Wisata Sejarah di Bandung

Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota Bandung ini, karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh disana, disebut juga dengan Parijs van Java karena Kota Mininya Paris di Jawa. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini, dan saat ini berangsur-angsur kota Bandung juga menjadi kota wisata kuliner. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur.

Kekayaan bangunan bersejarah yang ada, membuat Bandung menjadi kota wisata yang tidak pernah habis untuk dijelajahi. Banyak peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia terjadi di kota ini.Disusun kembali oleh GPS Wisata Indonesia berdasarkan tahun dibuatnya atau dibangunnya, sebagai berikut :

1. Pendopo Kabupaten Bandung
Jalan Dalem Kaum No. 1, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol, Bandung
Koordinat GPS: 6° 55′ 22″ S, 107° 36′ 26″ E (*)

Pendopo Bandung (https://uniknya.com)

Pendopo Kabupaten Bandung (https://disparbud.jabarprov.go.id)

Pendopo Kabupaten terletak di Jalan Dalem Kaum No. 1, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol. Pendopo Kabupaten dibangun pada masa Bupati Wiranatakusumah II pada tahun 1810 M, setelah memilih dan menentukan wilayah alun-alun kota yang terletak di dekat jalan Raya Pos sebagai ibukota baru selanjutnya dibangun beberapa fasilitas sebagai kelengkapan suatu ibukota kabupaten.

Pembangunan kota Bandung terdiri atas unsur tradisional dan unsur kolonial. Unsur tradisional dengan pembangunan alun-alun, bangunan pusat pemerintahan atau pendopo, mesjid Agung, pasar yang dibangun di sebelah barat laut alu-alun. Inti dari kota Bandung adalah bangunan Kabupaten Bandung yang oleh masyarakat Kota Bandung disebut dengan Pendopo. Pendopo merupakan bangunan berarsitektur tradisional Jawa, beratap joglo tumpang tiga, dibangun pada awalnya dari bahan kayu dan beratap ijuk, dan pada tahun 1850 diganti tembok dan atap genteng. Pendopo sisi selatan dibangun pada tahun 1867. Komplek Pendopo ini dipugar kembali tahun 1993, sebagai tempat kediaman resmi dari Bupati Bandung.

Tata kota Bandung masih mengikuti pola umum tradisional yang berlaku di Indonesia pada umumnya, meskipun unsur kolonial telah mewarnai wajah Kota Bandung. Tata kota yang berimbas pada arah hadap atau orientasi pusat pemerintahan atau inti dari Kota bandung yaitu pendopo dipengaruhi oleh usaha penyelarasan terhadap lingkungan. Arah hadap pendopo ke arah utara kota Bandung sebagai penghormatan kepada gunung-gunung (Gunung Sunda, Gunung Tangkuban Perahu) juga berhubungan erat dengan kesinambungan pandangan hidup manusia yang sudah berlangsung sejak masa prasejarah, yaitu tentang kesucian dari gunung.

2. Hotel Savoy Homann
Jl. Asia Afrika No. 61, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung
Koordinat GPS: 6º 55′ 17.8″ S, 107º 36′ 37.8″ E (*)

Hotel Savoy Homann (https://www.pegipegi.com)

Hotel ini dibangun pada tahun 1880, pemiliknya warga negara Jerman bernama A. Homann, yang namanya diabadikan sebagai nama hotelnya yaitu Hotel Savoy Homann. Gedung hotel ini telah mengalami beberapa kali pemugaran dari sejak dibangun sampai sekarang. Tahun 1880, hotel ini bernama Hotel Pos Road dengan gaya arsitektur Baroq, tahun 1883 menjadi Gothic Revial, tahun 1910 ada penambahan gedung baru, tahun 1938 gedung lama yang bergaya gothic dibongkar dan diganti dengan International Style (Modern Fungsional ArtDeco geometrik). Bangunan Hotel Savoy Homann yang ada seperti sekarang ini adalah hasil karya arsitek AF. Aalbers dan R. A. Dewall.

