Debussy Tergelitik oleh Ritme “Aneh” Gamelan Jawa

Gamelan gending Jawa merupakan musik ‘asing’ yang memikat komponis Prancis, Debussy.

Claude Debussy (Wikimedia Commons)

Tahun 1889, dalam rangka memperingati seabad revolusi Prancis, negara itu menggelar pekan raya dan peresmian menara Eiffel. Di kaki menara metalik raksasa yang menjulang dengan mengagungkan teknik modern tersebut, dengan hati-hati dan tampak kontras ditampilkan pula beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa.

Keharmonisan ritmenya yang aneh dan irama gendingnya yang khas betul-betul menarik hati seorang komponis muda berbakat yang kala itu berusia 27 tahun. Dialah Claude Debussy.

Itu merupakan awal perjumpaan dan perkenalan Debussy dengan gamelan Jawa, yang nantinya akan mendatangkan ilham dan pengaruh bagi musiknya.

Debussy tidak hanya terpesona oleh kualitas suara gamelan. Namun juga oleh kompleksitas komposisi gamelan gending Jawa yang selalu mematuhi alur panjang. Dia bahkan mengatakan, Palestrina atau seorang musisi hebat yang diminta memainkan piano dengan partitiur Liszt akan dapat melakukannya dengan sangat mudah. “Jika mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.”

Alat pemukul gending yang berat dan alat tabuh yang lembut untuk memainkan gamelan tersebut menghasilkan melodi yang didasarkan pada dua irama (laras) yang berlainan. Laras slendro terdiri dari lima interval dalam satu oktaf. Sedangkan laras pelog terdiri dari tujuh interval yang tidak sama.

Gamelan Jawa dengan penabuhnya atau Karawitan (https://www.nch.ie)

Ketakjuban Debussy, kenangan, dan kiasan-kiasan akan gamelan Jawa terlihat kuat pada warna nada pentatonik Pagodes (Pagoda), bait pertama d’Estampes (Ilustrasi) yang digubah tahun 1903, nantinya juga terlihat dalam dua belas prelude 1910-1913, La fille aux cheveux de lin (Gadis berambut linen), Feuillis mortes (Daun-daun kering), serta lagu misterius—Canope.

Tahun 1913, ketika dalam perjalanan kembali dari Laut Selatan, Debussy menggunakan lagi keseluruhan warna nada gamelan dan menulis: “Leur conservatoire, c’est le rythme éternel de la mer, le vent dans les feuilles…”(Konservatori mereka adalah ritme abadi lautan, embusan bayu pada dedaunan…)

Bait itu terdapat dalam karyanya sendiri dalam orkestra yang sangat terkenal, berjudul La Mer (Lautan) (1903-1905).

Meski teknik musik Debussy pada hakikatnya didasarkan pada alat tabuh-tabuhan nan paradoksal, mengingat pada hal-hal terselubung dan nuansa musik yang luwes, tapi secara permanen dia menggunakan pedal piano untuk memperpanjang durasi suara. Piano Debussy sangat reseptif, hampir-hampir tidak memerlukan sentuhan. Memang, gamelan Jawa membuktikan bahwa musik tabuhan lebih daripada sekadar fenomena resonansi yang dilakukan Debussy dan bukan hanya penekanan di nada.

Eksplorasi resonansi yang dilakukan Debussy menjadi fungsi harmonisasi nada yang independen tetapi menciptakan suasana tertentu. Untuk pertama kalinya seorang komponis Eropa menanggalkan konsep Barat dalam hal harmonisasi. Penciptaan ketegangan yang mengarah pada konklusi, untuk mengganti, seperti yang ditulisnya, “getaran keindahan suara itu sendiri”.

Berdasarkan “Souvenirs de Claude Debussy” lors l’expo de 1889 et la découverte du Gamelang; Paul Roberts – “Debussy and the Javanese Gamelan”.

Sumber: Nationalgeographic

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.