Wisata Sejarah Yogyakarta (1 dari 2)

Oleh Tri Agus Yogawasista

Wisata Sejarah di Yogyakarta, sama saja napak tilas (menelusuri) sejarah sebelum terbentuknya Kasultanan Yogyakarta, yaitu Kerajaan Mataram Islam, yang dipimpin oleh Panembahan Senopati, di Kota Gede sampai Kerajaan Mataram dipindahkan ke Pleret beserta peninggalannya.

Setelah Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755, wilayah Mataram dibagi menjadi dua wilayah, Mataram Timur, Kasunanan dan Kadipaten Mangkunegaran dan Mataram Barat (Mataram Asli), Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan. (sumber: jogjakota.go.id)

Akan dibagi menjadi 2 :

Peninggalan
A. Kerajaan Mataram Islam
B. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
C. Kadipaten Pakualaman
D. Belanda dan Jepang

A. Peninggalan Kerajaan Mataram Islam
1. Kota Gede

Situs Kedaton Mataram, rumah kecil diapit tiga pohon beringin besar terdapat Watu Gilang

Situs Kedaton Mataram
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 49′ 39.04″ S, 110° 23′ 39.7″ E

Watu Gilang, dipercaya sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati.

Masjid Kotagede 
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 49′ 45.7″ S, 110° 23′ 52.5″ E

Masjid Kotagede (https://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Merupakan masjid tertua di Yogyakarta. Desain masjid ini tampak sederhana namun siapa yang mengira jika tempat ibadah umat Islam tersebut sudah berdiri sejak tahun 1640-an.

Makam Raja-Raja Mataram
Jl. Watu Gilang, Kotagede, Yogyakarta

Gapura, pintu masuk makam Raja-Raja Mataram

Selain Panembahan Senopati, tokoh lainnya yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwijaya dan Ki Gede Pemanahan.

Situs Selo Gilang 
Dusun Janggan, Gilangharjo, Pandak Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 55′ 17.83″ S, 110° 18′ 34.24″ E

Situs Selo Gilang

2. Plered

Bekas Keraton Plered (eksavasi)
Dusun Kerto, Desa Pleret, Kecamatan Pleret Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 52′ 15″ S, 110° 24′ 25″ E

Bekas Kraton Plered

Dari sini (Plered), Kerajaan Mataram Islam dipindahkan ke Kartasura, dan akhirnya di Kota Surakarta sampai sekarang ini.

3. Panggung Krapyak 

Jalan DI Panjaitan atau tepatnya Plengkung Gading ke arah selatan, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 49′ 39.5″ S, 110° 21′ 37.9″ E

Panggung Krapyak (https://m.cuplik.com)

Raden Mas Jolang yang bergelar Prabu Hanyokrowati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam dan putra Panembahan Senopati, adalah salah satu raja yang memanfaatkan Hutan Krapyak sebagai tempat berburu. Pada tahun 1613, beliau mengalami kecelakaan dalam perburuannya hingga akhirnya Prabu Hanyokrowati meninggal dunia. Prabu Hanyokrowati akhirnya dimakamkan di Kotagede yang kemudian akhirnya diberi gelar Panembahan Seda Krapyak (berarti raja yang meninggal di Hutan Krapyak).

Selain Prabu Hanyokrowati, raja lain yang gemar berburu di Hutan Krapyak adalah Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I). Beliau-lah yang mendirikan Panggung Krapyak lebih dari 140 tahun setelah wafatnya Prabu Hanyokrowati di hutan ini. Panggung Krapyak ini merupakan petunjuk sejarah bahwa wilayah Krapyak pernah dijadikan sebagai area berburu oleh para raja Mataram.

B. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
1. Pesanggrahan Ambarketawang

Desa Ambarketawng, Gamping, Sleman, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 47′ 41.45″ S, 110° 19′ 33.79″ E

Pesanggrahan atau Kraton Ambarketawang (https://potretarkeologiindonesia.blogspot.com)

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Sumber: jogjakota.go.id

Baca juga: Mengenal Cikal Bakal Keraton Kasultanan Yogyakarta

2. Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat 

Alun-alun Utara, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 47′ 4.09″ S, 110° 21′ 42.01″ E

Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Baca juga: Mengenal Tata Kota tentang Hakikat Manusia

3. Tugu Yogyakarta

Jalan Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 46′ 56.45″ S, 110° 22′ 1.34″ E

Tugu Simbol Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta

Tugu Yogyakarta merupakan sebuah tugu atau menara yang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengku Buwono I, pendiri kraton Yogyakarta yang mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi.

