Wisata Sejarah di Semarang

Oleh Tri Agus Yogawasista

Di Semarang, banyak diketemukan bangunan kuno atau bersejarah, seperti halnya Jakarta, peninggalan VOC Kompeni (Belanda), sangat menarik untuk diketengahkan kembali, biarpun baru satu tempat di kunjungi yaitu Lawang Sewu.

Tentunya, untuk mempermudah mencapai setiap lokasi diusahakan ada koordinat GPS-nya, yang didapatkan baik melalui internet, POI GPS Mio maupun sumber yang lainnya.

1. Lawang Sewu

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein, selanjutnya dibaca, klik disini

 Lawang Sewu di belakang Tugu Muda (https://kiosbukugema.wordpress.com)

2. Stasiun Tawang 
Jalan Taman Tawang No. 1, Tanjung Mas, Semarang

Stasiun Tawang ( https://visitsemarang.com)

Stasiun Tawang merupakan pengganti stasiun pertama milik Nederlandsche-Indische Spoorweg Maatschappij (N.I.S), Tambak Sari. Pembangunan stasiun Tambak Sari ditandai dengan upacara pencangkulan tanah oleh Gubernur Jenderal Mr. Baron Sloet van de Beele, bersamaan dengan pembentukan sistem perangkutan kereta api pada tanggal 16 Juni 1864. N.I.S melayani jalur Semarang – Yogya – Solo.

Setelah mengalami proses pembangunan yang tersendat-sendat akhirnya jalur pelayanan kereta api ini terselesaikan pada 10 Pebruari 1870. Berkembangnya kegiatan perdagangan menyebabkan stasiun Tambak Sari tidak memenuhi syarat lagi. Maka direncanakanlah stasiun baru dengan arsitek J.P de Bordes yang kemudian hari lebih di kenal dengan nama Stasiun Tawang. Stasiun Tawang dibangun pada bulan Mei 1914.

Sejak pertama kali di bangun, tak banyak perubahan terjadi di Satsiun Tawang. Hampir seluruh bagian di stasiun ini tetap sama. Lapangan di depan Stasiun Tawang (sekarang menjadi Folder) juga mempunyai nilai historis yang tinggi yaitu sebagai ruang terbuka di kawasan kota lama yang difungsikan sebagai tempat upacara, olah raga, pertandingan dan sebaginya.

Stasiun Tawang mempunyai arti yang penting bagi kawasan Kota Lama. Pada masa lalu terdapat sumbu visual yang menghubungkan stasiun ini dengan Gereja protestan (Blenduk). Sehingga peran stasiun ini dalam pembentukan citra kawasan sangat penting dan mampu menambah nilai kawasan. Integritas langgam arsitektur Indische sangat kuat dan banyak terpengaruh unsur lokal. Integritas kekriyaan ditampilkan dalam detil bermotif dan berwarna.

Integritas setting masih tetap seperti semula. Sedangkan integritas tipe bangunan merupakan ruang kantor. Integritas sesinambungan fungsi yaitu sebagai bangunan pengangkutan masih terjaga dengan baik. Kaitan bangunan dengan sejarah yaitu pembangunannya ditujukan untuk menggantikan stasiun Tambak Sari di Pengapon, dengan perancang adalah JP Bordes.

Selain itu kaitan bangunan dengan sejarah perangkutan milik NIS tidak kecil.Arsitekturnya unik, dengan ciri arsitektur Indische yang bahan untuk elemen dinding yang bermotif dan berwarna menjadikan bangunan ini sangat estetis. Dilihat dari segi lansekap kota, Stasiun Tawang menambahkan kualitas dan potensi dari ruang terbuka di kawasan tersebut.

