeg Khas Jogjakarta (Photo: Tri Agus Yogawasista). Koordinat GPS : 7° 45′ 58.6″ S 110° 22′ 49.4″ E

Gara-gara Gudeg Yu Djum, Kampung Mbarek ini mendapatkan rezeki. Betapa tidak, selain banyak warga kampung yang menjadi karyawan warung gudeg itu, tak sedikit pula tumbuh warung gudeg di kampung yang berada di sisi jalan Kaliurang, Yogyakarta.

Peneliti makanan tradisional dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Mudijati Gardjito memperkirakan, tradisi memproduksi gudeg di Kampung Mbarek ini muncul pada periode antara 1950 dan 1965. Perkiraan ini diambil atas dasar, pada periode 1950-an, penjual gudeg hanya bisa ditemui di pasar.

Analisa Prof. Mudjiati tersebut boleh jadi benar. Sebab, sebelum membuka warung gudeg di seberang kampus Universitas Gadjah Mada, mbah Djuwariah (nama asli pemilik Gudeg Yu Djum) masih jalan kaki dan menggendong gudegnya ke Wijilan. Bertahun-tahun kemudian, mbah Djum menggangkut dagangannya dengan becak, andong, dan kemudian mobil.

Bersambung ke halaman dua

Sumber: Wisata.kompasiana 1 dan Wisata.kompasiana 2

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Sejarah dan Perkembangan Gudeg (2 dari 2)

Thu Jan 16 , 2014
Gudeg mengalami transformasi. Kesimpulan itu ditulis oleh wartawan Kompas, Budi Suwarna dan Aloysius B. Kurniawan di Kompas Minggu (3 Juli 2011). Dari hasil liputan mereka, gudeg saat ini tak sekadar dianggap kuliner lokal atau nasional, tetapi sudah menjadi makanan kelas dunia. Gudeg tidak lagi dibungkus dengan daun pisang atau box […]