Batik Lampung

0e772-20130119-113711_nv310506nvbatik_lampung-185x220

Sejarah menyebutkan, Lampung sudah mengenal seni tekstil sejak abad ke 18. Ragam seni tekstil Lampung antara lain kain tapis (kain tenun ikat), bidak, sebage, teppal, selekap, cindai, peleppai (kain bermotif kapal), dan nampan. Namun kebanyakan orang mengenal Lampung dari kain tapisnya. Kain Tapis merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya baik terhadap lingkungan maupun Sang Pencipta Alam Semesta. Kain tapis digunakan sebagai pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam. Kain ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung.

Kain Tapis Lampung

8e9e5-batiklampung-tapis (Sumber: https://djatie08.blogspot.com) 

Tak banyak yang tau, ternyata Lampung juga memiliki batik dengan corak tersendiri. Batik Lampung tercipta melalui proses panjang. Batik Lampung mulai berkembang pada tahun 1970-an dan dipelopori oleh Andrean Sangaji (seorang budayawan Lampung). Motif Lampung memiliki keunikan tersendiri yang sangat berbeda dengan motif wilayah lain yang ada di Indonesia. Motif batik Lampung sangat dipengaruhi kebudayaan India, motif Budha sangat kental di dalamnya. Motif yang paling terkenal adalah motif perahu dan pohon hayat atau pohon kehidupan. Dua motif ini menjadi sangat khas bagi kebudayaan Lampung dan merupakan trade mark Lampung di mata dunia internasional. Ini terbukti dengan adanya koleksi kain tradisional Lampung yang terdapat di beberapa museum di Australia, Hawai dan Amerika. Biasanya motif-motif tersebut dikenal pada kain Tampan, Palepai dan Tatibin yang biasa dikerjakan oleh pengrajin di sekitar pesisir.

Batik Lampung Motif Pohon Hayat

6b780-batiklampung-motifpohonhayat (Sumber: https://kangenart.wordprss.com) 

Motif-motif Batik Lampung yang berkembang saat ini merupakan sebagian diambil dari motif-motif pada kain tradisional Lampung yang telah berkembang sebelumnya. Banyak motif batik Lampung modifikasi yang bermunculan. Seperti motif gamolan, siger, kupu-kupu, dan gajah. Hal tersebut merupakan simbol perkembangan budaya yang diaplikasikan ke dalam motif batik yang diangkat dari akar budaya daerah masing-masing.

Batik Lampung Motif Gajah dan Kapal

c89f3-batiklampung-motifgajahdankapal (Sumber: https://log.viva.co.id) 

Batik Lampung Motif Kapal

04e89-batiklampung-motifkapal (Sumber: https://sketsabudaya.blogspot.com) 

Seiring dengan bergesernya budaya dari budaya lama menuju budaya modern, segi teknik, desain maupun proses pembuatan sudah jauh lebih maju dari ratusan tahun yang lalu. Batik Lampung tetap mengangkat ciri kebudayaan Lampung meski dengan gaya kontemporer dengan tidak mengurangi makna dan esensi yang terkandung di dalamnya. Sehingga rasa kebanggaan terhadap budaya Lampung bisa dirasakan bagi pemakainya dan menjadikan ciri khas atau identitas tersendiri.

Batik Lampung Gaya Kontemporer

0ebeb-batiklampung-gayakontemporer (Sumber: https://www.gabovita.com) 

Motif asli yang tetap eksis yakni batik motif sembagi. Batik sembagi merupakan batik asli Lampung yang telah diadopsi menjadi kain adat dan sudah disakralkan sebagai kain penutup mayat. Batik sembagi khusus untuk penutup mayat memiliki corak warna khusus, yakni gelap. Sedangkan warna-warna terang lebih banyak dipakai untuk dijadikan sebagai pakaian. Batik sembagi memiliki banyak motif hasil kreasi, yaitu sembagi belando dan sembagi sekebar. Ciri khas batik Lampung yakni terdapat gambar bunga kaca piring, sepedundung, dan lain-lain. Motif-motif ini merupakan motif yang diadopsi oleh masyarakat Lampung.