Sumber : Visit Semarang

3. Pasar Johar 
Jalan Haji Agus Salim, Semarang

Pasar Johar

Manakah Pasar tradisional terbesar di Semarang? Semua orang sepakat menjawab Pasar Johar. Pasar yang berlokasi di pinggir Kali Semarang ini sejak dulu merupakan pusat kegiatan ekonomi warga Semarang. Arsitektur pasar Johar menjulang tinggi berbentuk mirip cendawan. Adalah Herman Thomas Karsten, arsitek Belanda yang dipercaya merancang arsitektur pasar induk tradisional yang dibangun pada 1937 ini. Ciri khusus arsitektur pasar terletak pada atapnya yang berbentuk kolom-kolom mirip cendawan. Atap yang satu dan lainnya saling menaungi dan tidak menyatu. Konstruksi ini memungkinkan udara masuk dari segala penjuru.

Meski tanpa mesin penyejuk ruangan, udara segar bisa dinikmati. Sistem cross ventilation yang juga terlihat di Gedung Lawang Sewu merupak ciri Karsten. Selain menjadikan ruangan hemat energi, bangunan dengan cross ventilation juga cocok untuk kawasan tropis seperti Indonesia. Ciri lain arsitektur Pasar Johar adalah adanya ruang kosongantara lantai satu dan dua. Karena ruang kosong itu pulalah, pengunjung bisa melihat keunikan atap berbentuk cendawan.

Bukan hanya aspek ekologi yang menjadi pertimbangan perencanaan Pasar Johar. Aspek sosiologis juga sangat diperhatikan. Karsten paham betul fungsi pasar dalam tradisi masyarakat Indonesia. Tidak seperti pasar di Eropa yang hanya memfungsikan pasar hanya sebagai tempat transaksi pedagang dan pembeli. Di Indonesia, pasar tak sekadar tempat transaksi, tapi juga sebagai ruang terbuka tempat menampung para pedagang nonpermanen (tiban) yang berjualan pada acara tertentu.

Karsten juga sangat memperhatikan banyaknya perempuan yang menjadi pedagang atau sekadar menjadi buruh gendong. Untuk meringankan mbok-mbok gendhong memanggul bagor, dibuatlah lantai los pasar setinggi lutut orang dewasa. Tujuannya agar buruh gendong tak perlu mengangkat beban terlalu berat sebelum digendong.

Dari sisi material bangunan, Karsten memilih marmer berkualitas tinggi sebagai bahan pelapis permukaan dinding, meja utama, serta sebagian lantai. Sedangkan anak tangga dari batu andesit. Tak aneh, usia lebih dari 70 tahun Pasar Johar masih kukuh berdiri.

Kemasyhuran Pasar Johar hingga ke seluruh Jawa. Pedagang tak cuma datang dari sekitar Semarang, tapi juga dari Solo, Klaten, dan Kudus. Mereka berdagang di Pasar Johar hingga turun-temurun. Bahkan pedagang dari luar Jawa ikut meramaikan. Dulu pedagang dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi bisa langsung membongkar kapalnya di Kali Semarang, yang melintas tepat di tepi Pasar Johar. Di atas kali itu ada Jembatan Berok, tak jauh dari Pasar Johar, yang berupa jembatan hidrolik. Saat ada kapal bongkar-muat di Pasar Johar, jembatan bisa dibuka, lalu ditutup kembali. Hingga awal 1970, kapal masih bisa masuk Kali Semarang. Sayang, sekarang sudah dangkal dan jembatan sudah tak bisa dibuka lagi.

Kini kemegahan arsitektur Pasar Johar nyaris tak bisa dinikmati. Padatnya pedagang serta ketidakdisiplinan memelihara tata ruang membuat sirkulasi udara tak sebaik dulu. Satu-satunya alasan tiap hari Pasar Johar dipenuhi pengunjung adalah karena tersedia semua kebutuhan masyarakat, dari sandang, pangan, hingga elektronik dengan harga relatif murah. Pasar Johar selalu menjadi tujuan bagi pembeli eceran ataupun grosiran.

Selain sebagai tempat berdagang, Pasar Johar ibarat sebuah kampung tempat bertemunya pedagang dari berbagai daerah.