Peta Sumbu Filosofi Keraton Yogyakarta (https://panji-cybersufi.blogspot.com)

4. Taman Sari

Jalan Taman, Kraton, Yogyakarta
Koordinat GPS : 7° 48′ 36.4″ S, 110° 21′ 34.2″ E

Taman Sari, pintu masuk (https://adytiavibisono.blogspot.com)

Taman Sari (https://jogjawae.com)

Masa setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air).

Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

5. Pesanggrahan Warungboto dan Pesona Taman Air

Jalan Veteran, Warungboto, Umbulharjo Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 48′ 37.2″ S, 110° 23′ 35.2″ E

Pesanggrahan Warungboto

Yogyakarta banyak menyimpan sejarah di masa lalu, salah satunya sebuah situs kuno yang merupakan pesanggrahan yang memiliki pesona taman air. Bangunan Pesanggrahan Warungboto dan Istana Taman Air ini cukup bersejarah karena merupakan salah satu pesanggrahan yang dibangun oleh Hamengku Buwono II, yang dibuktikan melalui nama bangunan dalam sebuah tembang macapat yang berkisah tentang Hamengku Buwono II. Dalam tembang tersebut, bangunan ini tidak disebut dengan nama Pesanggrahan Warungboto, tetapi Pesanggrahan Rejowinangun. Pesanggrahan ini dibangun tahun 1800-an dengan sebuah rancangan taman beserta kolam yang sifatnya pribadi, dikelilingi oleh bangunan sehingga tak terlihat dari luar.

6. Pesanggrahan Ambarukmo
7. Ndalem

Merupakan tempat tinggal para putra atau putri raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadingrat. Adapun Ndalem yang ada yaitu:

01. Ndalem Joyokusuman
02. Ndalem Kaneman
03. Ndalem Benawan
04. Ndalem Mangkubumen
05. Ndalem Pakuningratan
06. Ndalem Suryaputran
07. Ndalem Wironegaran
08. Ndalem Yudonegaran
09. Ndalem Condrokiranan
10. Ndalem Notoprajan
11. Ndalem Ngadiwinatan

8. Sasana Wiratama

Jl. HOS Cokroaminoto TR III/430, Yogyakarta
Telp. (0274) 622 668
Koordinat GPS:  7° 47′ 12.7″ S, 110° 21′ 5″ E

Museum Sasana Wiratama, Tegalrejo, Yogyakarta

Terletak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Jogja, tanah seluas 2,5 hektar yang awalnya dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, diserahkan oleh ahli waris Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Kanjangteng Diponegoro, untuk dijadikan Monumen setelah menandatangani surat penyerahan bersama Nyi Hadjar Dewantara dan Kanjeng Raden Tumenggung Purejodiningrat. Di atas tanah yang kini menjadi milik Kraton Yogyakarta itu mulai pertengahan tahun 1968 hingga 19 agustus 1969 dibangun sebuah monumen pada bangunan pringgitan yang menyatu dengan pendopo tepat di tengah komplek yang diprakarsai oleh Mayjen Surono yang saat itu menjabat Panglima Kodam (PANGDAM) serta diresmikan oleh Presiden Suharto. Tempat ini kemudian dinamakan Sasana Wiratama yang artinya tempat prajurit.

Lahir di Kraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, bernama kecil Bandoro Raden Mas Ontowiryo dan setelah dewasa bergelar Kanjeng Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung Raden Ayu Mangkorowati (putri Bupati Pacitan) selir dari Sri Sultan Hamengku Buwono III (HB III).

Dengan beberapa kali pukul, tembok jebol guna menyelamatkan istri dan pasukan, melarikan diri ke Goa Selarong.