Hotel ini terus mengalami penataan dan perbaikan namun kegiatan ini tampaknya tidak menyalahi konsep-konsep pelestarian. Hotel ini berdiri diatas areal seluas 10.074 m2 dengan luas gedung 11.185 m2 (bangunan bertingkat). Arsitektur bangunan sangat menarik, dengan permainan bentuk bangunan plastis kurva linier dan didominasi oleh garis horizontal serta dilengkapi dengan menara tunggal yang menjulang tinggi, berperan sebagai penata perhatian. Hotel ini merupakan bangunan sudut (terletak pada salah satu sudut dari simpang empat Jl. Braga – Jl. Homann dengan Jl. Asia Afrika) yang dirancang sangat menarik dan khusus sehingga mampu berperan sebagai “ciri atau penanda” yang dapat dijadikan patokan (ruang kota) bagi pengamatnya.

Hotel Homann selain digunkan untuk Hotel, pada tahun 1941-1945 dipergunakan sebagai wisma PMI, tahun 1945-1948 sebagai wisma Jepang, tahun 1949 sebagai hotel lagi dan tahun 1955 digunakan untuk menginap para delegasi Konferensi Asia Afrika (Nasser, Ir Soekarno, Chuo En Lai, Nehru dll). Tahun 1987 hotel ini dibeli oleh HEK Ruhiat dan fungsinya tetap sebagai hotel.

Hotel Savoy Homann merupakan salah satu hotel terbesar di Asia Tenggara pada masanya, dikelola oleh Fr. J. Van Es yang pernah mengelola hotel des Indes di Batavia Jakarta selama lima tahun. Hotel tersebut memperoleh kepercayaan dari pemerintah sebagai tempat terselenggaranya beberapa konferensi tingkat internasional seperti : Konferensi Asia Afrika, Konferensi P.A.T.A, Konferensi Islam Asia Afrika, dan lain-lain.

3. Gedung Merdeka
Jalan Asia Afrika No. 65, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung
Koordinat GPS: 06º 55′ 15.5″ S, 107º 36′ 35.4″ E (*)

Gedung Merdeka (https://uniknya.com)

Gedung Merdeka (https://kebudayaanindonesia.net)

Gedung Merdeka ini, dahulu bernama Societiet Concordia, dibangun tahun 1895 atas prakarsa para pegusaha Belanda pemilik kebun teh di sekitar Bandung dan para opsir Belanda. Bentuk bangunan, awalnya sederhana untuk tempat kegiatan sosial, rekreasi dan hiburan. Gedung direnovasi tahun 1920 dan 1928 sehingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini yang memberikan kesan megah, langka dan unik. Renovasi dipimpin oleh arsitek Belanda Van Gallen Last dan CP. Wolff Schromaker (guru besar ITB), dengan gaya arsitektur Modernism dengan sentuhan ArtDeco dan bagian depannya memiliki pilar-pilar penunjang struktur yang besar. Tahun 1929 gedung ini dibangun kembali, terdiri atas dua bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia.

Tahun 1942-1945, pada zaman Jepang, gedung ini dipakai sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan. Pada zaman perang kemerdekaan sebagai markas besar Tentara Republik Indonesia. Tahun 1954, gedung ini mengalami perbaikan dalam rangka persiapan pelaksanaan kegiatan Konfrensi Asia Afrika (KAA) dan 24 April 1955, sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, dinamakan Gedung Merdeka. Hasil penyelenggaraan KAA, adalah Dasasila Bandung dan gerakan Non Blok yang memberikan semangat bagi negara-negara di Asia-Afrika untuk menjadi negara merdeka.

Gedung Merdeka sering digunakan sebagai tempat acara peringatan KAA, selain itu untuk tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika, Konferensi WHO, dan terakhir sebagai tempat pertemuan GNB pada tahun 1974.

Gedung ini berdiri pada areal seluas 7.983 m², dengan luas gedung 6.500 m², letaknya di alun-alun Kota Bandung dengan arah hadap ke selatan, yaitu jalan Asia Afrika. Kondisi bangunan sekarang terpelihara dengan baik.