Sumber: Visit Semarang

4. Kota Lama Semarang 

Kota Lama, Semarang (https://id.wikipedia.org)

Sejarah Kota Lama diawali dari penandatangan perjanjian antara Kerajaan Mataram dan VOC pada 15 Januari 1678. Kala itu Amangkurat II menyerahkan Semarang kepada pihak VOC sebagai pembayaran karena VOC telah berhasil membantu Mataram menumpas pemberontakan Trunojoyo. Setelah Semarang berada di bawah kekuasaan penuh VOC, kota itu pun mulai dibangun. Sebuah benteng bernama Vijfhoek yang digunakan sebagai tempat tinggal warga Belanda dan pusat militer mulai dibangun. Lama kelamaan benteng tidak mencukupi, sehingga warga mulai membangun rumah di sebelah timur benteng. Tak hanya rumah-rumah warga, gedung pemerintahan dan perkantoran juga didirikan.

Kota Lama Semarang merupakan citra visual yang menyajikan kemegahan arsitektur Eropa di masa lalu. Banyak berdiri Bagunan-bangunan kuno nan eksotis dan megah peninggalan Kolonial Belanda, seakan menyimpan segudang cerita yang tak kan pernah habis dikisahkan. Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaanya masih bisa disaksikan hingga kini, meski tidak terawat. Hal inilah yang menyebabkan Kota Lama mendapat julukan sebagai de Europeeshe Buurt (Little Netherland). Lokasinya yang terpisah dengan lanskap mirip kota di Eropa serta kanal yang mengelilinginya menjadikan Kota Lama seperti miniatur Belanda di Semarang.

5. Masjid Layur

Masjid Layur atau Masjid Menara Kampung Melayu, Semarang

Merupakan salah satu bangunan kuno berupa masjid tua di kota Semarang ini disebut pula Masjid Menara Kampung Melayu. Lokasi Masjid Layur ini mudah dijangkau, dari Pasar Johar ke arah Kota Lama melalui Kantor Pos Besar jalan Pemuda, sebelum Jembatan Berok belok kiri.

Bangunan masjid sendiri tidak bergaya Arab, tetapi memiliki lebih banyak unsur lokal. Lantai bangunan setangkup tersebut dinaikkan dan hanya dapat dicapai dengan tangga yang terdapat pada sisi muka. Walaupun sudah dimakan usia namun masjid ini masih kokoh dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beribadah. Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Dinamakan Kampung Melayu karena sudah merupakan tempat hunian pada tahun 1743 yang sebagian besar orang yang mendiami kawasan tersebut adalah orang melayu. Pada masa tersebut di kampung ini terdapat tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan. Lokasinya yang sangat strategis mengundang orang untuk berdiam disitu pula. Dicatat bahwa orang-orang dari Arab kemudian menempati kampung tersebut. Pada masa itulah kiranya masjid yang telah ada dikembangkan lagi dan memperoleh pengaruh yang dapat dilihat sekarang.

6. Masjid Besar Kauman, Semarang

Masjid Besar Kauman
Jl. Alun-Alun Barat No. 11, Semarang (http://simas.kemenag.go.id)

Terletak di Jl alun alun barat no 11 Semarang di satu sisi, sedangkan sisi samping adalah jalan Kauman. Masjid Kauman merupakan rangkaian perkembangan dari sejarah pembangunan masjid di Semarang pada 1741 M, yang akhirnya mengabadikan nama Kyai Adipati Surohadimenggola II sebagai pendiri pertama Masjid Besar Kauman Semarang.

7. Puri Gedeh Semarang
Jl Gajah Mungkur (Jl Gubernur Budiono) No 8 Semarang.
Nomor Telepon (024) 8311151, 8311152
Pemilik : Pemerintah Daerah
Fungsi : Rumah Dinas Gubernur Jateng

Puri Gedeh merupakan Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, rumah yang masuk dalam daftar bangunan kuno di Kota Semarang ini sebelumnya rumah ini dimiliki oleh keluarga Liem. Gubernur yang benar benar menempati Puri Gedeh ini pertama kali adalah Gubernur Soepardjo Roestam, diikuti oleh gubernur selanjutnya. Lokasinya di sebelah barat Taman Gajah Mungkur.