Dari luar tembok terdengar letusan senjata tiga kali, perang telah dimulai. Sisi utara, timur dan selatan telah dikepung pasukan Belanda. Laskar yang tinggal di sisi barat melakukan perlawanan keras. Di bawah pimpinan Joyomustopo dan Joyoprawiro, laskar terdesak mundur. Kekuatan berbeda jauh. Seorang pria berjubah putih dengan sorban putih yang terlilit di kepalanya, dengan tenang dan bijaksana memilih menjebol tembok barat puri. Dengan beberapa kali gebrakan tembok itu jebol. Satu komando untuk menyelamatkan keluarga dan laskar yang tersisa. Dengan seluruh pasukannya, pria berjubah putih itu lebih memilih menjauh ke barat. Sebuah keputusan berat demi keselamatan keluarga dan laskarnya. “Perang sesungguhnya baru saja akan dimulai” batinnya dalam hati.

Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.

Sumber: yogyes.com

9. Goa Selarong

Dusun Kembang Putihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS:  7° 50′ 56.75″ S, 110° 18′ 39.1″ E

Goa Selarong, Pajangan, Bantul, Yogyakarta

Goa Selarong ini berbentuk sempit dengan lebar kira-kira hanya 3 m dan tinggi yang tak lebih dari 2 m, sedangkan panjang ke dalamnya cuma sekitar 3 m saja. Tidak ada yang istimewa dari bentuk Goa Selarong ini. Orang Jawa menyebut goa jenis seperti ini dengan sebutan goa buntet alias buntu tidak tembus berlubang. Jadi, goa ini merupakan cekungan cadas biasa saja tanpa ada tembusannya ke dalam.

Tempat ini merupakan basis kekuatan Pangeran Diponegoro beserta laskarnya untuk menyusun strategi dalam berperang secara gerilya. Kenapa demikian, karena untuk berperang secara terbuka jelas dari pihak Pangeran Diponegoro kekurangan senjata atau perlengkapannya maupun secara personil. Perlawanan Diponegoro dimulai tahun 1825 dan berakhir tahun 1830, selama kurang klebih 5 tahun kerugian pihak Belanda sangat banyak hampir 15 ribu tentara mati dan menghabiskan dana 20 juta gulden.

10. Makam Raja-Raja Mataram Imogiri

Ginirejo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 55′ 39.09″ S, 110° 23′ 33.95″ E

Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Yogyakarta

Makam Imogiri merupakan komplek makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya yang berada di Ginirejo Imogiri kabupaten Bantul. Makam ini didirikan antara tahun 1632 – 1640 M oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, Sultan Mataram ke-3, keturunan dari Panembahan Senopati (Raja Mataram ke-1), dengan menunjuk seorang arsitek bernama Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo dan merupakan bangunan milik keraton kasultanan.

Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Surakarta.

Di salah satu tangga ke makam ada sebuah nisan yang sengaja dijadikan tangga agar selalu diinjak oleh para peziarah yaitu nisan makam Tumenggung Endranata karena dianggap mengkhianati Mataram. Cerita lain menyebutkan bahwa yang dikubur di tangga itu adalah Gubernur Jenderal Belanda, JP Coen.

C. Kadipaten Pakualaman
1. Kraton Pura Pakualaman

Pakualaman, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 47′ 43.28″ S, 110° 22′ 31.23″ E

Kraton Pura Pakualaman (https://kotajogja.com)

Baca juga: Menyusuri Jejak Sejarah Pakualaman

2. Makam Astana Girigondo

Dusun Girigondo, Kaligintung, Temon, Kulonprogo, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 52′ 17.56″ S, 110° 5′ 21.69″ E

Makam Astana Girigondo (panduanwisata.com)

Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Ini ditunjukkan dengan adanya prasasti yang terdapat pada gapura makam, di teras I. Sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta.

D. Peninggalan Belanda dan Jepang

Istana Negara Gedung Agung 
Jalan A. Yani, Yogyakarta
Koordinat GPS: 7° 47′ 55.45″ S, 110° 21′ 52.47″ E 

Istana Negara Gedung Agung

Gedung utama kompleks istana ini mulai dibangun pada Mei 1824 yang diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat, Residen Yogyakarta ke-18 (1823-1825) yang menghendaki adanya “istana” yang berwibawa bagi residen-residen Belanda sedangkan arsiteknya adalah A Payen.