4. Hotel Preanger
Jalan Asia Afrika No. 81, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung
Koordinat GPS: 06º 55′ 18.2″ S, 107º 36′ 41.9″ E (*)

Hotel Preanger (https://uniknya.com)

Hotel Preanger (https://www.flickr.com)

Hotel didirikan pada tahun 1897 oleh W. H.C Van Deertekom dengan gaya arsitektur Baroq. Pada tahun 1930-an hotel Preanger mengalami perluasan dan perombakan oleh arsitek ternama Prof. Ir. C. P. Wolff Schoemaker dengan gaya arsitektur modern fungsional stream line dengan ArtDeco Geometrik. Pada bagian muka hotel tampak hiasan yang mirip gaya Indian di Amerika Selatan. Pada tahun 1980-an bangunan ini kembali mengalami perluasan, terutama pada bagian timur sisi timur. Gaya arsitektur yang ditampilkan saat ini banyak mendapat pujian sebagai karya baru yang serasi dengan bangunan lama. Rancangannya yang baru sangat memperhatikan gaya dan desain bangunan lama yang menjadi acuan utama.

Hotel Preanger menghadap ke arah Selatan ke Jalan Asia Afrika, dengan luas bangunan ± 1638 m², dan berdiri diatas tanah seluas ± 2572 m². Sekitar lima meter sebelah barat hotel (dimuka gedung PU) terdapat patok sebagai tanda 0 (nol) Km Kota Bandung, yang dibuat oleh oleh Gubernur Jendral Daendels pada tahun 1894, pada waktu pembuatan Jalan Pos. Hotel Savoy Homann dapat dijadikan sebagai objek wisata budaya karena berada berdekatan dangan bangunan-bangunan kuno di sekitar kawasan alun-alun. Hotel ini relatif banyak diketahui keberadaannya oleh masyarakat.

5. Sekolah Dewi Sartika
Jalan Keutamaan Istri No. 12, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol, Bandung
Koordinat GPS: 06º 55’ 32.3’’ S, 107º 36’16.1’’ E (*)

Sekolah Dewi Sartika (https://uniknya.com)

Sekolah Dewi Sartika terletak di Jalan Keutamaan Istri No. 12, Kelurahan Balong Gede, Kecamatan Regol. Sekolah Dewi Sartika semula bernama Sakolah Istri yang didirikan oleh Raden Dewi Sartika pada 16 Januari 1904, bertempat di Paseban Kulon Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah ini merupakan sekolah pertama bagi gadis-gadis Indonesia. Pada waktu berdirinya sekolah itu hanya memiliki dua ruangan untuk belajar. Muridnya berjumlah dua puluh orang dengan tiga orang tenaga pengajar, yaitu Raden Dewi Sartika, Ibu Purma, dan Ibu Uwit.

Kurikulum yang diberikan di sekolah pimpinan Raden Dewi Sartika itu disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Kelas Dua (Tweede Klasse Inlandsche School) milik pemerintah, tetapi ditambah dengan mata pelajaran ketrampilan yang sesuai dengan kodrat wanita, seperti memasak, mencuci, menyetrika, membatik, menjahit, menisik, merenda dan menyulam, yang ada hubungannya dengan kepentingan rumah tangga. Selain itu diajarkan pula pelajaran agama, kesehatan, bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak hanya diberikan secara teori, tetapi diberikan juga dalam bentuk praktik.

Perkembangan Sakolah Istri cukup pesat, pada tahun 1905 ruangan belajar di Paseban Kolon sudah tidak memadai lagi sebab jumlah muridnya meningkat. Oleh karena itu sekolah dipindahkan ke Jalan Ciguriang, yang bangunannya lebih luas dan gurunya pun ditambah pula. Untuk mengimbangi peningkatan jumlah murid, empat tahun kemudian yaitu pada tahun 1909 bangunan sekolah diperluas lagi sehingga menghadap ke Jalan Kebon Cau (sekarang Jalan Keutamaan Istri). Setelah dapat mengatasi segala tantangan yang ada, akhirnya pada tahun 1909 sekolah itu dapat mengeluarkan lulusan pertamanya dengan mendapat ijazah. Pada tahun 1910 nama sekolah itu diganti menjadi Sakola Dewi sartika, dan pada tahun 1911 sekolah ini telah memiliki lima kelas. Selanjutnya Sekola Dewi Sartika menyebar ke pelbagai kota kabupaten, antara lain ke Garut, Tasikmalaya dan Purwakarta.

