Asal Usul Jamu

Bahan-bahan untuk membuat Obat Tradisional (Jamu) Indonesia

Jamu adalah produk ramuan tunggal atau campuran dari bahan alam yang digunakan untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan, kebugaran dan kecantikan. Jamu adalah produk ramuan tunggal atau campuran dari bahan alam yang digunakan untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan, kebugaran dan kecantikan.

Penggunaan jamu dimulai sejak zaman pra-sejarah, bukti sejarah yang mendukung asal usul jamu di Indonesia dapat ditelusuri melalui penemuan peralatan batu dari zaman Mesolithikum dan Neolithikum berupa lumping yang telah digunakan oleh nenek moyang untuk memperoses makanan dan jamu. Baca: Desa Wisata Jamu Gendongan Kiringan Bantul DIY

Data artefaktual di bidang pengobatan ditemukan pada relief Karmawipangga pada candi Borobudur, relief candi Brambang komplek candi Prambanan yang dibangun sekitar abad 8-9 Masehi, juga candi Panataran, Sukuh dan Tekalwangi. Relief pada candi Borobudur menggambarkan pembuatan jamu menggunakan pipisan untuk perawatan kesehatan dengan pemijatan dan penggunaan ramuan jamu atau Saden Saliro. Sejak abad 5 Masehi, bukti tertulis mengenai penggunaan jamu dalam pengobatan ditemukan pada naskah atau primbon.

Ilustrasi jamu siap diminum (https://nowbali.co.id)

Terbukti dengan adanya prasasti candi Perot tahun 772 Masehi, Haliwangbang tahun 779 Masehi, dan Kadadu tahun 1216 Masehi. Penggunaan jamu dan resep-resep jamu dalam pengobatan juga ditemukan pada daun lontar menggunakan bahasa jawa kuno, Sansekerta dan Bahasa Bali. Lontar yang ditulis dengan menggunakan bahasa bali yaitu: Usada atau Lontar Kesehatan pada tahun 991 – 1016 Masehi. Berbagai prasasti lainnya pada sekitar abad 13 Masehi mendukung bukti sejarah penggunaan jamu. Pada prasasti tersebut banyak memuat profesi dibidang kesehatan antara lain terdapat pada prasasti Madhawapura yangmenyebutkan profesi ACARAKI atau peracik Jamu.

Istilah jamu muncul pada zaman Jawa Baru, dimulai sekitar abad pertengahan 15-16 Masehi. Menurut pakar bahasa Jawa Kuno, jamu berasal dari singkatan dua kata, Djampi dan Oesodo. Djampi adalah bahasa Jawa Kuno yang berarti penyembuhan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa doa dan ajian-ajian dan Oesodo berarti kesehatan. Kata Djampi kenal sebagai bahasa jawa Kromo Inggil yang digunakan oleh Priyayi Jawa. Sedangkan istilah yang digunakan oleh masyarakat umum (Bahasa Jawa Madyo) untuk pengobatan adalah jamu yang diperkenalkan oleh dukun atau tabib, ahli pengobatan tradisional pada masa itu.

Primbon terlengkap mengenai Djampi baru ditulis setelah zaman kerajaan Kartosuro adalah Serat Centhini yang ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Adipati Anom Amengkunegoro III yang memerintah Surakarta pada tahun 1820-1823 Masehi dan Serat Kaoro Bap Djampi-Djampi atau tulisan pengetahuan tentang jamu Jawa yang dituis pada tahun 1858 Masehi memuat sebanyak 1734 ramuan Djampi.

Ramuan Jamu (https://indonesiahealingherbs.blogspot.co.id)

Catatan yang sudah menggunakan istilah jamu ditemukan pada Serat Parimbon Djampi Ingkang Sampoen Kangge Ing Salami-laminipoen tahun 1875 Masehi dan buku RESEP. Berbagai karya tulis tentang tanaman di Nusantara yang berkhasiat obat, pencegahan penyakit serta pengobatan yang pada berbagai etnis di Indonesia berperan cukup besar dalam perkembangan pengetahuan tentang jamu di Indonesia.

Produksi jamu gendong diawali pada abad 16 Masehi dan berkembang menjadi industri jamu skala rumah tangga yang dirintis oleh Ny. Item dan Ny. Kembar di Ambarawa, Jawa Tengah pada tahun 1825 Masehi. Di awal tahun 1900an, industri jamu semakin berkembang seiring dengan trend “Back To Nature” yang melanda pasar di dunia. Berkat industri-industri ini, jamu yang dulunya hanya digunakan oleh kalangan terbatas, kini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Jamu menjadi mudah diperoleh di seluruh pelosok negeri, bahkan sampai di ekspor ke mancanegara.

Penggunaan jamu menjadi sangat khas, yaitu sebagai pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, pemulihan kesehatan, kebugaran, relaksasi dan kecantikan. Saat ini diperkirakan 80% penduduk Indonesia menggunakan jamu. Produk jamu kini telah diproses secara modern dengan menggunakan teknologi terbaru, baik dalam pengolahan, pengemasan dan pengujian secara klinis yang lebih terjamin. Standardisasi bahan baku, pengujian keamanan dan khasiat telah banyak dilakukan dan sistem produksi telah mengacu kepada cara pembuatan obat yang baik.

Produk jamu dikelompokkan menjadi; jamu tradisional, jamu terstandar dan jamu fitofarmaka. Sampai saat ini jumlah industri jamu yang tergabung dalam GP Jamu sebanyak 1166 industri,yang menyerap tenaga kerja kurang lebih 3 juta orang dengan perkiraan omzet pada tahun 2008 sebesar 7,2 trilyun rupiah atau naik 20% dari tahun 2007. Bertitik tolak dari bukti sejarah di atas dan eratnya penggunaan ramuan bahan alam dalam kehidupan sehari-hari, jamu sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Sehingga jamu telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Jamu adalah Brand Indonesia. Pada relief candi Borobudur sekitar tahun 800 – 900 Masehi, juga menggambarkan adanya kegiatan membuat jamu.

Sumber: Agribisnis

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.