Karena adanya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) pembangunan gedung itu tertunda. Pembangunan tersebut diteruskan setelah perang tersebut berakhir yang selesai pada 1832. Pada 10 Juni 1867, kediaman resmi residen Belanda itu ambruk karena gempa bumi. Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. Bangunan inilah yang menjadi gedung utama komplek Istana Kepresidenan Yogyakarta yang sekarang disebut juga Gedung Negara.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi dimana Gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian gedung utama menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta sampai masuknya Jepang.

Pada 6 Januari 1946, Kota Gudeg ini menjadi ibu kota baru Republik Indonesia yang masih muda dan istana itu berubah menjadi Istana Kepresidenan, tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarganya, sedangkan Wakil Presiden Mohammad Hatta tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072/Pamungkas. Sejak itu Istana Kepresidenan Yogyakarta menjadi saksi peristiwa penting diantaranya pelantikan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947 dan sebagai pucuk pimpinan angkatan perang Republik Indonesia pada 3 Juli 1947.

Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda dibawah pimpinan Jenderal Spoor, Presiden, Wakil Presiden dan para pembesar lainnya diasingkan ke luar Jawa dan baru kembali ke Istana Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Sejak 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi tempat tinggal sehari-hari Presiden.

Istana Yogyakarta atau Gedung Agung, sama halnya dengan istana Kepresidenan lainnya yaitu sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Selain itu juga sebagai tempat menerima atau menginap tamu-tamu negara. Sejak 17 Agustus 1991, istana ini digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan penyelenggaraan Parade Senja setiap tanggal 17 yang dimulai 17 April 1988.

Sumber: gudeg.net

Benteng Vredeburg
Jalan A. Yani No. 6, Yogyakarta
Telp: +62 274 586 934, 510996, Fax: +62 274 586 934
Koordinat GPS: 7° 48′ 1″ S, 110° 21′ 56.2″ E

Benteng Vredeburg (https://yogyakarta.panduanwisata.com)

Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama “Benteng Rustenburg” yang mempunyai arti “Benteng Peristirahatan”, dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 – 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi “Benteng Vredeburg” yang mempunyai arti Benteng Perdamaian.

Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 – 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 – 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.

Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi “Museum Khusus Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Yogyakarta”.

Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan, sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum.

Sumber: gudeg.net

Goa Jepang
Dusun Sentonorejo, Jogotirto, Berbah, Sleman Yogyakarta

Goa Jepang Yogyakarta

Jalan menuju ke dalam gua keriung serta tidak licin, langit-langit maupun dindingnya tidak berlumut. Pintu masuk kedalam gua juga terlihat bersih dari rumput-rumput liar. Sehingga, tidak ada lagi alasan yang membuat pengunjung ragu akan gua yang satu ini.

Gua ini memiliki 4 pintu masuk. Tiap pintu masuk mempunyai tekstur dan relief yang beda. keunikan setiap pintu akan menghasilkan gambar yang artistik tersendiri pada kamera bila Anda mengabadikan gambar.

Begitu masuk kedalam pintu gua, maka akan terdapat lorong yang terhubung satu sama lain. Karena itu, gua ini sering digunakan oleh anak-anak yang tempat tinggalnya berada disekitar gua, untuk bermain petak umpet. Anak-anak sudah mengenal benar lorong-lorong jalan di gua tersebut.

Konon, gua ini dibuat oleh tentara Jepang unutk menyimpan amunisi. Di dalam gua ini masih terlihat lubang bentukan yang hingga kini sudah ditutup semen dan besi sebagai landasan meletakkan bom. Kini, bom-bom yang pernah disimpan didalam gua tersebut sudah tidak ada lagi. Menurut Jasmin, yang merupakan juru kunci gua tersebut, bom-bom tersebut dikeluarkan pad tahun 1947.

Sumber: gudeg.net

Ke halaman berikutmya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.