Pada tahun 1914 nama sekolah itu diganti lagi menjadi Sakola Kautamaan Istri guna mendekati tujuan pendidikan di sekolah itu yakni menghasilkan wanita utama. Muridnya bertambah lagi ada yang datang dari luar Tata Sunda, setelah lulus mendirikan sekolah Keiutamaan Istri di kampung halamannya. Pada tahun 1920, tiap-tiap kabupaten di seluruh Tatar Sunda sudah mempunyai Sakola Keutamaan Istri.

Atas usul Ny. Hillen dan Ny. Tijdeman  pada ulang tahun ke 25 Sekolah Keutamaan Istri, Pemerintah Hindia Belanda memberikan sumbangan sebuah sekolah baru yang mulai dipakai September 1929, sedangkan Raden Dewi Sartika dianugerahi tanda jasa “Bintang Perak”. Tahun 1940 Raden Dewi Sartika, mendapat tanda jasa kerajaan berupa Ridder in de Orde in de Orde van Nassau untuk pengabdiannya sebagai pendidik pertama anak-anak gadis.

6. Gedung Bank Indonesia
Jalan Braga No. 108, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung
Koordinat GPS: 06º 91′ 41.7″ S, 107º 61′ 46″ E (*)

Gedung Bank Indonesia (https://uniknya.com)

Gedung Bank Indonesia (https://anyerpanarukan.blogspot.co.id)

Gedung Bank Indonesia ini dahulu bernama Javanche Bank, dibangun tahun 1915-1918 oleh arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers dengan gaya arsitektur Neo Klasik (Electicism,) yang memiliki keindahan dengan menara yang tinggi, sehingga mudah dilihat dari jarak jauh. Bangunan ini lebih indah dan apik daripada bangunan sejenis di Eropa. Gedung mempunyai peran besar dalam pembentukkan ruang kota yang baik.

Bank Indonesia dapat dijadikan sebagai salah satu objek wisata heritage, karena bentuk bangunan indah, megah dan simetris, serta lokasinya satu kawasan dengan bangunan-bangunan kuno lainnya (Gedung Indonesia Mengunggat/Landraad, Gereja Santo Petrus Katedral, Gereja Bethel, Gedung Balaikota Bandung, Sekolah Dasar Merdeka, Mapolwiltabes Bandung dan sebagainya).

7. Gedung Nies Compotomy
Jalan Asia Afrika No, 51, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung
Koordinat GPS: 06º 55′ 16.4″ S, 107º 36′ 27.5″ E (*)

Gedung Nies Compotomy atau Gedung Bank Mandiri (https://uniknya.com)

Gedung Nies Compotomy atau Gedung Bank Mandiri (https://jalan2.com)

Gedung Nies Compotomy atau Gedung Bank Mandiri terletak di lingkungan kota tua yaitu berada di selatan alun-alun Kota Bandung. Gedung Bank Mandiri, bersebelahan dengan kantor Pos Besar namun terpisah oleh Jalan Banceuy. Kini kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan.

Gedung ini dibangun pada tahun 1915 oleh arsitek Belanda terkenal, R. L. A. Schoemaker memiliki gaya arsitektur khas, yaitu neo klasik (Art Deco Ornamental) yang langka dan unik dengan ornamen sebagai penghias bangunan. Gedung Bank ini luasnya 1212 m² dan berdiri pada tanah seluas 8432 m². Semula dibangun sebagai Escomplo Bank, lalu sebagai Kantor PT. (Persero) Bank Dagang Negara dan sejak tanggal 2 Oktober 1998 sebagai Bank Mandiri (gabungan Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim, dan Bank Bapindo). Kondisi bangunan terpelihara baik dan tidak mengalami perubahan pada fisik bangunan serta diupayakan tetap dipertahankan keaslian bentuknya.

8. Gedung SMUN 3 dan  SMUN 5
Jalan Belitung No. 8, Bandung
Koordinat GPS: 06º 91′ 21.0″ S, 107º 61′ 49.4″ E (*)

SMUN 3 dan SMUN 5 (https://uniknya.com)

SMUN 3 dan SMUN 5 (https://jalan2.com)

Sekolah Menengah Umum (SMA) Negeri 3 dan 5 Bandung dirancang oleh seorang arsitek Belanda, C.P. Schoemaker pada tahun 1916 masa Pemerintahan Hindia Belanda. Kondisi sekolah terawat baik dan kini dibawah pengelolaan Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. Sekolah berdiri di atas tanah seluas 14.240 m² , dengan luas bangunan 8.220 m².