Gereja Blenduk

Gereja yang sudah berusia lebih dari dua setengah abad. Gereja yang memiliki nama asli Nederlandsch Indische Kerk dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini menjadi Landmark Kota Semarang.

Gereja Blenduk (Nederlandsch Indische Kerk)
Jalan Letjend Suprapto 32 Semarang
Telp.: (024) 355 4271

Karena masyarakat pribumi yang kesulitan mengucapkan nama dalam bahasa Belanda pun akhirnya menyebutnya blenduk karena memiliki atap berbentuk kubah berwarna merah bata yang terbuat dari perunggu serta dua menara kembar di depannya. Perubahan nama juga terjadi pada Jembatan Berok yang dulu menjadi pintu gerbang menuju Kota Lama. Kata burg yang berarti jembatan dilafalkan menjadi berok dan nama itu terus dipakai hingga kini.

Gereja Gereformeerd

Gereja Gereformeerd Jalan Dr. Sutomo, Semarang

Gereja ini dibangun pada 27 Oktober 1918 tetapi baru diakui berbadan hukum oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak 18 Maret 1928. Pada masa kolonial selain digunakan oleh orang Belanda, gereja ini dihadiri juga oleh umat dari suku Jawa, Ambon, Manado dan Tionghoa.

Di seberang Gereja Blenduk terdapat Gedung Kuno yang menjadi kantor Asuransi yang biasa disebut sebagai Gedung Jiwasraya, di sebelah baratnya untuk penggemar Wisata Kuliner terdapat Restoran Ikan Bakar Cianjur.

Gedung Asuransi Jiwasraya, Semarang (http://pamboedifiles.blogspot.co.id)

Gedung Marabunta, Semarang

Gedung Keuangan Negara, Semarang

Gedung Marba, Semarang

Ikan Bakar Cianjur, Semarang

Toko Oen, Jl. Pemuda 52 Semarang 50138

Tak kalah menarik dan menyimpan segudang cerita adalah Gedung Marabunta dengan ornamen semut raksasa di atapnya, tempat ini pernah dilangsungkan sebuah pertunjukan seorang spionase wanita cantik bernama Matahari. Terdapat pabrik rokok indi yang bangunannya sangat terawat dengan nuansa merah putih, Pabrik Rokok Praoe Lajar. Ada juga Stasiun Tawang dengan gaya arsitektur indis yang masih dioperasikan hingga sekarang. Di depannya terdapat Polder Air Tawang yang berfungsi sebagai pusat pengendali banjir dan penampungan air sebelum dialirkan ke laut. Bangunan bangunan lain yang berada di Kota Lama Semarang ini antara lain: Gedung Marba, Kantor Pos Pusat, Samudera Indonesia, Djakarta Lloyd dan juga Titik Nol KM Semarang.

Kantor Pos Besar, Semarang (http://www.wovgo.com)

Jembatan Berok, Semarang

PT. Djakarta Lloid
Jalan Mpu Tantular No. 23, Semarang

Mercusuar, Tanjung Emas, Semarang

PT. PLN UPJ
Jalan Pemuda No. 93, Semarang

Pabrik Rokok Praoe Lajar
PT. Prau Lajar
Jalan Merak No 15 Tanjungmas, Semarang 50174 Jawa Tengah.
Telepon: (024) 3546234 Fax: (024) 3559674.

Pabrik Rokok Praoe Lajar, Semarang

Di kisaran Kawasan Polder Tawang, Kota lama, tepatnya di Jalan Merak,terdapat pabrik rokok Praoe Lajar (Prau Layar), yang sudah lama beroperasi sejak jaman Kolonial, sampai sekarang. Sebagai salah satu rokok indie, dengan segmen pasar kelas menengah bawah, yang sebagian besar dari kita mungkin belum pernah melihat iklannya di media atau mungkin juga belum pernah melihat rokoknya di toko atau warung, merupakan prestasi yang patut diacungi jempol karena pabrik rokok Praoe Lajar ini masih beroperasi hingga kini.

Contoh produk rokok kretek

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.