Batik Sembagi

25dc0-batiklampung-sembagi (Sumber: https://www.sanggi.net) 

Namun ada pendapat yang berbeda tentang batik sembagi ini. Dalam literatur, disebutkan kain sembagi adalah kain khas coromandel cloths dari India bukan batik Lampung. Dalam sejarah batik, Lampung tidak memiliki batik. Kain sembagi yang disebut batik Lampung itu sebenarnya tidak ada bedanya dengan batik di Jawa, yang juga disebut serasah atau kumitir.

Kain bermotif geometris ini mulai dipopulerkan di Sumatera Selatan pada abad ke-15 yang pada masa itu pemasarannya dimonopoli oleh VOC (De Vereenigde Oost Indische Companie). Pendapat lain menyebutkan, jika batik Lampung sudah ada sejak abad ke-15, yang sering disebut kain sembagi. Perbedaan pandang tersebut merupakan celah untuk duduk bersama, kemudian mendiskusikannya dan menelusuri keberadaan batik Lampung. Untuk melakukannya perlu mengumpulkan bukti-bukti sejarah yang otentik dan literatur pendukung. Penelusuran ini menjadi penting untuk mencari kesepahaman bersama tentang keberadaan batik Lampung.

Penelusuran ini bisa dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari budayawan, sejarawan, pencinta batik, kaum adat, dan masyarakat pada umumnya. Tujuannya untuk mengetahui seluk beluk batik Lampung guna merumuskan solusi dan persespi yang sama agar tidak ada lagi klaim secara sepihak. Selain itu, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap makna dan hakikat warisan budaya Lampung. Serta dapat mempublikasikan kebudayaan batik tersebut dan menetapkannya sebagai warisan budaya Lampung, dan bisa tercatat dalam kerajinan batik Indonesia.

Dengan mengambil motif-motif yang khas di sekitar wilayah kota Lampung, batik Lampung ini mampu memberikan kesegaran baru dalam ragam batik nusantara. Saat ini tak hanya ke kantor atau acara formal lainnya saja, namun desain pakaian berbahan dasar batik Lampung pun kini mulai variatif dan fashionable.

Baju BahanBatik Lampung 

74328-batiklampung-fashion (Sumber: https://neoethnique.webs.com) 

b1977-batiklampung-fashionkontemporer (Sumber: https://neoethnique.webs.com)

Usaha untuk memajukan Batik Lampung harus melibatkan semua unsur, baik pemerintah daerah, instansi swasta, lembaga terkait, maupun para pengrajin. Perkembangan batik saat ini cukup bagus, dimana semua instansi baik pemerintah maupun swasta mulai menginstruksikan karyawannya menggunakan batik.

Seiring sejarah dan upaya yang dilakukan, batik Lampung kini semakin punya pamor. Kreasi sandang Lampung tidak hanya kain tapis (kain tenun ikat), palepai (kain kapal), atau sulam usus yang bersifat religius yang dikerjakan secara turun-temurun oleh masyarakat adat.

Modifikasi motif batik khas Lampung yang memuat simbol-simbol daerah yang ada di Propinsi Lampung lakukan agar Lampung tidak tertinggal dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia khususnya corak-corak batik exclusive dan modern.

Sumber: Fitinline

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Busana Batik Rancangan Obin di Jakarta Fashion Week 2014 (Photo)

Sun Oct 27 , 2013
Photo: https://www.jakartafashionweek.co.id Model memperagakan pakaian rancangan desainer Obin atau Josephine Werratie Komara di Jakarta Fashion Week 2014 di Senayan City, Jakarta, (25/10). Obin dengan labelnya Bin house mengangkat tema Indonesia Memanggil dengan eksplorasi pembuatan batik. TEMPO/Nurdiansah. Sumber: tempo

You May Like