Sekolah ini menjadi sekolah favorit dan bergengsi di Kota Bandung, sejak dahulu fungsinya tetap sama untuk gedung sekolah dan almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX sempat menuntut ilmu di sini.  Gedung ini digunakan sebagai sekolah HBS (Hoogere Burgerschool) tahun 1916 – 1942. Pada masa penjajahan Jepang (1942 – 1945) yang ingin berperang melawan tentara sekutu, gedung digunakan sebagai Markas Tentara Jepang (Kompetai).

Gedung SMU Negeri 3 dan 5,  terletak berdampingan dengan kolam renang masa Hindia Belanda, Tirtamerta/Pemandian Centrum (1920),  dapat dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata dan bahan kajian arsitektur Eropa (Belanda) untuk pelajar/mahasiswa, serta letaknya yang strategis di tengah Kota Bandung dan dapat dengan mudah dijangkau.

9. Gedung Sate
Jalan Diponegoro No. 22, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong, Bandung
Koordinat GPS: 06º 54′ 05.4″ S, 107º 37′ 07.9″ E (*)

Gedung Sate (https://penulispro.com)

Gedung Sate (https://www.sinar8.com)

Gedung Sate didirikan pada tahun 1920 yang merupakan hasil perencanaan dari sebuah tim yang dipimpin oleh J. Gerber, Eh. De Roo, dan G. Hendriks serta Gemeente van Bandoeng yang diketuai V.L. Slors. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Nona Johanna Catherina Coops (puteri sulung B. Coops, Walikota Bandung) dan Nona Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jendral Batavia. Langgam arsitekturnya menyerupai bangunan Italia di zaman Renaissance, yang anggun, megah dan monumental. Penataan bangunan simetris, elemen lengkungan yang berulang-ulang (repetisi) menciptakan ritme yang menyenangkan, indah dan unik. Gedung Sate memiliki areal kawasan seluas ± 27.990,859 m² dan luas gedung ± 10.877,734 m². Gedung Sate ini berbatasan dengan utara: Jalan Diponegoro atau Lapangan Gasibu, timur: Jalan Cilaki atau Gedung Museum Pos Indonesia, selatan: Jalan Cimanggis, barat: Jalan Cimalaya.

Bangunan Gedung Sate dipengaruhi ornamen Hindu dan Islam. Pada dinding fasade depan terdapat ornamen berciri tradisional, seperti bangunan candi Hindu, sedangkan ditengah-tengah bangunan induk Gedung Sate, terdapat menara dengan atap susun (tumpang) seperti Meru di Bali atau atap Pagoda. Bentuk bangunan ini menjadi unik bentuknya sebagai perpaduan gaya arsitektur timur dan barat. Gaya seni bangunan yang memadukan langgam arsitektur tradisional Indonesia dengan kemahiran teknik konstruksi barat disebut Indo-Eropeesche architectuur Stijl (gaya arsitektur Indo-Eropa). Pada puncak Gedung Sate terdapat enam tusuk sate yang menyimbulkan enam juta Gulden yang dihabiskan sebagai biaya pembangunannya.

Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan negara RI dari Belanda (Ghurka) yang ingin kembali menjajah, gedung Sate ini oleh para pemuda dipertahankan sampai titik darah penghabisan dan pada akhirnya mereka gugur pada tanggal 3 Desember 1945 dan sebagai penghargaan atas jasa mereka dibangun sebuah monumen peringatan yang berdiri di depan Gedung Sate. Gedung Sate pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda berfungsi sebagai kantor pemerintahan Hindia Belanda dan kini, dipergunakan sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Jawa Barat. Gedung ini dapat dikatakan sebagai Landmark Kota Bandung karena mempunyai bentuk bangunan yang khas dan kehadiran penampilannya sangat kuat. Sosok bangunan Gedung Sate dengan menaranya yang beratap susun kini menjadi simbol atau ciri visual Propinsi Jawa Barat.

10. Gedung Kantor Pos Besar
Jalan Asia Afrika No. 49, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung
Koordinat GPS: 06º 55′ 15.0″ S, 107º 36′ 22.4″ E (*)

Gedung Kantor Pos Besar (https://rinaldimunir.wordpress.com)

Gedung Kantor Pos Besar (http://www.disparbud.jabarprov.go.id)

Gedung ini dibangun masa Hindia-Belanda pada 27 Juli 1920 dengan nama Gedung Pos, Telegraph dan Telepon (PTT) dan dibuka tahun 1931. Pada 19 Juni 1995 Museum berganti nama menjadi Gedung Pos dan Giro disesuaikan dengan perusahaan yang menanganinya. Pada waktu Perusahaan berganti nama menjadi PT Pos Indonesia maka terjadi pula perubahan nama menjadi Gedung Pos Indonesia. Museum memiliki luas gedung 700 m², dan berdiri tegak di atas lahan tanah seluas ± 706 m². Gedung Museum dibangun oleh Ir. J. Berger dari Landsgebouwdienst dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissance.

11. Gedung Tua di Jalan Braga (*)

Jalan Braga tempo Dulu | Foto: flickrr(dot)com

Sepanjang jalan Braga memang berdiri kokoh bangunan-bangunan tua bekas peninggalan Belanda. Rata-rata gedung tua di jalan ini berusia ratusan tahun. Namun, hingga saat ini masih terawat dan kokoh seperti pertama di bangun.

Jalan Braga Masa Kini | Foto: www(dot)bandungview(dot)info

Memasuki pertengahan abad ke-20 kawasan Braga menjadi semacam pusat perbelanjaan bagi warga Belanda. Hampir semua toko-toko di sepanjang jalan Braga berarsitekur gaya barat. Dahulu jalan ini termasuk kawasan elit.

12. Gedung Isola UPI (*)
Gedung tua ini terletak di dalam kawasan UPI, di jalan Setiabudi, Bandung.

Gedung Isola (http://warungkopi.okezone.com)

Gedung ini dahulu bernama Villa Isola, tapi kini gedung ini dipakai untuk gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Gedung Isola UPI (http://warungkopi.okezone.com)

Gedung yang bergaya arsitektur Art Deco ini dibangun tahun 1933, miliki seorang hartawan Belanda yang bernama Dominique Willem Berrety. Gedung ini dahulu dijadikan rumah tinggal, kemudian di jual kepada pemilik Hotel Savoy Homann.

Masih minat lagi? Silahkan baca daftar inventarisasi oleh Bandung Heritage, disini

FB: https://id-id.facebook.com/bandungheritage/

13. Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. (*)

Pabrik Kina (https://komunitasaleut.com)

Bandoengsche Kinine Fabriek N.V., sekarang bernama PT. Kimia Farma terletak di Jl. Pajajaran No. 29-30, Kota Bandung.

Pemerintah kolonial mendirikan pabrik kina bernama Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. pada tanggal 29 Juni 1896.

pada tahun 1939, pengelolaan pabrik diserahkan kepada Indische Combinatie Voor Chemische Industrie (Inschen), perlu diketahui bahwa Inschen saat itu telah memiliki pabrik yodium di Watudakon.

Tiga tahun kemudian, saat perang dunia kedua meletus, Jepang mengambil alih pabrik milik Inschen. Namanya pun diubah menjadi Rikuyun Kinine Seizoshyo. Selama Jepang berkuasa, pembuatan pil dan tablet kina masih dilakukan. Sayangnya, pil-pil ini segera diangkut ke Jepang dan tempat-tempat lain untuk kepentingan Jepang dalam perang Pasifik. Untuk keperluan dalam negeri, Jepang hanya menyediakan hasil yang disebut tota kina, yaitu kina yang belum dipisahkan dari alkaloid lainnya.

PT. Kimia Farma (https://wikimapia.org)

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945, pabrik kina diambil alih oleh perusahaan swasta bernama Bandoengsche Fabriek N.V. Setelah 10 tahun beroperasi, pabrik ini diserah kepada Combinatie Voor Chemische Industrie  dengan akte Mr. R. Soewardi tertanggal 3 November 1954.

Pada tahun 1958, Pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia. Salah satu perusahaan yang dinasionalisasi ialah pabrik kina di Bandung. Nama pabrik ini pun dirubah lagi menjadi Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma berdasarkan SP Menkes tertanggal 18 Juli 1960.

Lalu pada tahun 1971, Pabrik Kina diubah menjadi PT Kimia Farma berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971.

Berbagai sumber

(*) Tambahan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.